Selasa, 07 April 2020

Ramadhan, Rantau, dan Corona



Bapak Ibu sekalian, serta rekan rekan dimanapun berada. Wabah Corona ini telah menjadikan kita semua diselimuti getir dan ketakutan. Wabah corona ini menciptakan sekat menyedihkan antara kita semua.  Di saat Indonesia sudah  mulai berdamai dengan hawa politik yang memanas, kita kembali diterpa ujian berat dalam bidang kesehatan yang juga mempengaruhi segala aspek kehidupan sosial dan ekonomi. Bukan hanya itu, aspek kegamaan kita semua menjadi terganggu, segala macam ibadah saat ini harus berjarak, tidak boleh lagi melakukan ibadah berjamaah ditengah persebaran wabah corona kejam ini.

Saya disini bersuara sebagai anak rantau yang berada ribuan kilometer dari keluarga yang hanya bisa termenung dalam bisikan bisikan pikiran yang penuh kekhawatiran. Bagaimana jika ramadhan tahun ini tidak lagi seindah ramadhan tahun sebelumnya? Ketika nikmat suci ramadhan kita buka dengan tarawih berjamaah, mendengar ceramah dari para ustad ataupun kyai, semua itu berpotensi tidak akan bisa kita jumpai tahun ini. Saya masih teringat kembali bagaimana ramadhan tahun lalu penuh arti dengan kebersamaan dan kasih sayang dari orang orang terdekat. Sungguh Ramadhan merupakan bulan yang banyak memberikan pelajaran dan teguran bagi diri yang penuh dosa ini.

Lantas ketika renungan saya memudar dan jiwa saya kembali pada masa yang saat ini berlangsung, tak terasa air mata saya menetes perlahan-lahan. Ada rasa rindu dan takut yang sejujurnya bersarang di dalam hati. Ditengah wabah Corona ini, apalagi yang bisa kita harapkan selain kesehatan bisa terjaga ? Sungguh Corona ini datang untuk menegaskan bahwa manusia hanyalah makhluk besar yang lemah dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan microba kecil yang mampu menggemparkan dunia seketika.

Saya takut, bagaimana jika ramadhan tahun ini tidak lagi senikmat tahun sebelumnya? Bagaimana jika Ramadhan tahun ini menjadi ramadhan terakhir kita karena daya tahan tubuh tidak mampu lagi menahan kejamnya virus ini.

Bagi rekan rekan sekalian yang posisinya memang dekat dengan keluarga, maka tentunya rindu bukanlah hal menyulitkan untuk diobati. Tapi kami yang saat ini berjatak ribuan kilometer dengar keluarga tengah dilanda cemas dan kekhawatiran. Bagaimana jika tidak adalagi pertemuan yang bisa membawa kami berjumpa dengan keluarga karena virus corona ini tengah menjadi ganas di ibu kota negara ini.

Himbauan pemerintah untuk menjaga jarak antara satu orang dengan lainnya masih diabaikan oleh sebagian orang. Mereka menganggap remeh wabah ini dengan terus menerus menyombongkan diri dan berkeliaran di luar tempat tinggalnya. Orang-orang keras kepala ini tidak pernah sadar bahwa maut sedang mengintai masyarakat Indonesia, dan kita semua tidak ada yang tahu dimana sebetulnya "Corona" ini bersemayam. Bisa jadi sang virus bengis ini sedang menempel di tempat pegangan tangan bus kota atau di pintu masuk minimarket yang ada di sekitar kita.

Tidak ada yang betul betul tahu dimana para pasukan corona ini bersemayam dan menunggu korban untuk dilumpuhkan. Kenapa masih banyak orang lancang yang menganggap persebaran virus ini bukan sebuah ancaman nyata bagi diri dan keluarganya?Apakah kita siap meninggalkan bumi karena terinfeksi Corona ?

Corona ini sangatlah kejam karena bahkan kematian kita yang disebabkan olehnya akan menjadi kematian yang sepi, tanpa ada sentuhan dari keluarga, kita hanya akan wafat dalam kondisi terbungkus kain tebal, keluarga kita tidak punya kesempatan melihat wajah kita untuk terakhir kali. Masihkah kita tidak takut  dan acuh tak acuh pada himbauan tinggal di rumah saja? Tolong jangan jadikan ego pribadi kita menjadi bencana bagi orang lain. Tolong pikirkan nasib mereka yang berada jauh dari keluarga yang harus terpisah menahan rindunya kembali.

Kita bisa melawan corona yang tak terlihat itu, asal kita semua tunduk dan berdiam diri di tempat tinggal masing-masing, jangan melakukan aktivitas diluar rumah yang tidak perlu. Nikmatilah waktu anda bersama keluarga, nikmati dan jangan keluar dari rumah agar tidak berpotensi bertemu dengan virus kejam ini.

Bersyukurlah jika anda berkumpul bersama keluarga. Karena banyak orang yang ingin bertemu keluarganya tapi jarak dan kondisi tidak memungkinkan, bahkan ada juga juga diantara mereka yang sudah dipisahkan oleh kematian. Apakah kita mau mengalami kematian menyedihkan karena Corona ?

Saya faham betul kita semua punya kesibukan diluar sana yang mewajibkan kita untuk terus keluar , tapi apakah kita tidak berfikir bahwa kelak jika  skenario terburuk corona ini membunuh diri kita siapa lagi yang akan mencari rezeki untuk keluarga?

Tidakkah kita senang bahwa ternyata Allah menciptakan sesuatu itu memiliki kelebihan dan kekurangan? Allah menciptakan Corona ini memiliki kelebihan yaitu cepat menular kepada manusia, tapi Allah juga menciptakan kekurangannya yaitu dia mudah untuk dimatikan asalkan mengikuti himbauan dari petugas kesehatan dan pemerintah agak menjaga kebersihan dan mengisolasi diri di rumah selama beberapa Minggu.


Jika memang pekerjaan kita mewajibkan diri untuk keluar dari zona isolasi mandiri maka sebaiknya patuhi standar dan arahan dari petugas kesehatan untuk menggunakan masker dan rajin mencuci tangan. Selain itu hindari jarak dengan orang lain agar tidak berpotensi saling menularkan virus. Terkhusus  bagi para pejuang nafkah harian untuk menghidupi keluarga seperti ojek online, sopir angkutan umum, penjual makanan dan lain sebagainya, mari kita semua yang memiliki rezeki berlebih membagi rezeki untuk mereka. Mari kita saling mendukung dan menjaga satu sama lain ditengah pandemi ini. Mungkin corona bisa membuat kita menciptakan jarak fisik satu sama lain, tapi corona tidak akan mampu menghentikan semangat “bhineka tunggal ika” dalam jiwa kita semua. Pertemuan boleh jarang, asal kemanusiaan tidaklah hilang.

Tentang kisah ramadhan, rantau dan corona, biarkan Tuhan saja yang menentukan segalanya. Jika Tuhan berkehendak bahwa Ramadhan ini adalah Ramadhan yang sunyi, maka terjadilah. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang terlepas dari rencana Tuhan. Barangkali hikmah dari bencana ini adalah menjadikan kita lebih menghargai kesehatan, kebersihan serta kesempatan hidup di dunia. Saya ikhlas bilamana Ramadhan tahun ini harus dinikmati dalam sepi. Saya ikhlas bilamana perantauan tahun ini harus menunda kepulangan agar menjaga keluarga agar tidak berisiko tertular virus kejam ini. Saya ikhlas menerima ujian ini, manusia memang memiliki jatah untuk dihukum agar mampu lebih bersyukur atas segala macam pemberian dari Tuhan. Biarkan saya kembali menabung rindu dan berharap penuh agar keluarga saya disana baik-baik saja.


Jakarta, 7 April 2020

Tidak ada komentar:

SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...