Aku begitu bahagia awalnya, bisa bersamamu, melewati hari-hari manis hanya
denganmu. Lebih dari 1000 hari aku hitung hari indah itu berlangsung bersamamu. Aku
ingat sekali dahulu kau mencintaiku katamu, mencitaiku apa adanya ucap mulut
manismu waktu itu. Aku kala itu sebagai gadis remaja yang lugu hanya mampu
tersipu malu, aku berharap saat itu waktu berhenti saja bergerak, agar aku bisa
menatapmu selamanya di hadapanku. Seiring waktu berjalan, kau dan aku semakin
berseberangan. Saat aku mulai mengubah kebiasaanku kaupun terlihat menunjukkan
keegoisanmu. Perlahan aku menutupi auratku dengan kerudung, dan saat itu
cintamu pun perlahan mulai berujung. Aku tak menyangka ujung dari cintamu hanya
terletak pada kasus seperti “hijrah berhijabku”. Aku begitu mengharapkan masa
depan bersamamu saat itu, sehingga aku menjadi sosok yang berkeperibadian
berbeda. Di saat kau tak di sisiku aku memakai kerudung itu di kepalaku, namun
saat kita berada dalam suatu kebersamaan aku membukanya, demimu, demi cintamu,
demi apa yang kita lalui selama kurang lebihnya 4 tahun waktu itu. Kau seperti
cinta terakhir kala itu, dimana semua hanya ingin kupercayakan padamu. Semua
berjalan dengan baik-baik saja waktu itu. Aku jalani kisah kita dengan menjadi
2 pribadi yang berbeda. Meski aku tahu, bagi Tuhan bukan seperti ini cinta yang
semestinya. Aku rela melanggar itu demi menjadi sesuatu yang kau inginkan.
Sayang sekali, waktu kembali menyadarkanku bahwa kau tidaklah
benar-benar mencintaiku. Hijrahku menjadi wanita berhijab tak lantas membuatmu
mendukungku, sepertinya kau tak pernah siap menerima kenyataan ini. Maafkan aku,
sepertinya hijabku ini bukan untukmu, sepertinya ucapmu untuk mencintaiku
selalu hanyalah sekadar janji saja. Kau menunjukkan ke angkuhanmu sebagai
pasangan, kamu mendominasiku, padahal seharusnya cinta harus saling seimbang.
Kamu bukanlah Tuhan yang harus aku penuhi selalu permintaannya. Maafkan aku,
aku harus memilih hijabku, bukan cintamu yang hanya serba inginmu itu. Kau
inginkan aku tampil seperti yang dulu, tanpa kerudung indah di kepalaku. Maaf,
aku harus melepaskanmu, walau berat, tapi inilah pilihan terbaik kita. Ternyata
kita memang tidak pernah saling menginginkan. Kau dan aku hanyalah cerita yang
sudah selesai. Semoga kau menemukan sosok yang bisa mengubah sudut pandangmu
mengenai cinta. Bahwa cinta itu bukan tentang memaksa kehendak, melainkan
saling menerima kondisi satu dengan lainnya. Cinta itu tentang saling mendukung
bukan saling mengurung dalam kehendak-kehendak yang beruntunmu.