Bapak Ibu sekalian,
serta rekan rekan dimanapun berada. Wabah Corona ini telah menjadikan kita semua diselimuti getir dan ketakutan. Wabah corona ini menciptakan sekat menyedihkan antara kita semua. Di saat Indonesia
sudah mulai berdamai dengan hawa politik
yang memanas, kita kembali diterpa ujian berat dalam bidang kesehatan yang juga
mempengaruhi segala aspek kehidupan sosial dan ekonomi. Bukan hanya itu, aspek kegamaan kita semua
menjadi terganggu, segala macam ibadah saat ini harus berjarak, tidak boleh
lagi melakukan ibadah berjamaah ditengah persebaran wabah corona kejam ini.
Saya disini
bersuara sebagai anak rantau yang berada ribuan kilometer dari keluarga yang
hanya bisa termenung dalam bisikan bisikan pikiran yang penuh kekhawatiran. Bagaimana
jika ramadhan tahun ini tidak lagi seindah ramadhan tahun sebelumnya? Ketika nikmat
suci ramadhan kita buka dengan tarawih berjamaah, mendengar ceramah dari para
ustad ataupun kyai, semua itu berpotensi tidak akan bisa kita jumpai tahun ini.
Saya masih teringat kembali bagaimana ramadhan tahun lalu penuh arti dengan
kebersamaan dan kasih sayang dari orang orang terdekat. Sungguh Ramadhan merupakan bulan yang banyak memberikan pelajaran dan teguran bagi diri yang penuh
dosa ini.
Lantas ketika
renungan saya memudar dan jiwa saya kembali pada masa yang saat ini
berlangsung, tak terasa air mata saya menetes perlahan-lahan. Ada rasa
rindu dan takut yang sejujurnya bersarang di dalam hati. Ditengah wabah Corona
ini, apalagi yang bisa kita harapkan selain kesehatan bisa terjaga ? Sungguh Corona
ini datang untuk menegaskan bahwa manusia hanyalah makhluk besar yang lemah dan
tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan microba kecil yang mampu menggemparkan
dunia seketika.
Saya takut,
bagaimana jika ramadhan tahun ini tidak lagi senikmat tahun sebelumnya? Bagaimana jika
Ramadhan tahun ini menjadi ramadhan terakhir kita karena daya tahan tubuh tidak
mampu lagi menahan kejamnya virus ini.
Bagi rekan rekan
sekalian yang posisinya memang dekat dengan keluarga, maka tentunya rindu
bukanlah hal menyulitkan untuk diobati. Tapi kami yang saat ini berjatak ribuan
kilometer dengar keluarga tengah dilanda cemas dan kekhawatiran. Bagaimana jika
tidak adalagi pertemuan yang bisa membawa kami berjumpa dengan keluarga karena
virus corona ini tengah menjadi ganas di ibu kota negara ini.
Himbauan pemerintah
untuk menjaga jarak antara
satu orang dengan lainnya masih diabaikan oleh sebagian
orang. Mereka menganggap remeh wabah ini dengan terus menerus menyombongkan
diri dan berkeliaran di luar tempat tinggalnya. Orang-orang keras kepala ini
tidak pernah sadar bahwa maut sedang mengintai masyarakat Indonesia, dan kita
semua tidak ada yang tahu dimana sebetulnya "Corona" ini bersemayam. Bisa
jadi sang virus bengis ini
sedang menempel di tempat pegangan tangan bus kota atau di pintu
masuk minimarket yang ada
di sekitar kita.
Tidak ada yang
betul betul tahu dimana para pasukan corona ini bersemayam dan menunggu korban untuk
dilumpuhkan. Kenapa masih banyak orang lancang yang menganggap persebaran virus
ini bukan sebuah ancaman nyata bagi diri dan keluarganya?Apakah kita siap
meninggalkan bumi karena terinfeksi Corona ?
Corona ini
sangatlah kejam karena bahkan kematian kita yang disebabkan olehnya
akan menjadi kematian yang sepi, tanpa ada sentuhan dari keluarga, kita hanya
akan wafat dalam kondisi terbungkus kain tebal, keluarga kita tidak punya
kesempatan melihat wajah kita untuk terakhir kali. Masihkah kita tidak takut dan acuh tak acuh pada
himbauan tinggal di rumah saja? Tolong jangan jadikan ego pribadi kita menjadi
bencana bagi orang lain. Tolong pikirkan nasib mereka yang berada jauh dari
keluarga yang harus terpisah menahan rindunya kembali.
Kita bisa melawan
corona yang tak terlihat itu, asal kita semua tunduk dan berdiam diri di tempat
tinggal masing-masing, jangan melakukan aktivitas diluar rumah yang tidak
perlu. Nikmatilah waktu anda bersama keluarga, nikmati dan jangan keluar dari
rumah agar tidak berpotensi bertemu dengan virus kejam ini.
Bersyukurlah jika
anda berkumpul bersama keluarga. Karena banyak orang yang ingin bertemu
keluarganya tapi jarak dan kondisi tidak memungkinkan, bahkan ada juga juga
diantara mereka yang sudah dipisahkan oleh kematian. Apakah kita mau mengalami
kematian menyedihkan karena Corona ?
Saya faham betul
kita semua punya kesibukan diluar sana yang mewajibkan kita untuk terus keluar
, tapi apakah kita tidak berfikir bahwa kelak jika skenario terburuk corona ini membunuh diri kita siapa lagi yang akan mencari rezeki untuk
keluarga?
Tidakkah kita
senang bahwa ternyata Allah menciptakan sesuatu itu memiliki kelebihan dan
kekurangan? Allah menciptakan Corona ini memiliki kelebihan yaitu cepat menular
kepada manusia, tapi Allah juga menciptakan kekurangannya yaitu dia mudah untuk
dimatikan asalkan mengikuti himbauan dari petugas kesehatan dan pemerintah agak
menjaga kebersihan dan mengisolasi diri di rumah selama beberapa Minggu.
Jika memang pekerjaan kita mewajibkan diri
untuk keluar dari zona isolasi mandiri maka sebaiknya patuhi standar dan arahan
dari petugas kesehatan untuk menggunakan masker dan rajin mencuci tangan.
Selain itu hindari jarak dengan orang lain agar tidak berpotensi saling
menularkan virus. Terkhusus bagi para pejuang
nafkah harian untuk menghidupi keluarga seperti ojek online, sopir angkutan
umum, penjual makanan dan lain sebagainya, mari kita semua yang memiliki rezeki
berlebih membagi rezeki untuk mereka. Mari kita saling mendukung dan menjaga satu
sama lain ditengah pandemi ini. Mungkin corona bisa membuat kita menciptakan
jarak fisik satu sama lain, tapi corona tidak akan mampu menghentikan semangat “bhineka
tunggal ika” dalam jiwa kita semua. Pertemuan boleh jarang, asal kemanusiaan
tidaklah hilang.
Tentang kisah ramadhan, rantau dan corona, biarkan
Tuhan saja yang menentukan segalanya. Jika Tuhan berkehendak bahwa Ramadhan ini adalah
Ramadhan yang sunyi, maka terjadilah. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang
terlepas dari rencana Tuhan. Barangkali hikmah dari bencana ini adalah
menjadikan kita lebih menghargai kesehatan, kebersihan serta kesempatan hidup
di dunia. Saya ikhlas bilamana Ramadhan tahun ini harus dinikmati dalam sepi. Saya
ikhlas bilamana perantauan tahun ini harus menunda kepulangan agar menjaga
keluarga agar tidak berisiko tertular virus kejam ini. Saya ikhlas menerima
ujian ini, manusia memang memiliki jatah untuk dihukum agar mampu lebih bersyukur
atas segala macam pemberian dari Tuhan. Biarkan saya kembali menabung rindu dan
berharap penuh agar keluarga saya disana baik-baik saja.
Jakarta, 7 April 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar