Jumat, 07 Februari 2020

Milestone Kehidupan


Semua kisah ini berawal ketika saya lulus dari sekolah Dasar. Semua orang pasti menginginkan hal terbaik untuk hidupnya. Namun bagi saya dengan lulus dari sekolah Dasar itu adalah awal berdatangannya hal-hal yang menyakitkan dalam hidup saya. Mengapa demikian ? Baru saja saya mengalami masa-masa transisi dari anak-anak menuju remaja kedua orang tua telah mengirimkan saya bersekolah kepesantren. Ada sebuah Pesantren terkenal di Kota Makassar yang pada akhirnya menjadi sekolah saya selama 6 tahun lamanya. Sudah sangat jelaas bahwa hal yang menjadi teman saya setiap hari adalah kesedihan. Tentu saja di Pesantren kita harus terbiasa dengan segala bentuk kederhanaan. Tanpa orang tua. Makanan yang sangat tidak membuat selera makan bertambah. Hampir setiap malam saya meneteskan air mata dibalik bantal ketika tengah malam tiba. Kurang lebih begitulah keadaan saya selama setahun pertama didalam Pesantren. Sudah berkali-kali saya memohon untuk dipindahkan kesekolah umum yang lebih banyak kebebasan dan yang pastinya ada lawan jenis daripada di pesantren hanya melihat laki-laki dimana-mana. Dan yang lebih buruknya lagi kami para santri hanya boleh pulang kampung setahun satu kali. Perlahan kebiasaan mulai mengikis rasa sedih yang saya alami. Ditahun kedua saya mulai membuka hati dengan menjadikan pesantren sebagai zona nyaman. Hal tersebut berdampak pada peningkatan nilai akademik saya. Ketika tahun pertama saya berada di posisi 20 besar maka mulai tahun kedua posisi saya tidak pernah keluar dari 10 besar. Meski demikian hasrat saya untuk pindah sekolah tetap menggebu-gebu. Berkali-kali saya meminta untuk pindah sekolah namun hasilnya nihil. Hingga pada  tahun ketiga prestasi akademik saya semakin membaik. Dikelas saya mendapat peringkat 3 di semester pertama dan pada akhirnya disemester berikutnya saya mendapat peringkat 1 dikelas. Itu adalah pencapaian yang sangat luar biasa ketika saya duduk di bangku Tsanawiyah dan kebangaan untuk kedua orang tua. Pada masa kelulusan Ujian Nasional ,pihak pesantren memberi pilihan untuk lanjut atau tidak dalam pendidikan pesantren tahap Madrasah Aliyah. Saat itu saya mengalami dilema. Entah mengapa keinginan untuk bersekolah di SMA umum saat itu tidak begitu besar karena ada panggilan jiwa untuk tetap meanjutkan studi di pesantren. Pada akhirnya saya tetap memilih lanjut studi di pesantren bersama ke-68 santri dari total 200-san angkatan saya. Artinya lebih dari 50% teman saya memilih untuk keluar dari pesantren. Kisah hidup saya saat di Madrasah Aliyah lebih bersinar. Saya mulai mengikuti Kompetisi-kompetisi diluar Pesantren. Sehingga kemudian mengantarkan saya menjadi sosok yang “penggila lomba”. Pernah suatu ketika saya mengikuti sayembara tingkat pesantren yang pesertanya adalah guru-guru yang sudah berkompeten dan santri angkatan akhir. Saat itu sayembara menulis . Awalnya tidak ada harapan bagi saya untuk mengalahkan para pesaing yang hebat-hebat. Saya adalah peserta paling muda saat itu, sehingga dalam benak saya sudah menebak kalau akan kalah. Namun luar biasa, sebuah keajaiban doa saat itu saya dinobatkan sebagai juara pertama mengalahkan puluhan naskah dari guru dan para senior. Saat itulah karir saya mulai meningkat. Selanjutnya saya tidak pernah menyia-nyiakan kompetisi-kompetisi bergengsi di luar pesantren. Prestasi saya selanjutnya adalah ketika menjadi juara III  karya tulis tingkat Kota Madya mengalahkan pesaing dari kalangan mahasiswa. Jika diingat untuk mengikuti lomba tersebut saya harus melakukan kegiatan yang melanggar aturan pesatren yaitu memanjat pagar, karena pesantren tidak membiarkan santri-santri keluar sembarangan. Begitupula kompetisi setingkat profinsi, saya dinobatkan sebagai juara II mengalahkan pesaing dari kalagan mahasiwa dan umum. Dan berbagai macam prestasi non akademik yang saya raih sampai kelas XI Madrasah Aliyah yang membuat saya lupa akan kondisi akademik  saat itu. Ada suatu peristiwa yang membuat saya jatuh. Ketika penentuan kenaikan kelas saat itulah saya dinyatakan naik kelas namun memiliki syarat. Syaratnya adalah selama tiga bulan saya harus mengubah sikap dan komdisi akademik bilamana tidak, saya akan dikeluarkan atau tinggal kelas. Saya mulai sadar saat itu bahwa dua tahun terakhir saya menjadi serakah karena berbagai prestasi non akademik yang saya raih. Saat itu saya benar-benar menangis dan membuat kedua orang tua saya sangat kecewa. Berubah adalah pilihan saya kala itu dan memilih untuk memperbaiki kondisi akademik di kelas.

Kelas XII merupakan masa-masa yang berat. Saya memulai kembali dari nol mengejar segala ketertinggalan saya dahulu. Awalnya saya pesimis dengan kondisi waktu itu. Saya merasa sangat menyesal ketika melihat teman-teman sudah berada jauh wawasannya dibandingkan dengan saya. Sejak saat itu saya mulai rutin sholat malam dan juga Duha berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa agar memberikan saya kesempatan untuk berubah. Sungguh semua saya lakukan rutin selama tahun terakhir saya di Madrasah Aliyah. Hingga pada pemilihan Perguruan Tinggi Jalur Undangan telah dimulai. Saat itu saya memilih beberapa Universitas di Indonesia. Dan sejujurnya saya merasa pesimis dengan kondisi akademik saya yang begitu rendah kala itu. Tapi keajaiban benar-benar terjadi yang kesekian kalinya. Saya lulus Ujian Nasional. Selanjutnya ketika pengumuman kelulusan jalur undangan saya dinyatakan lulus dan diterima di Universitas Brawijaya Malang, salah satu Universitas terbaik di Indonesia. Betapa senangnya pula ketika saya mengetahui saya mendapat tawaran beasiswa penuh disalah satu Universitas terbaik di Makassar dan juga saya bebas tes masuk kesalah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Subhanallah, Walhamduillah betapa saya terharu dan senangnya ketika menerima kebahagiaan ini. Tiga kampus besar menerima saya sebagai mahasiswa. Jika diingat betapa berat perjuangan saya ketika dinyatakan naik kelas bersyarat hingga akhirnya bebas tes di tiga kampus terkenal di Indonesia.

Bersambung 

SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...