Ada 3 Phrase ajaib untuk menarik hati Pembimbing Skripsi
“Baik Pak/bu, Siap Pak/bu, dan Terima kasih Pak/Bu”.
Ketika mahasiswa program sarjana sudah sampai pada tahap akhir semesternya pasti akan menemui tahap menulis skrispsi. Skripsi adalah 7 rangkaian huruf yang teramat horror bagi mahasiswa tingkat akhir yang “penakut”. Loh kok penakut ? bukannya semua mahasiswa takut skripsi ?
Hmm, takutnya bukan pada skripsi, tapi takut corat coret yang berbentuk grafiti alias revisi oleh dosen pembimbing. Siapa yang tidak takut direvisi ? Semua orang pasti berespektasi pengen langsung di ACC aja, langsung Seminar dan Ujian Akhir biar cepat-cepat lulus dan wisuda lalu kerja. Padahal perkara revisi ini adalah perkara wajib bagi setiap skripsi mahasiswa. Ibaratnya sayur tanpa garam, Skripsi itu kurang sedap tanpa revisi. Revisi akan membuat strata skripsi mahasiswa menjadi setingkat, dua tingkat atau bertingkat- tingkat lebih baik. Jadi jangan pernah takut sama yang namanya revisian Skripsi. Nah untuk menjadi mahasiswa manis yang disenangi oleh dosen pembimbing ada 3 phrase ajaib yang bisa digunakan sebagai senjata pamungkas. Biasanya kalau digunakan dengan rapi akan menghasilkan output yang memuaskan atau berhasil mengambil simpati dosen pembimbing.
Ketika sedang menghadapi revisian dan posisi mahasiswa lagi di depan dosen pembimbing sedemikian mungkin mendengarkan arahan-arahan, memperhatikan setiap coretan sembari menyocokkan 3 Phrase berikut yang pas untuk digunakan “Baik Pak/Bu, Siap Pak/Bu dan Terimakasih Pak/Bu”. Jadilah anak bimbingan patuh “menerima setiap masukan” yang diberikan. Tunjukkan bahwa, sebagai mahasiswa memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap pembimbing tersebut, perihal pembimbing ternyata keliru dan berbeda pendapat itu bisa secara sopan diatasi dengan menggunakan kata “mohon maaf Pak/bu apabila seperti ini bagaimana menurut Bapak/ ibu ?” jangan pernah menunjukkan secara eksplisit ketidaksetujuan anda dengan pendapat dosen, karena itu akan mudah menyinggung perasaan dosen pembiming. Ingat, mengalah buka berarti kalah, kalau berbicara mengenai strata umur hukum yang berlaku yaitu “yang muda menghormati yang tua sedang yang tua menyayangi yang muda”. Itu adalah hukum wajib yang tidak perlu disahkan oleh Undang-Undang Negara manapun. Cukup ditanamkan dalam diri sebagai ilmu pengetahuan alami yang mengekor dalam ranah Attidude manusia.
Ingat 3 phrase penting yang sudah disebutkan tadi.
Misalnya dosen mengatakan, “ wah bab satumu ini masih perlu untuk direvisi”,
Anda menjawab “Baik Pak/Bu, akan saya laksanakan”
Lalu akan berlanjut lagi “kamu harus revisi sub bab ini, bagian ini, itu dan seterusnya…”
Anda menjawab “siap pak/bu akan saya laksanakan”
Lalu diakhir akan mengatakan “ya sudah revisi ini kamu bawa dan dikerjakan”
Anda menjawab “terimakasih banyak Pak/Bu atas bimbingannya, semua akan saya selesaikan segera”.
InsyaAllah dengan jawaban-jawaban sopan seperti itu akan mudah menarik hati dosen pembimbing karena anda menunjukkan kesopanan dan sikap merendah anda dengan tepat. Ingat ! jangan berusaha menggurui dosen pembimbing sekalipun terjadi perbedaan pendapat, karena itu akan fatal akibatnya, bisa jadi anda akan lulus bareng adik tingkat tahun depannya. Jadi sedemikian mungkin berusahalah mengontrol cara komunikasi dengan dosen pembimbing.
1 teori yang menurut saya relevan dari pengalaman mengamati dunia perskripsian mahasiswa bahwa cara komunikasi mahasiswa bimbingan menentukan sikap pembimbing dalam memberikan arahan ataupun revisian. Ya ini hanyalah murni pengamatan saya saja, belum tentu seirama dengan hasil pengamatan rekan yang lain.
Intinya sih meskipun senyatanya anda benar daripada apa yang disampaikan dosen pembimbing, anda harus menggiring opini “yang menurut anda benar” dengan cara yang bijak, jangan dengan cara yang nekat. Terkadang perlu ada perdebatan kecil antara mahasiswa dengan dosen untuk menyepakati sebuah “kebenaran” tapi bukan dengan berdebat menggunakan bahasa tidak sopan. Ada kaidah protes yang baik yang bisa disisipkan secara implisit sehingga tidak menyinggung hati pembimbing, hanya mahasiswa bersangkutan yang akan mengerti betul dinamika mood dan karakter dosen pembimbingnya.
Perlu digaris bawahi bahwa sebaik-baik pelajar adalah yang hormat dan sopan pada gurunya. Coba aplikasikan dalam mengerjakan skripsi, InsyaAllah iktikad baik tidak pernah menemukan hasil akhir yang tidak baik.
Jangan lupa senantiasa berdoa dan menjalankan segala perintah Allah sambil ngerjain skripsi, karena yakin dan percayalah selalu ada “Invicible hand” yang terlibat dalam aktifitas manusia yang tidak kita ketahui.
Jangan khawatir, jangan sedih, revisi hanyalah masalah keduniaan yang pasti ada solusi untuk mengatasi.
Semangat Ber”Skripsi” Mahasiswa Tingkat Akhir.
Malang, 8 September 2017