Selasa, 20 Februari 2018

Kepada Negeriku, Aku Bersajak

Wahai Bapak Ibu yang terhormat
Yang kini sosoknya sungguh bermartabat
Yang kemarin-kemarin banyak di Kritik soal Asmat
Apakah Amanah kini masih terasa nikmat?
atau justru semakin terasa berat ?

Belum puas rasanya aku menyaksikan perpecahan yang kian hebat
Yang semua orang serba terlibat
Aku belum puas dengan debat online rakyat
Aku masih ingin menonton para pendebat beradu pendapat, hingga tak ada lagi kata-kata yang mampu terucap selain hujat menghujat

Negeri ini penuh tipu daya dan muslihat
Senyum tulus orang kini kadang didefinisikan sebagai celaan
karena itu harus dibalas dengan hujatan
Negeri ini memang sudah tak lagi sehat

Wakil rakyat adalah sebuah istilah untuk penyalur aspirasi dan suara
Namun kenapa disana masih saja berkibar bendera kepentingan yang gila ?
Rasanya menjadi lebih menarik ketika menonton kartun di televisi dibandingkan menyaksikan janji sejuta imaji yang sang wakil hembuskan di telinga-telinga

Kita menjadi budak Opini yang berbahaya
Yang di pertontonkan oleh media-media yang juga terperdaya
Seharusnya mereka berdiri di tengah
Bukan di sisi kiri yang berduit
Dan di sisi kanan yang berkuasa

Ada kelucuan yang kita terpaksa menertawakannya
Adalah setiap drama-drama Korea yang kian diminati generasi muda dibandingkan menonton berita yang menyampaikan kondisi terkini bangsa yang semakin menggila
Kita harus tertawa
Karena banyak generasi kini tak peduli negaranya

Belum lagi dalam dunia akademik ternyata praktik manipulasi data dan nota masih diminati
Banyak sekali judul-judul kegiatan yang dibiaskan dengan tanda tangan perwakilan semu
Kini memang negeri sedang bernostalgia
Seakan kita kembali pada masa kolonialisme dahulu
Tentang penjajahan-penjajahan mengerikan
Oleh manusia kepada moral yang semakin tipis bentuknya

Jika kita bertanya-tanya kenapa gerangan bangsa kita semakin banyak masalah?
Mungkin saja karena kita telah bosan dengan hidup rukun
Mungkin saja karena kita sudah bosan hidup jujur
Mungkin saja karena kita sudah tidak peduli kepentingan umum
Kita mungkin sudah di perbudak oleh kepentingan pribadi yang bertopeng

Negara dalam negara adalah fakta yang tak terbantah
Seolah kabinet kerja hanyalah formalitas belaka
Karena diluar sana ada banyak sekali cerita-cerita tentang perebutan Takhta
Begitulah kiranya, negara yang semakin mirip panggung perburuan jabatan
Yang di mana kompetitor-kompetitornya terdiri dari para generasi yang pernah muda

Kini ketika ingin menebak kejujuran teramat sulit rasanya,
Ketika para tokoh negeri berdebat sengit
Ada rakyat dibawah yang sedang terbirit-birit
Kepada siapa mereka hendak menitip kritik ?
Jika ternyata para penyalur aspirasi tak berani berbisik-bisik  pada telinga lawan

Kini kawan dan lawan tidaklah penting bukan ?
Yang terpenting sekarang mengamankan jabatan agar kelak tak tersingkirkan.

Malang, 17 Februari 2018

#SajakPagi

Minggu, 04 Februari 2018

Sudah jangan berdebat, mari bersatu saja.


Sudah jangan berdebat, mari bersatu saja.


Masih hangat sekali rasanya kasus kartu kuning buat Presiden, belum juga 5 hari berlangsung kejadian itu tapi sudah beredar banyak sekali perdebatan yang pro kontra maupun netral.

Lucu memang ya, setiap ada fenomena seperti ini baru pada muncul menyuarakan opini. sedangkan bertahun-tahun lamanya kita menyaksikan masalah hanya memilih bungkam lalu fokus mengamankan posisi biar tidak diciduk sebagai orang yang salah.

Kemana suara gema perubahan saat wakil rakyat sedang bermain drama panjang dengan tiang listrik serta rumah sakit yang pernah menghebohkan jagat Indonesia ?

Kita tidak boleh sepenuhnya percaya sama pemimpin memang, bukan berarti wakil rakyat bebas kita percayakan nasib negara 300an juta jiwa ini.
Saya khawatir apabila kita keasyikan mengkritik pemimpin negara dan menteri-menterinya nanti kita lupa mengawal wakil kita di kursi panas politik sana.

Menyandang gelar mahasiswa memang sungguh berat rasanya, apalagi sejarah mahasiswa Indonesia memang sangat luar biasa, mahasiswa adalah suara rakyat sebenarnya yang peranannya bahkan lebih vital daripada wakil rakyat yang jumlahnya tak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang jutaan.
Mahasiswa adalah wakil sesungguhnya yang menyuarakan aspirasi nyata rakyat. Mahasiswa terbukti mampu menggulingkan sebuah rezim karena persatuannya. Namun nampaknya semakin kesini persatuan mahasiswa sudah mulai melemah.
Terasa ada strata tertentu yang membedakan 1 dengan lainnya.

Bukan saya tak suka fenomena perbedaan ini. Melainkan saya gerah dengan perbincangan media sosial yang kerap kali jadi lebih menarik membahas hal-hal yang sebenarnya tidak menyelesaikan masalah rakyat. Mari kita bijak, jangan memberi pembenaran kepada bung pemberi kartu kuning karena faktanya memang tidak sopan rasanya jika melakukan hal seperti itu dalam forum resmi. Jangan pula menyalahkan apa yang telah dilakukannya karena memang ini adalah bentuk penyampaian aspirasi, sah sah saja.
lalu apa yang harus dilakukan?
setidaknya tidak perlu ikut-ikutan berdebat mencari celah untuk mendapatkan pengakuan "keren".

Mari buka mata untuk melihat sekitar kita, jangan semata menunggu kebijakan dari negara untuk bisa mengubah kondisi masyarakat seketika, namun lakukanlah apa yang bisa dilakukan sebagai penyandang gelar kehormatan "mahasiswa"
, karena salah 1 isi Tridharma perguruan tinggi adalah pengabdian. Maka mengabdilah kepada masyarakat agar mereka baik-baik saja. Kalau bukan kita yang membantu mereka, siapa lagi ?
Pemerintah hanya jabatan struktural kenegaraan, sedang di lapangan mahasiswa adalah agen perubahannya, jadi selain mengkaji kebijakan pemerintah kita juga sangat di harapkan bergerak untuk menciptakan suasana masyarakat yang lebih baik.

Berhenti selalu berharap penuh sama pemerintah, kita lebih punya kekuasaan untuk melakukan banyak hal sedangkan mereka melakukan hal-hal yang hanya berkaitan dengan bidangnya saja.

Jadi ?
Mahasiswa adalah mata dan telinga rakyat, serta menjadi tangan dan kaki dari negara.
Stop menunggu pemerintah bergerak, mari inisatif bersama-sama.

ini hanya opini saja, tak berniat memecah belah apalagi ngajak berdebat :).

Hidup Mahasiswa !
Hidup Rakyat Indonesia !
Hidup Pemerintah !

#OpiniSiang

3 Februari 2018


SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...