Pukul tujuh pagi
, tujuh belas
Agustus dua ribu tiga belas
Terdengar cekikikan,
telinga seolah menolak, suara itu seperti yang
lalu-lalu
Dan lagi sebelum-sebelumnya , berisik, mengganggu pagi
yang tenang
Perlahan kaki
melangkah, terhempasku di sofa
Menatap keluar
jendela
Sekumpulan bocah
bermain
Tertawa dengan
baju camping, tampak
kotor , tak tahu apa-apa
Kumenggelengegkan
kepala, tak percaya
Kasihan para
bocah, terlihat polos, kurus
dan kelaparan
kasihan mereka,
orang tuanya kemana
?
Pukul
delapan tiba
masih sama,
pemandangan pilu
permaianan
sederhana, dari
botol bekas jadi bola sepak
mereka
menikmati, sekali lagi…
seadanya
pukul sembilan ,televisi
menyala
siaran detik
“upacara kemerdekaan”
begitu mewah,
aparat berjaga-jaga
istana megah dan
orang-orang “besar negara”
serta mereka
yang kaya raya datang menikmatinya
Ada yang ganjil dikepalaku, tidak sesuai dengan
realita
sesuatu yang
menolak untuk berkata “khidmat”
ibarat kopi
tanpa gula,
begitu pahit dan
pekat terasa
mulut ini ingin
berbicara, tapi pada siapa ?
Pasukan pengibar
telah berformasi
membawa bakit
“merah-putih”
begitu rapi dan
terlatih, terlihat bangga,
tersenyum tipis
mereka tak
tahu apa yang terjadi saat ini
disini
Sekali lagi
“Indonesia” merayakan “hari merdeka”
tapi merdeka seperti
apa ?
seperti anak
terlantar yang tertawa lepas di depan rumah ?
bermain
seadanya, mengira itu benar menurut mereka
bagiku “SALAH”,
mengusik telinga di pagi yang bahagia
Lagu kebangsaan
dinyanyikan
Untuk apa ?
untuk siapa ? kenapa bisa ?
Apakah ini makna
merdeka ?
Merdeka untuk
siapa ? Hanya mereka yang di istana sana yang merasa merdeka
Upacara telah
usai, kumatikan televisi
Seperti luka
yang yang kembali terbuka
Sakit, begitu
menyesakkan, ingin terharu tapi untuk apa ?
Terharu karena
merdeka ? atau karena apa ?
Lagi-lagi
seorang bocah menatap ke pintu rumahku yang terbuka
Inilah dia, saat
yang di nanti
Seorang bocah
datang di ikuti bocah lainnya
Wajah lesu,
langkah lunglai
Nampak sekali
mereka tengah kelaparan
Aku beranjak
dari sofa, terenyum bahagia
Beranjak aku dari lamunan
Keawijban telah
memanggil
Hari kecil
merintih, seperti luka yang tertahan
Ingin
kuteriakkan kesal kepada siapa ?
Air mata
tiadalah arti
Bocah-bocah yang
Malang
Senyum tipis
mengembang kearahku
Begitu kuhampiri
sumringah
Wajah berseri,
menatap bahagia yang sebentar lagi mereka rasa
Apa ini merdeka
?
Batinku
berperang melawan realita
Yang mereka
sebut merdeka, seperti ini?
Orang-orang di
istana sana?
Merdeka dengan
wajah polos terlantar
Angin sepoi
membawa damai
Hati serasa
tenang, tentram, melihat mereka begini
Tertawa lepas,
duduk disinggasana sederhana beranda
Menikmati
hangatnya susu buatan Ibu
Pilu, siapa yang
terakhir kali membuatkan susu untuk mereka ?
Apa susu itu
hanya kenangan kelahiran belaka ?
Seperti merdeka
di atas sengsara
Orang
Indonesia
sungguh lupa diri dan lupa mereka
Seambari
bertanya si bocah mungil
Rambut lusuh,
bergelombang, mata bersinar
“Hari ini hari
apa? Kenapa banyak bendera ?
Diam, sunyi,
raut wajahku berubah
Pertanyaan untuk
siapa ? aku tak mampu berkata
Hari merdeka
seperti inikah?
kita rayakan namun yang lain kesakitan ?
hari merdeka
seperti inikah ?
kita rayakan
namun kemiskinan masih berkibar ?
hening masih
berkuasa, aku tak kuasa menjawab
mereka nampak
lesu, dan kembali bertanya
“hari ini hari
apa? Kenapa ramai sekali lapangan sana?
Leherku
tercekik, malu, prihatin dengan bangsa sendiri
Berat
kumenjawab, masih setengah sadar
Bibirku
bergerak, “merdeka”, hari merdeka, jawaban tidak pantas hatiku menggertak
Terlontar
pertanyaan dari wajah polos mereka, nampak bingung
“apa itu merdeka
?”, lagi-lagi pertanyaan ini menghantam kepalaku
Pusing, hendak
berdiri, namun kasihan, mereka perlu mengerti
Merdeka itu
Indonesia, terlepas dari hantaman senjata, mereka para penjajah
Merdeka itu Indonesia,
berkibar sang saka di tiang bahagia
Merdeka itu
Indonesia, garuda perkasa, Proklamasi terbaca
Merdeka itu
Indonesia, berat ku menjawab, bbir seolah terjepit
Rakyat bebas
dari miskin
Masih hening,
wajah mereka polos, nampak tak mengerti
Aku tertawa,
mengakhiri sunyi
Perlahan,
kukeluarkan selembaran biru dari saku
“selamat hari
merdeka, adik-adik bangsaku”
Wajah polos
mereka tertawa, seolah pertanyaan yang tadi berhasil kuhindari
Pagi berlalu
, siang datang, bocah-bocah sudah pulang
Kini kukembali
dalam renungan
Terpaku dengan
makna kemerdekaan, makna yang hilang
Berbaur dengan
zaman, kejam, keliru, terlupakan
Makassar 17 agustus 2013