Rabu, 10 Januari 2018

Generasi zaman now versus doeloe

ZAMAN NOW VS ZAMAN DOELOE

menyalahkan generasi zaman now bukanlah sebuah pilihan bijak,

Hal negatif yang mereka tunjukkan tentunya terinspirasi dari apa yang kita pernah lakukan selaku generasi jaman Doeloe di beberapa waktu yang lalu. Kita harus akui itu.

Jangan ada komparasi antara jaman now dengan jaman Doeloe.
Karena pada akhirnya menolak datangnya perubahan merupakan awal dari matinya peradaban. Jaman now ditelanjangi dengan teknologi sedangkan jaman Doeloe kita dikebiri oleh ketidaktahuan akan banyak hal. Jadi tidak ada hal yang perlu kita komparasikan antara generasi baru dan lama. Semua generasi memiliki eranya masing masing. Bukan karena kita masuk dalam generasi tua lantas kita mencaci generasi baru yang hadir dan tumbuh bersama teknologi yang kian menjadi-jadi. Tidak ada pembenaran logis untuk menyalahkan teknologi ataupun menyalahkan bobroknya akhlak generasi jaman now. Kita harus bertanggungjawab bersama-sama akan fenomena degradasi moral. Bukan membandingkan mana yang emas mana yang perak.


generasi jaman now dan jaman Doeloe mestinya sama-sama membangun peradaban, bukan saling memperdebatkan generasi mana yang paling beradab. Karena kita punya zaman yang jelas berbeda. zaman kita dahulu masih banyak hal yang bisa dilakukan tanpa pakai internet, dulu ketergantungan kita justru pada permainan tradisional yang memakai banyak keringat.
Lantas apakah generasi zaman now harus menjadi kita pada zaman yang lalu?

kita banyak mengerucutkan perbandingan generasi zaman sekarang dengan zaman dahulu hanya pada sisi tertentu yang berbau negatif saja. Kenapa tidak kita kolaborasikan semangat jaman now sama Doeloe agar bisa menghasilkan gagasan baru ?


Stop membandingkan dulu dan sekarang, yang perlu kita kerjakan dan gagas adalah bagaimana kita memajukan bangsa ini hingga jadi macan dunia ?


8 Januari 2017
edisi revisi


Suherman

Selasa, 02 Januari 2018

Pesan cinta dari Ayat ayat cinta



Ada irama yang kembali tertata saat menonton film Ayat-ayat cinta 2, ketika film pertama di tahun 2008 membuat saya tergetar hebat dalam menyaksikan percintaan yang menarik antara Fahri dan Aisyah.

Feel ketika membaca novel dan menonton memang beda, masing-masing punya kelebihannya sendiri, ketika menonton film adanya narasi nada membuat kita kerap terhanyut dalam setiap tangga-tangganya yang berbeda dalam setiap adegan. Dalam membaca novel kita bebas mendeskripsikan sosok utama tokoh dalam kisah tersebut sesuka imajinasi kita.

Tapi disini saya tidak ingin mengomparasi antara film dan novel ayat-ayat cinta yang fenomenal karya Habiburrahman El shirazy.

Saya lebih kepada menangkap pesan sederhana dari cinta yang di maksudkan dalam "ayat-ayat cinta 1 maupun 2".


Tanpa di sadari bahwa kisah ini menitipkan pesan mengenai betapa cinta itu indah jika mengatasnamakan Tuhan dalam menjalaninya.

Sosok Fahri yang begitu mengagumkan merepresentasikan bagaimana seharusnya seorang laki-laki muslim bersikap terhadap lawan jenisnya, begitupula Aisyah yang menjadi percontohan sempurna bagaimana seorang wanita seharusnya bersikap.


Namun memang ini hanyalah kisah fiksi yang membuat kita sadar bahwa di dunia nyata akan sulit menemukan sosok sempurna seperti pemeran ayat-ayat cinta.

1 hal penting yang wajib kita fahami dalam ayat-ayat cinta adalah bagaima cara menerapkan cinta sederhana pada sesama manusia dengan cara Islami.


Saya jadi terenyuh saat mengomparasikan antara kisah hidup saya dengan kisah fiksi Ayat ayat cinta, terkadang berandai-andai apakah saya bisa menjadi sesempurna Fahri atau menemukan sosok yang seperti Aisyah.

Pada waktu yang memiliki hak untuk sombong, memang masa lalu saya tidaklah cukup indah untuk diceritakan pada dunia, bahwa cinta tanpa menghalalkan hanyalah sesuatu yang memuakkan dan melenakan.

Mungkin dengan kisah fiksi yang tiap hari semakin beragam polanya bisa menampar keras pergaulan masa kini yang terkadang tidak lagi menjadikan Tuhan sebagai yang Maha Mengetahui, bahkan manusia kini meletakkan Tuhan hanya dalam kepalanya, hanya ketika ingat dia akan bertuhan.

Ayat ayat cinta menegaskan kepada saya sekali lagi bahwa, libatkan Tuhan dalam segala urusan, maka Tuhan akan memudahkan segalanya, termasuk cintamu .


Malang, 25 Desember 2017

SALAH KAPRAH PERNIKAHAN SEJENIS


Statement lucu om Jeremi alias JT membikin saya tertawa kecut (saksikan di link video https://youtu.be/w32Naxaa2iU . Dengan ini saya menyadari 1 hal baru bahwa ternyata pemikiran manusia seiring berkembangnya zaman juga semakin beragam. Ada pernyataan yang menurut saya sangat menghina kodrat kaum wanita. Katanya kedepannya ada rahim yang bisa disewakan untuk pasangan LGBT.

astagfirullah.... Singguh sadis sekali jika ada bisnis semacam itu di masa depan .

saya perlu tekankan dan deklarasikan terlebih dahulu disini bahwa saya adalah orang yang berdiri dikubu anti LGBT. Menurut saya LGBT itu bukanlah pilihan tapi adanya disorientasi seksual yang butuh bimbingan psikologis.

Dikatakan dalam video itu bahwa paramater kemajuan jaman sekarang adalah Amerika. Negara Amerika mulai melegalkan LGBT jadi kedepannya Seluruh dunia harus berpikir maju seperti mereka ? HALO !!!
apakah kita yakin bahwa Amerika saat ini sedang maju atau justru sudah mulai mengalami kemunduran? bagaimana mungkin LGBT ini diakui sebagai hak warga negara yang harus di akomodasi berupa adanya legalisasi?

Saya rasa agama manapun di dunia tidak ada yang mengatakan boleh menikah sesama jenis . Dan kalau itu ada saya pengen ahli agama tersebut membuat statement di hadapan dunia tentang kebenaran kitab sucinya.

Kelucuan berfikir dewasa ini sangat berbahaya. Seandainya kita masuk dalam golongan fakir ilmu lebih baik Diam saja dan jangan gegabah dalam membuka bicara. Andaikan saja yang membikin statement halalnya LGBT berilmu tinggi , maka apalah gunanya ilmu jika tidak ada Tuhan di dalam sana ?

Ilmu tanpa Tuhan sama aja buta.

Kenapa Tuhan gak pernah dilibatkan dalam setiap cabang pemikiran baru ?


Saya teringat kaum Nabi LUTH yang di adzab karena disorientasi seksual kala itu, bagaimana jika itu terjadi di Indonesia? bagaimana ketika Tuhan murka ?


Saya tidak membenci para orang yang sudah terjebak dalam "LGBT ".Mereka tidak untuk dijauhi, mereka itu butuh kita rangkul dan sadarkan kembali akan fitrahnya.


Bagaimana menjawab fenomena adanya orang yang memiliki Gender ganda ?

adanya gender ganda sudah pasti salah satu gendernya aja yang mendominasi, tidak mungkin keduanya .
Tidak ada rasionalisasi apapun yang saya ingin terima untuk menghalalkan LGBT sebagai sebuah pilihan hukum dalam negeri Pancasila ini.


Yang saya percaya orang LGBT punya hak untuk tinggal di Negeri ini dan mendapat pendidikan yang mendalam terkait agamanya masing-masing. Bukan hanya itu, mereka jangan diberi dukungan untuk melanjutkan hubungan yang sejenis , yakinkan mereka bahwa itu bukan cinta, melainkan cuma bisikan yang membawa berita kenyamanan semu untuk kedua belah pihak yang merasa saling mencintai padahal gendernya sama.

Sekali lagi, mari kita sama-sama merangkul dan menyadarkan bukan mendukung.


Jadi Statement soal parameter zaman now adalah Amerika, jangan di anggap serius. Paramater kemajuan zaman adalah moralitas dan norma agama yang kian membumi.

Tulisan ini hanya luapan kekecewaan saya akan statement dalam video tersebut.
hanya sekedar opini.

Malang, 30 Desember 2017

#saveLGBT
#JanganDukungLGBT
#SadarkanLGBT



SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...