Tentang
cinta.
Bagaiamana
bisa rasa kita menjadi sama. Saat awal
berjumpa hanya menjadi kesan biasa, tersenyum biasa saja seolah tak pernah ada
rasa kagum didasar hatiku. Bagiku rasa cinta adalah hal yang relativ dimiliki
oleh tiap manusia. Namun aku tidak pernah tahu mengapa rasaku datang saat
sekian kali aku melihatmu tersenyum,tertawa dan menyebut namaku dengan lembut.
Sekian lama aku hanya bisa berdiam, mempertayakan rasaku untukmu. Kau inign
tahu awal dari sekian ribu rasa kagumku untukmu datang ?
Saat
itu kau sedang duduk termenung di depan bangku taman kampus, hari itu aku
masing sangat ingat kau mengenakan hijab berwarna merah , dihiasi dengan motif
bunga-bunga, ditambah lagi pakainmu anggun menutupi auratmu, sehingga tiada
kesan laki-lai menatapmu dengan hasratnya. Hari itu kau tidak menyadari aku ada
ditengah keramain yang sedang berteriak dengan membawa baliho “Pemerintah harus
buka mata”, dikepalaku ada headbned berwarna merah persis seperti warna pakain yang kau kenakan itu.
Hari itu aku sedang meneriakkan aspirasi bersama ratusan mahasiswa lainnya yang
menuntut Pemeritah untuk menurunkan harga Bahan Bakar Minyak yang naik drastis.
Aku berteriak, bernyanyi seakan Pemerintah akan mendengarkan aspirasi kami,
sampai suara parau tiadapun tanggapan keuacli orang-orang mentap kami sebagai
“sumber kemacetan”. Hari itu kampus kita benar-benar ramai dengan kehadiran
kami yang membawa suara bising ditengah terik siang. Berteriak menuntut pemerintah didalam kampus
hingga keadaan menjadi semakin rumit, kami hanya menjadi tontonan orang-orang
yang tengah belajar tiba-tiba berhamburan keluar kelas, yang tengah besantai
tiba-tiba terkaget, semuanya menjadi kacau hari itu. Yang aku tahu saat itu aku
sedang meneriakkan suara rakyat yang terjepit dengan kemiskinan. Hari itu aku
sedang meneriakkan kebenarn yang belakanagn ini tengah terlupakan. Hari itu
akusangat kecewa dengan Pemerintah karena menaikkan BBM tanpa memikirkan rakyat
jelata. Namun beberapa saat kemudian aku berhenti berteriak, mataku tertuju
pada seorang wanita yang sedang duduk menghadap danau kecil didepan gedung
rektorat. Tanpa sedikitpun menoleh kaearah kami para demonstran , seolah tidak
merasa terganggu akan kebisingan yang kami buat. Tanpa kamu menolehpun aku tahu
kalau itu adalah kamu, seoarang gadis seangkatanku di Fakultas yang aktif
sebagai anggota Rohis. “Nurul Jamilah”, itulah nama lengkapmu, namun
akrabdipanggil Nurul saat berada dikelas. Kamu begitu aktif saat dosen memberi
pelajaran, tak heran kamu menjadi salah satu mahasiswi faforit para dosen di
fakultas. Namamu sama seperti dirimu. Cahaya kecantikan. Senyumanmu sangat
teduh, membuatku kadang merasa malu saat kau melemparnya padaku. Hari itu untuk
pertma akalinya hatiku bergetar saat menatapmu disana, duduk terdiam, dan
nampak memikirkan hal lain yang lebih penting daripada memerhatikan aksi kami
yang sedang berdeonstrasi.
Disuatu
sore yang mendung, kita berpapasan di depan perpustakaan kampus. “Assalamualaikum”,
katamu ramah. “Walaikumsalam”, balasku sembari berusaha menyaingi senyuman
manis yang baru saja kau lontarkan padaku. Hari itu kau sedang memakai Hijab
berwarna merah, untuk kesekian kalinya aumenagumi pesona dirimu yang terlalu
indah untuk kuungkakkan dengan kata-kata. Gaun merah mu seakan memberikan
magnet bagiku untuk senantiasa memandangmu tanpa rasa bosan sedikitpun. Disore
itu ksu mengajakku untuk masuk ke perpustakaan tanpa kau mengetahui sebenranya
aku tidak suka dengan tumpukan buku ilmiah yang begitu kaku saat dibaca. Namun
ajakanmu sore itu membuatku tidak bisa menolak, utuk kali pertamanya aku
menginjak lantai dibalik ointu perpustakaan. Biasanya aku hanya numpang lewat
dan mengabaikan tulisan “buka”. Sudah 2 tahun sejak aku menjadi mahasiswa baru
kali itu aku memasuki Perpustakaan yang berisikan ribuan buku dan ratusan rak cokelat
tertata rapi didalamnya. kau benar-benar memiktaku. Aku terduduk tepat
dibelakangmu, sedang kau sedang asyik membca buku, enahlah apa judul buku itu,
yang jelas kau terlihat begitu menikmatinya. Sampai pada saat aku sedang berada
dipucak lamunanku tiba-tiba suaramu mengagetkanku,”hai”, ditangan kananmu kau
sodorkan sebuah buku dengan judul “menjadi aktivis yang agamis”. Bukan
mainbetapa kagetnya aku saat itu, batinku bertanya, dari mana gerangan kau
mengetahui aku adalah seorang Mahaiswa akivis yang sering menjadi bagian dari demonstran
dijalanan ? aku begitu malu rasanya, saat itu. “nih baca buku ini, semoga dapat
menjadi aktivis yang benar”, tambahmu seraya berpaling dan melanjutkan
bacaanmu. Aku masih terpaku sesaat. Hingga kau berbalik lagi padaku, “, sudah
jangan kaget begitu, aku sudah tahu kalau kamu itu bagian dari pendemo-pendemo
yang sering bikin berisik itu”, kau tertawa kecut, “ lantas aku hanya mahasiswi
aneh yang selalu cuek akan segala hal”,. Tepa sekali, aku langsung berfikir,
apakah dirimu ini mampu membca pikiran orang? Sehingga apa yang ada dalam
pikiranku mampu kau jawab sebelum aku bertanya lebih jauh tentangmu. Perlahan
aku membuka buku tadi, dan membca lembar demi lembar, hingga akhirnya aku
merasa kantuk yang cukup berat. “, hei, ga usah dipaksain , kalau ngantuk
mendingan gausah dibaca”, lagi-lagi kau membuatku kaget. Dan pada lkahirnya
sore itu berkahir dengan perpisahan, karena aku harus keluar untuk alasan yang
sebenarnya aku buat-buat agar tidak berlama-lama duduk didalam perpustakaan itu
dan kesempatanku untuk berlama-lama denganmu akhirnya sirnah, dan aku sangat
menyesalinya.
Hari
minggu merupakan hari tenang bagi mahasiswa. Namun tidak bagiku. Sabtu ini ada
aksi didepan Balai Kota Malang yang mengharuskan aku menjadi kordinator aksi.
Sebenranya aku lelah dengan semua aktivitas melelhkan ini. Kerjaan hanya
teriak-teriak tanpa memberi hasil signifikan, begitulah pengalamanku selama 2
tahun ini aktif sebagai demonstran. Suara seraj]k berteriak tanpa menghiraukan
terik siang, tak ayal beberapa orang perah jatuh pingsan saat Unjuk rasa
berlansung anarkis dan polisi mengeluarkan gas air mata. Aku lelah dengan
kebiasaan ini. Berteriak menuntut keadilan sedang keadilan bagi penikmat jalan
raya tidak kami hormati. Aku sejujurnya sangat malu sbagai mahasiswa saat turun
kejalan raya dan menjadi sumber kemacetan lalu lintas. Apa gerangan pendapat
masyarakat diluar sana yang menjadi penikat jalan raya? Banggakag mereka degan
aksi aspirasi kami? Atau mungkin kami sedang keliru menyuarakan suara hati.
Ataukah mungkin yang kami suarakan adalah suara hati kami sendiri ? karena
ketika aku telusuri suara yang kami sampaikan tidak semuanya sesuai dengan yang
rakyat inginkan. Rakyat inginkan keadilan, sedang kami menyuarakan keadilan
tanpa menghormati keadilan berlalu lintas. Mungkin sudah waktunya aku berhenti
menjadi demonstran. Mengapa tidak aku coba mencoba untuk jadi kutu buku
diperpustakaan? Mengingat tahun depan sudah jadwal untuk melakukan Skripsi.
Terjadi gejolak batin dalam diriku. Namun apapun yang aku pikirkan tidak sesuai
dengan kenyataan. Aksi unjuk rasa kembali dilaksanakan dibawah komandoku.
Akhirnta kembali teripta kemacetan yang luar biasa. Didepan Kantor Balai Kota
ini, arus lalu lintas mulai sesak. Ratusan mahasiswa mulai berterika tidak
jelas. Bernyayi lagu perjuangan. Aku benaar-benar meras dikenadlikan oleh
emosiku, bukan oleh hati nuraniku yang sudah sejak keamrin mulai memberontak.
Siang, ketika matahari tengah berada tengah langit, aksi berhasil dibubarkan
dikarenakan barisan polisi yang terlalu tebal untuk kami tembus ditanbah lagi
gas air mata yang menjadikan kami seperti kambing kehujanan. Semua rekan-rekan
sudah kembali, dan aku tercengang ketika sebuah pesan masuk di Ponselku.
“Akhirnya, bubar juga ya”, pesan darimu. Darimana kau tahu kalau baru saja aksi
kami dibubarkan?. Aku menerwang dsekitarku, berharap menemukan sookmu ditengah
keramaian jalan raya yang sudah mulai lancar kembali, namun tidak membuahkan
hasil. “kau dimana?”, bantiku gelisah, sejak kapan aku gelisah dibuatmu?
Kau
terlihat begitu cerah pagi ini. Entah mengapa setiap hari senin kau selalu
mengenakan pakaian yang serba kuning. Membuatnya telihat seperti cahaya yang
kemilaunya menyilaukan mata.
BERSAMBUNG …..