Kamis, 30 April 2020

Retorika (1)

Jeritan jeritan Intoleran mendikte pikiran
Keberlanjutan dari titik muasal kebencian
Aroma sejuk persatuan dan aroma keberingasan perpecahan kian samar
Sedang retorika adalah senjata untuk bertengkar

Buram, kebingungan bagi pendengar
Melihat kericuhan-kericuhan halus mulai melebar 
Sedang siFulan masih saja saling cakar
Lewat mulut-mulut yang tidak pandai mendengar

Jakarta, 25 Februari 2020

Kamis, 23 April 2020

Pandemi dan Ramadhan




Mari sambut Ramadhan dengan cinta 
meski kini ramadhan akan sedikit berbeda
namun berbeda bukan berarti tak sama
Ramadhan masihlah bulan yang bergelimang berkah dan pahala


Mari senantiasa mengejar berkah  di bulan yang syahdu 
bersama rindu dan cinta yang membelenggu
Karena Corona tidak mampu membendung betapa romantisnya ramadhan ketika waktu sahur telah datang 
Karena corona tidak tidak akan mampu membendung betapa merdunya suara muadzin ketika waktu berbuka telah berkumandang

Maka marilah kita berkorban
Berkorban Sejenak untuk saling merindukan
Biarkan sekat dan jarak bertindak
Agar bumi  kita kembali sehat Wal Afiat

Pandemi bukan akhir dari silaturahmi
pandemi bukanlah genderang kehancuran negeri 
melainkan pandemi adalah kesempatan berbenah diri 
barangkali ada yang salah antara kita dengan bumi


Tuhan tidaklah bengis karena mengirim Corona ditengah umat manusia
Tuhan tetap maha penyayang dan pengasih
maka jadikanlah pandemi ini sebagai titik rekonsiliasi
agar manusia dan bumi ini kembali satu frekuensi

Jakarta , 22 April 2020

#HariBumi #Ramadhan

Selasa, 07 April 2020

TIDAK SEMUA MANUSIA SAMA

Tidak ada manusia yang sempurna di dunia
Jangan pernah menilai seseorang hanya dari sudut pandang teropong kecil milik kita
Lihatlah orang tersebut sebagai sosok manusia ber-Tuhan
dimana ada rambu-rambu agama yang menjadikan mereka lebih sopan, santun dan menyejukkan

Jadi jangan pernah menilai bahwa orang Bugis, Jawa, Sunda, Dayak, Batak, dan lain sebagainya sebelah mata hanya karena ada satu atau dua buah kasus buruk yang anda saksikan. Tapi lihatlah sevara garis besar bahwa setiap manusia pasti punya Tuhan, dan karena ber-Tuhan manusia itu enggan melakukan kejahatan.



Ramadhan, Rantau, dan Corona



Bapak Ibu sekalian, serta rekan rekan dimanapun berada. Wabah Corona ini telah menjadikan kita semua diselimuti getir dan ketakutan. Wabah corona ini menciptakan sekat menyedihkan antara kita semua.  Di saat Indonesia sudah  mulai berdamai dengan hawa politik yang memanas, kita kembali diterpa ujian berat dalam bidang kesehatan yang juga mempengaruhi segala aspek kehidupan sosial dan ekonomi. Bukan hanya itu, aspek kegamaan kita semua menjadi terganggu, segala macam ibadah saat ini harus berjarak, tidak boleh lagi melakukan ibadah berjamaah ditengah persebaran wabah corona kejam ini.

Saya disini bersuara sebagai anak rantau yang berada ribuan kilometer dari keluarga yang hanya bisa termenung dalam bisikan bisikan pikiran yang penuh kekhawatiran. Bagaimana jika ramadhan tahun ini tidak lagi seindah ramadhan tahun sebelumnya? Ketika nikmat suci ramadhan kita buka dengan tarawih berjamaah, mendengar ceramah dari para ustad ataupun kyai, semua itu berpotensi tidak akan bisa kita jumpai tahun ini. Saya masih teringat kembali bagaimana ramadhan tahun lalu penuh arti dengan kebersamaan dan kasih sayang dari orang orang terdekat. Sungguh Ramadhan merupakan bulan yang banyak memberikan pelajaran dan teguran bagi diri yang penuh dosa ini.

Lantas ketika renungan saya memudar dan jiwa saya kembali pada masa yang saat ini berlangsung, tak terasa air mata saya menetes perlahan-lahan. Ada rasa rindu dan takut yang sejujurnya bersarang di dalam hati. Ditengah wabah Corona ini, apalagi yang bisa kita harapkan selain kesehatan bisa terjaga ? Sungguh Corona ini datang untuk menegaskan bahwa manusia hanyalah makhluk besar yang lemah dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan microba kecil yang mampu menggemparkan dunia seketika.

Saya takut, bagaimana jika ramadhan tahun ini tidak lagi senikmat tahun sebelumnya? Bagaimana jika Ramadhan tahun ini menjadi ramadhan terakhir kita karena daya tahan tubuh tidak mampu lagi menahan kejamnya virus ini.

Bagi rekan rekan sekalian yang posisinya memang dekat dengan keluarga, maka tentunya rindu bukanlah hal menyulitkan untuk diobati. Tapi kami yang saat ini berjatak ribuan kilometer dengar keluarga tengah dilanda cemas dan kekhawatiran. Bagaimana jika tidak adalagi pertemuan yang bisa membawa kami berjumpa dengan keluarga karena virus corona ini tengah menjadi ganas di ibu kota negara ini.

Himbauan pemerintah untuk menjaga jarak antara satu orang dengan lainnya masih diabaikan oleh sebagian orang. Mereka menganggap remeh wabah ini dengan terus menerus menyombongkan diri dan berkeliaran di luar tempat tinggalnya. Orang-orang keras kepala ini tidak pernah sadar bahwa maut sedang mengintai masyarakat Indonesia, dan kita semua tidak ada yang tahu dimana sebetulnya "Corona" ini bersemayam. Bisa jadi sang virus bengis ini sedang menempel di tempat pegangan tangan bus kota atau di pintu masuk minimarket yang ada di sekitar kita.

Tidak ada yang betul betul tahu dimana para pasukan corona ini bersemayam dan menunggu korban untuk dilumpuhkan. Kenapa masih banyak orang lancang yang menganggap persebaran virus ini bukan sebuah ancaman nyata bagi diri dan keluarganya?Apakah kita siap meninggalkan bumi karena terinfeksi Corona ?

Corona ini sangatlah kejam karena bahkan kematian kita yang disebabkan olehnya akan menjadi kematian yang sepi, tanpa ada sentuhan dari keluarga, kita hanya akan wafat dalam kondisi terbungkus kain tebal, keluarga kita tidak punya kesempatan melihat wajah kita untuk terakhir kali. Masihkah kita tidak takut  dan acuh tak acuh pada himbauan tinggal di rumah saja? Tolong jangan jadikan ego pribadi kita menjadi bencana bagi orang lain. Tolong pikirkan nasib mereka yang berada jauh dari keluarga yang harus terpisah menahan rindunya kembali.

Kita bisa melawan corona yang tak terlihat itu, asal kita semua tunduk dan berdiam diri di tempat tinggal masing-masing, jangan melakukan aktivitas diluar rumah yang tidak perlu. Nikmatilah waktu anda bersama keluarga, nikmati dan jangan keluar dari rumah agar tidak berpotensi bertemu dengan virus kejam ini.

Bersyukurlah jika anda berkumpul bersama keluarga. Karena banyak orang yang ingin bertemu keluarganya tapi jarak dan kondisi tidak memungkinkan, bahkan ada juga juga diantara mereka yang sudah dipisahkan oleh kematian. Apakah kita mau mengalami kematian menyedihkan karena Corona ?

Saya faham betul kita semua punya kesibukan diluar sana yang mewajibkan kita untuk terus keluar , tapi apakah kita tidak berfikir bahwa kelak jika  skenario terburuk corona ini membunuh diri kita siapa lagi yang akan mencari rezeki untuk keluarga?

Tidakkah kita senang bahwa ternyata Allah menciptakan sesuatu itu memiliki kelebihan dan kekurangan? Allah menciptakan Corona ini memiliki kelebihan yaitu cepat menular kepada manusia, tapi Allah juga menciptakan kekurangannya yaitu dia mudah untuk dimatikan asalkan mengikuti himbauan dari petugas kesehatan dan pemerintah agak menjaga kebersihan dan mengisolasi diri di rumah selama beberapa Minggu.


Jika memang pekerjaan kita mewajibkan diri untuk keluar dari zona isolasi mandiri maka sebaiknya patuhi standar dan arahan dari petugas kesehatan untuk menggunakan masker dan rajin mencuci tangan. Selain itu hindari jarak dengan orang lain agar tidak berpotensi saling menularkan virus. Terkhusus  bagi para pejuang nafkah harian untuk menghidupi keluarga seperti ojek online, sopir angkutan umum, penjual makanan dan lain sebagainya, mari kita semua yang memiliki rezeki berlebih membagi rezeki untuk mereka. Mari kita saling mendukung dan menjaga satu sama lain ditengah pandemi ini. Mungkin corona bisa membuat kita menciptakan jarak fisik satu sama lain, tapi corona tidak akan mampu menghentikan semangat “bhineka tunggal ika” dalam jiwa kita semua. Pertemuan boleh jarang, asal kemanusiaan tidaklah hilang.

Tentang kisah ramadhan, rantau dan corona, biarkan Tuhan saja yang menentukan segalanya. Jika Tuhan berkehendak bahwa Ramadhan ini adalah Ramadhan yang sunyi, maka terjadilah. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang terlepas dari rencana Tuhan. Barangkali hikmah dari bencana ini adalah menjadikan kita lebih menghargai kesehatan, kebersihan serta kesempatan hidup di dunia. Saya ikhlas bilamana Ramadhan tahun ini harus dinikmati dalam sepi. Saya ikhlas bilamana perantauan tahun ini harus menunda kepulangan agar menjaga keluarga agar tidak berisiko tertular virus kejam ini. Saya ikhlas menerima ujian ini, manusia memang memiliki jatah untuk dihukum agar mampu lebih bersyukur atas segala macam pemberian dari Tuhan. Biarkan saya kembali menabung rindu dan berharap penuh agar keluarga saya disana baik-baik saja.


Jakarta, 7 April 2020

Kamis, 02 April 2020

Bumi dan Manusia

Ini adalah tentang Bumi
Manusia hanyalah penghuni atas anugerah besar ini
Bumi sedang menerima titah agar menciptakan senyap
Agar manusia punya waktu untuk saling mendekap
Mungkin bumi sadar bahwa kita sudah terlalu sepi dalam keramaian
Kita terlalu lama miskin ditengah kekayaan
Kita terlalu lama menyendiri untuk urusan perut dan nafsu yang terlalu diutamakan

Kini bumi sedang beristirahat
Agar manusia kaya dan miskin tak lagi bersekat
Pada dasarnya kaya atau tidak,
ditengah wabah siapa yang bisa selamat?
Hanya Tuhan yang mampu bertitah, manusia mana saja yang layak diberi nikmat sehat

Akankah bumi kembali berdamai dengan manusia ?
Mungkin saja, asal manusia mau bermufakat
manusia dan bumi butuh istirahat
sejenak terbebas dari asap- asap kota yang menyedihkan
sejenak melupakan kepentingan, agar bumi dan manusia kembali sejalan

Tuhan… kami mohon Maaf
Mungkin kami telah lama khilaf
Tolong kami agar  Ramadhan ini tak menjadi senyap
Agar berkah dan pahala kami tidak lenyap

Tuhan… Kami mohon maaf, semoga bumi dan manusia kembali bersahabat

Jakarta, 1 April 2020

SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...