Tulisan ini saya dedikasikan untuk rekan-rekan saya perantau
di seluruh Indonesia. Ini adalah curhatan saya lebih tepatnya. :D
Tentu sering terlintas dalam benak kita tentang kerinduan
pada rumah yang nyaman dan senyum lembut orang tua yang bikin kangen. Bahkan
tidak bisa saya pungkiri perasaan seperti itu datang setiap hari dan sudah
menjadi bagian dari kelengkapan hari.
Saya ingin bercerita tentang kisah nyata yang saya alami.
Perantauan saya berawal ketika semua orang berespektasi sekolah di tempat
favoritnya dan saya malah terbawa arus pada sekolah “pesantren” di Ibu Kota
Sulawesi Selatan.
Saya adalah anak Desa yang lahir ditengah-tengah keluarga
yang sederhana. Ayah saya bukanlah seorang yang berpenghasilan besar. Begitupun
Ibu saya hanya sebagai Ibu rumah tangga. Usaha keluarga kami sejak dahulu
adalah sebuah kios berukuran sedang yang menjual berbagai macam kebutuhan
masyarakat di sekitar rumah. Kakek saya adalah petani yang juga peternak Ayam
serta beberapa ekor sapi. Saya tumbuh ditengah-tengah lingkugan yang sederhana
dan masyarakat yang masih asing dengan “gilanya” Kota.
Keluarga saya adalah keluarga yang cukup keras dalam
memabahas pendidikan. Bahkan sebelum saya lulus SD saja sudah diancam untuk
disekolahkan jauh-jauh dari rumah demi menjadikan saya sosok yang berkembang.
Hal itu terbukti ketika saya lulus SD saya dikirimkan ke Kota Makassar untuk
melanjutkan pendidikan disalah satu pesantren ternama. Itu terjadi pada tahun
2007 ketika umur saya masih 12 tahun, masih sangat dekat dengan kata “manja”.
Hari itu saya ingat dengan jelas saya meninggalkan rumah di kampung dengan
tangisan yang tidak biasa, anak sekecil saya waktu itu di biarkan merantau
sendirian ke Kota tanpa di antar oleh ayah dan Ibu. Ibu saya ketika itu sengaja
menjauh dan tersenyum, seolah-olah bahagia dengan ketiadaan saya dirumah,
padahal saya tahu hatinya begitu teriris melihat kepergian anak pertamanya yang
begitu iya manja dahulu. Disitulah saya
memulai kisa praduan mimpi di tanah rantau.
Terhitung sejak tahun 2007 hingga tahun 2013 saya menjadi
santri di pesantren IMMIM Putra Makasar. 6 tahun (SMP-SMA) yang terasa
singkat dan menyisakan cerita yang
berharga sepanjang masa. Betul-betul tidak terasa 6 tahun saya menjalaninya
dengan tabah dengan ratusan kendala yang hampir saja menggugurkan perjuangan di
medan juang kala itu. Diawal-awal SMP saya sering menangis karena tidak terbiasa
berpisah dengan orang tua, tapi perlahan terbiasa juga dengan adanya ratusan
teman yang membuat kerinduan menjadi samar. Sejak tahun 2007 hingga 2013 saya hanya pulang kampung saat libur Ramadhan
dan Idul Adha saja. Perihnya perpisahan tersamarkan dengan hangatnya pertemanan
tapi tdiak menggantikan kasih sayang yang selalu terngiang-ngiang sepanjang
waktu.
2013 adalah akhir dari perjuangan di pesantren. Saat itu
saya sudah merancang kiah-kisah menarik yang akan saya jalankan ketika menjadi
Mahasiswa. Saat itu saya hanya berfikiran untuk kuliah di satu tempat saja
yaitu disalah satu Kampus negeri ternama di Makassar yang tepat berada di
belakang pesantren kami. Namun takdir menegaskan bahwa perantauan saya belum
berakhir. Ketika Pengumuman SNMPTN tahun 2013 disitu mengatakan bahwa saya
lulus di Universitas Brawijaya Malang. Antara senang dan sedih perantauan saya
kini berjarak ribuan kilometer dari rumah. Perantaun saya semakin panjang
dengan melintasi pulau, dan menjadi orang asing di tanah Jawa.
Kini saya berdiri di atas tahun 2016, sebentar lagi
adalahtahun ke-10 perantuan saya yang di awali dengan angka 2007. 4 tahun
terakhir ini saya mengalami masa-masa sedih yang tak kalah perihnya saat
merantau di usia 12 tahun dulu. 4 tahun belakangan ini saya menjalani bulan
suci “sendiri” menikmati tikaman-tikaman rindu di kamar kosan yang begitu
menyayat hati. Tapi ini bukanlah perkara
yang kemudian membuat saya “berhenti bermimpi”, ini hanyalah bumbu yang membuat
cerita ini semakin seksi. Ramadhan anak rantau selalu berwarna, walau jauh dari
orang tua, kita masih bisa bahagia (manfaatkan teknologi). Akan ada banyak
cerita menarik dari ramadhan kita yang sepi (kwkwkwkw, ketawa dikit ).
Terlambat atau tidak saya punya list-list mimpi yang harus
terpenuhi. Terlambat atau tidak, sukses
itu ditentukan dari seberapa cepat kita berlari daripada berdiam diri, seberapa
kuat kita berjuang dalam mengeskusi mimpi-mimpi, seberapa sering kita berdoa
meminta ridho Allah SWT.
Berbahagialah kalian yang
merantau karena sepi-sepi yang kita lewati adalah sepi-sepi yang meninggalkan
arti. Bersyukurlah kalian yang belum merantau karena hari-harinya terlewati
dengan banyak kesempatan untuk berbakti. Tapi ketahuilah merantau hanyalah
tentang waktu, Karena pada waktunya yang belum merantau akan merantau juga,
entah Karena apa dan kenapa.
Merantau layaknya inverstasi
waktu. Saya adalah investor yang
bergabung sejak tahun 2007 dan kini sudah hampir 120 bulan saya mengumpulkan
banyak deviden.
Saya sangatlah senang bisa berada
disini. Pencapaian-pencapaian saya dalam hidup belum layak dijadikan insiprasi
tapi setidaknya saya sangat senang dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun ini
saya bisa jadi bagian dari banyak organisasi-organisasi hebat dan beberapa
prestasi yang tercatat.
Saya adalah anak desa yang lahir
dari keluarga sederhana ternyata bisa juga jadi bagian dari
organisasi-organiiasi hebat Intra maupun ekstra kampus, organisasi kepemudaan,
sosial, seni dan sebagainya. Ternyata seorang pemuda Desa bisa juga menguukir
prestasi di tanah perantauannya. Saya merasa sangat senang bsia jadi bagian
dari jutaan pemimpi di Indonesia. Karena Indonesia ini selalu layak untuk
diperjuangkan bersama-sama, karena seorang diri saja tidak cukup untuk membuatnya
(Indonesia) bahagia. Indonesia tidak perlu khawatir dengan generasi yang akan
datang, karena akan ada pemuda daerah dan perantau-perantau dari segala penjuru
siap membangun dan berkolaborasi bersama-sama dalam mempertahankan “kehormatan
bangsa”.
Well~~ perantauan adalah salah
satu cara saya kabur dari ketidaktahuan, agar bisa tumbuh di tanah seberang dan
semoga kelak menjadi tokoh yang layak untuk diperbincangkan.
Bermimpilah setinggi langit
kalaupun harus jatuh mentok-mentok tersangkut di awan atau di atas puncak
tertinggi dunia, asalkan kita tidak jatuh di atas tanah, asal kita tidak jatuh
pada jurang-jurang kelam kegagalan.
Orang gagal adalah mereka yang tidak mau
berjuang !!!
Perantaun saya yang pertama
2007-2013 berjarak 200 KM dari kampung halaman (lintas Kota)
Perantaun saya yang kedua dimulai
tahun 2013 hingga kini (2016) berjarakn ribuan kilometre dan masih berjalan
(Lintas proifinsi)
Dan saya yakin kedepannya masih
akan ada perantauan lagi yang lebih besar,lebih jauh, lebih menikam dari perntuan
sebelumnya. Mungkin saja lintas negara ? Amiiin
Kita lihat saja bagaimana takdir
ini bercerita.
Semangat yaa para perantau,
kisah-kisah kalian pasti lebih luar biasa,pencapaian-pencapaian kalian pasti
sangat “gila”, janganlah jadi generasi muda yang menyebalkan dan pemalas, tetap
tenang mari kita sama-sama membangun negeri, ya minimal kelak mengabdi di Tanah
Kelahiran ^_^
Anak rantau bukanlah ancaman di
tanah seberang tapi bisa jadi mereka adalah lawan yang mencurigakan :D
#Celoteh Namrehus Suherman
Istana mahasiswa, 12 Juni 2016