Selasa, 19 Juli 2016

Tabir manipulasi



Ketika topeng-topeng kebajikan mulai beredar
Meluas bagai badai di musim hujan
Guntur, petir dan halilintar
Bersatu menguak tabir kemanafikan

Sejatinya kejahatan tidak pernah kelar
Menggebu dalam asa
Melebur bersama masa
Diam dan saksikan  saja cecunguk –cecunguk berdasi
Beraksi dalam kualisi
Tak terkuak dalam bukti
Berjaya dalam segala bentuk manipulasi

 Lowokwaru 18 juni 2014


Merdeka hanya nama


Pukul tujuh pagi , tujuh belas Agustus dua ribu tiga belas
Terdengar  cekikikan, telinga seolah menolak, suara itu seperti yang lalu-lalu
Dan lagi  sebelum-sebelumnya , berisik, mengganggu pagi yang tenang

Perlahan kaki melangkah, terhempasku  di sofa
Menatap keluar jendela
Sekumpulan bocah bermain
Tertawa dengan baju camping, tampak kotor , tak tahu apa-apa

Kumenggelengegkan kepala, tak percaya
Kasihan para bocah, terlihat polos, kurus dan kelaparan
kasihan mereka, orang tuanya kemana ?

Pukul delapan tiba
masih sama, pemandangan pilu
permaianan sederhana, dari botol bekas jadi bola sepak
mereka menikmati, sekali lagi
seadanya


pukul sembilan ,televisi menyala
siaran detik “upacara kemerdekaan”
begitu mewah, aparat berjaga-jaga
istana megah dan orang-orang “besar negara”
serta mereka yang kaya raya datang menikmatinya

Ada yang ganjil dikepalaku, tidak sesuai dengan realita
sesuatu yang menolak untuk berkata “khidmat”
ibarat kopi tanpa gula,
begitu pahit dan pekat terasa
mulut ini ingin berbicara, tapi pada siapa ?

Pasukan pengibar telah berformasi
membawa bakit “merah-putih”
begitu rapi dan terlatih, terlihat bangga, tersenyum tipis
mereka tak tahu  apa yang terjadi saat ini
disini

Sekali lagi “Indonesia” merayakan “hari merdeka”
tapi merdeka seperti apa ?
seperti anak terlantar yang tertawa lepas di depan rumah ?
bermain seadanya, mengira itu benar menurut mereka
bagiku “SALAH”, mengusik telinga di pagi yang bahagia

Lagu kebangsaan dinyanyikan
Untuk apa ? untuk siapa ? kenapa bisa ?
Apakah ini makna merdeka ?
Merdeka untuk siapa ? Hanya mereka yang di istana sana yang merasa merdeka
Upacara telah usai, kumatikan televisi
Seperti luka yang yang kembali terbuka
Sakit, begitu menyesakkan, ingin terharu tapi untuk apa ?
Terharu karena merdeka ? atau karena apa ?
Lagi-lagi seorang bocah menatap ke pintu rumahku yang terbuka

Inilah dia, saat yang di nanti
Seorang bocah datang di ikuti bocah lainnya
Wajah lesu, langkah lunglai
Nampak sekali mereka tengah kelaparan
Aku beranjak dari sofa, terenyum bahagia

Beranjak aku dari lamunan
Keawijban telah memanggil
Hari kecil merintih, seperti luka yang tertahan
Ingin kuteriakkan kesal kepada siapa ?
Air mata tiadalah arti

Bocah-bocah yang Malang
Senyum tipis mengembang kearahku
Begitu kuhampiri sumringah
Wajah berseri, menatap bahagia yang sebentar lagi mereka rasa

Apa ini merdeka ?
Batinku berperang melawan realita
Yang mereka sebut merdeka, seperti ini?
Orang-orang di istana sana?
Merdeka dengan wajah polos terlantar

Angin sepoi membawa damai
Hati serasa tenang, tentram, melihat mereka begini
Tertawa lepas, duduk disinggasana sederhana beranda
Menikmati hangatnya susu buatan Ibu

Pilu, siapa yang terakhir kali membuatkan susu untuk mereka ?
Apa susu itu hanya kenangan kelahiran belaka ?
Seperti merdeka di atas sengsara
Orang Indonesia sungguh lupa diri dan lupa mereka

Seambari bertanya si bocah mungil
Rambut lusuh, bergelombang, mata bersinar
“Hari ini hari apa? Kenapa banyak bendera ?
Diam, sunyi, raut wajahku berubah
Pertanyaan untuk siapa ? aku tak mampu berkata

Hari merdeka seperti inikah?
 kita rayakan namun yang lain kesakitan ?
hari merdeka seperti inikah ?
kita rayakan namun kemiskinan masih berkibar ?

hening masih berkuasa, aku tak kuasa menjawab
mereka nampak lesu, dan kembali bertanya
“hari ini hari apa? Kenapa ramai sekali  lapangan sana?
Leherku tercekik, malu, prihatin dengan bangsa sendiri

Berat kumenjawab, masih setengah sadar
Bibirku bergerak, “merdeka”, hari merdeka, jawaban tidak pantas hatiku menggertak
Terlontar pertanyaan dari wajah polos mereka, nampak bingung
“apa itu merdeka ?”, lagi-lagi pertanyaan ini menghantam kepalaku
Pusing, hendak berdiri, namun kasihan, mereka perlu mengerti

Merdeka itu Indonesia, terlepas dari hantaman senjata, mereka para penjajah
Merdeka itu Indonesia, berkibar sang saka di tiang bahagia
Merdeka itu Indonesia, garuda perkasa, Proklamasi terbaca
Merdeka itu Indonesia, berat ku menjawab, bbir seolah terjepit
Rakyat bebas dari miskin

Masih hening, wajah mereka polos, nampak tak mengerti
Aku tertawa, mengakhiri sunyi
Perlahan, kukeluarkan selembaran biru dari saku
“selamat hari merdeka, adik-adik bangsaku”
Wajah polos mereka tertawa, seolah pertanyaan yang tadi berhasil kuhindari

Pagi berlalu ,  siang datang, bocah-bocah sudah pulang
Kini kukembali dalam renungan
Terpaku dengan makna kemerdekaan, makna yang hilang
Berbaur dengan zaman, kejam, keliru, terlupakan

Makassar 17 agustus 2013



MUSLIHAT CINTA KAUM HAWA




Kepada generasi hawa yang kasmaran
Kau sering terlena dengan janji-janji yang menawan dari mulut sang rupawan
Kau terkena serangan cinta yang membingungkan
Seolah semua keinginan bermuara padamu, indah sekali bukan ?

Ada letupan janji-janji yang menjelma jadi memicu senyumanmu
Dia lelehkan hatimu jadi perindu yang akan senyum-senyum sendiri
Pada tenggang waktu sepimu, dia memenangkan hatimu yang lugu


Ada cinta yang teramat membingungkan yang kau jalankan
Kau menegaskan bahwa pilihanmu adalah takdir yang romantis
Kau tidak ingat sudah berapa banyak cucu hawa yang berakhir menangis ?

Kepada generasi hawa yang kasmaran
Tak ada yang melarang hatimu bertuan pada ikhwan
Hanya saja Tuhan menegaskan kau harus menjaga diri dari segala macam pemicu syahwat setan bertopeng ikhwan
Yang menggodamu dengan kepalsuan dan kemewahan

Kepada generasi hawa yang kasmaran
Jika ada kesempaan untuk bersegera, bilamana hasrat hatimu hendak bertuan semakin besar
Maka jujurlah pada ayah bunda….
Jangan dalam diam kau menjadi wanita tawanan ikhwan
Kau berikan cinta yang dalam, sedang rambu-rambu Tuhan rajin kau lecehkan

Kepada yang kasmaran….
Jika cintamu memang karena Tuhan
Maka tahan….
Tahanlah gelora yang menggila
Biarkan rasa mengalir bagai air di musim hujan
Bilamana iya bermuara pada sungai rindu yang teramat besar
maka katakanlah
Duhai ikhwan, kapan kau datang bertemu Bunda ?
Duhai ikhwan beranikah datang meluluhkan ayah ?
Jangan sampai kisahmu hanya berakhir di perapian, kau membakar semua sisa kenangan yang pernah terlewatkan
Sedang sesal hanya tinggal sesal
Kesempatanmu sudah terlewatkan oleh penyesalan

Cinta yang benar adalah cinta yang mengalahkan ego dua tuan pemillik rasa
Cinta yang benar adalah cinta yang menghalalkan
Cinta yang benar adalah cinta tidak mempermainkan syahwat
Cinta yang benar adalah diam-diam ,
ya diam-diam saling mendoakan,bukan berpegangan tangan, bahkan saling telanjang

Jangan tekecoh, sudah banyak ikhwan yang termangu di dipan penjara
Hanya Karena syahwat dan janjinya lebih besar daripada cintanya yang ditawarkan dahulu

Wasadalah, cinta tak sebercada aku sayang anda.
Cinta yang perlahan akan lebih jelas menghasilkan
Daripada cinta yang terburu-buru biasanya hanya akan menghasilkan kekeliruan
Tak sedikit cinta yang terburu-buru menghasilkan anak yang lucu, tapi ibu bapaknya belum mengenal penghulu
Tak sedikit cinta yang terburu-buru hanya menghasilkan tangisan-tangisan yang ambigu
Buat apa menangis ?
Toh yang engkau tuai adalah hasil keserakahanmu pada hati, penghianatanmu pada Tuhan

Hawa…
Waspadalah dengan muslihat “cinta”

Donri-donri 16 Juli 2016
Jika tidak penting abaikan celotehan ini


Namrehus

Sabtu, 16 Juli 2016

Kepada para tuan pencela yang nakal

Hei tuan
Anda adalah pencela yang luar biasa
Sedikit si amir berjalan mulutmu sudah melontarkan cacian
Anda adalah oknum beragama yang mengumbar kebencian lewat media-media
Sedang pembaca-pembaca teramat cepat menangkap berbagai tuduhan prasangka
Anda adalah narator hebat yang mendedikasikan karyanya untuk menghujat
Saking habisnya pekerjaan yang nyaman, hingga terpilihlah hujat sebagai rutinitas harian
Hei tuan
Anda adalah pemimpin tubuh yang luar biasa
Disaat negara anda butuh pemikir handal
Anda lahir sebagai pencela yang teramat “nakal”
Belum juga si pria kurus hebat itu panen pujian, kau sudah hujani dia dengan seribu jenis cacian
Anda lupa bahwa masyarakat Indonesia harus tunduk pada presidennya
Perihal adanya nahkoda bayangan kita bicarakan kemudian
Hai tuan
Anda adalah warga negara yang teramat sangar
Disaat nagara sedang tercemar
Anda menebarkan fitnah-fitnah yang menggelegar
Menerobos batas kepercayaan rakyat awam
Kasihan si amir menanggung cacian musuh-musuhnya dengan sabar
Hai tuan
Anda adalah bagian dari negara Kesatuan
Anda lebih dahulu Lahir daripada reformasi yang tercampakkan
Mengapa anda jadi pemecah kesatuan ?
Adakah reformasi jilid dua yang kau inginkan?
Sedang kau siapa dan bagaimana bisa meyakinkan kami, pekerjaanmu hanya mengumandangkan perang dan benih-benih kekesalan
Siapakah anda duhai tuan ?
Orang bilang negeri ini sedang krisis ekonomi, krisis budaya, krisis cita rasa berbangsa
Tapi lagi ingin kutegaskan tuan….
Yang menghambat kita untuk menang adalah adanya sosok-sosok seperti anda yang memecah kesatuan
Kita krisis kepercayaan yang tiada akhir
Menjelma jadi suudzon tiada batas , pada amir pilihan rakyat
Tuan…. Kita semua inginkan kepala yang tepat
Kita adalah organ yang saling membutuhkan
Presidenku adalah kepala,
wakil adalah leher,
Cendekiawan adalah otak,
ulama adalah jantung
mentri-mentri adalah tangan,
anak muda adalah kaki,
seluruh rakyat adalah hati
Bilamana hati busuk maka seluruhnya akan membusuk , sebusuk-busuknya bau, sebusuk-busuknya tikus bangsaku
Kepala tanpa leher adalah cacat
Kepala tanpa tangan dan kaki adalah lumpuh
Kepala tanpa otak adalah bodoh
Kepala tanpa hati adalah robot
Kepala tanpa jantung adalah kematian
Jadi mengapa kebencian masih sering dikau utarakan ?
Kenapa bukan jawaban atas permasalahan yang krusial ?
Kenapa bukan sesuatu yang mengurangi kemiskinan yang bengal ?
Jika memang anda kukuh meragukan amirku, maka silahkan , silahkan meragu
Meragulah hingga kau lapuk
Meragulah hingga dunia bersenandung atas menjamurnya generasi pengecut
Aku tegaskan tuan…
Anda bukan satu-satunya yang gerah dengan penelanjangan besar-besaran krisis yang melanda bangsa ini
Anda bukan satu-satunya yang gerah dengan bercandanya harga-harga dipasar yang membuat dompet anda terdzolimi
Anda bukan satu-satunya yang gerah pada tangisan-tangisan rakyat jelata yang mengemis keadilan
Anda bukan satu-satunya….tuan
Jika anda butuh keadilan,kebenaran dan ketegasan
Maka berilah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
Jika anda butuh kenyamanan,ketepatan dan kesempurnaan
Berhentilah menghujat,
mari kita berdikusi berat
Mari kita berfikir keras
Mari kita berdoa, semoga Negeri ini tidak jatuh pada pundak yang salah
Kota Kalong 16 Juli 2016
Kepada para tuan pencela yang nakal
Namrehus Suherman

Rabu, 13 Juli 2016

KITA HAMBA SIAPA?


Kita menghamba pada rupiah
Sedang pada Tuhan kita memfitnah
Kita sering berkata bahwa Tuhan tidak adil?
Tuhan tidak ahli ?
Sudah banyak manusa serakah yang memfinah Tuhannya tidak becus dalam membagi nikmat
Dia sudah lupa pada para malaikat yang diciptakan tunduk di hadapannya
Dia sudah lupa pada ribuan liter air yang membasuh tenggorokannya
Dia sudah lupa pada udara yang bebas dicemarinya dengan polusi gila
Dia sudah lupa pada perjanjian antara raga dan Tuhannya
Maka Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan ?
Kita menghamba pada kekufuran
Sedang pada syukur kita mengacuhkan
Kita menghamba pada kedurhakaan
Sedang berbakti kita melupakan
Kita menghamba pada nafsu,
Sedang kebutuhan dilain waktu
Kita menghamba pada para kacung
Sedang pada diri sendiri kita meragu
Kita menghamba kepada para tikus
Kita membesarkan kandangnya, kita turut serta menyuapi kucing-kucing negara yang pemalas
Kita menghamba pada dunia, seakan akhirat telah binasa
Kita menghamba pada harta, tahta, wanita
Kita menghamba pada sikaya
Kita menghamba pada sigila
Kita menghamba pada siapa saja yang menggoda
Maka nikmat mana lagi yang SENGAJA ingin kamu dustakan ?
Jadi kita hamba siapa
Kita adalah hamba yang keterlaluan, sadis dan munafik
Tak kala bencana datang menghardik
Mengapa lagi menghamba pada Tuhan?
Berdoa saja pada hartamu,tahtamu dan wanitamu
Mereka adalah Tuhan yang sudah kau ciptakan dengan hasratmu yang menggebu
Berdoa saja pada hartamu,tahtamu dan wanitamu
Bukankah kau sudah terlalu cinta ?
Jadi kita hamba siapa ?
Aku malu mengatakan kalau kita masih diperhambai oleh Tuhan
Karena kita adalah hamba yang sangat keterlaluan
Ya…kita sudah KETERLALUAN !!
Ya…kita sudah SANGAT KETERLALUAN !!
Semoga Tuhan masih mau menuntun kita pulang.

Galung Langie, 12 Juli 2016
Suherman Juhari

SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...