Sabtu, 03 Desember 2016

JAMAN EDAN ?

Jaman memang sudah berubah. Kehadiran teknologi yang juga semakin menggairahkan tak luput jadi santapan sehari-hari seluruh kalangan. Tidak perlu heran jika dewasa ini manusia kebanyakan lebih asyik dengan dunia maya. Istilah mengintegrasikan Media dalam dunia sosial nampaknya telah berubah menjadi integrasi dunia sosial dalam Media. Terlihat begitu asyik memang jika dilihat obrolan-obrolan di balik layar handphone canggih, obrolan yang mampu mencuri senyuman dari penggunanya. Senyuman itu mungkin tidak mudah di temui saat berada di dunia nyata.

Keterlibatan Media sosial dalam pemenuhan hasrat berinteraksi nampaknya memberi hasil yang cukup cemerlang bahwa " teman-teman anda kini sibuk dengan gadget nya" bahkan anda sendiri pun mungkin sudah "sama saja". Intetaksi dalam dunia nyata nampaknya tidak begitu menarik lagi setelah hanyut dalam dunia fatamorgana gadget. Teman dalam dunia maya beribu-ribu siapa sangka di dunia nyata hanya satu dua saja?


Benar adanya bahwa interaksi dunia sosial kita sudah lebih asyik dilakuan melalui gadget. Secara sepihak saya ingin mengatakan bahwa dampak dari teknologi ini menjadikan kita sedikit lebih malas. Bagaimana bisa ? Anda tidak perlu lagi ke pasar untuk membali sesuatu, tidak butuh intetaksi tawar menawar melalui mulut dan beradu argumen dengan dalil toko sebelah lebih murah. Semua bisa di jangkau dengan teknologi masa kini.

Baiklah kita tidak akan berbicara mengenal Ekonomi. Kita akan berbicara mengenai apa dan bagaimana semestinya kita memperlakukan teknologi sebagai alat pembantu, bukan sebagai alat tunggal penentu. Manusia dan teknologi dewasa ini sudah jadi dua variabel yang saling terkait. Susah bener hidup jika gagap teknologi, semuanya menjadi tidak efisien, apalagi jika sudah berbicara soal waktu. Adanya teknologi ini sudah fix akan lebih menghemat waktu.

Lantas wajarkah jika kini dengan teknologi berupa handphone pintar menggantikan semua hal berharga dalam hidup?

Misalnya senyuman teduh kawan-kawanmu yang terlihat nyata saat bertatap muka dibanding send emoticon yang nyatanya kebanyakan dusta? emoticon sudah jadi perwakilan ekspresi dusta yang bisa menggambarkan suasana hati pemilik gadget.

nah bagaimana ?
Saat ini saat berada dalam forum-forum resmi, dalam kumpul keluarga, saat makan, organisasi dan forum intetaksi apapun itu entah mengapa gadget selalu jadi opsi melarikan diri dari kejenuhan. Gadget punya tempat tersendiri di hati manusia hingga tega mengabaikan manusia lain yang ada di sekitarnya.

Jika ada sesuatu yang lebih sering kau rindukan selain orang tua dan Tuhan mungkin itu adalah gadget dan notifikasi di dalamnya. Bahkan satu hari dalam hidup saat ini, coba tanyakan diri Sendiri "berapa banyak anda memikirkan Tuhan dan orang tua?" Bandingkan dengan seberapa sering anda mengingat gadget.


Media sosial yang ada di dalam gadget adalah dunia baru yang menyenangkan. Tapi tanpa di sadari sudah menghilangkan esensi dari komunikasi yang benar-benar terasa asli. Kita hanya perlu membatasi diri jangan hanyut dalam zona nyaman bermedia sosial atau bahkan semua interaksi sosial serba di Media kan.
Jangan ...Jangan....

Perhatikanlah orang yang bicara di sekitar anda. Bangunlah komunikasi selagi masih punya mulut dan lidah untuk berbicara. Rasa kan bagaimana sedih nya mereka yang tak di anugerahi kemampuan untuk berbicara. Rasakan bagaimana sedih nya mereka yang tak mampu menyampaikan pesan bermakna dari mulutnya.

Jangan jadi budak dari teknologi ini. Kita lebih pintar daripada handphone. Teknologi handphone punya batas memory sedang manusia punya memory yang tidak terbatas. selagi masih muda perbanyak menghargai dunia yang indah ini. Perbanyak interaksi dalam dunia nyata. Agar ingatan-ingatan akan intetaksi ini akan membekas dalam ingatan.

Ingat pesan ini bahwa..... secantik-cantiknya foto gadis di dunia maya lebih cantik lagi gadis bernama maya di dunia nyata.

Dunia nyata ini selalu punya alasan untuk di perhatikan, jangan banyak di abaikan.

Teknologi tidak salah, salahkan diri kita yang selalu serakah.

#CelotehNamrehus
Malang 3 Desember 2016

SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...