Sabtu, 25 Juli 2020

Pada usia 25




Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal.
Pada usia 25, kemapanan adalah sebuah keharusan dari prepsktif orang-orang di sekeliling kita.
Pada usia 25, kita akan banyak mengalami tekanan-tekanan yang membuat batin kita sering tersiksa.
Pada usia 25, kita akan hidup dalam bayang-bayang perbicangan orang lain di sekitar kita.
Pada usia 25, kita akan merasa mudah sensitif dengan segala pertanyaan-pertanyaan seputar karir, jodoh dan penghasilan.
Pada usia 25, kita akan menanggung beban yang sangat berat, antara memilih mengikuti idealisme atau menjadi cair dengan kondisi yang ada.
Pada usia 25 semua berespektasi ingin menjadi seseorang yang berguna dan dapat dibanggakan.
Pada usia 25, semua orang berharap kita sudah punya rumah, mobil dan keluarga.
Pada usia 25, semua orang menilai kita sudah menjadi pribadi yang mandiri.


Inilah mungkin tuntutan – tuntutan yang kita sering rasakan pada usia 25 tahun dan jujur saja kita benci untuk mengakui bahwa tidak semua dari kita mampu memenuhi tuntuta-tuntutan tersebut. Terkadang takdir yang Tuhan berikan kepada kita tidak selalu sesuai dengan skenario yang kita harapkan. Semua orang saat menjadi remaja memiliki espektasi akan masa depannya. Saya termasuk orang yang cukup idealis dalam membicarakan mimpi. Selain idealis saya juga sering optimis berlebih terhadap segala hal. Hal ini membuat saya sering merasa terlalu gagal dalam hidup karena belum mampu mencapai espektasi yang sudah diharpkan sebelumnya.

Saya percaya bahwa mimpi itu wajib ada dalam diri tiap manusia. Bila tidak mampu bermimpi setidaknya jangan menjadi manusia yang mencibir dan menggagalkan mimpi orang lain. Namun saya berani menjamin bahwa siapapun itu pasti punya mimpi untuk kehidupannya di masa yang akan datang. Tidak peduli kaya, miskin atau kondisi apapun lainnya, semua orang punya hak untuk mempejuangkan mimpinya. Tentu saja tidak benar jika ada yang menyatakan bahwa “rakyat kecil tidak mampu bermimpi karena untuk hidup saja sudah pasti susah, apalagi bermimpi”. Bukankah dapat bertahap hidup di hari esok adalah sebuah mimpi ? oleh karena itu jangan pernah mengaggap remeh mimpi kita.

Namun sekali lagi, pada usia 25 kita akan dipertemukan dengan kondisi yang sangat membingungkan diri kita sendiri. Pada usia ini kita akna sering mendapati kondisi yang tidak ideal. Kita akan merasa gagal berkali-kali dan kemudian bersamangat lagi, lalu jatuh lagi lalu Kembali lagi bersemangat. Hal itu akan kita jumpai pada usia 25. Disinilah kita betul-betul mengalami kegaluan yang berulang dan tentu saja membuat kita mengevaluasi diri setiap hari. Mungkin kita semua bertanya kenapa pada usia 25 kita belum mampu hidup sebagainana espektasi yang kita inginkan ?
Kenapa kita belum menikah ? kenapa kita belum punya rumah sendiri ? kenapa kita belum punya kendaraan pribadi ? kenapa kita belum punya pekerjaan tetap ? kenapa kita belum punya penghasilan besar, kenapa kita belum punya segala hal yang sudah banyak orang seusia kita yang memilikinya ?

Pada usia 25, kita akan sering membandingkan diri kita sendiri dengan diri orang lain. Bodohnya kita terlalu banyak membandingkan kekurangan kita dengan kelebihan orang lain tanpa menyadari bahwa kita juga punya kelebihan yang mungkin orang lain tidak miliki. Namun jujur, inilah yang paling sering kita lakukan pada usia 25. Ketika melihat orang-orang sekitar sudah mampu meraih hal-hal yang belum dapat kira raih kita akan merasa jatuh, dan kecewa terhadap diri kita sendiri. Padahal kita lupa bahwa setiap orang memiliki jalan ceritanya masing-masing. Tidak semua orang terlahir untuk kaya raya. Mayoritas dari kekayaan itu harus diraih dengan perjuangan ekstra keras.  Pada usia 25, terkadang kita masing sering lupa bersyukur. Ternyata banyak sekali hal yang sudah kira peroleh di dunia ini, meskipun bukan berupa kekayaan materi namun kita beruntung Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bisa hidup, memberikan kita teman yang banyak, pengalaman dan lain sebagainya.

Namun faktanya mayoritas dari waktu kita sering dihabiskan untuk mengeluh, membicarkan keburukan orang lain, memikirkan semua ucapan orang tentang kita, bahkan kita sering menghabiskan waktu untuk melawan Tuhan kita sendiri. Tidak naif, namun semua manusia memiliki potensi untuk jadi pendosa begitupula sebaliknya pendosa juga memiliki kesempatan untuk jadi orang yang taat Tuhan. Hidup ini bukanlah sandiwara biasa. Terkadang kita harus berpura-pura tersenyum atas kekecewaan yang kita peroleh ataupun ucapan ucapan menyinggung dari orang lain. Hidup untuk berdebat dengan mereka yang memiliki mulut kejam sama saja dengan menghabiskan waktu dengan sia-sia. Orang lain punya hak berkomentar dan kitapun sebetulnya punya hak untuk membalas. Namun sungguhlah pembalasan terbaik untuk pernyataan-pernyatana kejam orang lian adalah bersabar dan mendoakan mereka agar menjadi orang yang lebih baik.

Pada usia 25, kita akan perlahan-lahan akan memberi toleransi pada diri kita untuk sebuah mimpi yang mungkin belum bisa di raih pada usia ini. pada usia ini kita kan beresar hati menunda banyak hal untuk menghargai proses yang sedang berjalan. Hidup memang penuh perjuangan dan seiring berkembangnya zaman berjuang saja tidaklah cukup karena bersaing dengan banyak orang merupakan sebuah tantangan pada era modern ini.  Kita berada pada era dimana usia produktif sudah mulai membeludak sedangkan lowongan pekerjaan tidak selalu cocok dengan kualifikasi yang kita miliki. Kita berada pada persimpangan jalan dimana pendidikan yang tinggi belum tentu menjamin kita punya pekerjaan dan penghasilan tinggi. Kita hidup di dunia nyata yang penuh dengan drama.

Pada usia 25 tentu saja kita sudah memiliki 5 hingga 10 topeng yang kita sering tunjukkan pada orang-orang yang berbeda. Ini bukan munafik, tapi inilah bentuk dari penyesuaian kita pada dunia yang penuh drama ini. selama kita tidak menjadi pengkhianat, pendusta dan ingkar janji, maka kita bukanlah orang munafik. Semua orang ini adalah aktor/aktris dalam hidupnya masing-masing. Kita harus membiasakan diri dengan peran yang kita punya.  Karena pada akhirnya semua manusia akan menemukan titik tertinggi hidupnya setelah melewati fase-fase terendahnya. Jangan pernah lupa bahwa hidup itu berfluktuasi, mungkin mimpi kitab oleh tertunda saat ini namun jangan berhenti untuk berjuang karena tidak ada yang tahu barangkali mimpi itu akan terwujudkan esok hari.
Selamat bagi yang mampu menghadapi beratnya usia 25, namun tentu saja setelah usia 25 bukan berarti hidup kita akan terbebas dari masalah. Bahkan bisa jadi masalah-masalah setelah usia 25, akan lebih ganas daripada yang kita lewati saat  ini. maka dari itu hadapilah kegalauan, nikmati perjuangan, berbahagialah masih diberikan kesempatan untuk memperjuangkan mimpi kita masing-masing. 

Jakarta, 25 Juli 2020






 Otak, Kebingungan, Kesehatan Mental, Berpikir


Rabu, 10 Juni 2020

Pasangan yang sempurna ?

Kepada kalian yang berpasangan

Belajarlah menerima apapun yang kamu peroleh saat ini, pasangan kamu saat ini tentunya bukan manusia sempurna pasti banyak yang lebih sempurna. Terkadang kita berfikir untuk mencari yang lebih baik, lebih cantik, lebih tampan dan kelebihan kelebihan lainnya. Yang perlu kita sadari bahwa sampai kapan pun itu akan selalu ada yang lebih dan lebih baik, lebih tampan, lebih cantik dari pasangan kita yang sekarang. Kalau hanya karena ingin seseorang yang lebih, pasti nantinya tidak akan ada waktu untuk mengapresiasi pasangan kita saat ini. Selalu saja ada yang lebih menarik di mata kita karena memang keinginan manusia tidak pernah terbatas. Dalam teori Ekonomi selalu keinginan itu menjadi sesuatu yang "egois" tak pernah pas dan selalu dirasa kurang tepat.

Melihat pasangan yang kita miliki jangan menggunakan sudut pandang "ego" dalam Ekonomi. Mencintai adalah suatu keniscayaan sedangkan memilih adalah sebuah ujian. Ujian terberat adalah ketika hendak memilih, memilih bertahan atau tergoda dengan sosok yang menjadi "substitusi" dari pasangan kita. Ingat, siapapun pasangan kita janganlah menjadi penghambat kesempurnaan dalam kita menilainya.

Tidak akan ada pasangan yang benar-benar sempurna karena mereka adalah manusia biasa yang juga punya sisi ketidaksempurnaan. Karena memang begitulah manusia diciptakan ke bumi sebagai makhluk yang paling sempurna tapi tidaklah mampu mencapai kesempurnaan itu sendiri. Jadi sebaiknya kita bersyukur pada apa yang diberikan pada hari ini dan terus belajar agar menjadi pasangan yang saling menyempurnakan.

Jakarta, 25 November 2019

Kamis, 30 April 2020

Retorika (1)

Jeritan jeritan Intoleran mendikte pikiran
Keberlanjutan dari titik muasal kebencian
Aroma sejuk persatuan dan aroma keberingasan perpecahan kian samar
Sedang retorika adalah senjata untuk bertengkar

Buram, kebingungan bagi pendengar
Melihat kericuhan-kericuhan halus mulai melebar 
Sedang siFulan masih saja saling cakar
Lewat mulut-mulut yang tidak pandai mendengar

Jakarta, 25 Februari 2020

Kamis, 23 April 2020

Pandemi dan Ramadhan




Mari sambut Ramadhan dengan cinta 
meski kini ramadhan akan sedikit berbeda
namun berbeda bukan berarti tak sama
Ramadhan masihlah bulan yang bergelimang berkah dan pahala


Mari senantiasa mengejar berkah  di bulan yang syahdu 
bersama rindu dan cinta yang membelenggu
Karena Corona tidak mampu membendung betapa romantisnya ramadhan ketika waktu sahur telah datang 
Karena corona tidak tidak akan mampu membendung betapa merdunya suara muadzin ketika waktu berbuka telah berkumandang

Maka marilah kita berkorban
Berkorban Sejenak untuk saling merindukan
Biarkan sekat dan jarak bertindak
Agar bumi  kita kembali sehat Wal Afiat

Pandemi bukan akhir dari silaturahmi
pandemi bukanlah genderang kehancuran negeri 
melainkan pandemi adalah kesempatan berbenah diri 
barangkali ada yang salah antara kita dengan bumi


Tuhan tidaklah bengis karena mengirim Corona ditengah umat manusia
Tuhan tetap maha penyayang dan pengasih
maka jadikanlah pandemi ini sebagai titik rekonsiliasi
agar manusia dan bumi ini kembali satu frekuensi

Jakarta , 22 April 2020

#HariBumi #Ramadhan

Selasa, 07 April 2020

TIDAK SEMUA MANUSIA SAMA

Tidak ada manusia yang sempurna di dunia
Jangan pernah menilai seseorang hanya dari sudut pandang teropong kecil milik kita
Lihatlah orang tersebut sebagai sosok manusia ber-Tuhan
dimana ada rambu-rambu agama yang menjadikan mereka lebih sopan, santun dan menyejukkan

Jadi jangan pernah menilai bahwa orang Bugis, Jawa, Sunda, Dayak, Batak, dan lain sebagainya sebelah mata hanya karena ada satu atau dua buah kasus buruk yang anda saksikan. Tapi lihatlah sevara garis besar bahwa setiap manusia pasti punya Tuhan, dan karena ber-Tuhan manusia itu enggan melakukan kejahatan.



Ramadhan, Rantau, dan Corona



Bapak Ibu sekalian, serta rekan rekan dimanapun berada. Wabah Corona ini telah menjadikan kita semua diselimuti getir dan ketakutan. Wabah corona ini menciptakan sekat menyedihkan antara kita semua.  Di saat Indonesia sudah  mulai berdamai dengan hawa politik yang memanas, kita kembali diterpa ujian berat dalam bidang kesehatan yang juga mempengaruhi segala aspek kehidupan sosial dan ekonomi. Bukan hanya itu, aspek kegamaan kita semua menjadi terganggu, segala macam ibadah saat ini harus berjarak, tidak boleh lagi melakukan ibadah berjamaah ditengah persebaran wabah corona kejam ini.

Saya disini bersuara sebagai anak rantau yang berada ribuan kilometer dari keluarga yang hanya bisa termenung dalam bisikan bisikan pikiran yang penuh kekhawatiran. Bagaimana jika ramadhan tahun ini tidak lagi seindah ramadhan tahun sebelumnya? Ketika nikmat suci ramadhan kita buka dengan tarawih berjamaah, mendengar ceramah dari para ustad ataupun kyai, semua itu berpotensi tidak akan bisa kita jumpai tahun ini. Saya masih teringat kembali bagaimana ramadhan tahun lalu penuh arti dengan kebersamaan dan kasih sayang dari orang orang terdekat. Sungguh Ramadhan merupakan bulan yang banyak memberikan pelajaran dan teguran bagi diri yang penuh dosa ini.

Lantas ketika renungan saya memudar dan jiwa saya kembali pada masa yang saat ini berlangsung, tak terasa air mata saya menetes perlahan-lahan. Ada rasa rindu dan takut yang sejujurnya bersarang di dalam hati. Ditengah wabah Corona ini, apalagi yang bisa kita harapkan selain kesehatan bisa terjaga ? Sungguh Corona ini datang untuk menegaskan bahwa manusia hanyalah makhluk besar yang lemah dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan microba kecil yang mampu menggemparkan dunia seketika.

Saya takut, bagaimana jika ramadhan tahun ini tidak lagi senikmat tahun sebelumnya? Bagaimana jika Ramadhan tahun ini menjadi ramadhan terakhir kita karena daya tahan tubuh tidak mampu lagi menahan kejamnya virus ini.

Bagi rekan rekan sekalian yang posisinya memang dekat dengan keluarga, maka tentunya rindu bukanlah hal menyulitkan untuk diobati. Tapi kami yang saat ini berjatak ribuan kilometer dengar keluarga tengah dilanda cemas dan kekhawatiran. Bagaimana jika tidak adalagi pertemuan yang bisa membawa kami berjumpa dengan keluarga karena virus corona ini tengah menjadi ganas di ibu kota negara ini.

Himbauan pemerintah untuk menjaga jarak antara satu orang dengan lainnya masih diabaikan oleh sebagian orang. Mereka menganggap remeh wabah ini dengan terus menerus menyombongkan diri dan berkeliaran di luar tempat tinggalnya. Orang-orang keras kepala ini tidak pernah sadar bahwa maut sedang mengintai masyarakat Indonesia, dan kita semua tidak ada yang tahu dimana sebetulnya "Corona" ini bersemayam. Bisa jadi sang virus bengis ini sedang menempel di tempat pegangan tangan bus kota atau di pintu masuk minimarket yang ada di sekitar kita.

Tidak ada yang betul betul tahu dimana para pasukan corona ini bersemayam dan menunggu korban untuk dilumpuhkan. Kenapa masih banyak orang lancang yang menganggap persebaran virus ini bukan sebuah ancaman nyata bagi diri dan keluarganya?Apakah kita siap meninggalkan bumi karena terinfeksi Corona ?

Corona ini sangatlah kejam karena bahkan kematian kita yang disebabkan olehnya akan menjadi kematian yang sepi, tanpa ada sentuhan dari keluarga, kita hanya akan wafat dalam kondisi terbungkus kain tebal, keluarga kita tidak punya kesempatan melihat wajah kita untuk terakhir kali. Masihkah kita tidak takut  dan acuh tak acuh pada himbauan tinggal di rumah saja? Tolong jangan jadikan ego pribadi kita menjadi bencana bagi orang lain. Tolong pikirkan nasib mereka yang berada jauh dari keluarga yang harus terpisah menahan rindunya kembali.

Kita bisa melawan corona yang tak terlihat itu, asal kita semua tunduk dan berdiam diri di tempat tinggal masing-masing, jangan melakukan aktivitas diluar rumah yang tidak perlu. Nikmatilah waktu anda bersama keluarga, nikmati dan jangan keluar dari rumah agar tidak berpotensi bertemu dengan virus kejam ini.

Bersyukurlah jika anda berkumpul bersama keluarga. Karena banyak orang yang ingin bertemu keluarganya tapi jarak dan kondisi tidak memungkinkan, bahkan ada juga juga diantara mereka yang sudah dipisahkan oleh kematian. Apakah kita mau mengalami kematian menyedihkan karena Corona ?

Saya faham betul kita semua punya kesibukan diluar sana yang mewajibkan kita untuk terus keluar , tapi apakah kita tidak berfikir bahwa kelak jika  skenario terburuk corona ini membunuh diri kita siapa lagi yang akan mencari rezeki untuk keluarga?

Tidakkah kita senang bahwa ternyata Allah menciptakan sesuatu itu memiliki kelebihan dan kekurangan? Allah menciptakan Corona ini memiliki kelebihan yaitu cepat menular kepada manusia, tapi Allah juga menciptakan kekurangannya yaitu dia mudah untuk dimatikan asalkan mengikuti himbauan dari petugas kesehatan dan pemerintah agak menjaga kebersihan dan mengisolasi diri di rumah selama beberapa Minggu.


Jika memang pekerjaan kita mewajibkan diri untuk keluar dari zona isolasi mandiri maka sebaiknya patuhi standar dan arahan dari petugas kesehatan untuk menggunakan masker dan rajin mencuci tangan. Selain itu hindari jarak dengan orang lain agar tidak berpotensi saling menularkan virus. Terkhusus  bagi para pejuang nafkah harian untuk menghidupi keluarga seperti ojek online, sopir angkutan umum, penjual makanan dan lain sebagainya, mari kita semua yang memiliki rezeki berlebih membagi rezeki untuk mereka. Mari kita saling mendukung dan menjaga satu sama lain ditengah pandemi ini. Mungkin corona bisa membuat kita menciptakan jarak fisik satu sama lain, tapi corona tidak akan mampu menghentikan semangat “bhineka tunggal ika” dalam jiwa kita semua. Pertemuan boleh jarang, asal kemanusiaan tidaklah hilang.

Tentang kisah ramadhan, rantau dan corona, biarkan Tuhan saja yang menentukan segalanya. Jika Tuhan berkehendak bahwa Ramadhan ini adalah Ramadhan yang sunyi, maka terjadilah. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang terlepas dari rencana Tuhan. Barangkali hikmah dari bencana ini adalah menjadikan kita lebih menghargai kesehatan, kebersihan serta kesempatan hidup di dunia. Saya ikhlas bilamana Ramadhan tahun ini harus dinikmati dalam sepi. Saya ikhlas bilamana perantauan tahun ini harus menunda kepulangan agar menjaga keluarga agar tidak berisiko tertular virus kejam ini. Saya ikhlas menerima ujian ini, manusia memang memiliki jatah untuk dihukum agar mampu lebih bersyukur atas segala macam pemberian dari Tuhan. Biarkan saya kembali menabung rindu dan berharap penuh agar keluarga saya disana baik-baik saja.


Jakarta, 7 April 2020

Kamis, 02 April 2020

Bumi dan Manusia

Ini adalah tentang Bumi
Manusia hanyalah penghuni atas anugerah besar ini
Bumi sedang menerima titah agar menciptakan senyap
Agar manusia punya waktu untuk saling mendekap
Mungkin bumi sadar bahwa kita sudah terlalu sepi dalam keramaian
Kita terlalu lama miskin ditengah kekayaan
Kita terlalu lama menyendiri untuk urusan perut dan nafsu yang terlalu diutamakan

Kini bumi sedang beristirahat
Agar manusia kaya dan miskin tak lagi bersekat
Pada dasarnya kaya atau tidak,
ditengah wabah siapa yang bisa selamat?
Hanya Tuhan yang mampu bertitah, manusia mana saja yang layak diberi nikmat sehat

Akankah bumi kembali berdamai dengan manusia ?
Mungkin saja, asal manusia mau bermufakat
manusia dan bumi butuh istirahat
sejenak terbebas dari asap- asap kota yang menyedihkan
sejenak melupakan kepentingan, agar bumi dan manusia kembali sejalan

Tuhan… kami mohon Maaf
Mungkin kami telah lama khilaf
Tolong kami agar  Ramadhan ini tak menjadi senyap
Agar berkah dan pahala kami tidak lenyap

Tuhan… Kami mohon maaf, semoga bumi dan manusia kembali bersahabat

Jakarta, 1 April 2020

Rabu, 25 Maret 2020

Corona dan Harapan Kita

Corona dan Harapan Kita.

Persebaran virus Corona di tanah air kini makin kelihatan menginfeksi Ekonomi. Nilai tukar kemarin sudah tembus Rp. 14.750 padahal Februari sempat di angka 13.500 san. 

Jangankan Indonesia, negara lainpun sedang berjuang melawan virus ini. Semoga bulan Ramadhan nanti ibadah kita semua bisa lancar dan menjadi titik akhir dari persebaran berbahaya ini. Tetap jaga "kemanusiaan" dengan tidak melakukan penimbunan dan perilaku serakah dengan memainkan Supply dan harga barang. Demand akan produk kesehatan saat ini sangat tinggi, tentu saja rasa takut akan membuat kita berani mengeluarkan berapapun untuk memiliki semuanya. Tapi tetaplah ingat, bahwa apa gunanya anda menimbun produk kesehatan, jika nanti uang hasil jualan anda adalah hasil dari ketakutan-ketakutan dan ketidakridhoan konsumen yang terpaksa membeli produk anda yang sudah terlampau tinggi harganya. 

Dan lagi mohon berita kesembuhan pasien Corona harus diberitakan seheboh berita pertambahan kasusnya. Ketakutan kita jika tidak dibarengi dengan "harapan" tentu akan jadi ketakutan berkepanjangan. Berita kesembuhan ini perlu diperhatikan juga agar tiap korban ataupun masyarakat bisa lega dan berjuang bersama-sama, bahwa ada potensi sembuh di depan sana asalkan mau berjuang dan berserah pada yang kuasa. Karena sejak dulu Allah menciptakan sesuatu berpasangan, tentunya kita semua percaya bahwa virus ini diciptakan bersamaan dengan penangkalnya. Jadi harapan sembuh pasti ada, karena begitulah memang kiranya tiap insan jika diberi cobaan pasti Allah sudah memastikan kadar cobaan tersebut sesuai dengan kapasitas diri sang hamba. 

Semoga Allah menjaga Indonesia dan seluruh masyarakat di dalamnya.

Jakarta, 14 Maret 2020

Di Timur Pejaten



Rantau adalah candu memabukkan 
Selepas bergelut dengan pendidikan, 
Kemudian pertarungan merebut mimpi diperkotaan yang katanya kejam
Padahal Kota tidak pernah kejam, kekejaman adalah bukti ketiadaan "sifat baik" dalam diri tiap insan
Di Sebelah Selatan Jakarta
Disana ada titik terang yang mempertemukan jiwa keras sang pecandu rantau dengan pendewasaan
Jiwa berontaknya kini melunak,
Dia kini faham kerasnya mencari sesuap nasi 
Terkadang rindu berselimut getir datang menerkam
Mencoba goyahkan tiap detik penantian
Pada mimpi dan cinta yang sudah direncanakan
Pada asa yang sudah didambakan kepada Tuhan
Di sebelah Timur Pejaten ada tempat beraroma Bunga 
Menjadikan rasa suntuk bekerja jadi nikmat merebahkan kepala

Pada titik itu rasa nyaman telah mendamaikan setiap suasana 
Walaupun pecandu kini membelot dari istana, tapi para kucing tetaplah obyek kerinduan yang mendalam
Mungkin tidak semua orang mencintai kucing liar,
Tapi di sebalah Timur Pejaten ada harapan dan cinta untuk mereka

Jika sang pecandu sehat,
Kelak kucing kucing liar itu akan tetap dijangkaunya
Jarak Pejaten dan rindu hanya fiksi
Sedangkan pertemuan adalah hal paling ilmiah atas rindu yang membuncah

Jumat, 07 Februari 2020

Milestone Kehidupan


Semua kisah ini berawal ketika saya lulus dari sekolah Dasar. Semua orang pasti menginginkan hal terbaik untuk hidupnya. Namun bagi saya dengan lulus dari sekolah Dasar itu adalah awal berdatangannya hal-hal yang menyakitkan dalam hidup saya. Mengapa demikian ? Baru saja saya mengalami masa-masa transisi dari anak-anak menuju remaja kedua orang tua telah mengirimkan saya bersekolah kepesantren. Ada sebuah Pesantren terkenal di Kota Makassar yang pada akhirnya menjadi sekolah saya selama 6 tahun lamanya. Sudah sangat jelaas bahwa hal yang menjadi teman saya setiap hari adalah kesedihan. Tentu saja di Pesantren kita harus terbiasa dengan segala bentuk kederhanaan. Tanpa orang tua. Makanan yang sangat tidak membuat selera makan bertambah. Hampir setiap malam saya meneteskan air mata dibalik bantal ketika tengah malam tiba. Kurang lebih begitulah keadaan saya selama setahun pertama didalam Pesantren. Sudah berkali-kali saya memohon untuk dipindahkan kesekolah umum yang lebih banyak kebebasan dan yang pastinya ada lawan jenis daripada di pesantren hanya melihat laki-laki dimana-mana. Dan yang lebih buruknya lagi kami para santri hanya boleh pulang kampung setahun satu kali. Perlahan kebiasaan mulai mengikis rasa sedih yang saya alami. Ditahun kedua saya mulai membuka hati dengan menjadikan pesantren sebagai zona nyaman. Hal tersebut berdampak pada peningkatan nilai akademik saya. Ketika tahun pertama saya berada di posisi 20 besar maka mulai tahun kedua posisi saya tidak pernah keluar dari 10 besar. Meski demikian hasrat saya untuk pindah sekolah tetap menggebu-gebu. Berkali-kali saya meminta untuk pindah sekolah namun hasilnya nihil. Hingga pada  tahun ketiga prestasi akademik saya semakin membaik. Dikelas saya mendapat peringkat 3 di semester pertama dan pada akhirnya disemester berikutnya saya mendapat peringkat 1 dikelas. Itu adalah pencapaian yang sangat luar biasa ketika saya duduk di bangku Tsanawiyah dan kebangaan untuk kedua orang tua. Pada masa kelulusan Ujian Nasional ,pihak pesantren memberi pilihan untuk lanjut atau tidak dalam pendidikan pesantren tahap Madrasah Aliyah. Saat itu saya mengalami dilema. Entah mengapa keinginan untuk bersekolah di SMA umum saat itu tidak begitu besar karena ada panggilan jiwa untuk tetap meanjutkan studi di pesantren. Pada akhirnya saya tetap memilih lanjut studi di pesantren bersama ke-68 santri dari total 200-san angkatan saya. Artinya lebih dari 50% teman saya memilih untuk keluar dari pesantren. Kisah hidup saya saat di Madrasah Aliyah lebih bersinar. Saya mulai mengikuti Kompetisi-kompetisi diluar Pesantren. Sehingga kemudian mengantarkan saya menjadi sosok yang “penggila lomba”. Pernah suatu ketika saya mengikuti sayembara tingkat pesantren yang pesertanya adalah guru-guru yang sudah berkompeten dan santri angkatan akhir. Saat itu sayembara menulis . Awalnya tidak ada harapan bagi saya untuk mengalahkan para pesaing yang hebat-hebat. Saya adalah peserta paling muda saat itu, sehingga dalam benak saya sudah menebak kalau akan kalah. Namun luar biasa, sebuah keajaiban doa saat itu saya dinobatkan sebagai juara pertama mengalahkan puluhan naskah dari guru dan para senior. Saat itulah karir saya mulai meningkat. Selanjutnya saya tidak pernah menyia-nyiakan kompetisi-kompetisi bergengsi di luar pesantren. Prestasi saya selanjutnya adalah ketika menjadi juara III  karya tulis tingkat Kota Madya mengalahkan pesaing dari kalangan mahasiswa. Jika diingat untuk mengikuti lomba tersebut saya harus melakukan kegiatan yang melanggar aturan pesatren yaitu memanjat pagar, karena pesantren tidak membiarkan santri-santri keluar sembarangan. Begitupula kompetisi setingkat profinsi, saya dinobatkan sebagai juara II mengalahkan pesaing dari kalagan mahasiwa dan umum. Dan berbagai macam prestasi non akademik yang saya raih sampai kelas XI Madrasah Aliyah yang membuat saya lupa akan kondisi akademik  saat itu. Ada suatu peristiwa yang membuat saya jatuh. Ketika penentuan kenaikan kelas saat itulah saya dinyatakan naik kelas namun memiliki syarat. Syaratnya adalah selama tiga bulan saya harus mengubah sikap dan komdisi akademik bilamana tidak, saya akan dikeluarkan atau tinggal kelas. Saya mulai sadar saat itu bahwa dua tahun terakhir saya menjadi serakah karena berbagai prestasi non akademik yang saya raih. Saat itu saya benar-benar menangis dan membuat kedua orang tua saya sangat kecewa. Berubah adalah pilihan saya kala itu dan memilih untuk memperbaiki kondisi akademik di kelas.

Kelas XII merupakan masa-masa yang berat. Saya memulai kembali dari nol mengejar segala ketertinggalan saya dahulu. Awalnya saya pesimis dengan kondisi waktu itu. Saya merasa sangat menyesal ketika melihat teman-teman sudah berada jauh wawasannya dibandingkan dengan saya. Sejak saat itu saya mulai rutin sholat malam dan juga Duha berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa agar memberikan saya kesempatan untuk berubah. Sungguh semua saya lakukan rutin selama tahun terakhir saya di Madrasah Aliyah. Hingga pada pemilihan Perguruan Tinggi Jalur Undangan telah dimulai. Saat itu saya memilih beberapa Universitas di Indonesia. Dan sejujurnya saya merasa pesimis dengan kondisi akademik saya yang begitu rendah kala itu. Tapi keajaiban benar-benar terjadi yang kesekian kalinya. Saya lulus Ujian Nasional. Selanjutnya ketika pengumuman kelulusan jalur undangan saya dinyatakan lulus dan diterima di Universitas Brawijaya Malang, salah satu Universitas terbaik di Indonesia. Betapa senangnya pula ketika saya mengetahui saya mendapat tawaran beasiswa penuh disalah satu Universitas terbaik di Makassar dan juga saya bebas tes masuk kesalah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Subhanallah, Walhamduillah betapa saya terharu dan senangnya ketika menerima kebahagiaan ini. Tiga kampus besar menerima saya sebagai mahasiswa. Jika diingat betapa berat perjuangan saya ketika dinyatakan naik kelas bersyarat hingga akhirnya bebas tes di tiga kampus terkenal di Indonesia.

Bersambung 

SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...