Jumat, 08 September 2017

3 Phrase Ajaib Mahasiswa Skripsi






Ada 3 Phrase ajaib untuk menarik hati Pembimbing Skripsi
“Baik Pak/bu, Siap Pak/bu, dan Terima kasih Pak/Bu”.

Ketika mahasiswa program sarjana sudah sampai pada tahap akhir semesternya pasti akan menemui tahap menulis skrispsi. Skripsi adalah 7 rangkaian huruf yang teramat horror bagi mahasiswa tingkat akhir yang “penakut”. Loh kok penakut ? bukannya semua mahasiswa takut skripsi ?
Hmm, takutnya bukan pada skripsi, tapi takut corat coret yang berbentuk grafiti alias revisi oleh dosen pembimbing. Siapa yang tidak takut direvisi ? Semua orang pasti berespektasi pengen langsung di ACC aja, langsung Seminar dan Ujian Akhir biar cepat-cepat lulus dan wisuda lalu kerja. Padahal perkara revisi ini adalah perkara wajib bagi setiap skripsi mahasiswa. Ibaratnya sayur tanpa garam, Skripsi itu kurang sedap tanpa revisi. Revisi akan membuat strata skripsi mahasiswa menjadi setingkat, dua tingkat atau bertingkat- tingkat lebih baik. Jadi jangan pernah takut sama yang namanya revisian Skripsi. Nah untuk menjadi mahasiswa manis yang disenangi oleh dosen pembimbing ada 3 phrase ajaib yang bisa digunakan sebagai senjata pamungkas. Biasanya kalau digunakan dengan rapi akan menghasilkan output yang memuaskan atau berhasil mengambil simpati dosen pembimbing.
Ketika sedang menghadapi revisian dan posisi mahasiswa lagi di depan dosen pembimbing sedemikian mungkin mendengarkan arahan-arahan, memperhatikan setiap coretan sembari menyocokkan 3 Phrase berikut yang pas untuk digunakan “Baik Pak/Bu, Siap Pak/Bu dan Terimakasih Pak/Bu”. Jadilah anak bimbingan patuh “menerima setiap masukan” yang diberikan. Tunjukkan bahwa, sebagai mahasiswa memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap pembimbing tersebut, perihal pembimbing ternyata keliru dan berbeda pendapat itu bisa secara sopan diatasi dengan menggunakan kata “mohon maaf Pak/bu apabila seperti ini bagaimana menurut Bapak/ ibu ?” jangan pernah menunjukkan secara eksplisit ketidaksetujuan anda dengan pendapat dosen, karena itu akan mudah menyinggung perasaan dosen pembiming. Ingat, mengalah buka berarti kalah, kalau berbicara mengenai strata umur hukum yang berlaku yaitu “yang muda menghormati yang tua sedang yang tua menyayangi yang muda”. Itu adalah hukum wajib yang tidak perlu disahkan oleh Undang-Undang Negara manapun. Cukup ditanamkan dalam diri sebagai ilmu pengetahuan alami yang mengekor dalam ranah Attidude manusia.
Ingat 3 phrase penting yang sudah disebutkan tadi.
Misalnya dosen mengatakan, “ wah bab satumu ini masih perlu untuk direvisi”,
Anda menjawab “Baik Pak/Bu, akan saya laksanakan”
Lalu akan berlanjut lagi “kamu harus revisi sub bab ini, bagian ini, itu dan seterusnya…”
Anda menjawab “siap pak/bu akan saya laksanakan”
Lalu diakhir akan mengatakan “ya sudah revisi ini kamu bawa dan dikerjakan”
Anda menjawab “terimakasih banyak Pak/Bu atas bimbingannya, semua akan saya selesaikan segera”.

InsyaAllah dengan jawaban-jawaban sopan seperti itu akan mudah menarik hati dosen pembimbing karena anda menunjukkan kesopanan dan sikap merendah anda dengan tepat. Ingat ! jangan berusaha menggurui dosen pembimbing sekalipun terjadi perbedaan pendapat, karena itu akan fatal akibatnya, bisa jadi anda akan lulus bareng adik tingkat tahun depannya. Jadi sedemikian mungkin berusahalah mengontrol cara komunikasi dengan dosen pembimbing.
1 teori yang menurut saya relevan dari pengalaman mengamati dunia perskripsian mahasiswa bahwa cara komunikasi mahasiswa bimbingan menentukan sikap pembimbing dalam memberikan arahan ataupun revisian. Ya ini hanyalah murni pengamatan saya saja, belum tentu seirama dengan hasil pengamatan rekan yang lain.
Intinya sih meskipun senyatanya anda benar daripada apa yang disampaikan dosen pembimbing, anda harus menggiring opini “yang menurut anda benar” dengan cara yang bijak, jangan dengan cara yang nekat. Terkadang perlu ada perdebatan kecil antara mahasiswa dengan dosen untuk menyepakati sebuah “kebenaran” tapi bukan dengan berdebat menggunakan bahasa tidak sopan. Ada kaidah protes yang baik yang bisa disisipkan secara implisit sehingga tidak menyinggung hati pembimbing, hanya mahasiswa bersangkutan yang akan mengerti betul dinamika mood dan karakter dosen pembimbingnya.

Perlu digaris bawahi bahwa sebaik-baik pelajar adalah yang hormat dan sopan pada gurunya. Coba aplikasikan dalam mengerjakan skripsi, InsyaAllah iktikad baik tidak pernah menemukan hasil akhir yang tidak baik.
Jangan lupa senantiasa berdoa dan menjalankan segala perintah Allah sambil ngerjain skripsi, karena yakin dan percayalah selalu ada “Invicible hand” yang terlibat dalam aktifitas manusia yang tidak kita ketahui.
Jangan khawatir, jangan sedih, revisi hanyalah masalah keduniaan yang pasti ada solusi untuk mengatasi.
Semangat Ber”Skripsi” Mahasiswa Tingkat Akhir.

Malang, 8 September 2017

Rabu, 06 September 2017

Perkara Sholat Jamaah di Masjid



Kepada seluruh manusia yang berjenis kelamin laki-laki dimanapun engkau berada spesifik pada yang mengaku agamanya Islam.
Ini adalah tulisan tentang kita. Tentang pilihan kita yang sering tidak patuh terhadap perintah. Bagaimana ketika tiba masa dimana seluruh manusia meronta-ronta meminta kembali dihidupkan lagi kedunia untuk memperbaiki sejarah hidupnya ? Ketika masa itu telah tiba maka apa yang akan kita argumentasikan dihadapan hakim seluruh alam ? Apa yang akan kita banggakan dari seonggok daging berbentuk manusia dihari kemudian ?

Ketika kita hidup didunia kecenderungan kita justru mengabaikan panggilan muadzin di masjid-masjid, kita mendengarnya dengan sadar dengan telinga yang sehat sedang kita pura-pura sibuk dengan alasan kita  yang begitu banyak agar tidak sholat dengan tepat. Apakah masjid begitu berjarak sehingga tiada niat untuk merangkak sedikitpun untuk menyetuh lantainya yang begitu halus? Begitu lembut? Begitu teduh dan sejuk ?
 Apakah jarak masjid  dari tempat tinggal kita terlalu jauh sehingga tiada hati tergerak untuk menuju kesana ? Apakah iman kita kalah oleh jarak ? Atau justru kitalah yang sengaja mempelemah iman kita dengan berdalil “saya capek”, “masjid jauh”, “saya mau dirumah saja”, “saya belum cukup shalih untuk sholat di masjid”.
Rasanya begitu malu bercampur pilu apabila melirik kisah sahabat kita di Palestina yang ingin ibadah di masjid AL-Aqsa saja mereka harus berhadapan dengan para tentara bej*d negara sebelah. Rasanya begitu malu dan rendah ketika mengingat kisah Muslim tua buta yang memasang tali dari rumahnya menuju masjid karena saking cinta dan taatnya kepada perintah Allah. Rasanya malu dan benar-benar malu ketika membayangkan bagaimana mereka para setan bertepuk tangan atas keberhasilan mereka membuat kita menjadi malas beribadah “KE MASJID”.

Jangankan sholat ke masjid, kita untuk sholat sendiri saja masih sering ditunda, sering nyari alasan untuk sholatnya di akhir waktu saja dan alasan-alasan perontok keimanan lainnya. Apakah kita tidak takut ?
Kenapa dalam Alqur’an Allah bilang Dirikanlah Sholat dulu lalu tunaikanlah Zakat? Karena amalan yang akan pertama kali dihisab di masa itu (Yaumul Hisab)  adalah sholat. Apabila sholat kita telah baik maka selamat pula kita kelak, apabila sholat kita buruk maka kita akan terciduk dan masuk kedalam bara api yang teramat panas. Ketahuilah bahwa yang melaksanakan sholat di masjid saja itu belum tentu sholatnya telah baik apalagi yang SENGAJA untuk sholat sendiri dan GAK di MASJID pula ? dengan alasan “ah masjid terlalu jauh”, “Ah ini, ah itu…Ah aku belum pantas”. Sampai kapan kita mau membiarkan masjid itu kosong? Sampai kapan kita mau menjadi penganut agama tapi tidak mau join sama perintah-perintah yang udah sejak dulu ada?

Miris sekali ketika melihat kondisi kita yang kian hari semakin mencintai kesibukan kita, sehingga adzan tiba kita pura-pura tuli agar sholatnya biar saja nanti. Apa gerangan penghambat kita untuk menginjak masjid wahai cucu adam ? apakah karena kita merasa terlalu najis untuk beribadah, tidak layak untuk meminta berkah ? Apakah kita sudah lupa bahwa Allah Maha Pemaaf, Allah Maha melihat, Allah maha mengetahui?
Kita menunggu apa agar bisa melaksanakan sholat tepat waktu ? agar bisa melaksanakan sholat itu di rumah Allah yang disebut masjid,  kita menunggu apa ?Apakah kita menanti esok datangnya hidayah ? Bagaimana jika malam ini kita kedatangan pencabut nyawa ? sudah siapkah kita ikut bersamanya ?

Wahai cucu adam, selama masih sempat, selama masih sehat, selama masih ada kesempatan untuk melaskanakan sholat jamaah d masjid maka laksanakan itu. Buat Tuhan kita bangga, bahwa hamba-hamba calon pemimpin ini begitu mencintainya sehingga kedepannya Tuhan tidak akan ragu akan membagi rezeki-rezeki-Nya. Apa yang begitu berat dari melaksanakan sholat bagi kaum kita ?
Adalah nafsu kita masih terlalu besar menggerogoti iman yang seadanya, kita terlalu percaya bahwa masih ada hari lain untuk memulai sikap rajin kita untuk beribadah. Padahal siapa yang menjamin setelah hari ini usai maka hidup kita pun melambai pergi. Saat kematian telah menghampiri sudah tidak ada lagi waktu berbenah diri. Saat kematian telah menghampiri, bekal apa yang kita bawa pergi ?

Maka sejak sekarang, tolonglah mari kita sama-sama berbenah diri, jangan menunggu nanti, usahakan dan jadikan wajib bagi tubuh ini untuk senantiasa melaksanakan sholat jamaah di masjid, usahakan dulu jangan langsung bilang susah karena sibuk. Mari kita mengusahakan yang terbaik yang kita bisa lakukan, jangan menunggu nanti, jangan menunggu besok, dan jangan pernah biarkan shaf-shaf dimasjid itu terlihat kosong, seperti hati para Jomblo yang selalu melompong.

Semangat berbenah diri untuk kita sekalian.  
                                  


Malang. 6 September 2017

Selasa, 05 September 2017

PERIHAL PATAH HATI



Tidak bisa dipungkiri setiap manusia pasti pernah mengalami yang namanya patah hati. Entah patah hati karena ditinggal pergi ataukah memilih untuk pergi. Fase patah hati dalam hidup manusia bukanlah perihal berat atau tidaknya melepaskan seseorang yang teramat dicintai, melainkan melupakan setiap kebiasaan yang pernah dilewati bersama-sama. Entah itu kebiasaan saling mananyakan kabar sampai dengan kebiasaan tertawa atau bahkan saling memarahi karena lupa makan. Inti dari patah hati adalah ketidakrelaan seseorang melepas begitu mudah kebiasaan yang telah rutin dilakukannya. Tapi saya percaya sekali bahwa setiap hati yang patah selalu mampu untuk utuh kembali, entah karena kembali pada kebiasaan yang sama dengan pasangan yang sama ataukah menemukan sosok lain yang lebih berharga.
Patah hati hanyalah istilah untuk membuat seseorang merasa dikhianati oleh keadaan. Jika tidak dibarengi dengan Ikhlas maka patah hati akan mewabah jadi penyakit hati. Jika patah hati mudah disembuhkan maka penyakit hati justru menular keseluruh elemen tubuh dan memengaruhi kinerja otak. Tidak ada orang yang inginkan hatinya patah, semua berespektasi bahwa hubungan yang telah dibangunnya merupakan hubungan yang berbeda dari hubungan pasangan lain yang cepat punah. Padahal seyogianya perasaan itu mengalir selayaknya air menemukan hilir. Jika ada sosok yang membuatmu nyaman setiap hari maka percayalah akan ada masa dimana rasa jenuh mengakuisisi semua rasa nyamanmu. Seperti air menemukan hilir, semua akan berakhir.
Ini tentang patah hati. Ketika kamu patah hati hal yang paling sulit dilakukan adalah bukan melupakan pasangan yang pernah kau cintai berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Bukan itu. Melainkan pada kebiasaan yang teramat manis untuk dijadikan obyek “keterlupaan”.
Kepada yang patah hati, berhetilah saja pada rasa kecewa yang sederhana. Jangan pernah biarkan rasa kecewa menguasai diri. Berhentilah menghargai kebiasaan yang pernah dilakoni dulu, karena semakin dihargai maka akan semakin menarik untuk diingati, maka semakin sulit pula dibiarkan untuk pergi. Kepada yang patah hati, buatlah kebiasaan baru yang mampu mengarahkanmu pada sisi yang lebih baik dalam hidupmu, Jangan biarkan kebiasaan lama dengan orang lain menjadikanmu lupa pada kemungkinan memunculkan kebiasaan baru yang lebih baik. Percayalah seseorang yang memilih pergi meniggalkanmu juga berat menerima kenyataan bahwa kebiasaan “kalian” harus berhenti. Tidak usah terlalu dipikirkan jika patah hati sampai-sampai mengutuk segala harapan yang datang menghampiri.
Berhentilah patah hati, karena patah hati hanya membuat sosok luar biasamu menjadi lemah tak berdaya. Hidup harus berlanjut terus, apapun yang terjadi, ada atau tidak adanya kamu di dunia ini, bumi akan baik-baik saja dan akan kiamat pada waktunya. Lantas apa yang diharapkan dari sebuah patah hati ? apakah akan menunda kiamat seribu tahun lebih lama? Apakah patah hati akan membuatmu memiliki umur yang bertambah 10 tahun misalnya ? Tidak akan ada hal seperti itu. Justru banyak sekali kasus patah hati yang membuat manusia ikut mengakhiri masa hidupnya, mereka menciptakan kiamatnya lebih cepat dari semestinya.

Jadi? Apa yang kalian harapkan dari patah hati ?
Berhentilah mematahkan hatimu sendiri, biarkan rasa kecewamu bersembunyi dibagian paling dalam hatimu sehingga tak perlulah untuk keluar merusak hidupmu. Ingat, patah hati hanyalah tentang ketidakrelaan kamu melepaskan dengan Cuma-Cuma kebiasaan yang sudah pernah dilakoni sebelumnya, maka dari itu seminimal mungkin kalian yang belum patah hati kurang-kurangi membuat kebiasaan yang susah dilupakan. Atau lebih baiknya, berhentilah mencederai cinta dengan istilah “pacaran”, karena dengan itu banyak sekali hati yang patah, bukan patah yang sederhana, melainkan patah yang sehancur-hancurnya rasa, bahkan sampai meregang nyawa.


Jadi, Berhentilah Patah hati dari sekarang, demi kebaikan, demi masa depan. Percayalah bahwa Allah selalu ada untuk memeluk hambanya yang berserah diri. Serahkan hatimu kepada Allah maka Allah akan memberimu cinta yang tak akan membuatmu patah hati selamanya.

Malang, 5 September 2017


Senin, 04 September 2017

KEBODOHAN FATAL YANG BERULANG KALI SAYA LAKUKAN



Dear reader, saya ingin beropini sejenak tentang kebodohan fatal yang seringkali saya lakukan berulang kali. Kebodohan ini adalah sisi lemah saya sebagai laki-laki. Adalah jatuh cinta. Jatuh cinta merupakan kebodohan berulang yang sering saya lakukan, sebenarnya bukan jatuh cintanya, tapi lebih kepada menuruti segala hasrat yang dibisikkan oleh perasaan kepada otak sehingga terus terpikirkan dan menjadi prioritas. Padahal senyatanya saya adalah pribadi yang nyaman dengan segala kondisi. Ketika hidup saya dipenuhi oleh kehadiran wanita (pasangan bukan muhrim) “saya baik-baik saja” begitupula sebaliknya ketika hidup saya tanpa kehadiran “wanita” saya juga baik-baik saja. Wanita disini lebih saya khususkan kepada wanita yang bukan muhrim, yang biasa kita sebut sebagai “kekasih cinta modern”. Mengapa saya meyebut cinta itu adalah kebodohan ?
Karena cinta manusia akan melanggar aturan Tuhan mengenai “janganlah mendekati Zina”, jelas sekali bahwa dengan menikmati proses percintaan yang ada lama-kelamaan akan membuat setiap pelakunya mendekat pada zina lalu pada akhirnya terjerumuslah mereka. Perlu digaris bawahi disini adalah saya benci jauh cinta. Kelemahan terbesar saya adalah wanita. Apapun itu, kehadiran wanita dalam hidup saya akan membuat saya “baik-baik saja” dalam sisi fisik namun benar-benar tak tertata dari tatapan psikologis. Saya tidak sedang bergurau tentang kemunafikan seorang laki-laki ketika dihadapkan dengan godaan dunia paling berbahaya (adalah kehadiran wanita yang disukainya), ini adalah opini saya yang ingin mengkhususkan ketidak sepakatan saya pada “cinta” tanpa pernikahan:. Bagi saya tanpa pernikahan sebuah hubungan itu masih belum layak disebut cinta, itu hanya sebuah akal-akalan manusia bersangkutan untuk  mencederai cinta itu sendiri.

Bodoh. Saya akan mengulang kata 5 huruf ini untuk merepresentasikan apa yang telah saya lewati dengan melibatkan diri pada kisah “cinta” yang terlalu prematur. Kisah cinta prematur adalah kisah cinta yang terlalu dipaksakan padahal senyatanya telah melanggar banyak aturan Tuhan. Saya benci jatuh cinta. Kehadiran wanita dalam hidup saya akan membuat saya semakin gemar mengecewakan Tuhan. Jika Tuhan berkenan izinkanlah saya jatuh cinta ketika saya sudah siap menikah, bukan pada tahap seperti ini. Maka dari itu sejak saat ini saya ingin menjaga setiap rasa yang datang agar tetap dikemas dalam diam hingga pada masa kesiapan telah datang. Untuk saat ini saya akan berteriak dengan kencang bahwa cinta adalah kebodohan generasi muda yang terlalu bodoh untuk menurutinya. Padahal masih banyak cinta lainnya yang layak kita perhatikan, terkhusunya mencintai keluarga dan agama.

Berhetilah jatuh cinta sebelum pantas, berhentilah, jatuh cinta adalah kebodohan jika tak ada realisasi berupa penghalalan terhadap pasangan. Jika anda belum siap menghalalkan , berhentilah jatuh cinta, seperti apa yang saya lakukan. Ini demi kebaikan dan kehormatan serta Rahmat dari Allah SWT.

Berhentilah jatuh cinta untuk perasaan semu yang tidak nyata.  
Berhentilah jatuh cinta jika belum siap menikah.
Berhentilah jatuh cinta sebelum benar-benar mencintai Allah Sang Maha Cinta.
Maafkan saya, cinta, saya harus tega membunuhmu agar tidak merajalela.



SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...