Barangkali apa yang selama ini kita sebut cinta sebenarnya bukanlah cinta
Bagaimana kalau itu ternyata bentuk rekayasa nafsu yang mencoba meluluhkan pendirian anda atas sebuah perasaan
Bagaimana jika keputusan untuk menyatakan perasaan sebenarnya bukanlah solusi atas rasa yang ada di dalam hati
Bagaimana jika itu bagian rencana kerja jangka panjang para setan dalam menjerumuskan anak cucu Adam ke dalam lembah bernama neraka ?
Banyak orang berkata bahwa ungkapkanlah cinta mu agar kau lega, lantas ketika memang telah di ungkapkan apakah kelegaan itu benar-benar kelegaan semestinya?
Bagaimana jika itu hanyalah bentuk semu muslihat dari zina yang ternyata sudah mengintai hati sejak pertama menyadari adanya rasa kagum terhadap lawan jenis
Bagaimana sebenarnya cinta harus di bahasakan terhadap lawan jenis ?
Apakah semua cinta harus terikat dengan kalimat "aku mencintaimu" dan lawan jenis menjawab "aku juga", atau jenis kalimat pengikat semu lainnya.
Pernahkah kita menyadari bahwa setiap manusia yang patah hati diakibatkan karena terlalu mendalami perasaannya dan sudah terlalu lama menjauh dari Tuhannya.
Ada yang berkata bahwa urus saja dirimu sendiri tidak perlu mencampuri urusan percintaan orang lain.
Saya akan dengan senang hati membuat tulisan-tulisan baru yang bertujuan untuk membuat orang lain menyadari kesalahannya akan sebuah perasaan.
Bukankah sudah jelas aturan dalam agama menyatakan secara lantang bahwa jangan mendekat pada zina, tapi mengapa banyak manusia masih berspekulasi bahwa apa yang mereka jalani bukanlah bermuara pada zina melainkan bahtera rumah tangga .
Dalam hati para iblis mulai tertawa" akhirnya anak Adam kuhasut juga"
Biasanya dengan atas nama cinta manusia berani berfatwa bahwa pacaran itu tidak haram.
Biasanya dengan atas nama cinta manusia berani berkata bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk kepentingan masa depan bersama.
Namun sayang sekali, mereka bukan menyatakan itu atas nama Tuhan.
Ketika semua melibatkan Tuhan maka tidak ada cinta yang ternodai oleh kepentingan syahwat .
Ada saja orang yang selalu ingin menyederhanakan dosa dengan istilah "ah gapapa kok, kan mau serius kan nanti mau nikah, bla bla ", dan seterusnya.
Apakah cinta tanpa pernikahan memang perlu ?
Katanya biar bisa saling kenal dulu, biar nanti tidak menyesal dengan pilihannya, biar bisa mengerti satu sama lain. Sejujurnya saya sendiri tidak mampu menjawab itu, yang saya tahu saya sudah lelah menjalani percintaan yang tidak jelas muaranya kemana. Saya sudah lelah melihat dampak-dampak buruk percintaan antara cucu Adam dan hawa.
Rasanya saya memilih untuk berdiam diri dengan tiap perasaan yang datang, mencoba menyederhanakan rasa kagum dalam bentuk doa, itu sudah cukup.
Sepertinya tidak perlu lagi ada kata-kata aku mencintaimu wahai ukhti, karena sejujurnya saya kini menyadari kalau ternyata saya belum punya kesiapan untuk menuju tahap "menghalalkan" seseorang. Saya sadar betul bahwa cinta saja tidaklah cukup untuk membangun sebuah organisasi yang disebut keluarga.
Jadi ketika seseorang memilih untuk sendiri dulu mungkin itulah bagian paling aman untuk tidak terlibat pada percintaan semu jaman now yang kian hari semakin mengikis batas moral.
Semestinya kita percaya bahwa dengan banyak mendekatkan diri pada Tuhan maka keajaiban-keajaiban akan datang.
Sudahilah merespon setiap perasaan yang ada, apalagi mesti mengungkapkannya terlalu dini, sadarilah posisi saat ini, jika belum siap menuju tahap serius lebih baik lakukan dulu hal-hal lain yang lebih mendesak. Ingat prioritaskan selalu orang tua dan harapan-harapan mereka untuk kita sebagai anak. Prioritaskan selalu orang tua dalam pengambilan keputusan, karena merekalah sebenarnya cinta dalam hidup kita sebelum hadirnya cinta untuk manusia yang lain.
Dan cobalah merenung, apakah perasaan yang prematur layak untuk diperjuangkan?
Dan apakah perasaan yang kita perjuangkan sebenarnya bukan campur tangan para setan untuk melalaikan kita atas perintah Tuhan ?
Jatuh cinta itu manusiawi kok, namun bentuk eksekusi akan cinta tersebut yang perlu kita kritik bersama agar tak mendatangkan mudharat bagi diri para pecandunya.
Mari merenungkan saja, tak usah marah dengan opini ini :).
Malang, 26 November 2017
Renungan ditengah Hujan sore.
#OpiniSore