Sabtu, 18 Juni 2016

SAHABATKU HATI-HATI DENGAN WAKTU

Siapa yang paling angkuh di antara kita sahabatku ?
bukanlah kau yang sudah sejak dulu tiada mengabariku
Bukan pula aku yang tiada memberitahukanmu tentangku
Siapa yang paling sombong di antara kita sahabatku ?
Bukanlah kau yang sudah terlalu jauh
Bukan pula aku yang sejengkal demi sejengkal terus menjauh darimu
Siapa yang paling hebat di antara kita sahabatku ?
Bukanlah kau yang namanya telah terpahat dalam lembar sejarah
Bukan pula aku yang tengah membangun kisah di Negeri Antah berantah ini
Lantas siapa gerangan sahabatku ?
adalah waktu yang angkuh, yang sombong, yang hebat
dia adalah yang paling membuat kita berjarak
Sejauh apapun kau berlari dariku, aku tidak akan bisa mengejarmu
Sedekat apapun kau di sisiku, aku bisa dengan tega untuk melupakanmu
waktu adalah pemisah yang paling ampuh sahabatku,
yang dekat menjauh, yang jauh akan dibuatnya semakin jauh
hingga tiada lagi waktu untuk saling memuji, bercerita, bahkan membangun kisah
Kau tau sahabatku ?
Waktu adalah pelengkap jarak yang paling jahat setelah ribuan Kilo kau berlalu meninggalkanku.
Waktu adalah rintangan yang harus kita bunuh atau tidak kitalah yang akan mati tertelan oleh kesombongannya.
Hati-hati dengan waktu, sahabatku.

Dinoyo 18 Juni 2016
Namrehus Suherman

JANGAN MENGAKU MUSLIM

Nak jangan kau mengaku muslim
saat kau sembunyikan dengkimu dibalik senyuman merayu
seraya hatimu menghujat
cipratkan fitnah dalam hening
pada sosok kecil bermata bening di perempatan jalan sengkaling
dia dengan angan seragamnya , bahkan imaji makanan berkaki dua krispy
nasi menggunung , menutupi melamine-melamine bulat,
bahkan kau tak tahu dimana dia menginap, sedang kau sudah macam Tuhan saja,
seolah telunjukmu adalah kebenaran, dan mulutmu dasar kebajikan.
Nak jangan kau mau disebut muslim
saat kau ada di tanah ini,
tanah sedih lahan subur korupsi
saat mengkader hanya mengasah sebilah belati
menumbuhkan jiwa kritis , bibit-bibit komunis, kitabku saja kau kritisi
padahal KTP mu sendiri kau tuliskan keyakinanku.
jadi maumu apa ?
Nak jangan mau jadi muslim,
saat kau dengar seruan-Nya
sedang telinga kau menjadi bisu
kelaut saja, sembunyikan dirimu
kemanapun, yang katamu Tuhan-ku tak menemukanmu
DNY16-12-14

SARANG RINDU

Sunyi malam dalam kabut hitam
Berselimutkan rasa takut dan bisik-bisik rindu
Seorang anak menyapa rembulan, melukis bintang dengan jemari telanjang
Terlena dengan nyanyian binantang malam, seakan di dendangkan lantunan pegantar tidurnya sejak kecil dulu
Setiap kerinduan memiliki alasan untuk bertahan
Untuk kali kesekian si anak malang mengadu nasib dengan bekal iman
Menyeberangi lautan
Merayapi atap suku-suku negeri yang serba ada ini
Terdampar di tengah kaum dengan bahasa yang tak biasa di telinga
Tergenggam harapan di balik tangan , sayap putih dipundaknya sejak dulu tak pernah menampakkan diri
Hanya membawanya jauh dan terus menjauh dari keramaian
Membuatnya berkawan dengan sepi, rindu dan imajinasi masa yang sudah usai
Ada satu hal yang tak pernah di curi dari ingatannya
Sebuah atap yang memberikannya takhta, cinta dan segalanya
Istana dari seluruh pasukan imajinasi
Terdampar jauh dari kebisingan Kota para karaeng
Terdapat suatu atap yang tidak pernah terganti tuankan oleh rindu
Bisa saja kakinya di ujung dunia, tapi jiwanya selalu meridukan istana
Dimana pertama kali iya berkenalan dengan udara, dengan segala nyanyian malam
Bulan yang selalu menderang, bintang yang tak pernah bisa iya lukiskan
Bangunan kayu yang tak pernah dulu ia hiraukan
Sejak rindu bersarang di hatinya, dia tidak akan pernah lupa, kepada siapa Rindu sebenarnya bermuara
Lowokwaru 5 April 2016
Namrehus Suherman

OPINI UNTUK KARTINI

begini sih opini kecil dari saya mohon maaf kalau saya tersesat dalam paradigma yang salah :
Saya pribadi belum bisa menyimpulkan kebenaran sejarah. Penulis yang pro pasti akan mendeskripsikan sisi-sisi baiknya. penulis yang kontra akan mendiskripsikan dari sisi negatifnya. lantas kita yang membaca memilih untuk jadi yang mana ? terjerumus dalam tulisan yang kita baca dari pro atau kontra ? atau memilih jalan lain ?
kalau saya sendiri lebih cenderung tidak percaya pada sejarah yang ditulis oleh manusia . karena tentunya tulisan2nnya mengadopsi pandangan dari "apa yang disaksikan oleh mata kepalanya sendiri". Saya sejak SD diberi pendidikan ttg RA Kartini itu sosok pahlawan, Soekarno itu presiden, pemberontakan PKI adalah kebejatan sejarah, kisah dibalik 98 adalah saksi nyata gejolak-gejolak pergerakan. Tulisan tentang sejarah hanya akan ada dua sisi penyikapan "pro dan kontra".
Jadi yang bisa saya amini bahwa Indonesia adalah Negeri yang merdeka walaupun nyatanya masih ada perang dibalik kemerdekaan yang saya yakini. Tapi sejarah-sejarah yang dituliskan oleh kaum "pro dan kontra" akan suatu sejarah saya tidak mau percaya 100 % keduanya, karena bisa saja kita telah mengutuk sejarah tapi apakah kita bisa meyakinkan generasi yang akan datang sejarah mana yang terkutuk ? Sejarah yang dikisahkan oleh kaum pro ataukah kontra ?
saya sendiri mengutuk diri karena terlau tertutup dengan sejarah bangsa. Banyak biografi-biografi yang menceritakan sejarah perjuangan tokoh-tokoh Negara Agraris ini tapi saya sampai detik ini tidak terlalu tertarik membacanya karena saya yakin setelah saya mengetahui isinya saya akan mempertanyakan kebenarannya, (apalagi ini adalah hasil pikiran manusia, bukan Tuhan).
Saya teringat masa-masa saya ditempa untuk memperlajari sejarah indonesia. Saya adalah pelajar yang duduk di kursi paling belakang dan "tertidur" atau kalau tidak baca novel saja. Namun pernah juga sekali saya tamatkan membaca teks book tentang sejarah indonesia namun lagi-lagi saya meragukan kebenarannya. Terlebih lagi saat saya menemukan referensi lain yang justru kontra dengan buku yang saya baca. Saya makin ragu dengan dongeng tentang sejarah mana yang saya percayai.
Tapi saya tidak anti sejarah. Sejarah adalah kepastian yang sudah pasti akan terjadi. Dibandingkan dengan mengutuk sejarah yang sudah tejadi lebih baik kita bersama-sama menyusun sejarah baru yang kelak akan terjadi dengan sebenar-benarnya cerita.
So Apakah Hari kartini layak untuk diperjuangkan ?
atau diterlantarkan ?
Kalau memberi dampak baik bagi Indonesia diperjuangkan. Kalau justru menumbuhkan kebodohan maka terlantarkan atau mungkin buang saja. Karena kartini disini hanyalah sebagai nama, tidak menutup kemungkinan akan ada sosok nama lain yang lebih pantas menempati posisinya. tapi lagi-lagi ini tentang sejarah, tempatnya perang paradigma bermula.
Suherman 21 April 2016

CURHATAN YANG LALU


Membaca status seorang teman, membuat saya bernostalgia dan menuliskan kisah singkat ini !
Wah saya jadi rindu dengan tampil teater. Suatu ketika ditahun 2012 saya mendapat sebuah informasi menarik terkait kemah teater oleh UKM Teater Kampus Unhas. Saya saat itu dengan antusias mengajak beberapa teman untuk ikut, dan jadilah kami sebuah tim dengan jumlah 6 orang yang bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya di Kota Makassar. Peran yang saya dapatkan adalah jadi aktor utama berperan sebagai kakek yang dulunya pencuri yang hebat. Malam itu saya sangat ingat bagaimana rasanya tampil didepan umum membawakan naskah penulis ternama. Antusiasme penonton membuat kami saat itu bagaikan bintang sesungguhnya.
Alhasil saya masuk jadi 3 besar nominasi aktor terbaik putra , dan itu adalah suatu prestasi bagi pesantren kami, 2 Nominator Aktornya semua dari Pesantren, Nominator penata artistik serta nomintor pemusik terbaik juga kami libas saat itu. Ketika kemudian di umumkan Best School of kemah teater , Alhamdulillah hari itu sekolah kami Pesantren IMMIM Putra Makassar dinobatkan sebagai juara pertama menyisihkan sekolah-sekolah terbaik lainnya.
Setelah itu muncullah inisiatif dari kami berlima untuk mendirikan Sebuah grup teater bernama "TESAPI (teater santri pesantren Immim) " yang kemudian akhirnya disepakati menjadi TEPI (teater Pesantren IMMIM) di akhir tahun 2012. Sejarah kami tidak berhenti sampai di kemah teatre saja. Kami pun selanjutnya menjadi peserta teatrikal dalam Jambore anti korupsi oleh Gubernur Sul-Sel dengan membawakan naskah "putu wijaya", hari itu kami belum jadi juara tapi setidaknya kami tampil sebagai pecinta teater. Selanjutnya pada kesempatan yang berbahagia kami mengikuti FLS2N dan keluar sebagai Juara III , namun sayang langkah kami tidak bisa mewakili Kota Makassar ketingkat profinsi karena yang diambil adalah juara I saja. Namun sebuah keistimewaan tersendiri bagi kami kala itu, santri yang katanya terlalu kaku dalam menjalani hidup mampu menjuarai event-event yang kelihatannya bukan passion seorang santri. Semangat kami mematahkan Anggapan itu semua. Akhirnya saat itu Grup teater TEPI yang kami bentuk kedatangan banyak sekali peminat. Alhamdulillah, pada perpisahan angkatan saya di pertengahan 2013, malam itu murid-murid kami menampilkan sebuah Teater bertajuk "pesantren". Hingga saat ini TEPI InsyaAllah masih aktif sebagai salah satu grup teater di ma'had kami tercinta dan akan terus berkembang menjadi sejarah teater anak pesantren di Kota Makassar.
Saya sangat sedih pada bulan mei nanti berhalangan untuk ikut reuni Ikatan Alumni, jarak menjadikan saya tidak berdaya karena memang masih bergantung biaya pada orang tua. Setidaknya melalui pesan ini saya sampaikan bahwa Angkatan kami, 2007-2013 telah mengukir prestasi yang luar biasa pada Mahad tercinta dalam berbagai bidang salah satunya adalah seni teater. Bidang lainpun tidak ketinggalan seperti Olahraga, seni musik, Seni pertukangan, Seni berorganisasi, Seni lukis, Seni meneulis, pramuka, pmr, dan bidang-bidang lainnya.
Sukses untuk Reuni IAPIM Angkatan 2000-2016, semoga kelak ketika reuni keseluruhan alumni dari tahun 70-an hingga yang paling baru saya bisa ikut. Amiin
khaeril,suhe,damis,uppi, andika, ikka' dan mail story .

YA TUHAN, LINDUNGI GADIS-GADIS ITU

Berbagai tindakan asusila sudah jadi tren di pemberitaan media massa
Akhlak bobrok yag mencederai nilai-nilai kemanusiaan
kepada siapa lagi kelak wanita-wanita suci itu berlindung ?
Jika para pria hanya tunduk pada kemaluannya dan memilih untuk jadi pecandu atas nafsu-nafsunya
Kepada siapa lagi wanita-wanita suci itu hendak berlindung ?
Jika setan-setan sudah mengutuk birahi para lelaki bujang
Kepada siapa lagi ?
Kepada siapa lagi anak gadis para orang tua hendak berlindung ?
Ayah kekeknya saja banyak kerasukan "fatamorgana bercinta"
Kepada siapa...
kepada siapa...
Hanya kepada Tuhanlah
Jangan banyak berharap pada manusia
karena terkadang manusia tidak lebih baik daripada setan
Hanya Kepada tuhanlah
ya... Tuhan lindungi para gadis-gadis suci itu dari Gangguan lelaki-lelaki jahannam
‪#‎Menyikapi‬ maraknya berita pemerkosaan
Lowokwaru 10 mei 2016

UNTUKMU YANG TAK LOLOS SNMPTN

Kepada adik-adikku anak SMA yang baru saja menerima informasi TIDAK LOLOS SNMPTN 2016.
Saya mengerti betul bagaimana rasanya menerima pengumuman yang mengecewakan. Sedih. SIlahkan bersedih dik, sudah sewajarnya kamu bersedih karena espektasi kamu pada sesuatu tidak tercapai dan membuatmu kecewa berat. Tapi jangan lupa dik, kamu ternyata lebih beruntung daripada mereka yang sama sekali tidak dapat melanjutkan kuliah. Atau paling buruknya mereka tidak sempat mengecap indahnya dunia pendidikan sepertimu. Tapi dik....jangan salah kaprah, dunia pendidikan yang kamu fahami tidak selalu tentang ruang belajar yang berkelas, tidak selalu tentang tim pengajar yang hebat, tidak selalu tentang ketersediaan fasilitas yang menunjang pendidikanmu selama ini. Ada orang diluar sana dik yang sehari-harinya belajar dibalik dinding kumuh , atap bocor dan ketertinggalan jauh dari teknologi. Ada banyak dik, diluar sana yang terkena dampak "sombongnya" pembangunan yang melupakan "dekilnya" desa.
Adikku....
Jangan sekali-kali kamu menjadi lemah hanya karena dinyatakan tidak lolos dalam SNMPTN. Kamu tidak LOLOS memang benar, tapi tidak ada yangberkata kalau kamu GAGAL. Abaikan segala rasa takut dalam jiwamu, kuatkan tekadmu, jadilah generasi tangguh yang tidak mudah runtuh walau tertunda mencapai mimpi. Jadilah generasi yang bersyukur dik...karena kamu masih jauh lebih beruntung dari mereka yang tidak mampu sepertimu.
Adikku...
jangan terlalu sombong....
kalaupun kamu lebih beruntung daripada mereka yang tidak mampu sepertimu maka jangan terlalu mendongkak kepalamu ke atas. karena dibawahmu masih banyak tugas-tugas yang harus terselesaikan. Sudah waktunya kau mengabdikan Ilmu yang telah kau kecup selama pendidikan. Tiada guna Ilmu jika hanya membusuk didalam kepala, berbagilah...kelak disitulah gunanya kau berilmu.
DIk....Bersyukurlah karena kamu masih bisa membaca, masih punya waktu untuk mempersiapkan segalanya lebih matang.
Jangan seperti kami, sudah beranjak tua, ada banyak penyesalan yang membumbui pikiran kami.
Bangkitlah dik... SNMPTN hanya ombak kecil yang sudah terbiasa disaksikan nelayan di daerah pesisir. Jangan terlalu melebih-lebihkan.... karena kamu lebih dari sekedar calon mahasiswa baru.
kamu lihat pemimpin-pemimpin di negaramu ini ?
mereka dulu pernah mengalami masalah yang serupa, tapi terbukti semangat, usaha dan doa membuatnya berdiri berdampingan dengan Burung Garuda yang perkasa.
Perbanyaklah bersyukur karena yang paling merasa puas dengan hidup adalah yang paling banyak bersyukur.
Gagal yang sebenarnya adalah ketika kamu tidak lagi mampu menjadi lebih baik daripada dirimu yang kemarin.
MASIH ADA JALAN MENUJU MIMPIMU DIK...KALIAN BELUM GAGAL

VIEW OF LOVE

Cinta tidak pernah datang terlambat....
cinta ada dan datang lebih dahulu sebelum kita mengenal dunia. Jauh sebelum kita terlalu sombong dengan segala kepunyaan yang hanya sementara.
Cinta tidak akan datang terlambat
karena dia selalu datang lebih cepat sebelum kita tersadar
Cinta tidak hanya tentang manusia pada manusia
ada yang lebih private
cinta manusia pada Tuhannya, jangan sampai hilang dan tergantikan dengan kecintaan pada hal-hal semu yang menjerumuskan dalam penyesalan.
Cinta tak sebercanda itu, bukan ?
Istana Mahasiswa , 30 mei 2016

Cinta lawan jenis

Kita tidak pernah mengerti seluk beluk hati manusia. Kadang kita menghujani lawan jenis dengan cinta,perhatian,kejujuran dan pesona tapi dimuntahkannya juga dengan cara-caranya yang luar biasa. Karena begitulah hati manusia selalu di adu domba oleh waktu. Perihal siapapun yang akan datang lalu meninggalkanmu , ya tunggu saja, karena cinta akan bertamu dan berlalu pada waktunya.
Bahkan mereka yang sudah halalpun dapat terpisahkan oleh masa apalagi kita yang hanya pecundang ? berani mencinta tapi progresnnya hanya kata-kata dan janji manis belaka.
kalau cinta ya sudah, cintai saja, perihal kamu memilikinya atau tidak biarkan Tuhan yang melihat usaha dan doamu sebanyak apa.
Kadang cinta yang dipendam diam-diam lebih jelas tersampaikan daripada mengumbar-umbar hanya melanggar aturan-aturan Tuhan.

~cinta lawan jenis

Namrehus Suherman
Ngalam, 15 juni 2016

Rudi, maafkan aku yang dangkal toleransi !


Ini adalah Negeri beragama dengan tatakrama yang jadi wajah utama
Terakhir kali kudengar fenomena pemerkosa-pemerkosa gila dimedia dan kini kudengar kembali fenomena gila ketetapan yang membuat rakyat terlunah-luntah
Bukan apanya Rudi, ini adalah bahasa toleransi
Agamaku rudi , cukup keras dalam menghakimi, agamamu rudi adalah pemilik hak mengeyangkan diri dibulan suci kami
Ada perjanjian yang sudah kita sepakati Rudi, lakumdiynukum walyadin ?
Kita sudah sama-sama memahami, ini bukanlah literasi dangkal arti
Tapi maafkan aku Rudi, tempat makanmu dijadikan bahan sitaan,
sebegitu sadiskah yang namanya penghormatan ? hingga tangisan wanita tua dibiarkan melucuti amal ibadahnya diterik siang ?
Lantas Rudi, bagaiamana kau menanggapi warung-warung besar yang ada disana-sini ? setujukah kau mereka turut di bantai ?
Jika hanya rakyat kecil saja yang wajib menghormati, maka apakah usaha rakyat besar adalah tempat ibadah sehingga tidak layak untuk di soroti?
Kita terlalu buas pada kucing kecil yang mencari ikan di daratan, sehingga kita lupa pada kucing-kucing besar yang sudah kekenyangan ikan
Kita punya 6 wajah keyakinan yang sudah kita sepakati secara bernegara.
Toleransi antar kita adalah toleransi yang jelas,tegas dan harus tertata.
Tapi jujur Rudi, aku tak berani menghakimi
siapapun Rudi, kenyanglah dengan sembunyi-sembunyi jangan mengudang selera para penerima mandat menghakimi tempatmu membeli sesuap nasi di bulan suci
mereka adalah pekerja-pekerja dibawah perintah,
yang salah adalah kita yang memilih untuk saling merendahkan,
melecehkan,
menjatuhkan,
tidak memberi penghargaan atas usaha keras yang sudah ia jalankan.
Yang salah adalah mereka yang tak adil pada kucing kecil dan memilih untuk memanjakan kucing besar yang kekenyangan.
Yang salah adalah mereka yang berani menampakkan diri dan menggugah selera para pekerja untuk menghakimi
Yang salah adalah mereka yang katanya mengerti, malah ikut-ikutan mengumbar benci dan emosi
Jadi ?
Kita sama-sama salah bukan , rudi ?
Mari kita memaknai toleransi dengan sabar bukan dengan caci-mencaci
Mari kita kembali tenang, abaikan ini,
Bulan suci ini terus berjalan tanpa henti, sia-sia sekali jika hanya di isi dengan mengunggah amarah dimedia,
Cukup, sampai disini saja… mari berpuasa dengan bahagia

Lowokwaru 13 Juni 2016.
Namrehus Suherman

ORGANISASI BAGI SAYA ADALAH SOAL LOYALITAS

Terkadang saya bertanya, kenapasih harus loyal pada organisasi ?yang nyatanya berorganisasi itu kebanyakan harus mengorbankan kepentingan pribadi dan mengedepankan kepentingan anggota organisasi atau lebih tepatnya turut serta dalam mewujudkan visi-misi organisasi tersebut. Tapi sejauh ini saya melihat bahwa kata "loyal" ini tidak boleh di anggap main-main. Bagi saya Loyalitas adalah hal utama yang saya tawarkan dalam mengikuti suatu Organisasi. Dari loyalitas itulah kemudian memupuk diri untuk bekerja secara total. Karena berkompeten dan Hebat saja tidak cukup, ya... sekadar loyalpun juga tak cukup. Jadi memang dalam berorganisasi itu harus ada keseimbangan antara loyalitas dan kompetensi seseorang. Dan yang terpenting itu berorganisasi haruslah bertuhan, Jika mengesampingkan seluruh apa yang di atur oleh-Nya maka kita tak lebih dari sekumpulan orang idealis yang akan jadi pemberontak di masa yang akan datang. Yap, jangan pernah melepaskan Tuhan dalam seluruh aktifitasmu, intinya disitu. Karena dengan begitu kita akan berorganisasi dengan damai, membangun silaturahim, sebagaimana yang di peritahkan oleh-nya. Tapi jangan sekali-kali mengaku Bertuhan kalau masih suka mengatas namakan organisasi untuk merusak sekitar. Mengatas namakan organisasi untuk kepentingan perorangan, mengatas namakan organisasi untuk menciptakan keburukan. Jangan sampai kita menunggangi organisasi untuk kita jadikan pemuas hasrat pribadi.
kembali lagi ke loyalitas, yap itu penting sebagai salah satu indikator kamu mencintai organisasi dengan sungguh. "salah satu"
sederhananya seperti ini :
Jika kamu mencintainya (organisasi) maka berjuanglah untuknya
Jika kamu mencintainya (organisasi) maka luangkanlah waktu untuknya
Jika kamu mencintainya (organisasi) maka berjalan bersama orang-orang didalamnya
Jika kamu mencintainya (organisasi) maka berdoalah untuknya
Jika kamu mencintainya (organisasi) maka jadilah orang yang paling pertama marah saat orang-orang menghujatnya
Jika kamu benar-benar mencintainya maka buktikanlah, jangan hanya pasang nama dan memenuhi lembar biodata saja.
Beroganisasi tak sebercanda itu.
~celoteh belaka
Kosan, 17 Juni 2016

Kamis, 16 Juni 2016

Sajak Wanita Hebat


Permisi, izinkan kuperkenalkan sesosok bidadari ramah
yang datang dari perkenalan singkat yang lalu
masaku tejatuh, tersungkur, tersingkir dari harapan palsu

dia datang dengan sayap putih dipundak, yang kebaikannya mengalir
menarikku dari Jurang kegelapan takdir

Aku pernah jatuh dalam liang perpisahan, tapi dia megajarkanku tentang kebangkitan
dia meyelamatkanku dari yang benar-benar rapuh menjadi kembali tangguh
wanita ini selalu kuat, mimpi-mimpinya selalu membuatku terperanjak
ketegarannya adalah pemicu kagumku menjadi tak terbatas

sesekali kuteringat pada malam-malam dia memberi nasihat
padaku yang dulu sedang tak sehat,
dia kini  telah menjadi sosok yang lebih kuat
yang dipundaknya terbebani oleh harapan-harapan yang mengikat
ya...mimpinya begitu hebat


Aku hanyalah pengagum yang tak terlihat
yang menampung segala rasa dalam kehendak asa
mendoakannya menemukan arjuna ditempatnya berdiri disana
dimanapun dia berada


pada lekukan-lekukan waktu yang telah lalu, aku bersaksi
wanita ini adalah bidadari tangguh,
yang tak kenal kata mengeluh
dia pantas menjadi pemilik atas mimpi-mimpinya yang berpuluh-puluh itu

Semoga sang bidadari tetap jadi inspirasi,
dimanapun ia berdiri
dia adalah wanita yang layak untuk di cari-cari

Sajak untuk sahabatku, Nina herlina 
Lowokwaru, 13 Juni 2016

Rabu, 15 Juni 2016

DEAR PERANTAU !



Tulisan ini saya dedikasikan untuk rekan-rekan saya perantau di seluruh Indonesia. Ini adalah curhatan saya lebih tepatnya. :D

Tentu sering terlintas dalam benak kita tentang kerinduan pada rumah yang nyaman dan senyum lembut orang tua yang bikin kangen. Bahkan tidak bisa saya pungkiri perasaan seperti itu datang setiap hari dan sudah menjadi bagian dari kelengkapan hari.

Saya ingin bercerita tentang kisah nyata yang saya alami. Perantauan saya berawal ketika semua orang berespektasi sekolah di tempat favoritnya dan saya malah terbawa arus pada sekolah “pesantren” di Ibu Kota Sulawesi Selatan.

Saya adalah anak Desa yang lahir ditengah-tengah keluarga yang sederhana. Ayah saya bukanlah seorang yang berpenghasilan besar. Begitupun Ibu saya hanya sebagai Ibu rumah tangga. Usaha keluarga kami sejak dahulu adalah sebuah kios berukuran sedang yang menjual berbagai macam kebutuhan masyarakat di sekitar rumah. Kakek saya adalah petani yang juga peternak Ayam serta beberapa ekor sapi. Saya tumbuh ditengah-tengah lingkugan yang sederhana dan masyarakat yang masih asing dengan “gilanya” Kota.
Keluarga saya adalah keluarga yang cukup keras dalam memabahas pendidikan. Bahkan sebelum saya lulus SD saja sudah diancam untuk disekolahkan jauh-jauh dari rumah demi menjadikan saya sosok yang berkembang. Hal itu terbukti ketika saya lulus SD saya dikirimkan ke Kota Makassar untuk melanjutkan pendidikan disalah satu pesantren ternama. Itu terjadi pada tahun 2007 ketika umur saya masih 12 tahun, masih sangat dekat dengan kata “manja”. Hari itu saya ingat dengan jelas saya meninggalkan rumah di kampung dengan tangisan yang tidak biasa, anak sekecil saya waktu itu di biarkan merantau sendirian ke Kota tanpa di antar oleh ayah dan Ibu. Ibu saya ketika itu sengaja menjauh dan tersenyum, seolah-olah bahagia dengan ketiadaan saya dirumah, padahal saya tahu hatinya begitu teriris melihat kepergian anak pertamanya yang begitu iya manja dahulu.  Disitulah saya memulai kisa praduan mimpi di tanah rantau.

Terhitung sejak tahun 2007 hingga tahun 2013 saya menjadi santri di pesantren IMMIM Putra Makasar. 6 tahun (SMP-SMA) yang terasa singkat  dan menyisakan cerita yang berharga sepanjang masa. Betul-betul tidak terasa 6 tahun saya menjalaninya dengan tabah dengan ratusan kendala yang hampir saja menggugurkan perjuangan di medan juang kala itu. Diawal-awal SMP saya sering menangis karena tidak terbiasa berpisah dengan orang tua, tapi perlahan terbiasa juga dengan adanya ratusan teman yang membuat kerinduan menjadi samar. Sejak tahun 2007 hingga 2013  saya hanya pulang kampung saat libur Ramadhan dan Idul Adha saja. Perihnya perpisahan tersamarkan dengan hangatnya pertemanan tapi tdiak menggantikan kasih sayang yang selalu terngiang-ngiang sepanjang waktu.

2013 adalah akhir dari perjuangan di pesantren. Saat itu saya sudah merancang kiah-kisah menarik yang akan saya jalankan ketika menjadi Mahasiswa. Saat itu saya hanya berfikiran untuk kuliah di satu tempat saja yaitu disalah satu Kampus negeri ternama di Makassar yang tepat berada di belakang pesantren kami. Namun takdir menegaskan bahwa perantauan saya belum berakhir. Ketika Pengumuman SNMPTN tahun 2013 disitu mengatakan bahwa saya lulus di Universitas Brawijaya Malang. Antara senang dan sedih perantauan saya kini berjarak ribuan kilometer dari rumah. Perantaun saya semakin panjang dengan melintasi pulau, dan menjadi orang asing di tanah Jawa.
Kini saya berdiri di atas tahun 2016, sebentar lagi adalahtahun ke-10 perantuan saya yang di awali dengan angka 2007. 4 tahun terakhir ini saya mengalami masa-masa sedih yang tak kalah perihnya saat merantau di usia 12 tahun dulu. 4 tahun belakangan ini saya menjalani bulan suci “sendiri” menikmati tikaman-tikaman rindu di kamar kosan yang begitu menyayat hati.  Tapi ini bukanlah perkara yang kemudian membuat saya “berhenti bermimpi”, ini hanyalah bumbu yang membuat cerita ini semakin seksi. Ramadhan anak rantau selalu berwarna, walau jauh dari orang tua, kita masih bisa bahagia (manfaatkan teknologi). Akan ada banyak cerita menarik dari ramadhan kita yang sepi (kwkwkwkw, ketawa dikit ).

Terlambat atau tidak saya punya list-list mimpi yang harus terpenuhi. Terlambat atau tidak,  sukses itu ditentukan dari seberapa cepat kita berlari daripada berdiam diri, seberapa kuat kita berjuang dalam mengeskusi mimpi-mimpi, seberapa sering kita berdoa meminta ridho Allah SWT.

Berbahagialah kalian yang merantau karena sepi-sepi yang kita lewati adalah sepi-sepi yang meninggalkan arti. Bersyukurlah kalian yang belum merantau karena hari-harinya terlewati dengan banyak kesempatan untuk berbakti. Tapi ketahuilah merantau hanyalah tentang waktu, Karena pada waktunya yang belum merantau akan merantau juga, entah Karena apa dan kenapa.

Merantau layaknya inverstasi waktu.  Saya adalah investor yang bergabung sejak tahun 2007 dan kini sudah hampir 120 bulan saya mengumpulkan banyak deviden.

Saya sangatlah senang bisa berada disini. Pencapaian-pencapaian saya dalam hidup belum layak dijadikan insiprasi tapi setidaknya saya sangat senang dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun ini saya bisa jadi bagian dari banyak organisasi-organisasi hebat dan beberapa prestasi yang tercatat.

Saya adalah anak desa yang lahir dari keluarga sederhana ternyata bisa juga jadi bagian dari organisasi-organiiasi hebat Intra maupun ekstra kampus, organisasi kepemudaan, sosial, seni dan sebagainya. Ternyata seorang pemuda Desa bisa juga menguukir prestasi di tanah perantauannya. Saya merasa sangat senang bsia jadi bagian dari jutaan pemimpi di Indonesia. Karena Indonesia ini selalu layak untuk diperjuangkan bersama-sama, karena seorang diri saja tidak cukup untuk membuatnya (Indonesia) bahagia. Indonesia tidak perlu khawatir dengan generasi yang akan datang, karena akan ada pemuda daerah dan perantau-perantau dari segala penjuru siap membangun dan berkolaborasi bersama-sama dalam mempertahankan “kehormatan bangsa”.


Well~~ perantauan adalah salah satu cara saya kabur dari ketidaktahuan, agar bisa tumbuh di tanah seberang dan semoga kelak menjadi tokoh yang layak untuk diperbincangkan.
Bermimpilah setinggi langit kalaupun harus jatuh mentok-mentok tersangkut di awan atau di atas puncak tertinggi dunia, asalkan kita tidak jatuh di atas tanah, asal kita tidak jatuh pada jurang-jurang kelam kegagalan.
 Orang gagal adalah mereka yang tidak mau berjuang !!!

Perantaun saya yang pertama 2007-2013 berjarak 200 KM dari kampung halaman (lintas Kota)
Perantaun saya yang kedua dimulai tahun 2013 hingga kini (2016) berjarakn ribuan kilometre dan masih berjalan (Lintas proifinsi)
Dan saya yakin kedepannya masih akan ada perantauan lagi yang lebih besar,lebih jauh, lebih menikam dari perntuan sebelumnya. Mungkin saja lintas negara ? Amiiin
Kita lihat saja bagaimana takdir ini bercerita.

Semangat yaa para perantau, kisah-kisah kalian pasti lebih luar biasa,pencapaian-pencapaian kalian pasti sangat “gila”, janganlah jadi generasi muda yang menyebalkan dan pemalas, tetap tenang mari kita sama-sama membangun negeri, ya minimal kelak mengabdi di Tanah Kelahiran ^_^

Anak rantau bukanlah ancaman di tanah seberang tapi bisa jadi mereka adalah lawan yang mencurigakan :D


#Celoteh Namrehus Suherman

Istana mahasiswa, 12 Juni 2016 

BUKU KOLABORASI ANTOLOGI PERTAMA SAYA

UNIVERSITAS AIRLANGGA "PENANYA AKTIF"

KEJUTAN ULANG TAHUN SAYA DKK OLEH GESREKERS

APRESIASI DARI IYD 2016 "BEST COMITEE"

BANK INDONESIA INTERNATIONAL CONFERENCE

BANK INDONESIA

SAJAK DOA DARI KAWAN

Terimakasih banyak sahabat saya atas persembahan sajaknya judulnya apa ya ini ?
izin publikasi ya  .
Anak muda penuh dengan karya dan cita rasa
dalam negeri kaya dengan degradasi budaya
Selamat bekerja kawan
Mungkin langkah kita tak selamanya sejalan
Negeri ini butuh oran-orang yang menyumbangkan pikiran-pikiran,
dari orang-orang yang hanya mengenal kata perlawanan dan bertahan
Selamat pagi teman
entah esok kan cerah atau penuh rintangan
kau harus terus melangkah kedepan
selamat berjuang
menjadi penulis sebuah skenario kehidupan yang manis
menjadi sutradara sebuah film kehidupan
dengan semangat membara
Jadilah orang kaya yang selalu menderma
jika bukan dengan harta,
ku tau kau memiliki banyak karya
Dari seseorang yang baru menemukan sebuah buku biru dalam kotak penuh debu
Malang, 04 Mei 2016
oleh : Evita Meilani S

Jumat, 10 Juni 2016

TARAWEH VERSUS ANAK NAKAL

Assalamualaikum wr.wb
Tulisan ini tercipta berdasarkan pengalaman sholat taraweh beberapa hari ini.
Di saat sholat taraweh berlangsung anak-anak kecil (mayoritas anak SD dan ada juga SMP) malah bermain-main petasan dan membuat suasana gaduh di sekitar masjid tempat kami menjalankan ibadah sholat taraweh. Saya sangat terganggu dengan tingkah laku mereka yang demikian, ingin rasanya saya “ketok” kepalanya keras-keras dan “menghukum” dengan tegas agar tidak terjadi lagi kesalahan yang sama. Belum lagi didalam masjid anak-anak kecil sholat sambil menganggu temannya, menciptakan suara bising yang menganggu kekhusyuan jamaah. Rasa-rasanya saya ingin memberi pelajaran pada mereka. Sekejam-kejamnya .Oke lupakan, sekarang ada HAM, jadi saya bisa dipenjarakan.
Sampai di kosan saya sedikit merenungkan masa kecil dulu (2004), ternyata kurang lebih tingkah laku saya kala itu tidak jauh berbeda dari anak kecil jaman sekarang. Saya dan kawan-kawan (ketika kelas 1-4 SD) ketika ceramah agama sebelum masuk taraweh berlangsung kami suka main-main petasan dan bercanda di luar masjid. Tidak hanya itu, saat sholat pun kami saling menganggu, sekali-kali tertawa karena suara imam yang “keselek” saat membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan terburu-buru. Yaa itu kurang lebih kenakalan kami waktu itu.
Tapi…
Kenakalan kami yang seperti itu hanya bisa bertahan selama 1-2 hari saja selama bulan ramadhan, karena pada malam-malam selanjutnya orang tua kami adalah orang yang paling pertama menggampar kami ketika sudah sampai di rumah. Ibu saya termasuk orang yang sangat keras, ketika mendengar laporan mengenai kenakalan saya di masjid, maka tunggu saja di rumah saya pasti akan kena semprot dan berbagai ancaman lainnya yang membuat saya benar-benar takut mengulangi kesalahan serupa (bermain-main di masjid). Ibu saya tidak segan-segan memukul bahkan menyuruh takmir masjid memukul saya ketika benar-benar kedapatan main-main di masjid. Dan saya berkali-kali kena marah di masa itu, di pukulpun (sama takmir masjid) pernah hingga kepala saya benjol gegara main-main di masjid. Dan sekarang (2016) masjid di kampung saya di jaga oleh polisi demi menciptakan suasana beribadah yang khusyu yang steril dari gangguan anak-anak kecil itu. “Polisi” ikut campur looh.
Kala itu saya benar-benar merasakan peranan orang tua dalam mendidik anak-anaknya , terkususnya etika dalam tempat ibadah. Saya rasakan betul di masa itu bermain-main di masjid sama dengan (=) bermain-main dengan rotan yang disediakan oleh Ibu di rumah. Dan itu sangat berefek pada tingkah laku saya hingga tahun-tahun berikutnya. Dengan kerasnya orang tua mendidik membuat kami seketika jadi anak rajin yang hanya stay di dalam masjid dan enggan untuk bercanda selama rangkaian taraweh (ceramah agama, pembacaan jadwal pembawa buka , dll) berlangsung.
Saya agak prihatin kok makin kesini sudah malam kesekian taraweh ambil saja studi kasus di dekat kosan saya anak-anak kecil masih mengulangi kesalahan yang sama dan cenderung tidak ada perubahan sama sekali tiap malamnya.
Disinilah muncullah beberapa rumusan masalah
1. Apakah orang tua di jaman dulu itu lebih keras dalam mendidik anaknya di banding yang sekarang ?
2. Apakah orang tua jaman sekarang terlalu sayang anaknya sehingga tidak ada teguran sama sekali terkait perilaku anaknya di tempat ibadah ?
3. Apakah orang tua jaman sekarang tidak begitu akrab dan memantau anak-anaknya di tempat ibadah ?
Yaa…celoteh ini hanya bertujuan untuk curhat, tidak berniat menjelek-jelakkan bahkan membandingkan orang tua jaman dulu dan jaman sekarang atau anak jaman dulu versus jaman sekarang. Pada intinya orang tua akan melakukan hal terbaik untuk anaknya dan kasih sayangnya pun tak kalah besarnya daripada orang tua yang lainnya. Begitupun dengan anak jaman dulu dengan jaman sekarang, masing2 punya kelebihan.
Hanya saja terkait dengan bermain-main ditempat ibadah ini harus kita carikan solusi bersama, jangan sampai ibadah mereka (jamaah dewasa) yang awalnya khusyu terganggu dengan cekikikan tak jelas dan bunyi-bunyi petasan yang entah  kenapa di biarkan begitu saja tersentuh oleh anak ingusan.
Saya tidak menyalahkan masa kecil anak jaman sekarang karena sayapun pernah kecil dan juga nakal  . tapi setidaknya harus ada peningkatan kualitas dari tahun 2004 ke tahun 2016. Kalau yang main-main anak Balita saya rasa bisa di maklumi tapi kalau anak SD-SMP ?
Hm perlu ditindak lanjuti.
MasyaAllah semoga tidak terjadi secara turun temurun yaa…

UNTUKMU YANG BERJUANG !

Percayalah ketika berjuang menumpas kemungkaran di Bumi ini selalu saja ada kendala yang datang mengetuk pintu. Banyak Wadah Perjuangan pemuda-pemuda dalam menegakkan Syariat Agama "keadilan" dalam segala bidang. Yang  saya tekuni sebagaimana program Studi dikampus yaitu "Bidang Ekonomi", adalah bagaimana cara memberantas pemikiran dan praktik-praktik kapitalis ? Bagaimana cara menciptakan perekonomian yang ideal tanpa ada yang dirugikan?Bagaimana cara menjalankan sistem yang tidak melanggar batas-batasTuhan ? Namun jika hendak melirik medang perang, memang ini bukan sesuatu yang mudah. Perlu kesabaran, perlu pasukan yang tidak sedikit, perlu semangat yang tidak biasa, perlu kekreatvitasan dalam memproklamasikan "keadilan" yang kita tawarkan. Apalah daya hanya menjadi minoritas ditengah Negara Mayoritas yang telah ditumbuhi akar serabut oleh bibit kapitalis yang sudah semakin tumbuh menjadi pohon besar. Bahkan jika ingin melihat puncaknya saja perlu menggunakan pesawat luar angkasa. Tapi apakah dengan tingginya sang kapitalis membuat semangat menurun ? Tidak !

Disini, di Negeri Agraris ini terdapat Puluh Ribuan atau mungkin saja jutaan Pemuda/orang tua berjuang atas nama dakwah dalam bidang Ekonomi ini. Tapi perlu digaris bawahi "Bidang Ekonomi" ini hanyalah skala kecil jika dibandingkan dengan induk Ilmunya.

Back to Topik.
Apakah perlu minder telah menjadi minoritas dalam negara mayoritas?
Tidak !
Tidak ada kata minder untuk kebaikan, berjuang tidak sebercanda itu.
Berjuang tidak harus selalu meraih juara meski juara itu sebenranya kadang menjadi orientasi pertama. Berjuang tidak harus selalu tentang eksistensi kita akan setiap kegiatan-kegiatan berbau "pergerakan" dan "perkumpulan rutin". Itu hanya bagian kecil dari kriteria perjuangan. Ada banyak Jalan menuju Roma, begitulah halnya dakwah dan tujuan yang ingin dicapai dibalik perjuangan itu. Menuju Indonesia damai,ideal,adil dan makmur tidaklah mudah tapi bukan waktunya untuk berkeluh kesah. Bukan waktunya saling menghujat untuk menjatuhkan sistem yang telah ada. Tapi butuh pembuktian dengan cara "belajar, beraksi dan konsisten" dengan caranya sendiri. Kelak dengan begitulah perlahan sistem yang bobrok akan tergantikan dengan sistem yang kita impikan.
Ingat !
Tidak mudah tapi tidak pula mustahil
Ini adalah tentang optimisme berjuang dan himbauan untuk merapatkan barisan. Tidak harus selalu berjumpa, yang penting tanamkan dalam hati dan jiwa bahwa perjuangan ini masih panjang ceritanya, jadi butuh cara yang berbeda untuk membuatnya mudah.

Dengan menyebut Nama Allah, berjuanglah selagi masih muda kelak hasilnya akan membuat kita tersenyum dimasa tua.




Celoteh kamar  20 April 2016

LEMBAR NOSTALGIA

Mengalir cerita-cerita lama dari ketikan jari berdansa, disepanjang malam ini...

Terbesit kembali lembar-lembar yang tertutup
seolah kembali hadir dengan caranya yang berbeda

lembar nostalgia
yang kuceritakan pada kawan, pada malam yang berguncang


Dinoyo 5 Juni 2016

YOGYAKARTA

Pukul 4 sore lebih sedikit
malioboro ekspres mengantarkanku kedua kalinya pada Yogyakarta
Kota ini selalu punya alasan untuk dirindukan
tentang Malioboro, Keraton, dan keramahan
Yogyakarta...
tempat bertemunya kembali kawan lama yang saling menjauh karena mimpi..
karena mimpi.
tentang cerita dibalik pagar mimpi para santri
dahulu sekali di pesimpangan usia remaja kita memulai ini
dirumah kecil para alumni
bersambut ramah para jagoan almamater hijau
santri-santri yang lepas,
kami adalah santri-santri yang telah lepas
kusaksikan kepiawaian pejuang almamaterku memainkan musik,
ya kami adalah santri, kamipun bisa berpura-pura jadi musisi
asal kami tidak mencuri,
asal kami tidak mencuri,
asal kami tidak mencuri
Yogyakarta...
Kota pelepas dahaga
kerinduan pada ramah tamah, senyum sapa, basa-basi
Yogyakarta , untuk kedua kali tak henti-henti untuk kukagumi
Yogyakarta permai
Pogung lor 11 Mei 2016


TENTANG KERINDUAN


Pada atap-atap lembab kuceritakan sedikit resahku yang menganggu
Oh tidak, 
menikamku dari waktu kewaktu
Aku mejamu rindu kesekian kali pada saat mata terbuka
rindu sepertinya berpola, suka menganggu di saat letih kian menembus batas diri yang lemah
Tentang resahku padamu Ibu
Pada tangismu kalaku merintih kesakitan setelah musibah yang lalu menimpaku 
tentang organ kiriku yang belum tahu kapan menemui kata sembuh
Telak kerinduanku bermuara padamu
Besar...
Membesar setiap waktu
Kutanyakan lagi pada langi-langit yag lembab
Kapan rinduku terobati olehmu?
Sedang jarak seperti ini rasanya seperti senjata pelumpuh
Ibu,selamat berpuasa, semoga sehat selalu, dan Tuhan senantiasa menjagamu...
semoga kerinduanku tersampaikan lewat doa-doa itu.
Lowokwaru 06 Juni 2016
Namrehus Suherman



KEKAGUMAN

Malam selalu mendatangkan kenyamanan...
Tidak peduli itu sedang maradang gelisah dan beban-beban merayu dalam pikiran
Asalkan malam genit menyapa rembulan
telak hatiku tertelan pada kekhusyuan dan syahdu malam yang kemayu
Pada sosok-sosok idaman yang bertamu dalam bayangan malam
dibawah sinar rembulan, di tengah Bumi Arema
Keterpanaanku ini adalah syukurku pada gemintang yang kian menderang
bahwa alam ini punya alasan untuk tetap dikagumi
Lowokwaru 31 mei 2016

Namrehus Suherman

TENTANG BULAN YANG SAMA


Sesekali izinkanku mengingat tentang kerinduan pada bulan yang sama, yang kita tatap berlama-lama dahulu pada persimpangan masa lalu
Ada ketika itu, langit hanya menjadi saksi keresahan dalam gelap, menantang batas-batas malam menyuguhkan lamunan panjang
diarymu tak selalu mengutuk ketenangan, tak selalu mengungkap kenangan mana yang layak untuk di pertahankan dan dibuang
lebih dari itu, aku suka membacanya, menemukan inspirasi dalam setiap baitnya
kau menulisnya dengan sangat rapi dan indah hingga membuangnya tak membuatku tega
Yah...Kita pernah berjalan beriringan, membuang-buang waktu dengan saling memikirkan
yah.. kita pernah jadi bahan obrolan para malaikat yang melihat kita melanggar cinta
Tapi... izinkan ku sesekali mengingat tentang kerinduan pada bulan yang sama, karena disanalah kita pernah menitipkan asa
walau harus melihatnya sendirian , tak masalah bukan ?
Persimpangan yang kita pilih memaksa kita untuk saling melepaskan
ya... saling melepaskan dan tidak untuk kembali dipertemukan.
ISTANA MAHASISWA , 18 Mei 2016
potret keresahan


CELOTEH KESAL !

Berbagai tindakan asusila sudah jadi tren di pemberitaan media massa
Akhlak bobrok yag mencederai nilai-nilai kemanusiaan
kepada siapa lagi kelak wanita-wanita suci itu berlindung ?
Jika para pria hanya tunduk pada kemaluannya dan memilih untuk jadi pecandu atas nafsu-nafsunya
Kepada siapa lagi wanita-wanita suci itu hendak berlindung ?
Jika setan-setan sudah mengutuk birahi para lelaki bujang
Kepada siapa lagi ?
Kepada siapa lagi anak gadis para orang tua hendak berlindung ?
Ayah kekeknya saja banyak kerasukan "fatamorgana bercinta"
Kepada siapa...
kepada siapa...
Hanya kepada Tuhanlah
Jangan banyak berharap pada manusia
karena terkadang manusia tidak lebih baik daripada setan
Hanya Kepada tuhanlah
ya... Tuhan lindungi para gadis-gadis suci itu dari Gangguan lelaki-lelaki jahannam

#‎Menyikapi maraknya berita pemerkosaan
Lowokwaru 10 mei 2016
:(



MAHASISWA BOBROK !

Mahasiswa macam apa yang tega membunuh dosennya sendiri ?
Saya membaca berita kemarin salah satu dosen di gorok oleh mahasiswanya di Kampus. Entahlah, dimata saya tidak ada toleransi bagi pembunuh bejat seperti itu. Dosen, ... dia membunuh dosen ?
Keterlaluan sekali.
Saya sangat sedih dengan hal seperti ini, sekiller-killernya dosen pasti ingin yang terbaik buat mahasiswanya. Tidak ada dosen yang jahat. Mereka hanya mendidik, berusaha membebaskan kita dari kebodohan, berusaha menjauhkan kita dari gelapnya ketidaktahuan. Lantas membunuh dosen apakah layak disebut sebagai mahasisswa ?
Saya dua kali dapat nilai D di mata kuliah, beberapa kali dapat C+ tapi kemudian tidak pernah terbesit sedikitpun niat mencelakakan dosen apalagi membunuhnya dengan sadis. Teman saya banyak mengalami hal serupa tapi tidak satupun dari kami berani menyakiti dosen yang memberikan nilai merah.
Apalah arti sebuah nilai jika memang otak masih tidak mampu untuk menangkap apa yang di ajarkan ? Bahkan ajaran agama dari SD-SMA saja belum cukup menegaskan kalau membunuh itu dosa ?
Apa guna pendidikan hingga kuliah jika masih bobrok saja akhlaknya ? membunuh ?
Jika Negara ini memakai hukum Islam yang sesungguhnya maka habislah sudah nasib pembunuh itu.
Semoga Allah senantiasa menuntun langkah kita dalam pendidikan, semoga tidak terjadi hal serupa di seluruh pelosok dunia. Ingatlah betapa berharganya sebuah nyawa, apalagi nyawa seorang guru yang ibaratnya sebagai orang tua sendiri.

SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...