Senin, 17 Desember 2018

Aku jadi takut

Aku jadi takut
bagaimana jika besok orang tuaku tak sengaja salah bicara soal agama lalu dipidanakan dan disebut menista

Aku jadi takut
bagaimana jika besok adikku tumbuh besar lalu tak sengaja salah bicara soal agama dia akan dipidanakan lalu dihakimi oleh warga media sosial dengan umpatan tiada batas

aku jadi takut untuk berkata-kata
akankah pemeluk agama nantinya akan memilih untuk saling memenjarakan ketimbang saling mengingatkan ?

Aku jadi takut
nanti kalau aku tak sengaja berkata keliru soal agama, aku akan disidang tanpa kata maaf

aku jadi takut jika perkara agama menjadi obrolan orang-orang yang taat saja lalu orang-orang yang ingin mendekat justru berlari takut

aku jadi takut jika besok pemeluk agama jadi lebih seru saling memenjarakan ketimbang membahas perdamaian-perdamaian

aku takut,
takut sekali besok kita memecah belah kubu ini jadi pecahan kecil yang mudah diterpa angin dan lalu terjajah lagi

takut, aku benar-benar takut
sepertinya menjadi penista lebih mudah dibanding mengenal hakikat beragama itu sendiri

4 April 2018
#celotehmalam

#GantiPresiden

Fenomena Hastag Ganti Presiden
(sebuah kisah negeri demokrasi)

Tidak dapat kita hindari 2018 adalah tahun yang berbeda dari tahun sebelumnya. Tidak terasa era Jokowi-JK akan berakhir tahun depan. Itu berarti tahun 2018 kita juluki sebagai tahun politik. Kejam memang rasanya jika berbicara tentang realita yang terjadi saat ini. Sepertinya pemimpin saat ini kehilangan penghormatan dari rakyatnya. Sekalipun pemimpin adalah pelayan rakyat tapi harus difahami juga bahwa pemimpin adalah atasan kita.

Saya tidak kecewa sama mereka yang gemar mengkritik presiden dengan benar, namun terlalu kecewa jika ada mereka yang hanya sekedar mengkritik tanpa data apalagi hanya ikut meramaikan hastag provokatif #GantiPresiden2019. Okelah tahun depan adalah masa pergantian. Tak masalah juga ada hastag ini, namun lucunya ini menjadi pemicu perpecahan. Rakyat yang pro dan kontra pemerintah mulai saling serang. Bermula dari hujat menghujat via media sosial hingga pada saling ganggu di dunia nyata.

Rasanya seram juga cara berdemokrasi kita kini, negara kita punya niat baik turut serta menjaga ketertiban dunia malah kita sendiri yang tidak tertib. Seharusnya kita sudah tahu bahwa tanpa hastag ganti presiden pun tetap saja akan ada proses penjaringan calon presiden baru. Apakah kelak Pak Jokowi terpilih atau tidak, itukan perkara lain.

Fenomena Hastag ini adalah bagian dari berpendapat, bagian dari aspirasi yang layak didengar. Tapi dengan beredarnya video saling ganggu antara pengguna hastag dan non hastag saya jadi sedikit geram, sudah separah inikah kita menyikapi makna demokrasi?

Saya jadi curiga, jangan-jangan hastag ini diciptakan untuk mendongkrak lawan politik Pak Jokowi secara perlahan, menciptakan kesan antagonis pemerintah dengan hanya mencari data kegagalan tanpa mengekspos data keberhasilan kabinet kerjanya.
Jangan-jangan ini strategi jenius yang tertata untuk menghadirkan tokoh idaman nasional yang mereka usung menggantikan raja hari ini. Itu normal saja, tapi bukankah buang-buang waktu? toh 2019 pasti pemilu juga.

ini hanya opini, hanya sebatas sudut pandang saya jadi tak usah emosi yang baca.

30 April 2018

#OpiniPagi

Cinta itu tidak sederhana

Cinta itu tidak sederhana
Bagi saya cinta itu seperti sebuah proses menjawab Rumusan masalah penelitian

Dimana terdapat pendahuluan yang harus menjelaskan kronologis kenapa saya bisa jatuh cinta. Lalu kemudian setelah dikerucutkan semakin dalam akan muncul pertanyaan mendasar dari pada penelitian yang direpresentasikan dalam Rumusan Masalah. Kenapa pakai rumusan masalah ? Apakah cinta merupakan masalah ?
Iya benar cinta akan jadi masalah kalau kita tidak mempertegas Rumusan masalah tersebut dengan adanya tujuan dan manfaat dari cinta itu sendiri
Cinta bagi saya selayaknya proses mengumpulkan data. Karena saya terbiasa dengan metode kualitatif makanya pendekatan saya cenderung banyak melakukan wawancara dan melibatkan diri dalam kehidupan wanita yang di inginkan.
Bab 1 dari penelitian cinta haruslah tegas, mengarahkan kemana kelak cinta itu akan bermuara. Tidak boleh bias dan tidak boleh memunculkan pertanyaan yang ambigu .

Pada bab 2 adalah kajian pustaka yang di ambil dari beragam kisah yang telah melebur jadi teori hidup yang di ajarkan oleh masa lalu. Pada bab 2 ini merupakan diskusi serius antara teori lama dengan bahasa yang lebih sederhana. Ibaratnya mencari sebuah garis besar atas teori cinta yang pernah gagal dahulu.
Pada bab 3 adalah metode penelitian. Saya senang sekali dengan kualitatif karena merupakan metode yang melibatkan langsung diri saya sebagai instrumen utama dalam mempelajari langsung obyek yang sedang diteliti.
Cara saya mengumpulkan data yaitu dengan wawancara tidak terstruktur serta data sekunder berupa dokumentasi media sosial dan lain sebagainya.
Informan kuncinya adalah dia sosok yang saya kagumi. Alat analisis untuk proses adalah murni menggunakan hati dan logika.
uji validitas dari cinta adalah ketika rasa cemburu terhadap sosok yang dikagumi tersebut mulai tumbuh, semakin besar cemburu maka semakin cintalah terhadap sosok tersebut.

pada bab 4 adalah interpretasi atas hasil riset yang telah dilakukan terhadap obyek yang dicintai tersebut. Susunan puzzle cinta disini di susun berdasarkan tujuan penelitian yang akan menjawab rumusan masalah.
Pada akhirnya pada bab ini akan muncul sebuah statement tegas bahwa perasaan kagum terhadap seseorang yang kita kagumi harus dilanjutkan ataukah tidak.

Pada bab 5 yang digunakan sebagai penutup penelitian adalah bagian yang berisi tentang kesimpulan dan saran atas penelitian yang sudah terlaksana. Disinilah semua poin-poin inti dari riset harus ditonjolkan agar kedepannya bisa jadi rujukan bagi penelitian cinta selanjutnya.

Cinta itu adalah proses mempelajari situasi dan menganalisis potensi kedepannya arah dan muara daripada rasa yang kian hari kian membuncah

Cinta itu adalah suatu proses panjang agar tak lagi menjadi sebuah ajang bermain perasaan

Malang, 23 Juli 2018

Kenyataan

Kita hidup di dunia ini tentunya tidak terlepas dari masa lalu. Entah masa lalu itu menyisakan kenangan baik ataupun menancapkan kenangan buruk dalam ingatan. Kita hanya perlu ikhlas dengan apa yang pernah terjadi dengan kita pada masa itu. Karena dengan Ikhlas hati kita akan terasa lapang. Apalah guna kita bersedih terlalu dalam jika itu tak mampu mengubah keadaan ? Apakah dengan air mata semua masalah hilang ? Mungkin air mata hanya membantumu merasa lebih baik namun kenangan buruk itu tak kan juga hilang. Ikhlas lah, apapun yang pernah terjadi, dosa apa yang sering kita ratapi, perlakuan orang mana yang membuahkan trauma dalam hidup dan apa saja yang menjadikan kita terlihat lemah tak berdaya.
Suatu hari di masa depan kita harus percaya bahwa Allah telah menyiapkan kebahagiaan dunia yang tidak kita sangka-sangka. Allah memang memastikan bahwa akhirat adalah tujuan terakhir kita namun bukan berarti Allah tak mengizinkan kita berbahagia di dunia. Allah itu Maha Tahu akan diri kita yang kecil ini. Dengan memperbaiki diri setiap hari akan dihadiahkan kebaikan dunia dan akhirat. Apa yang perlu ditakutkan?

Apakah kita perlu takut masa lalu akan menganggu masa depan ?
Apakah kita perlu khawatir bahwa Allah akan menghukum kita dengan apa yang pernah terjadi pada masa lalu.

Tidak !!!

Allah akan mengerti selama kita sudah berbenah diri, kita ikhlaskan apa yang terjadi, kita jadi pribadi yang lebih berbakti pada Ilahi.

Sudah, Ikhlaskan saja kenangan buruk itu, kita maju untuk menemukan bahagia yang baru, karena setiap manusia berhak untuk menemukan bahagianya masing-masing. Tak terkecuali kau, aku dan mereka yang sama-sama memiliki masalah dengan masa lalunya.

Malang, 13 Juli 2018

SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...