Rabu, 13 Desember 2017

Ahli Sunnah ?

Jangan sampai karena menjadi Ahli Sunnah menjadikan kewajiban terlupa.

Jangan pula karena ahli melakukan yang wajib sehingga menutup hati mendekati Sunnah.


Jangan bangga karena ibadah tepat waktu tapi selalu sendiri (pria) dibandingkan ibadah tepat waktu dan berjamaah.

Lebih baik tepat waktu dan berjamaah, bukan malah sudah tepat Waktu tapi justru sengaja ibadah sendiri karena malas jamaah.

Janganlah menganggap remeh perintah Tuhan karena tak ada keraguan dalam setiap bait-bait suci dalam kitabnya.



#reminderBuatDiriSendiri

Pemerintah hadir ?

Makna pemerintah hadir untuk masyarakat bukan direpresentasikan dalam bentuk Presiden atau jajaran pimpinan pemerintahan datang di hadapan masyarakat nanya keluhan apa dan apa.


Pemerintah hadir itu bisa kita artikan walaupun ketidakberadaan raganya itu justru membuat birokrasi mudah, akses informasi mudah, infrastuktur ramah, dan segala bentuk perwujudan kesejahteraan masyarakat.

Anak dari rahim orde baru

Kami hanyalah anak orde baru yang terkaget-kaget dengan kedatangan reformasi dan setelahnya


kami hanyalah anak orde baru yang sebenarnya kaget, sejak reformasi tiba kenapa krisis semakin menggila?

Bukan lagi karena rupiah melemah, tapi karena krisis moral yang tercipta setelah reformasi kian menggerogoti kami kini.

Kami tak lagi takut sama siapapun
kami seolah setara dan menyetarakan diri
kami biarkan sopan santun berlalu pergi
kami gantikan dengan retorika tanpa aksi



7 Oktober 2017

Pemimpin baru dan jenggot kebakar di Jakarta !



Kalau orang Jakarta sedang berbahagia dengan pemimpin barunya

kok justru orang luar Jakarta kebakaran jenggot membahas kepemimpinan di Jakarta?

Selalu saja ya kita ini ikut campur sama daerah orang :')

Memperdebatkan hal-hal yang sebenarnya tidak menganggu kenyamanan hidup orang banyak, tidak berdampak pada kemiskinan, tidak berdampak pada inflasi dan hal yang merugikan lainnya.


Sekarang rasa-rasanya masyarakat menjadi terlalu sensitif akan sebuah redaksional, reaksi yang berlebihan yang dijadikan berita nasional justru terkesan menutupi berita yang lebih krusial diberitakan.


Ndak usah lah memperpanjang masalah, boleh gak sih kita gak usah baperan ?:')

jangan terlalu tersinggung dengan pernyataan !
masalahnya Itu bukan disana.


Masalahnya tuh hanya karena kita suka nyari kesalahan orang biar orang tersebut bisa dikucilkan, masalahnya bukan pada orang yang kita salahkan.
masalahnya ada pada kita yang sedikit-sedikit nyalahin orang.


Resiko jadi pemimpin memang gitu, siap kena kritikan, siap di polisikan, siap dicaci maki.

Tapi lantas kemudian apakah semua cacian kita menyelesaikan masalah ?

Apakah ketidaksepakatan kita akan sebuah pernyataan ataupun kebijakan menyelesaikan masalah yang ada?


Tidak ada yang selesai dengan keberadaan kita mengangkat isu yang tidak penting untuk dipermasalahkan terlalu serius.

Isu abadi suatu daerah adalah perihal kesenjangan antar masyarakat.


itu masalah.


Saya berharap kita yang diluar Kota Jakarta ini turut mendoakan agar problematika yang ada di Ibu Kota Negara kita lekas selesai, jangan ikut campur dengan memanaskan media sosial anda memposting dengan tujuan melampiaskan kekecewaan akan sebuah redaksional "pribumi". Kita kudu bijak jangan terjebak dengan propagandanya pihak yang memang punya kepentingan lain selain ketersinggungannya degan 1 kata itu.


Kita kawal Negara ini menjadi negara yang bijak dalam bersikap, Masyarakat yang beradab, jangan banyak berdebat apalagi terpecah belah kembali karena perihal redaksi -redaksi yang dijadikan masalah besar.

Udahlah!


Doakan Jakarta kita damai sentosa, pemimpin yang baru amanah, pemimpin yang lama apresiasi Kinerjanya.

Mari kita dukung Ibu Kota kita, jangan banyak mencaci deh.

*Tulisan ini tidak bermaksud menggurui pembaca, ini hanya opini yang tercipta akibat kegerahan saya membaca respon pembaca berita yang suka nyinyir keterlaluan akan suatu fenomena (khususnya komentar tak mendidik)


kita semua asli bumi Indonesia kok apapun ras anda, agama anda, gak ada yang bisa membendung cinta kita untuk negeri ini.

Jadi gak usah berlebih-lebihan.


19 Oktober 2017


#SayaCintaJakarta
#SayaIndonesia
#KitaSemuaPribumi
#OpiniPagi




Suara-suara

kita adalah suara keadilan
yang bergema dalam bingar ditengah kesunyian
yang mencabik-cabik kebenaran

kita adalah pendosa yang bersembunyi dibalik nama dakwah
yang disana kita penjarakan logika di dalam ego yang buta


kita adalah gema perubahan
yang ternyata terperangkap dalam dimensi perdebatan
kita tak lagi terdengar lantang
suara kita sudah menidurkan jiwa yang lelah

kita adalah saksi atas persebaran opini yang terkekang
dikekang dalam emosi yang terus menantang

jiwa kita sedang telanjang
masih tanpa helai benang sopan santun
kita masih sama sebagai generasi yang mudah di adu

pecah , biarkan suara kita pecah
agar kita semakin tahu bahwa kita benar-benar telah terbelah

biarkan kita menangis di ujung aksara
menanti hari membawa kita tua
dalam kata-kata yang dipenjara.


22 Oktober 2017

Selasa, 12 Desember 2017

saling mengebiri

Mari kita saling mengebiri satu sama lain
ini negeri bebas
tak ada aturan
tak ada tatakrama

mari kita saling mengebiri persaudaraan
jika kelak sejarah bertanya ada apa dimasa depan ?
maka jawab saja kalau Masa depan sedang dipertaruhkan dimeja judi

Ketika sudah kehabisan harta boleh lah perlahan persaudaraan digadaikan juga , barangkali mujur, bisa punya opsi masa depan yang banyak, yang bisa dipertaruhkan kembali di meja judi yang lain



Duka kita Indonesia

Belakangan ini Indonesia sedang dirundung duka

beberapa daerah kena musibah yang memilukan


Mulai dari kasus terbakarnya pabrik Tempe
lalu kebakaran pada pabrik mercon
kemudian kasus runtuhnya pembangunan tol
serta kebakaran salah satu pasar


ada pula kasus pembunuhan seorang ibu terhadap anaknya dengan dimutilasi
ada kasus seorang tukang ojek membunuh bayi orang

dan banyak sekali fenomena menyedihkan bangsa kita belakangan ini, mungkin Tuhan sedang mencoba memberikan tanda-tandanya untuk kesekian kali. Barangkali ini adalah nasihat bagi kita semua agar senantiasa kembali mengingat-Nya.

Apa yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan mengevaluasi diri

"apakah kita penyebab semu ujian ini?"


Apakah kita sudah terlalu menyimpang dari ajaran-Nya sehingga peristiwa demi peristiwa hadir sebagai teguran untuk kita.


Mari merenungkan bangsa kita saat ini, seraya mendoakan semua korban agar mendapatkan posisi terbaik di sisi-Nya.


Indonesia di rundung duka, mestinya kita bertanya, ada apa gerangan dengan diri kita? sehingga Tuhan menghadirkan cobaan demi cobaan secara berkala.

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa (Ebiet G )

31 Oktober 2017 

Jangan pernah bermaksud menggurui presiden

Jangan pernah bermaksud menggurui presiden karena kalau dia bisa jadi presiden sudah pasti dia bukanlah orang bodoh.

Jangan pernah bermaksud menggurui menteri karena kalau dia sudah jadi menteri sudah pasti dia bukanlah orang yang tak mengerti akan bidang yang digeluti.


Terkadang kita melihat kepemimpinan seorang presiden hanya dari sudut pandang kegagalan saja,
sedang sudut pandang keberhasilan tidak pernah dihiraukan.

Karena begitulah memang fungsi pengawasan rakyat, rakyat yang terkena dampak baik pembangunan tentu akan lebih banyak berterima kasih kepada pemerintah. Rakyat yang belum tersentuh perubahan tentu akan mengeluh berkepanjangan. Maka dari itulah dalam Ekonomi membicarakan pemerataan. Jika berharap pemerataan ini langsung dapat terjadi dalam waktu sekejap pada negeri dengan 34 profinsi dan ribuan pulau maka artinya kita kurang toleran dengan kondisi keuangan negara kita ini.

Sering kita mengeluh akan utang negara yang kian membengkak sedang tanpa sadar kita menuntut pemerataan dengan kilat. Mungkin hal ini tidaklah mudah bagi pemerintah rezim siapapun itu. Masa jabatan 30 tahun saja belum menjamin pemerataan Berhasil apalagi yang yang hanya 10 atau 5 tahun ?

Disini tidak ingin membela pemerintah, hanya saja ingin meluruskan sedikit agar kita lebih sabar dan sadar akan kondisi riil keuangan negara ini.
Negara ini adalah studi kasus yang teramat besar bila ngomongin soal pemerataan pembangunan.

Seorang presiden dan menteri tentunya menyusun seapik mungkin agar pemerataan ini semakin cepat, makanya jangan kaget ketika jumlah utang meningkat.

Perlu kita klarifikasi juga bahwa utang kita ini dibandingkan negara sekelas AS dan Jepang jauh lebih kecil.

jauh sekali.

Tidak usah kita bagi utang negara kita yang 3000 Triliun lebih ini dengan jumlah penduduk yang 200-an juta negeri ini, tidak perlu. Karena akan habis pada waktunya nanti.


Cukup yang wajib pajak bayar pajak tepat waktu aja itu kedepannya bakal jadi salah satu faktor penentu utang kita bakal naik apa nggak, soalnya ini ngobrol soal penerimaan negara kita.
kalau penerimaan kita udah cukup besar maka tentu saja gak perlu ngutang kan? (Dengan asumsi pembangunan udah merata)


Jadi perlu kita renungkan bersama apakah kita udah melakukan hal yang tepat?

Pantaskah kita berkutat pada masalah kegagalan rezim kepemimpinan presiden tertentu?
Tidak perlukah beragam prestasi itu kita hargai ?

Atau memang bentuk pengawasan rakyat ini harus selalu mengarah pada kegagalan-kegagalan itu aja yang perlu di bahas?
iya hal semacam ini juga bentuk kepedulian yang harus didilestarikan biar rezim yang berkuasa tidak merasa bangga berlebihan atas pencapaiannya.
Namun kita juga jangan minim apresiasi, jangan terkesan jadi oposisi sejati.

Intinya kembali lagi pada pernyataan awal
jangan pernah bermaksud menggurui seorang presiden dan menteri,

karena berada di posisi mereka sesungguhnya adalah beban yang sangat berat ditengah tuntutan yang juga ingin serba cepat.


Belajarlah mungkin mulai sedikit mengapresiasi agar kita tak setiap hari harus mencari celah untuk menutupi sisi baikya, agar tak gelisah berkepanjangan.

Namun perlu diingat bahwa 72 tahun Indonesia merdeka mengapa kok kita masih begini aja?

Itu mungkin saja karena kita kurang bersyukur. Sebagai kesyukuran yang sering kita lupakan adalah kasus dimana dahulu orang tua kita dimasa mudanya masih pakai pelita (lilin) untuk menerangi rumahnya kini kita bisa menerangi rumah dengan lampu, karena listrik sudah menyentuh.


Sekali lagi tidak mudah untuk meratakan pembangunan ini agar menyentuh seluruh sisi negeri secara kilat, memang butuh tahap. Setidaknya sekali-kali berdoalah agar tahap itu terus dipercepat tanpa kendala yang begitu berat.


Mungkin kita tidak pernah mendoakan pemimpin kita agar bekerja dengan baik menjalankan amanahnya sehingga saat hasil kerjanya ada kita tidak mau menerima.

pertanyaan muncul di akhir sesi ini, lantas ketika pembangunan sudah merata semuanya apakah kita sudah siap dan kompeten untuk menjaganya ?




Note :Tulisan ini hanya keresahan, jika tak sepakat silahkan buat juga keresahan anda :)



Malang, 2 November 2017

#OpiniPagi
#JanganEmosi






perubahan

Barang siapa pihak yang menolak perubahan maka siap-siaplah dia untuk tenggelam dan tergantikan.

Perubahan itu suatu keharusan agar seseorang tidak stagnan pada fase yang sama.

Sama seperti zaman jahiliyah menuju ilmiah
sama seperti gelap menuju terang
dan sebagainya


ketika ada yang menolak transportasi yang menggunakan teknologi kelas tinggi maka siap-siaplah selamanya akan berkutat pada fase yang inefisien.


Teknologi itu bisa mengefisienkan waktu.

perpisahan

semakin kesini kita, semakin sepakat juga bahwa kedepannya memang setiap pertemuan sudah pasti ada pengakhiran, agar setiap orang mampu bersyukur, bersyukur akan hal-hal sederhana yang ternyata akan menjadi bahan cerita dimasa tua.


Ya, begitulah kiranya setiap kata jumpa disandingkan dengan kata pisah agar setiap orang mampu mensyukuri betapa berharganya momen yang pernah terjadi untuk menunda-nunda ketiadaan yang pada awalnya memang merupakan titik asal seseorang sebelum berjumpa dengan orang lain.



debat

Saat berdebat dengan orang yang memiliki idealisme egois maka anda akan sulit menemukan celah untuk memberi saran, kemungkinan besar anda hanya akan di arahkan pada situasi yang membuat anda bingung berkepanjangan.

Karena pada hakikatnya berdebat dengan orang seperti itu anda tidak akan pernah menang, karena memang pada awalnya anda sudah salah menurutnya.


Selama anda tidak sepakat dengan sudut pandang nya maka selama itu pula anda salah, menurutnya.

Jadi jika anda masih memiliki idealisme, tolong agar membuka diri untuk menerima kritik dan saran, jangan seakan kebenaran hanya milik seorang.


Hati-hati terlalu menuhankan idealisme, barangkali idealisme kita bertentangan dengan kebenaran yang semestinya atau justru membuat kita tertutup untuk menerima perubahan-perubahan berarti dalam hidup.


Kapan nikah?

Jika ada yang bertanya kapan nikah maka jawab hari apa saja yang penting jangan bilang kapan-kapan.


Perkara menikahi seseorang itu jika hendak berbicara realistis memang butuh kesiapan yang matang. Kesiapan tersebut bukan hanya kesiapan "mulut" saja yang berkata, melainkan seluruh elemen penting lainnya tak terkecuali penghasilan.

selain daripada itu menikah dengan seseorang tentu saja berbicara akan banyak hal.

Dengan kamu memilihnya maka harus diketahui bahwa bukan hanya fisiknya saja yang harus dinikahi melainkan semua yang berkaitan dengan pasangan itu.

Kamu harus menikahi masa lalunya
kamu harus menikahi mimpi-mimpinya
kamu harus menikahi harapan-harapannya
kamu harus menikahi setiap bait kekurangannya


Bukan perkara mudah sebenarnya dalam menentukan pasangan hidup. Kadang kita terlena dengan rasa nyaman yang sebenarnya mematikan, dimana keputusan selalu berlandaskan ego yang mengekang.

Tidak ada yang salah dengan nikah cepat. Yang salah adalah ketika nikah cepat padahal belum punya falsafah hidup yang tegas dan jelas alias masih ragu mau membawa hidup kemana, belum ada Rancangan Kerja jangka pendek maupun jangka panjang.

Jangan coba-coba nikah cepat kalau sebenarnya hati belum mantap bersikap. Karena menikah memanglah bukan perkara mudah, karena kedepannya memang harus berbagi dunia. Jangan segera menikah kalau belum siap berbagi dunia dengan pasangan.

Memilih pasangan bukanlah tentang siapa cepat dia dapat, tapi siapa siap dia dapat.

Nah kesiapan inilah yang perlu di bahas lebih jauh lagi. Dalam agama saya tentu saja menikah merupakan bentuk pencegahan akan perbuatan negatif serta penyempurna agama, saya sadar dan sepakat betul akan hal itu.

Namun kita perlu catat,
Menikah masihlah bukan sesuatu yang enteng untuk dibahas jika memang hati dan faktor lainnya belum siap.

pertanyaannya adalah kapan hati dan faktor itu siap ?

Adalah ketika kita sudah punya perencanaan jangka pendek dan panjang yang mantap
menguasai fiqh pernikahan
mempunyai jaminan setidaknya penghasilan dan
yang terpenting siap menikahi setiap hal yang berkaitan dengan pribadi pasangan, entah itu masa lalu, mimpi, celoteh, karakter, dan segala tentangnya.

Jika belum siap akan semua itu, maka jangan dulu menikah cepat-cepat. Lakukanlah pendekatan dahulu kepada Tuhan, apakah sudah layak kita mengemban amanah besar yang disebut "pernikahan"?
Jika dalam pendekatan itu belum juga mendapatkan tanda-tanda maka sebaiknya tunda dulu, intinya selalulah berdiskusi dengan Allah agar pilihan kita tidak salah.



Note : Selalulah kembalikan semua pada Allah, hukum yang telah di tentukan-Nya lebih utama daripada menyepakati opini sederhana ini.

4 November 2017

Ada rahasia

Ada rahasia yang disembunyikan penulis di tiap diksi-diksi tulisannya, yang menolak disebutkan secara eksplisit.


Persembunyian terbaik bagi penulis adalah tiap paragraf tulisannya, dimana disanalah dia memiliki dimensi yang tidak mampu dijangkau pembacanya.
Jika seorang penulis engkau kecewakan maka percayalah bahwa kau akan selalu hadir sebagai tokoh antagonis dalam tiap tulisannya.
Jika seorang penulis kau kecewakan percayalah kau akan dibunuh berkali-kali dalam imajinasinya.


Penulis adalah pendendam yang membalas tidak dengan perbuatan namun dengan diksi-diksi mematikan yang sengaja di susun secara apik untuk menegaskan bahwa kau adalah tokoh yang seharusnya tidak pernah ada.


Maka hati-hatilah saat berteman dengan penulis, bisa jadi kau akan dibuatnya bahagia berkali-kali namun saat kau telah mengecewakannya maka bersiaplah untuk jadi tokoh terburuk dalam karya-karyanya.





Papa yang nakal

Dear papa,
demi kebenaran dan ketenangan sosial
tolong jangan berselancar di atas drama abnormal
jika memang benar dan dapat meyakinkan
ayolah jangan gentar dan buktikan di pengadilan

kini hukum dan perwakilan rakyat sedang berseteru
entah kepada siapa kami hendak mengadu

mungkin pada rumput yang sudah lama tak bergoyang
mungkin pada genangan air yang tercipta oleh hujan
sepertinya kondisi bangsa jaman now sedang tergadaikan dengan harga diri seseorang yang begitu mahal.


Kesal aku jadi rakyat kalau harga diri jauh lebih mahal dari harga keadilan dan kejujuran.

Utang negara?

yang bilang Utang Negara kita terlalu banyak dan menjadikam itu indikator pemerintah gagal


"Tenggelamkan"

Pengen banget ada akses infrastruktur memadai tapi nggak mau menghargai usaha pemerintah itu sama saja dengan mau mandi tapi takut air.


Utang Negara kita memang kini hampir 4000 T
kita sadar betul itu

tapi bukan angka membengkak itu yang perlu kita bahas

pembahasan yang perlu adalah tentang apa yang hendak dicapai dari adanya uang tersebut.


Ini pemerintah ngutang buat kita loh, biar nanti kita gak marah lagi soal disparitas, biar kita gak lagi mendramatisir kesenjangan infrastruktur Barat sampai Timur.


Apa sih yang perlu kita bahas dari adanya Utang yang hampir 4000 T ini ?

apa perlu kita bahas mengenai setiap manusia di Indonesia ini punya Utang , misalnya 4000 T dibagi dengan 250 juta penduduk Indonesia, apa itu perlu ?

nggak perlu semua kepala berhutang kok, percaya aja sama pemerintah sembari kita evaluasi juga kinerjanya.


Lambat laun Utang akan terkikis seiring dengan beresnya segala PR pembangunan.


Jangan sentimen sama pemerintah hanya karena Utang gede.

Doain biar lancar balikin utangnya sama yang punya duit.



Kamis, 30 November 2017

Tentang Cinta lagi.



Barangkali apa yang selama ini kita sebut cinta sebenarnya bukanlah cinta
Bagaimana kalau itu ternyata bentuk rekayasa nafsu yang mencoba meluluhkan pendirian anda atas sebuah perasaan

Bagaimana jika keputusan untuk menyatakan perasaan sebenarnya bukanlah solusi atas rasa yang ada di dalam hati
Bagaimana jika itu bagian rencana kerja jangka panjang para setan dalam menjerumuskan anak cucu Adam ke dalam lembah bernama neraka ?

Banyak orang berkata bahwa ungkapkanlah cinta mu agar kau lega, lantas ketika memang telah di ungkapkan apakah kelegaan itu benar-benar kelegaan semestinya?
Bagaimana jika itu hanyalah bentuk semu muslihat dari zina yang ternyata sudah mengintai hati sejak pertama menyadari adanya rasa kagum terhadap lawan jenis
Bagaimana sebenarnya cinta harus di bahasakan terhadap lawan jenis ?
Apakah semua cinta harus terikat dengan kalimat "aku mencintaimu" dan lawan jenis menjawab "aku juga", atau jenis kalimat pengikat semu lainnya.

Pernahkah kita menyadari bahwa setiap manusia yang patah hati diakibatkan karena terlalu mendalami perasaannya dan sudah terlalu lama menjauh dari Tuhannya.

Ada yang berkata bahwa urus saja dirimu sendiri tidak perlu mencampuri urusan percintaan orang lain.

Saya akan dengan senang hati membuat tulisan-tulisan baru yang bertujuan untuk membuat orang lain menyadari kesalahannya akan sebuah perasaan.
Bukankah sudah jelas aturan dalam agama menyatakan secara lantang bahwa jangan mendekat pada zina, tapi mengapa banyak manusia masih berspekulasi bahwa apa yang mereka jalani bukanlah bermuara pada zina melainkan bahtera rumah tangga .

Dalam hati para iblis mulai tertawa" akhirnya anak Adam kuhasut juga"
Biasanya dengan atas nama cinta manusia berani berfatwa bahwa pacaran itu tidak haram.

Biasanya dengan atas nama cinta manusia berani berkata bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk kepentingan masa depan bersama.

Namun sayang sekali, mereka bukan menyatakan itu atas nama Tuhan.

Ketika semua melibatkan Tuhan maka tidak ada cinta yang ternodai oleh kepentingan syahwat .
Ada saja orang yang selalu ingin menyederhanakan dosa dengan istilah "ah gapapa kok, kan mau serius kan nanti mau nikah, bla bla ", dan seterusnya.
Apakah cinta tanpa pernikahan memang perlu ?
Katanya biar bisa saling kenal dulu, biar nanti tidak menyesal dengan pilihannya, biar bisa mengerti satu sama lain. Sejujurnya saya sendiri tidak mampu menjawab itu, yang saya tahu saya sudah lelah menjalani percintaan yang tidak jelas muaranya kemana. Saya sudah lelah melihat dampak-dampak buruk percintaan antara cucu Adam dan hawa.

Rasanya saya memilih untuk berdiam diri dengan tiap perasaan yang datang, mencoba menyederhanakan rasa kagum dalam bentuk doa, itu sudah cukup.
Sepertinya tidak perlu lagi ada kata-kata aku mencintaimu wahai ukhti, karena sejujurnya saya kini menyadari kalau ternyata saya belum punya kesiapan untuk menuju tahap "menghalalkan" seseorang. Saya sadar betul bahwa cinta saja tidaklah cukup untuk membangun sebuah organisasi yang disebut keluarga.

Jadi ketika seseorang memilih untuk sendiri dulu mungkin itulah bagian paling aman untuk tidak terlibat pada percintaan semu jaman now yang kian hari semakin mengikis batas moral.

Semestinya kita percaya bahwa dengan banyak mendekatkan diri pada Tuhan maka keajaiban-keajaiban akan datang.

Sudahilah merespon setiap perasaan yang ada, apalagi mesti mengungkapkannya terlalu dini, sadarilah posisi saat ini, jika belum siap menuju tahap serius lebih baik lakukan dulu hal-hal lain yang lebih mendesak. Ingat prioritaskan selalu orang tua dan harapan-harapan mereka untuk kita sebagai anak. Prioritaskan selalu orang tua dalam pengambilan keputusan, karena merekalah sebenarnya cinta dalam hidup kita sebelum hadirnya cinta untuk manusia yang lain.

Dan cobalah merenung, apakah perasaan yang prematur layak untuk diperjuangkan?

Dan apakah perasaan yang kita perjuangkan sebenarnya bukan campur tangan para setan untuk melalaikan kita atas perintah Tuhan ?

Jatuh cinta itu manusiawi kok, namun bentuk eksekusi akan cinta tersebut yang perlu kita kritik bersama agar tak mendatangkan mudharat bagi diri para pecandunya.

Mari merenungkan saja, tak usah marah dengan opini ini :).

Malang, 26 November 2017
Renungan ditengah Hujan sore.

#OpiniSore

SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...