Semua kisah ini
berawal ketika saya lulus dari sekolah Dasar. Semua orang pasti menginginkan
hal terbaik untuk hidupnya. Namun bagi saya dengan lulus dari sekolah Dasar itu
adalah awal berdatangannya hal-hal yang menyakitkan dalam hidup saya. Mengapa
demikian ? Baru saja saya mengalami masa-masa transisi dari anak-anak menuju
remaja kedua orang tua telah mengirimkan saya bersekolah kepesantren. Ada
sebuah Pesantren terkenal di Kota Makassar yang pada akhirnya menjadi sekolah
saya selama 6 tahun lamanya. Sudah sangat jelaas bahwa hal yang menjadi teman
saya setiap hari adalah kesedihan. Tentu saja di Pesantren kita harus terbiasa
dengan segala bentuk kederhanaan. Tanpa orang tua. Makanan yang sangat tidak
membuat selera makan bertambah. Hampir setiap malam saya meneteskan air mata
dibalik bantal ketika tengah malam tiba. Kurang lebih begitulah keadaan saya
selama setahun pertama didalam Pesantren. Sudah berkali-kali saya memohon untuk
dipindahkan kesekolah umum yang lebih banyak kebebasan dan yang pastinya ada
lawan jenis daripada di pesantren hanya melihat laki-laki dimana-mana. Dan yang
lebih buruknya lagi kami para santri hanya boleh pulang kampung setahun satu
kali. Perlahan kebiasaan mulai mengikis rasa sedih yang saya alami. Ditahun
kedua saya mulai membuka hati dengan menjadikan pesantren sebagai zona nyaman.
Hal tersebut berdampak pada peningkatan nilai akademik saya. Ketika tahun
pertama saya berada di posisi 20 besar maka mulai tahun kedua posisi saya tidak
pernah keluar dari 10 besar. Meski demikian hasrat saya untuk pindah sekolah
tetap menggebu-gebu. Berkali-kali saya meminta untuk pindah sekolah namun
hasilnya nihil. Hingga pada tahun ketiga
prestasi akademik saya semakin membaik. Dikelas saya mendapat peringkat 3 di
semester pertama dan pada akhirnya disemester berikutnya saya mendapat peringkat
1 dikelas. Itu adalah pencapaian yang sangat luar biasa ketika saya duduk di
bangku Tsanawiyah dan kebangaan untuk kedua orang tua. Pada masa kelulusan
Ujian Nasional ,pihak pesantren memberi pilihan untuk lanjut atau tidak dalam
pendidikan pesantren tahap Madrasah Aliyah. Saat itu saya mengalami dilema.
Entah mengapa keinginan untuk bersekolah di SMA umum saat itu tidak begitu
besar karena ada panggilan jiwa untuk tetap meanjutkan studi di pesantren. Pada
akhirnya saya tetap memilih lanjut studi di pesantren bersama ke-68 santri dari
total 200-san angkatan saya. Artinya lebih dari 50% teman saya memilih untuk
keluar dari pesantren. Kisah hidup saya saat di Madrasah Aliyah lebih bersinar.
Saya mulai mengikuti Kompetisi-kompetisi diluar Pesantren. Sehingga kemudian
mengantarkan saya menjadi sosok yang “penggila lomba”. Pernah suatu ketika saya
mengikuti sayembara tingkat pesantren yang pesertanya adalah guru-guru yang
sudah berkompeten dan santri angkatan akhir. Saat itu sayembara menulis . Awalnya
tidak ada harapan bagi saya untuk mengalahkan para pesaing yang hebat-hebat.
Saya adalah peserta paling muda saat itu, sehingga dalam benak saya sudah
menebak kalau akan kalah. Namun luar biasa, sebuah keajaiban doa saat itu saya
dinobatkan sebagai juara pertama mengalahkan puluhan naskah dari guru dan para
senior. Saat itulah karir saya mulai meningkat. Selanjutnya saya tidak pernah
menyia-nyiakan kompetisi-kompetisi bergengsi di luar pesantren. Prestasi saya
selanjutnya adalah ketika menjadi juara III
karya tulis tingkat Kota Madya mengalahkan pesaing dari kalangan
mahasiswa. Jika diingat untuk mengikuti lomba tersebut saya harus melakukan
kegiatan yang melanggar aturan pesatren yaitu memanjat pagar, karena pesantren
tidak membiarkan santri-santri keluar sembarangan. Begitupula kompetisi
setingkat profinsi, saya dinobatkan sebagai juara II mengalahkan pesaing dari
kalagan mahasiwa dan umum. Dan berbagai macam prestasi non akademik yang saya
raih sampai kelas XI Madrasah Aliyah yang membuat saya lupa akan kondisi
akademik saat itu. Ada suatu peristiwa
yang membuat saya jatuh. Ketika penentuan kenaikan kelas saat itulah saya
dinyatakan naik kelas namun memiliki syarat. Syaratnya adalah selama tiga bulan
saya harus mengubah sikap dan komdisi akademik bilamana tidak, saya akan
dikeluarkan atau tinggal kelas. Saya mulai sadar saat itu bahwa dua tahun
terakhir saya menjadi serakah karena berbagai prestasi non akademik yang saya
raih. Saat itu saya benar-benar menangis dan membuat kedua orang tua saya
sangat kecewa. Berubah adalah pilihan saya kala itu dan memilih untuk memperbaiki
kondisi akademik di kelas.
Kelas XII
merupakan masa-masa yang berat. Saya memulai kembali dari nol mengejar segala
ketertinggalan saya dahulu. Awalnya saya pesimis dengan kondisi waktu itu. Saya
merasa sangat menyesal ketika melihat teman-teman sudah berada jauh wawasannya
dibandingkan dengan saya. Sejak saat itu saya mulai rutin sholat malam dan juga
Duha berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa agar memberikan saya kesempatan untuk
berubah. Sungguh semua saya lakukan rutin selama tahun terakhir saya di
Madrasah Aliyah. Hingga pada pemilihan Perguruan Tinggi Jalur Undangan telah
dimulai. Saat itu saya memilih beberapa Universitas di Indonesia. Dan
sejujurnya saya merasa pesimis dengan kondisi akademik saya yang begitu rendah
kala itu. Tapi keajaiban benar-benar terjadi yang kesekian kalinya. Saya lulus
Ujian Nasional. Selanjutnya ketika pengumuman kelulusan jalur undangan saya
dinyatakan lulus dan diterima di Universitas Brawijaya Malang, salah satu
Universitas terbaik di Indonesia. Betapa senangnya pula ketika saya mengetahui
saya mendapat tawaran beasiswa penuh disalah satu Universitas terbaik di
Makassar dan juga saya bebas tes masuk kesalah satu perguruan tinggi swasta di
Jakarta. Subhanallah, Walhamduillah betapa saya terharu dan senangnya ketika
menerima kebahagiaan ini. Tiga kampus besar menerima saya sebagai mahasiswa.
Jika diingat betapa berat perjuangan saya ketika dinyatakan naik kelas
bersyarat hingga akhirnya bebas tes di tiga kampus terkenal di Indonesia.
Bersambung