Sabtu, 03 Desember 2016

JAMAN EDAN ?

Jaman memang sudah berubah. Kehadiran teknologi yang juga semakin menggairahkan tak luput jadi santapan sehari-hari seluruh kalangan. Tidak perlu heran jika dewasa ini manusia kebanyakan lebih asyik dengan dunia maya. Istilah mengintegrasikan Media dalam dunia sosial nampaknya telah berubah menjadi integrasi dunia sosial dalam Media. Terlihat begitu asyik memang jika dilihat obrolan-obrolan di balik layar handphone canggih, obrolan yang mampu mencuri senyuman dari penggunanya. Senyuman itu mungkin tidak mudah di temui saat berada di dunia nyata.

Keterlibatan Media sosial dalam pemenuhan hasrat berinteraksi nampaknya memberi hasil yang cukup cemerlang bahwa " teman-teman anda kini sibuk dengan gadget nya" bahkan anda sendiri pun mungkin sudah "sama saja". Intetaksi dalam dunia nyata nampaknya tidak begitu menarik lagi setelah hanyut dalam dunia fatamorgana gadget. Teman dalam dunia maya beribu-ribu siapa sangka di dunia nyata hanya satu dua saja?


Benar adanya bahwa interaksi dunia sosial kita sudah lebih asyik dilakuan melalui gadget. Secara sepihak saya ingin mengatakan bahwa dampak dari teknologi ini menjadikan kita sedikit lebih malas. Bagaimana bisa ? Anda tidak perlu lagi ke pasar untuk membali sesuatu, tidak butuh intetaksi tawar menawar melalui mulut dan beradu argumen dengan dalil toko sebelah lebih murah. Semua bisa di jangkau dengan teknologi masa kini.

Baiklah kita tidak akan berbicara mengenal Ekonomi. Kita akan berbicara mengenai apa dan bagaimana semestinya kita memperlakukan teknologi sebagai alat pembantu, bukan sebagai alat tunggal penentu. Manusia dan teknologi dewasa ini sudah jadi dua variabel yang saling terkait. Susah bener hidup jika gagap teknologi, semuanya menjadi tidak efisien, apalagi jika sudah berbicara soal waktu. Adanya teknologi ini sudah fix akan lebih menghemat waktu.

Lantas wajarkah jika kini dengan teknologi berupa handphone pintar menggantikan semua hal berharga dalam hidup?

Misalnya senyuman teduh kawan-kawanmu yang terlihat nyata saat bertatap muka dibanding send emoticon yang nyatanya kebanyakan dusta? emoticon sudah jadi perwakilan ekspresi dusta yang bisa menggambarkan suasana hati pemilik gadget.

nah bagaimana ?
Saat ini saat berada dalam forum-forum resmi, dalam kumpul keluarga, saat makan, organisasi dan forum intetaksi apapun itu entah mengapa gadget selalu jadi opsi melarikan diri dari kejenuhan. Gadget punya tempat tersendiri di hati manusia hingga tega mengabaikan manusia lain yang ada di sekitarnya.

Jika ada sesuatu yang lebih sering kau rindukan selain orang tua dan Tuhan mungkin itu adalah gadget dan notifikasi di dalamnya. Bahkan satu hari dalam hidup saat ini, coba tanyakan diri Sendiri "berapa banyak anda memikirkan Tuhan dan orang tua?" Bandingkan dengan seberapa sering anda mengingat gadget.


Media sosial yang ada di dalam gadget adalah dunia baru yang menyenangkan. Tapi tanpa di sadari sudah menghilangkan esensi dari komunikasi yang benar-benar terasa asli. Kita hanya perlu membatasi diri jangan hanyut dalam zona nyaman bermedia sosial atau bahkan semua interaksi sosial serba di Media kan.
Jangan ...Jangan....

Perhatikanlah orang yang bicara di sekitar anda. Bangunlah komunikasi selagi masih punya mulut dan lidah untuk berbicara. Rasa kan bagaimana sedih nya mereka yang tak di anugerahi kemampuan untuk berbicara. Rasakan bagaimana sedih nya mereka yang tak mampu menyampaikan pesan bermakna dari mulutnya.

Jangan jadi budak dari teknologi ini. Kita lebih pintar daripada handphone. Teknologi handphone punya batas memory sedang manusia punya memory yang tidak terbatas. selagi masih muda perbanyak menghargai dunia yang indah ini. Perbanyak interaksi dalam dunia nyata. Agar ingatan-ingatan akan intetaksi ini akan membekas dalam ingatan.

Ingat pesan ini bahwa..... secantik-cantiknya foto gadis di dunia maya lebih cantik lagi gadis bernama maya di dunia nyata.

Dunia nyata ini selalu punya alasan untuk di perhatikan, jangan banyak di abaikan.

Teknologi tidak salah, salahkan diri kita yang selalu serakah.

#CelotehNamrehus
Malang 3 Desember 2016

Kamis, 10 November 2016

Selamat pagi Pahlawan

Selamat pagi pahlawan
Ingin kulaporkan bahwa kami masih berperang
Musuh kami bahkan tak bersenjata tapi kami lumpuh dibuatnya
Tak ada darah yang menetes tapi kami sekarat
Kami jadi bangsa yang hobbynya berperang
Jadi penduduk yang suka nya perpecahan
Jadi manusia yang maunya saling menjelekkan
Selamat pagi pahlawan,
Berat kukatakan bahwa kini semua orang sibuk menyatakan kebenarannya sendiri
Semua orang sibuk menyatakan kehendak egonya sendiri
Beragam fenomena mengantarkan kami kedepan gerbang perpecahan
Pahlawan, jika kau marah, marahlah pada kenunafikan
Mereka yang ada di atas tanah kita, tidak sedikit yang berwajah dua
Tak sadar kami di buat nya beradu senjata
Senjata bernama ego dan kata-kata
Kami di bikin terbelah dengan propaganda-propaganda
Maafkan kami yang kini saling menjajah,
Pada waktunya kami akan tahu dimana musuh yang sebenarnya.
Mereka yang berwajah dua tidak layak menginjakkan kaki di tanah berdarah ini
Tanah yang sudah kau bayar dengan nyawamu
Tanah yang sudah kau lunasi dengan kepergianmu

Selamat Hari Pahlawan
10 November 2016

Sabtu, 22 Oktober 2016

IZINKAN AKU BERHENTI MENCINTAIMU



Cintaku padamu adalah cinta yang tak layak di perjuangkan
Bilamana ini hanyalah tentang ketakutanku pada lelaki beruntung yang akan memilikimu lebih dahulu

Cintaku padamu adalah penghinaan jika hanya wujud dari eksistensi hati yang sepi
Cintaku padamu adalah cinta yang hina apabila hanya sebuah persepsi mata yang menjalar ke otak
Lalu berkamuflase melalui hati, seakan suci padahal tak pernah berisi

Cintaku padamu adalah cinta yang penipu apabila aku katakan hanya kau satu-satunya yang kunginkan di dunia ini,
Sedang Jutaan wanita taramat menarik untuk kukagumi

CIntaku padamu adalah hanya keresahan hati yang memupuk rasa kagum yang berlebih yang melupakan rambu-rambu kemudian menjadi anarki

Cintaku padamu adalah sebatas rasa yang mengganggu ,
Rasa yang bersembunyi, dan membuncah hanyalah di saat-saat kubutuh pemerhati

Cintaku padamu adalah sebuah hasrat yang tak terpuji karena hanya ingin terus memandangi kecantikanmu yang berlebih
Cintaku padamu hanyalah sebuah kebutaan hati yang melucuti hukum-hukum Ilahi

Cintaku padamu tak layak jika terlalu dini untuk ku akui,
Bahwa cinta butuh di identifikasi dari segala persepsi
Benarkah hati ingin memiliki ataukah hanya sekedar rasa penasaran yang hina yang berpura-pura utuk mencinta  ?

Cintaku padamu tak ber-Tuhan

Karena di saat aku mencintaimu, aku senang melanggar aturan-Nya
Maka izinkan aku berhenti mencintaimu selamanya
Sampai pada defenisi dangkal akan cinta ini berubah jadi defenisi cinta yang semestinya

Aku ingin mencintaimu tepat pada waktunya, bukan cepat-cepat atau sengaja memperlambat
Karena hati butuh memilih akurat,
agar masa depan tak berkhianat
agar cinta benar-benar nikmat




MT Haryono Gang 4, 22 Oktober 2016
BUKAN UNTUK SIAPA-SIAPA*






Sabtu, 08 Oktober 2016

Ekonomi dan Agama

Faktor Ekonomi selalu saja jadi alasan atas penyimpangan-penyipangan dalam hidup. Orang mencuri karena Ekonomi. Orang membunuh karena Ekonomi. Orang korupsi karena Ekonomi. Orang berkhianat karena Ekonomi. Bahkan orang bisa meninggalkan Tuhannya karena Ekonomi (berpindah agama) dan penyimpangan yang mengatas namakan faktor Ekonomi lainnya.
Oleh karena itulah kenapa Agama harus selalu menjadi pondasi hidup manusia serta adanya kitab suci jadi pedoman hidup, dikarenakan orangberama (terlepas dari taat dan tidak) akan mempertimbangkan Etika dalam berperilaku. Kaum beragama tentunya punya Etika dalam mewujudkan Perekonoian ideal serta pemenuhan kebutuhan dalam hidupnya.
Melakukan kegiatan EKonomi tanpa melibatkan agama bakal menjadikan serakah dan lupa diri. Tidak sedikit yang jadi Iblis berwujud manusia karena saking berhasratnya memenuhi kebutuhan Ekonomi dengan cara menghalalkan segala jalan kemungkaran.
Percayalah, seiring dengan keterlibatan agama dalam Ekonomi maka akan mewujudkan sebuah tatanan perekonomian yang bersih, keterwujudan mimpi akan sistem yang bersih dan agamis akan terealisasi. Walau sebenarnya sangat sulit menggeser posisi sistem yang sudah tertancap tajam dalam rahim perekonomian Bangsa tapi tidak masalah. Selama adanya semangat orang-orang yang memperjuangkan maka tidak ada alasan untuk bersikap pesimis atau bahkan skeptis dan apatis.
Kita hanya perlu dengan jujur dan ikhlasnya mengakui bahwa keterlibatan Agama sangat penting dalam menggerakkan sendi-sendi Ekonomi dalam hidup. Setelah adanya pengakuan kemudian perlahan lakukanlah perjuangan-perjuangan kecil. Terlibatlah dalam segala sektor konvensional yang katanya sudah terlalu mainstream dan cenderung tidak agamis. Jika kita sepakat bahwa kita adalah orang agamis dalam Negara yang menganut sistem dan sektor yang heterodoks maka jadilah orang agamis yang terlibat pada reformasi sistem serta sektor tersebut.
Akhir kata Ekonomi tanpa Agama hanyalah menginvestasikan kerugian-kerugian dalam hidup serta pasca hidup dikemudian "yaumul".
Opini liar , 8 Oktober.

Rabu, 21 September 2016

Hai Bapak yang di ruang Birokrasi

Hai Bapak yang di ruang Birokrasi
Umur tua adalah masa anda mengajarkan sopan santun bagi kaum muda.
Kaum muda berbicara sopan anda memaki lalu membuang muka.
Kerapkali mahasiswa mengeluhkan sopan santunmu yang terlalu mahal, kami hanya butuh jawaban dan informasi yang menyenangkan bukan wajah galak yang tak ingin di ajak berteman.

Keluhan setiap orang masihlah sama bahwa anda adalah sosok yang tak ramah, padahal Birokrasi memilih anda untuk berhadapan banyak dengan Mahasiswa, generasi muda yang masih butuh mempelajari sikap-sikap orang yang lebih tua darinya. Jika kami hanya bisa mempelajari cara bersabar saat bertemu anda lantas bagaimana cara kami bisa mencintai dan menghargai anda.

Dear anda yang tak ramah, bukankah komunikasi yang lebih halus itu akan bisa melegakan hati kita semua? mengapa anda seakan membenci pekerjaan anda dan anda tidak suka mahasiswa mengurus hal-hal sederhana yang membuat anda kewalahan.

Okelah kami mencoba untuk Mengerti bahwa anda pasti sibuk dan kewalahan mengurusi mahasiawa/i yang ratusan bahkan mungkin ribuan yang minta mendapatkan pelayanan yang cepat. Tapi anda harusnya bersyukur bahwa anda saat ini sudah mendapatkan posisi aman karena sudah mendapatkan pekerjaan di bilik Birokrasi tak ramah itu. Sedangkan kami?

Kami masih labil Pak dalam memikirkan pekerjaan. Mengurus judul skripsi aja kami sangat dilema apalagi mikirin pekerjaan terlebih lagi tamparan Batin Birokrasi "tak ramah". Pak ketahuilah Birokrasi yang anda tekuni itu adalah salah satu jalan kami agar bisa mendapatkan pekerjaan di masa depan. Tanpa anda membantu kami dengan mudah dan ramah pasti kami akan terganggu psikologisnya (bisa-bisa mahasiswa stres dan berkelakuan buruk). Susah Pak jadi mahasiswa di zaman modern ini, kami diberi macam cobaan yang lebih menggiurkan dibanding zaman dahulu. Birokrasi saat ini menjadi salah satu rintangan berat yang harus kami hadapi jika semuanya tak pernah ramah. Jika anda tak bisa senyum,salam dan sapa minimal senyum aja :), itu cukup untuk membuat kami semangat dalam mengurus berkas-berkas akademik. Ingat Pak, mau tidak mau anda harus menghadapi banyak Mahasiswa, jadi lebih baik ramah daripada disoroti mereka dengan tatapan nanar.

Pak bekerjalah yang ikhlas, ajarkan kami bagaimana bersikap, kami menghargai , meskipun gak di hargai kami berharap berkomunikasi itu yang santai saja tak usah marah-marah, kasihan teman saya bertanya dengan sopan di balas dengan cacian.

Dosen aja bisa ramah masa Bapak nggk?
beri contoh yang baik pada generasi pelanjut.

Tegas bukan berarti membentak !!

Dear Bapak di bilik Birokrasi akademik yang tak usah disebut namanya. Ini adalah keresahan mahasiswa yang sudah sering melihat mu tak ramah.



Celoteh mahasiswa semester akhir dari suatu kampus di Negeri yang merdeka. Kampus manapun deh.

namrehus, Ngalam 21 September 2016

Selasa, 19 Juli 2016

Tabir manipulasi



Ketika topeng-topeng kebajikan mulai beredar
Meluas bagai badai di musim hujan
Guntur, petir dan halilintar
Bersatu menguak tabir kemanafikan

Sejatinya kejahatan tidak pernah kelar
Menggebu dalam asa
Melebur bersama masa
Diam dan saksikan  saja cecunguk –cecunguk berdasi
Beraksi dalam kualisi
Tak terkuak dalam bukti
Berjaya dalam segala bentuk manipulasi

 Lowokwaru 18 juni 2014


Merdeka hanya nama


Pukul tujuh pagi , tujuh belas Agustus dua ribu tiga belas
Terdengar  cekikikan, telinga seolah menolak, suara itu seperti yang lalu-lalu
Dan lagi  sebelum-sebelumnya , berisik, mengganggu pagi yang tenang

Perlahan kaki melangkah, terhempasku  di sofa
Menatap keluar jendela
Sekumpulan bocah bermain
Tertawa dengan baju camping, tampak kotor , tak tahu apa-apa

Kumenggelengegkan kepala, tak percaya
Kasihan para bocah, terlihat polos, kurus dan kelaparan
kasihan mereka, orang tuanya kemana ?

Pukul delapan tiba
masih sama, pemandangan pilu
permaianan sederhana, dari botol bekas jadi bola sepak
mereka menikmati, sekali lagi
seadanya


pukul sembilan ,televisi menyala
siaran detik “upacara kemerdekaan”
begitu mewah, aparat berjaga-jaga
istana megah dan orang-orang “besar negara”
serta mereka yang kaya raya datang menikmatinya

Ada yang ganjil dikepalaku, tidak sesuai dengan realita
sesuatu yang menolak untuk berkata “khidmat”
ibarat kopi tanpa gula,
begitu pahit dan pekat terasa
mulut ini ingin berbicara, tapi pada siapa ?

Pasukan pengibar telah berformasi
membawa bakit “merah-putih”
begitu rapi dan terlatih, terlihat bangga, tersenyum tipis
mereka tak tahu  apa yang terjadi saat ini
disini

Sekali lagi “Indonesia” merayakan “hari merdeka”
tapi merdeka seperti apa ?
seperti anak terlantar yang tertawa lepas di depan rumah ?
bermain seadanya, mengira itu benar menurut mereka
bagiku “SALAH”, mengusik telinga di pagi yang bahagia

Lagu kebangsaan dinyanyikan
Untuk apa ? untuk siapa ? kenapa bisa ?
Apakah ini makna merdeka ?
Merdeka untuk siapa ? Hanya mereka yang di istana sana yang merasa merdeka
Upacara telah usai, kumatikan televisi
Seperti luka yang yang kembali terbuka
Sakit, begitu menyesakkan, ingin terharu tapi untuk apa ?
Terharu karena merdeka ? atau karena apa ?
Lagi-lagi seorang bocah menatap ke pintu rumahku yang terbuka

Inilah dia, saat yang di nanti
Seorang bocah datang di ikuti bocah lainnya
Wajah lesu, langkah lunglai
Nampak sekali mereka tengah kelaparan
Aku beranjak dari sofa, terenyum bahagia

Beranjak aku dari lamunan
Keawijban telah memanggil
Hari kecil merintih, seperti luka yang tertahan
Ingin kuteriakkan kesal kepada siapa ?
Air mata tiadalah arti

Bocah-bocah yang Malang
Senyum tipis mengembang kearahku
Begitu kuhampiri sumringah
Wajah berseri, menatap bahagia yang sebentar lagi mereka rasa

Apa ini merdeka ?
Batinku berperang melawan realita
Yang mereka sebut merdeka, seperti ini?
Orang-orang di istana sana?
Merdeka dengan wajah polos terlantar

Angin sepoi membawa damai
Hati serasa tenang, tentram, melihat mereka begini
Tertawa lepas, duduk disinggasana sederhana beranda
Menikmati hangatnya susu buatan Ibu

Pilu, siapa yang terakhir kali membuatkan susu untuk mereka ?
Apa susu itu hanya kenangan kelahiran belaka ?
Seperti merdeka di atas sengsara
Orang Indonesia sungguh lupa diri dan lupa mereka

Seambari bertanya si bocah mungil
Rambut lusuh, bergelombang, mata bersinar
“Hari ini hari apa? Kenapa banyak bendera ?
Diam, sunyi, raut wajahku berubah
Pertanyaan untuk siapa ? aku tak mampu berkata

Hari merdeka seperti inikah?
 kita rayakan namun yang lain kesakitan ?
hari merdeka seperti inikah ?
kita rayakan namun kemiskinan masih berkibar ?

hening masih berkuasa, aku tak kuasa menjawab
mereka nampak lesu, dan kembali bertanya
“hari ini hari apa? Kenapa ramai sekali  lapangan sana?
Leherku tercekik, malu, prihatin dengan bangsa sendiri

Berat kumenjawab, masih setengah sadar
Bibirku bergerak, “merdeka”, hari merdeka, jawaban tidak pantas hatiku menggertak
Terlontar pertanyaan dari wajah polos mereka, nampak bingung
“apa itu merdeka ?”, lagi-lagi pertanyaan ini menghantam kepalaku
Pusing, hendak berdiri, namun kasihan, mereka perlu mengerti

Merdeka itu Indonesia, terlepas dari hantaman senjata, mereka para penjajah
Merdeka itu Indonesia, berkibar sang saka di tiang bahagia
Merdeka itu Indonesia, garuda perkasa, Proklamasi terbaca
Merdeka itu Indonesia, berat ku menjawab, bbir seolah terjepit
Rakyat bebas dari miskin

Masih hening, wajah mereka polos, nampak tak mengerti
Aku tertawa, mengakhiri sunyi
Perlahan, kukeluarkan selembaran biru dari saku
“selamat hari merdeka, adik-adik bangsaku”
Wajah polos mereka tertawa, seolah pertanyaan yang tadi berhasil kuhindari

Pagi berlalu ,  siang datang, bocah-bocah sudah pulang
Kini kukembali dalam renungan
Terpaku dengan makna kemerdekaan, makna yang hilang
Berbaur dengan zaman, kejam, keliru, terlupakan

Makassar 17 agustus 2013



MUSLIHAT CINTA KAUM HAWA




Kepada generasi hawa yang kasmaran
Kau sering terlena dengan janji-janji yang menawan dari mulut sang rupawan
Kau terkena serangan cinta yang membingungkan
Seolah semua keinginan bermuara padamu, indah sekali bukan ?

Ada letupan janji-janji yang menjelma jadi memicu senyumanmu
Dia lelehkan hatimu jadi perindu yang akan senyum-senyum sendiri
Pada tenggang waktu sepimu, dia memenangkan hatimu yang lugu


Ada cinta yang teramat membingungkan yang kau jalankan
Kau menegaskan bahwa pilihanmu adalah takdir yang romantis
Kau tidak ingat sudah berapa banyak cucu hawa yang berakhir menangis ?

Kepada generasi hawa yang kasmaran
Tak ada yang melarang hatimu bertuan pada ikhwan
Hanya saja Tuhan menegaskan kau harus menjaga diri dari segala macam pemicu syahwat setan bertopeng ikhwan
Yang menggodamu dengan kepalsuan dan kemewahan

Kepada generasi hawa yang kasmaran
Jika ada kesempaan untuk bersegera, bilamana hasrat hatimu hendak bertuan semakin besar
Maka jujurlah pada ayah bunda….
Jangan dalam diam kau menjadi wanita tawanan ikhwan
Kau berikan cinta yang dalam, sedang rambu-rambu Tuhan rajin kau lecehkan

Kepada yang kasmaran….
Jika cintamu memang karena Tuhan
Maka tahan….
Tahanlah gelora yang menggila
Biarkan rasa mengalir bagai air di musim hujan
Bilamana iya bermuara pada sungai rindu yang teramat besar
maka katakanlah
Duhai ikhwan, kapan kau datang bertemu Bunda ?
Duhai ikhwan beranikah datang meluluhkan ayah ?
Jangan sampai kisahmu hanya berakhir di perapian, kau membakar semua sisa kenangan yang pernah terlewatkan
Sedang sesal hanya tinggal sesal
Kesempatanmu sudah terlewatkan oleh penyesalan

Cinta yang benar adalah cinta yang mengalahkan ego dua tuan pemillik rasa
Cinta yang benar adalah cinta yang menghalalkan
Cinta yang benar adalah cinta tidak mempermainkan syahwat
Cinta yang benar adalah diam-diam ,
ya diam-diam saling mendoakan,bukan berpegangan tangan, bahkan saling telanjang

Jangan tekecoh, sudah banyak ikhwan yang termangu di dipan penjara
Hanya Karena syahwat dan janjinya lebih besar daripada cintanya yang ditawarkan dahulu

Wasadalah, cinta tak sebercada aku sayang anda.
Cinta yang perlahan akan lebih jelas menghasilkan
Daripada cinta yang terburu-buru biasanya hanya akan menghasilkan kekeliruan
Tak sedikit cinta yang terburu-buru menghasilkan anak yang lucu, tapi ibu bapaknya belum mengenal penghulu
Tak sedikit cinta yang terburu-buru hanya menghasilkan tangisan-tangisan yang ambigu
Buat apa menangis ?
Toh yang engkau tuai adalah hasil keserakahanmu pada hati, penghianatanmu pada Tuhan

Hawa…
Waspadalah dengan muslihat “cinta”

Donri-donri 16 Juli 2016
Jika tidak penting abaikan celotehan ini


Namrehus

Sabtu, 16 Juli 2016

Kepada para tuan pencela yang nakal

Hei tuan
Anda adalah pencela yang luar biasa
Sedikit si amir berjalan mulutmu sudah melontarkan cacian
Anda adalah oknum beragama yang mengumbar kebencian lewat media-media
Sedang pembaca-pembaca teramat cepat menangkap berbagai tuduhan prasangka
Anda adalah narator hebat yang mendedikasikan karyanya untuk menghujat
Saking habisnya pekerjaan yang nyaman, hingga terpilihlah hujat sebagai rutinitas harian
Hei tuan
Anda adalah pemimpin tubuh yang luar biasa
Disaat negara anda butuh pemikir handal
Anda lahir sebagai pencela yang teramat “nakal”
Belum juga si pria kurus hebat itu panen pujian, kau sudah hujani dia dengan seribu jenis cacian
Anda lupa bahwa masyarakat Indonesia harus tunduk pada presidennya
Perihal adanya nahkoda bayangan kita bicarakan kemudian
Hai tuan
Anda adalah warga negara yang teramat sangar
Disaat nagara sedang tercemar
Anda menebarkan fitnah-fitnah yang menggelegar
Menerobos batas kepercayaan rakyat awam
Kasihan si amir menanggung cacian musuh-musuhnya dengan sabar
Hai tuan
Anda adalah bagian dari negara Kesatuan
Anda lebih dahulu Lahir daripada reformasi yang tercampakkan
Mengapa anda jadi pemecah kesatuan ?
Adakah reformasi jilid dua yang kau inginkan?
Sedang kau siapa dan bagaimana bisa meyakinkan kami, pekerjaanmu hanya mengumandangkan perang dan benih-benih kekesalan
Siapakah anda duhai tuan ?
Orang bilang negeri ini sedang krisis ekonomi, krisis budaya, krisis cita rasa berbangsa
Tapi lagi ingin kutegaskan tuan….
Yang menghambat kita untuk menang adalah adanya sosok-sosok seperti anda yang memecah kesatuan
Kita krisis kepercayaan yang tiada akhir
Menjelma jadi suudzon tiada batas , pada amir pilihan rakyat
Tuan…. Kita semua inginkan kepala yang tepat
Kita adalah organ yang saling membutuhkan
Presidenku adalah kepala,
wakil adalah leher,
Cendekiawan adalah otak,
ulama adalah jantung
mentri-mentri adalah tangan,
anak muda adalah kaki,
seluruh rakyat adalah hati
Bilamana hati busuk maka seluruhnya akan membusuk , sebusuk-busuknya bau, sebusuk-busuknya tikus bangsaku
Kepala tanpa leher adalah cacat
Kepala tanpa tangan dan kaki adalah lumpuh
Kepala tanpa otak adalah bodoh
Kepala tanpa hati adalah robot
Kepala tanpa jantung adalah kematian
Jadi mengapa kebencian masih sering dikau utarakan ?
Kenapa bukan jawaban atas permasalahan yang krusial ?
Kenapa bukan sesuatu yang mengurangi kemiskinan yang bengal ?
Jika memang anda kukuh meragukan amirku, maka silahkan , silahkan meragu
Meragulah hingga kau lapuk
Meragulah hingga dunia bersenandung atas menjamurnya generasi pengecut
Aku tegaskan tuan…
Anda bukan satu-satunya yang gerah dengan penelanjangan besar-besaran krisis yang melanda bangsa ini
Anda bukan satu-satunya yang gerah dengan bercandanya harga-harga dipasar yang membuat dompet anda terdzolimi
Anda bukan satu-satunya yang gerah pada tangisan-tangisan rakyat jelata yang mengemis keadilan
Anda bukan satu-satunya….tuan
Jika anda butuh keadilan,kebenaran dan ketegasan
Maka berilah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
Jika anda butuh kenyamanan,ketepatan dan kesempurnaan
Berhentilah menghujat,
mari kita berdikusi berat
Mari kita berfikir keras
Mari kita berdoa, semoga Negeri ini tidak jatuh pada pundak yang salah
Kota Kalong 16 Juli 2016
Kepada para tuan pencela yang nakal
Namrehus Suherman

Rabu, 13 Juli 2016

KITA HAMBA SIAPA?


Kita menghamba pada rupiah
Sedang pada Tuhan kita memfitnah
Kita sering berkata bahwa Tuhan tidak adil?
Tuhan tidak ahli ?
Sudah banyak manusa serakah yang memfinah Tuhannya tidak becus dalam membagi nikmat
Dia sudah lupa pada para malaikat yang diciptakan tunduk di hadapannya
Dia sudah lupa pada ribuan liter air yang membasuh tenggorokannya
Dia sudah lupa pada udara yang bebas dicemarinya dengan polusi gila
Dia sudah lupa pada perjanjian antara raga dan Tuhannya
Maka Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan ?
Kita menghamba pada kekufuran
Sedang pada syukur kita mengacuhkan
Kita menghamba pada kedurhakaan
Sedang berbakti kita melupakan
Kita menghamba pada nafsu,
Sedang kebutuhan dilain waktu
Kita menghamba pada para kacung
Sedang pada diri sendiri kita meragu
Kita menghamba kepada para tikus
Kita membesarkan kandangnya, kita turut serta menyuapi kucing-kucing negara yang pemalas
Kita menghamba pada dunia, seakan akhirat telah binasa
Kita menghamba pada harta, tahta, wanita
Kita menghamba pada sikaya
Kita menghamba pada sigila
Kita menghamba pada siapa saja yang menggoda
Maka nikmat mana lagi yang SENGAJA ingin kamu dustakan ?
Jadi kita hamba siapa
Kita adalah hamba yang keterlaluan, sadis dan munafik
Tak kala bencana datang menghardik
Mengapa lagi menghamba pada Tuhan?
Berdoa saja pada hartamu,tahtamu dan wanitamu
Mereka adalah Tuhan yang sudah kau ciptakan dengan hasratmu yang menggebu
Berdoa saja pada hartamu,tahtamu dan wanitamu
Bukankah kau sudah terlalu cinta ?
Jadi kita hamba siapa ?
Aku malu mengatakan kalau kita masih diperhambai oleh Tuhan
Karena kita adalah hamba yang sangat keterlaluan
Ya…kita sudah KETERLALUAN !!
Ya…kita sudah SANGAT KETERLALUAN !!
Semoga Tuhan masih mau menuntun kita pulang.

Galung Langie, 12 Juli 2016
Suherman Juhari

Sabtu, 18 Juni 2016

SAHABATKU HATI-HATI DENGAN WAKTU

Siapa yang paling angkuh di antara kita sahabatku ?
bukanlah kau yang sudah sejak dulu tiada mengabariku
Bukan pula aku yang tiada memberitahukanmu tentangku
Siapa yang paling sombong di antara kita sahabatku ?
Bukanlah kau yang sudah terlalu jauh
Bukan pula aku yang sejengkal demi sejengkal terus menjauh darimu
Siapa yang paling hebat di antara kita sahabatku ?
Bukanlah kau yang namanya telah terpahat dalam lembar sejarah
Bukan pula aku yang tengah membangun kisah di Negeri Antah berantah ini
Lantas siapa gerangan sahabatku ?
adalah waktu yang angkuh, yang sombong, yang hebat
dia adalah yang paling membuat kita berjarak
Sejauh apapun kau berlari dariku, aku tidak akan bisa mengejarmu
Sedekat apapun kau di sisiku, aku bisa dengan tega untuk melupakanmu
waktu adalah pemisah yang paling ampuh sahabatku,
yang dekat menjauh, yang jauh akan dibuatnya semakin jauh
hingga tiada lagi waktu untuk saling memuji, bercerita, bahkan membangun kisah
Kau tau sahabatku ?
Waktu adalah pelengkap jarak yang paling jahat setelah ribuan Kilo kau berlalu meninggalkanku.
Waktu adalah rintangan yang harus kita bunuh atau tidak kitalah yang akan mati tertelan oleh kesombongannya.
Hati-hati dengan waktu, sahabatku.

Dinoyo 18 Juni 2016
Namrehus Suherman

JANGAN MENGAKU MUSLIM

Nak jangan kau mengaku muslim
saat kau sembunyikan dengkimu dibalik senyuman merayu
seraya hatimu menghujat
cipratkan fitnah dalam hening
pada sosok kecil bermata bening di perempatan jalan sengkaling
dia dengan angan seragamnya , bahkan imaji makanan berkaki dua krispy
nasi menggunung , menutupi melamine-melamine bulat,
bahkan kau tak tahu dimana dia menginap, sedang kau sudah macam Tuhan saja,
seolah telunjukmu adalah kebenaran, dan mulutmu dasar kebajikan.
Nak jangan kau mau disebut muslim
saat kau ada di tanah ini,
tanah sedih lahan subur korupsi
saat mengkader hanya mengasah sebilah belati
menumbuhkan jiwa kritis , bibit-bibit komunis, kitabku saja kau kritisi
padahal KTP mu sendiri kau tuliskan keyakinanku.
jadi maumu apa ?
Nak jangan mau jadi muslim,
saat kau dengar seruan-Nya
sedang telinga kau menjadi bisu
kelaut saja, sembunyikan dirimu
kemanapun, yang katamu Tuhan-ku tak menemukanmu
DNY16-12-14

SARANG RINDU

Sunyi malam dalam kabut hitam
Berselimutkan rasa takut dan bisik-bisik rindu
Seorang anak menyapa rembulan, melukis bintang dengan jemari telanjang
Terlena dengan nyanyian binantang malam, seakan di dendangkan lantunan pegantar tidurnya sejak kecil dulu
Setiap kerinduan memiliki alasan untuk bertahan
Untuk kali kesekian si anak malang mengadu nasib dengan bekal iman
Menyeberangi lautan
Merayapi atap suku-suku negeri yang serba ada ini
Terdampar di tengah kaum dengan bahasa yang tak biasa di telinga
Tergenggam harapan di balik tangan , sayap putih dipundaknya sejak dulu tak pernah menampakkan diri
Hanya membawanya jauh dan terus menjauh dari keramaian
Membuatnya berkawan dengan sepi, rindu dan imajinasi masa yang sudah usai
Ada satu hal yang tak pernah di curi dari ingatannya
Sebuah atap yang memberikannya takhta, cinta dan segalanya
Istana dari seluruh pasukan imajinasi
Terdampar jauh dari kebisingan Kota para karaeng
Terdapat suatu atap yang tidak pernah terganti tuankan oleh rindu
Bisa saja kakinya di ujung dunia, tapi jiwanya selalu meridukan istana
Dimana pertama kali iya berkenalan dengan udara, dengan segala nyanyian malam
Bulan yang selalu menderang, bintang yang tak pernah bisa iya lukiskan
Bangunan kayu yang tak pernah dulu ia hiraukan
Sejak rindu bersarang di hatinya, dia tidak akan pernah lupa, kepada siapa Rindu sebenarnya bermuara
Lowokwaru 5 April 2016
Namrehus Suherman

OPINI UNTUK KARTINI

begini sih opini kecil dari saya mohon maaf kalau saya tersesat dalam paradigma yang salah :
Saya pribadi belum bisa menyimpulkan kebenaran sejarah. Penulis yang pro pasti akan mendeskripsikan sisi-sisi baiknya. penulis yang kontra akan mendiskripsikan dari sisi negatifnya. lantas kita yang membaca memilih untuk jadi yang mana ? terjerumus dalam tulisan yang kita baca dari pro atau kontra ? atau memilih jalan lain ?
kalau saya sendiri lebih cenderung tidak percaya pada sejarah yang ditulis oleh manusia . karena tentunya tulisan2nnya mengadopsi pandangan dari "apa yang disaksikan oleh mata kepalanya sendiri". Saya sejak SD diberi pendidikan ttg RA Kartini itu sosok pahlawan, Soekarno itu presiden, pemberontakan PKI adalah kebejatan sejarah, kisah dibalik 98 adalah saksi nyata gejolak-gejolak pergerakan. Tulisan tentang sejarah hanya akan ada dua sisi penyikapan "pro dan kontra".
Jadi yang bisa saya amini bahwa Indonesia adalah Negeri yang merdeka walaupun nyatanya masih ada perang dibalik kemerdekaan yang saya yakini. Tapi sejarah-sejarah yang dituliskan oleh kaum "pro dan kontra" akan suatu sejarah saya tidak mau percaya 100 % keduanya, karena bisa saja kita telah mengutuk sejarah tapi apakah kita bisa meyakinkan generasi yang akan datang sejarah mana yang terkutuk ? Sejarah yang dikisahkan oleh kaum pro ataukah kontra ?
saya sendiri mengutuk diri karena terlau tertutup dengan sejarah bangsa. Banyak biografi-biografi yang menceritakan sejarah perjuangan tokoh-tokoh Negara Agraris ini tapi saya sampai detik ini tidak terlalu tertarik membacanya karena saya yakin setelah saya mengetahui isinya saya akan mempertanyakan kebenarannya, (apalagi ini adalah hasil pikiran manusia, bukan Tuhan).
Saya teringat masa-masa saya ditempa untuk memperlajari sejarah indonesia. Saya adalah pelajar yang duduk di kursi paling belakang dan "tertidur" atau kalau tidak baca novel saja. Namun pernah juga sekali saya tamatkan membaca teks book tentang sejarah indonesia namun lagi-lagi saya meragukan kebenarannya. Terlebih lagi saat saya menemukan referensi lain yang justru kontra dengan buku yang saya baca. Saya makin ragu dengan dongeng tentang sejarah mana yang saya percayai.
Tapi saya tidak anti sejarah. Sejarah adalah kepastian yang sudah pasti akan terjadi. Dibandingkan dengan mengutuk sejarah yang sudah tejadi lebih baik kita bersama-sama menyusun sejarah baru yang kelak akan terjadi dengan sebenar-benarnya cerita.
So Apakah Hari kartini layak untuk diperjuangkan ?
atau diterlantarkan ?
Kalau memberi dampak baik bagi Indonesia diperjuangkan. Kalau justru menumbuhkan kebodohan maka terlantarkan atau mungkin buang saja. Karena kartini disini hanyalah sebagai nama, tidak menutup kemungkinan akan ada sosok nama lain yang lebih pantas menempati posisinya. tapi lagi-lagi ini tentang sejarah, tempatnya perang paradigma bermula.
Suherman 21 April 2016

CURHATAN YANG LALU


Membaca status seorang teman, membuat saya bernostalgia dan menuliskan kisah singkat ini !
Wah saya jadi rindu dengan tampil teater. Suatu ketika ditahun 2012 saya mendapat sebuah informasi menarik terkait kemah teater oleh UKM Teater Kampus Unhas. Saya saat itu dengan antusias mengajak beberapa teman untuk ikut, dan jadilah kami sebuah tim dengan jumlah 6 orang yang bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya di Kota Makassar. Peran yang saya dapatkan adalah jadi aktor utama berperan sebagai kakek yang dulunya pencuri yang hebat. Malam itu saya sangat ingat bagaimana rasanya tampil didepan umum membawakan naskah penulis ternama. Antusiasme penonton membuat kami saat itu bagaikan bintang sesungguhnya.
Alhasil saya masuk jadi 3 besar nominasi aktor terbaik putra , dan itu adalah suatu prestasi bagi pesantren kami, 2 Nominator Aktornya semua dari Pesantren, Nominator penata artistik serta nomintor pemusik terbaik juga kami libas saat itu. Ketika kemudian di umumkan Best School of kemah teater , Alhamdulillah hari itu sekolah kami Pesantren IMMIM Putra Makassar dinobatkan sebagai juara pertama menyisihkan sekolah-sekolah terbaik lainnya.
Setelah itu muncullah inisiatif dari kami berlima untuk mendirikan Sebuah grup teater bernama "TESAPI (teater santri pesantren Immim) " yang kemudian akhirnya disepakati menjadi TEPI (teater Pesantren IMMIM) di akhir tahun 2012. Sejarah kami tidak berhenti sampai di kemah teatre saja. Kami pun selanjutnya menjadi peserta teatrikal dalam Jambore anti korupsi oleh Gubernur Sul-Sel dengan membawakan naskah "putu wijaya", hari itu kami belum jadi juara tapi setidaknya kami tampil sebagai pecinta teater. Selanjutnya pada kesempatan yang berbahagia kami mengikuti FLS2N dan keluar sebagai Juara III , namun sayang langkah kami tidak bisa mewakili Kota Makassar ketingkat profinsi karena yang diambil adalah juara I saja. Namun sebuah keistimewaan tersendiri bagi kami kala itu, santri yang katanya terlalu kaku dalam menjalani hidup mampu menjuarai event-event yang kelihatannya bukan passion seorang santri. Semangat kami mematahkan Anggapan itu semua. Akhirnya saat itu Grup teater TEPI yang kami bentuk kedatangan banyak sekali peminat. Alhamdulillah, pada perpisahan angkatan saya di pertengahan 2013, malam itu murid-murid kami menampilkan sebuah Teater bertajuk "pesantren". Hingga saat ini TEPI InsyaAllah masih aktif sebagai salah satu grup teater di ma'had kami tercinta dan akan terus berkembang menjadi sejarah teater anak pesantren di Kota Makassar.
Saya sangat sedih pada bulan mei nanti berhalangan untuk ikut reuni Ikatan Alumni, jarak menjadikan saya tidak berdaya karena memang masih bergantung biaya pada orang tua. Setidaknya melalui pesan ini saya sampaikan bahwa Angkatan kami, 2007-2013 telah mengukir prestasi yang luar biasa pada Mahad tercinta dalam berbagai bidang salah satunya adalah seni teater. Bidang lainpun tidak ketinggalan seperti Olahraga, seni musik, Seni pertukangan, Seni berorganisasi, Seni lukis, Seni meneulis, pramuka, pmr, dan bidang-bidang lainnya.
Sukses untuk Reuni IAPIM Angkatan 2000-2016, semoga kelak ketika reuni keseluruhan alumni dari tahun 70-an hingga yang paling baru saya bisa ikut. Amiin
khaeril,suhe,damis,uppi, andika, ikka' dan mail story .

YA TUHAN, LINDUNGI GADIS-GADIS ITU

Berbagai tindakan asusila sudah jadi tren di pemberitaan media massa
Akhlak bobrok yag mencederai nilai-nilai kemanusiaan
kepada siapa lagi kelak wanita-wanita suci itu berlindung ?
Jika para pria hanya tunduk pada kemaluannya dan memilih untuk jadi pecandu atas nafsu-nafsunya
Kepada siapa lagi wanita-wanita suci itu hendak berlindung ?
Jika setan-setan sudah mengutuk birahi para lelaki bujang
Kepada siapa lagi ?
Kepada siapa lagi anak gadis para orang tua hendak berlindung ?
Ayah kekeknya saja banyak kerasukan "fatamorgana bercinta"
Kepada siapa...
kepada siapa...
Hanya kepada Tuhanlah
Jangan banyak berharap pada manusia
karena terkadang manusia tidak lebih baik daripada setan
Hanya Kepada tuhanlah
ya... Tuhan lindungi para gadis-gadis suci itu dari Gangguan lelaki-lelaki jahannam
‪#‎Menyikapi‬ maraknya berita pemerkosaan
Lowokwaru 10 mei 2016

UNTUKMU YANG TAK LOLOS SNMPTN

Kepada adik-adikku anak SMA yang baru saja menerima informasi TIDAK LOLOS SNMPTN 2016.
Saya mengerti betul bagaimana rasanya menerima pengumuman yang mengecewakan. Sedih. SIlahkan bersedih dik, sudah sewajarnya kamu bersedih karena espektasi kamu pada sesuatu tidak tercapai dan membuatmu kecewa berat. Tapi jangan lupa dik, kamu ternyata lebih beruntung daripada mereka yang sama sekali tidak dapat melanjutkan kuliah. Atau paling buruknya mereka tidak sempat mengecap indahnya dunia pendidikan sepertimu. Tapi dik....jangan salah kaprah, dunia pendidikan yang kamu fahami tidak selalu tentang ruang belajar yang berkelas, tidak selalu tentang tim pengajar yang hebat, tidak selalu tentang ketersediaan fasilitas yang menunjang pendidikanmu selama ini. Ada orang diluar sana dik yang sehari-harinya belajar dibalik dinding kumuh , atap bocor dan ketertinggalan jauh dari teknologi. Ada banyak dik, diluar sana yang terkena dampak "sombongnya" pembangunan yang melupakan "dekilnya" desa.
Adikku....
Jangan sekali-kali kamu menjadi lemah hanya karena dinyatakan tidak lolos dalam SNMPTN. Kamu tidak LOLOS memang benar, tapi tidak ada yangberkata kalau kamu GAGAL. Abaikan segala rasa takut dalam jiwamu, kuatkan tekadmu, jadilah generasi tangguh yang tidak mudah runtuh walau tertunda mencapai mimpi. Jadilah generasi yang bersyukur dik...karena kamu masih jauh lebih beruntung dari mereka yang tidak mampu sepertimu.
Adikku...
jangan terlalu sombong....
kalaupun kamu lebih beruntung daripada mereka yang tidak mampu sepertimu maka jangan terlalu mendongkak kepalamu ke atas. karena dibawahmu masih banyak tugas-tugas yang harus terselesaikan. Sudah waktunya kau mengabdikan Ilmu yang telah kau kecup selama pendidikan. Tiada guna Ilmu jika hanya membusuk didalam kepala, berbagilah...kelak disitulah gunanya kau berilmu.
DIk....Bersyukurlah karena kamu masih bisa membaca, masih punya waktu untuk mempersiapkan segalanya lebih matang.
Jangan seperti kami, sudah beranjak tua, ada banyak penyesalan yang membumbui pikiran kami.
Bangkitlah dik... SNMPTN hanya ombak kecil yang sudah terbiasa disaksikan nelayan di daerah pesisir. Jangan terlalu melebih-lebihkan.... karena kamu lebih dari sekedar calon mahasiswa baru.
kamu lihat pemimpin-pemimpin di negaramu ini ?
mereka dulu pernah mengalami masalah yang serupa, tapi terbukti semangat, usaha dan doa membuatnya berdiri berdampingan dengan Burung Garuda yang perkasa.
Perbanyaklah bersyukur karena yang paling merasa puas dengan hidup adalah yang paling banyak bersyukur.
Gagal yang sebenarnya adalah ketika kamu tidak lagi mampu menjadi lebih baik daripada dirimu yang kemarin.
MASIH ADA JALAN MENUJU MIMPIMU DIK...KALIAN BELUM GAGAL

VIEW OF LOVE

Cinta tidak pernah datang terlambat....
cinta ada dan datang lebih dahulu sebelum kita mengenal dunia. Jauh sebelum kita terlalu sombong dengan segala kepunyaan yang hanya sementara.
Cinta tidak akan datang terlambat
karena dia selalu datang lebih cepat sebelum kita tersadar
Cinta tidak hanya tentang manusia pada manusia
ada yang lebih private
cinta manusia pada Tuhannya, jangan sampai hilang dan tergantikan dengan kecintaan pada hal-hal semu yang menjerumuskan dalam penyesalan.
Cinta tak sebercanda itu, bukan ?
Istana Mahasiswa , 30 mei 2016

Cinta lawan jenis

Kita tidak pernah mengerti seluk beluk hati manusia. Kadang kita menghujani lawan jenis dengan cinta,perhatian,kejujuran dan pesona tapi dimuntahkannya juga dengan cara-caranya yang luar biasa. Karena begitulah hati manusia selalu di adu domba oleh waktu. Perihal siapapun yang akan datang lalu meninggalkanmu , ya tunggu saja, karena cinta akan bertamu dan berlalu pada waktunya.
Bahkan mereka yang sudah halalpun dapat terpisahkan oleh masa apalagi kita yang hanya pecundang ? berani mencinta tapi progresnnya hanya kata-kata dan janji manis belaka.
kalau cinta ya sudah, cintai saja, perihal kamu memilikinya atau tidak biarkan Tuhan yang melihat usaha dan doamu sebanyak apa.
Kadang cinta yang dipendam diam-diam lebih jelas tersampaikan daripada mengumbar-umbar hanya melanggar aturan-aturan Tuhan.

~cinta lawan jenis

Namrehus Suherman
Ngalam, 15 juni 2016

Rudi, maafkan aku yang dangkal toleransi !


Ini adalah Negeri beragama dengan tatakrama yang jadi wajah utama
Terakhir kali kudengar fenomena pemerkosa-pemerkosa gila dimedia dan kini kudengar kembali fenomena gila ketetapan yang membuat rakyat terlunah-luntah
Bukan apanya Rudi, ini adalah bahasa toleransi
Agamaku rudi , cukup keras dalam menghakimi, agamamu rudi adalah pemilik hak mengeyangkan diri dibulan suci kami
Ada perjanjian yang sudah kita sepakati Rudi, lakumdiynukum walyadin ?
Kita sudah sama-sama memahami, ini bukanlah literasi dangkal arti
Tapi maafkan aku Rudi, tempat makanmu dijadikan bahan sitaan,
sebegitu sadiskah yang namanya penghormatan ? hingga tangisan wanita tua dibiarkan melucuti amal ibadahnya diterik siang ?
Lantas Rudi, bagaiamana kau menanggapi warung-warung besar yang ada disana-sini ? setujukah kau mereka turut di bantai ?
Jika hanya rakyat kecil saja yang wajib menghormati, maka apakah usaha rakyat besar adalah tempat ibadah sehingga tidak layak untuk di soroti?
Kita terlalu buas pada kucing kecil yang mencari ikan di daratan, sehingga kita lupa pada kucing-kucing besar yang sudah kekenyangan ikan
Kita punya 6 wajah keyakinan yang sudah kita sepakati secara bernegara.
Toleransi antar kita adalah toleransi yang jelas,tegas dan harus tertata.
Tapi jujur Rudi, aku tak berani menghakimi
siapapun Rudi, kenyanglah dengan sembunyi-sembunyi jangan mengudang selera para penerima mandat menghakimi tempatmu membeli sesuap nasi di bulan suci
mereka adalah pekerja-pekerja dibawah perintah,
yang salah adalah kita yang memilih untuk saling merendahkan,
melecehkan,
menjatuhkan,
tidak memberi penghargaan atas usaha keras yang sudah ia jalankan.
Yang salah adalah mereka yang tak adil pada kucing kecil dan memilih untuk memanjakan kucing besar yang kekenyangan.
Yang salah adalah mereka yang berani menampakkan diri dan menggugah selera para pekerja untuk menghakimi
Yang salah adalah mereka yang katanya mengerti, malah ikut-ikutan mengumbar benci dan emosi
Jadi ?
Kita sama-sama salah bukan , rudi ?
Mari kita memaknai toleransi dengan sabar bukan dengan caci-mencaci
Mari kita kembali tenang, abaikan ini,
Bulan suci ini terus berjalan tanpa henti, sia-sia sekali jika hanya di isi dengan mengunggah amarah dimedia,
Cukup, sampai disini saja… mari berpuasa dengan bahagia

Lowokwaru 13 Juni 2016.
Namrehus Suherman

ORGANISASI BAGI SAYA ADALAH SOAL LOYALITAS

Terkadang saya bertanya, kenapasih harus loyal pada organisasi ?yang nyatanya berorganisasi itu kebanyakan harus mengorbankan kepentingan pribadi dan mengedepankan kepentingan anggota organisasi atau lebih tepatnya turut serta dalam mewujudkan visi-misi organisasi tersebut. Tapi sejauh ini saya melihat bahwa kata "loyal" ini tidak boleh di anggap main-main. Bagi saya Loyalitas adalah hal utama yang saya tawarkan dalam mengikuti suatu Organisasi. Dari loyalitas itulah kemudian memupuk diri untuk bekerja secara total. Karena berkompeten dan Hebat saja tidak cukup, ya... sekadar loyalpun juga tak cukup. Jadi memang dalam berorganisasi itu harus ada keseimbangan antara loyalitas dan kompetensi seseorang. Dan yang terpenting itu berorganisasi haruslah bertuhan, Jika mengesampingkan seluruh apa yang di atur oleh-Nya maka kita tak lebih dari sekumpulan orang idealis yang akan jadi pemberontak di masa yang akan datang. Yap, jangan pernah melepaskan Tuhan dalam seluruh aktifitasmu, intinya disitu. Karena dengan begitu kita akan berorganisasi dengan damai, membangun silaturahim, sebagaimana yang di peritahkan oleh-nya. Tapi jangan sekali-kali mengaku Bertuhan kalau masih suka mengatas namakan organisasi untuk merusak sekitar. Mengatas namakan organisasi untuk kepentingan perorangan, mengatas namakan organisasi untuk menciptakan keburukan. Jangan sampai kita menunggangi organisasi untuk kita jadikan pemuas hasrat pribadi.
kembali lagi ke loyalitas, yap itu penting sebagai salah satu indikator kamu mencintai organisasi dengan sungguh. "salah satu"
sederhananya seperti ini :
Jika kamu mencintainya (organisasi) maka berjuanglah untuknya
Jika kamu mencintainya (organisasi) maka luangkanlah waktu untuknya
Jika kamu mencintainya (organisasi) maka berjalan bersama orang-orang didalamnya
Jika kamu mencintainya (organisasi) maka berdoalah untuknya
Jika kamu mencintainya (organisasi) maka jadilah orang yang paling pertama marah saat orang-orang menghujatnya
Jika kamu benar-benar mencintainya maka buktikanlah, jangan hanya pasang nama dan memenuhi lembar biodata saja.
Beroganisasi tak sebercanda itu.
~celoteh belaka
Kosan, 17 Juni 2016

Kamis, 16 Juni 2016

Sajak Wanita Hebat


Permisi, izinkan kuperkenalkan sesosok bidadari ramah
yang datang dari perkenalan singkat yang lalu
masaku tejatuh, tersungkur, tersingkir dari harapan palsu

dia datang dengan sayap putih dipundak, yang kebaikannya mengalir
menarikku dari Jurang kegelapan takdir

Aku pernah jatuh dalam liang perpisahan, tapi dia megajarkanku tentang kebangkitan
dia meyelamatkanku dari yang benar-benar rapuh menjadi kembali tangguh
wanita ini selalu kuat, mimpi-mimpinya selalu membuatku terperanjak
ketegarannya adalah pemicu kagumku menjadi tak terbatas

sesekali kuteringat pada malam-malam dia memberi nasihat
padaku yang dulu sedang tak sehat,
dia kini  telah menjadi sosok yang lebih kuat
yang dipundaknya terbebani oleh harapan-harapan yang mengikat
ya...mimpinya begitu hebat


Aku hanyalah pengagum yang tak terlihat
yang menampung segala rasa dalam kehendak asa
mendoakannya menemukan arjuna ditempatnya berdiri disana
dimanapun dia berada


pada lekukan-lekukan waktu yang telah lalu, aku bersaksi
wanita ini adalah bidadari tangguh,
yang tak kenal kata mengeluh
dia pantas menjadi pemilik atas mimpi-mimpinya yang berpuluh-puluh itu

Semoga sang bidadari tetap jadi inspirasi,
dimanapun ia berdiri
dia adalah wanita yang layak untuk di cari-cari

Sajak untuk sahabatku, Nina herlina 
Lowokwaru, 13 Juni 2016

Rabu, 15 Juni 2016

DEAR PERANTAU !



Tulisan ini saya dedikasikan untuk rekan-rekan saya perantau di seluruh Indonesia. Ini adalah curhatan saya lebih tepatnya. :D

Tentu sering terlintas dalam benak kita tentang kerinduan pada rumah yang nyaman dan senyum lembut orang tua yang bikin kangen. Bahkan tidak bisa saya pungkiri perasaan seperti itu datang setiap hari dan sudah menjadi bagian dari kelengkapan hari.

Saya ingin bercerita tentang kisah nyata yang saya alami. Perantauan saya berawal ketika semua orang berespektasi sekolah di tempat favoritnya dan saya malah terbawa arus pada sekolah “pesantren” di Ibu Kota Sulawesi Selatan.

Saya adalah anak Desa yang lahir ditengah-tengah keluarga yang sederhana. Ayah saya bukanlah seorang yang berpenghasilan besar. Begitupun Ibu saya hanya sebagai Ibu rumah tangga. Usaha keluarga kami sejak dahulu adalah sebuah kios berukuran sedang yang menjual berbagai macam kebutuhan masyarakat di sekitar rumah. Kakek saya adalah petani yang juga peternak Ayam serta beberapa ekor sapi. Saya tumbuh ditengah-tengah lingkugan yang sederhana dan masyarakat yang masih asing dengan “gilanya” Kota.
Keluarga saya adalah keluarga yang cukup keras dalam memabahas pendidikan. Bahkan sebelum saya lulus SD saja sudah diancam untuk disekolahkan jauh-jauh dari rumah demi menjadikan saya sosok yang berkembang. Hal itu terbukti ketika saya lulus SD saya dikirimkan ke Kota Makassar untuk melanjutkan pendidikan disalah satu pesantren ternama. Itu terjadi pada tahun 2007 ketika umur saya masih 12 tahun, masih sangat dekat dengan kata “manja”. Hari itu saya ingat dengan jelas saya meninggalkan rumah di kampung dengan tangisan yang tidak biasa, anak sekecil saya waktu itu di biarkan merantau sendirian ke Kota tanpa di antar oleh ayah dan Ibu. Ibu saya ketika itu sengaja menjauh dan tersenyum, seolah-olah bahagia dengan ketiadaan saya dirumah, padahal saya tahu hatinya begitu teriris melihat kepergian anak pertamanya yang begitu iya manja dahulu.  Disitulah saya memulai kisa praduan mimpi di tanah rantau.

Terhitung sejak tahun 2007 hingga tahun 2013 saya menjadi santri di pesantren IMMIM Putra Makasar. 6 tahun (SMP-SMA) yang terasa singkat  dan menyisakan cerita yang berharga sepanjang masa. Betul-betul tidak terasa 6 tahun saya menjalaninya dengan tabah dengan ratusan kendala yang hampir saja menggugurkan perjuangan di medan juang kala itu. Diawal-awal SMP saya sering menangis karena tidak terbiasa berpisah dengan orang tua, tapi perlahan terbiasa juga dengan adanya ratusan teman yang membuat kerinduan menjadi samar. Sejak tahun 2007 hingga 2013  saya hanya pulang kampung saat libur Ramadhan dan Idul Adha saja. Perihnya perpisahan tersamarkan dengan hangatnya pertemanan tapi tdiak menggantikan kasih sayang yang selalu terngiang-ngiang sepanjang waktu.

2013 adalah akhir dari perjuangan di pesantren. Saat itu saya sudah merancang kiah-kisah menarik yang akan saya jalankan ketika menjadi Mahasiswa. Saat itu saya hanya berfikiran untuk kuliah di satu tempat saja yaitu disalah satu Kampus negeri ternama di Makassar yang tepat berada di belakang pesantren kami. Namun takdir menegaskan bahwa perantauan saya belum berakhir. Ketika Pengumuman SNMPTN tahun 2013 disitu mengatakan bahwa saya lulus di Universitas Brawijaya Malang. Antara senang dan sedih perantauan saya kini berjarak ribuan kilometer dari rumah. Perantaun saya semakin panjang dengan melintasi pulau, dan menjadi orang asing di tanah Jawa.
Kini saya berdiri di atas tahun 2016, sebentar lagi adalahtahun ke-10 perantuan saya yang di awali dengan angka 2007. 4 tahun terakhir ini saya mengalami masa-masa sedih yang tak kalah perihnya saat merantau di usia 12 tahun dulu. 4 tahun belakangan ini saya menjalani bulan suci “sendiri” menikmati tikaman-tikaman rindu di kamar kosan yang begitu menyayat hati.  Tapi ini bukanlah perkara yang kemudian membuat saya “berhenti bermimpi”, ini hanyalah bumbu yang membuat cerita ini semakin seksi. Ramadhan anak rantau selalu berwarna, walau jauh dari orang tua, kita masih bisa bahagia (manfaatkan teknologi). Akan ada banyak cerita menarik dari ramadhan kita yang sepi (kwkwkwkw, ketawa dikit ).

Terlambat atau tidak saya punya list-list mimpi yang harus terpenuhi. Terlambat atau tidak,  sukses itu ditentukan dari seberapa cepat kita berlari daripada berdiam diri, seberapa kuat kita berjuang dalam mengeskusi mimpi-mimpi, seberapa sering kita berdoa meminta ridho Allah SWT.

Berbahagialah kalian yang merantau karena sepi-sepi yang kita lewati adalah sepi-sepi yang meninggalkan arti. Bersyukurlah kalian yang belum merantau karena hari-harinya terlewati dengan banyak kesempatan untuk berbakti. Tapi ketahuilah merantau hanyalah tentang waktu, Karena pada waktunya yang belum merantau akan merantau juga, entah Karena apa dan kenapa.

Merantau layaknya inverstasi waktu.  Saya adalah investor yang bergabung sejak tahun 2007 dan kini sudah hampir 120 bulan saya mengumpulkan banyak deviden.

Saya sangatlah senang bisa berada disini. Pencapaian-pencapaian saya dalam hidup belum layak dijadikan insiprasi tapi setidaknya saya sangat senang dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun ini saya bisa jadi bagian dari banyak organisasi-organisasi hebat dan beberapa prestasi yang tercatat.

Saya adalah anak desa yang lahir dari keluarga sederhana ternyata bisa juga jadi bagian dari organisasi-organiiasi hebat Intra maupun ekstra kampus, organisasi kepemudaan, sosial, seni dan sebagainya. Ternyata seorang pemuda Desa bisa juga menguukir prestasi di tanah perantauannya. Saya merasa sangat senang bsia jadi bagian dari jutaan pemimpi di Indonesia. Karena Indonesia ini selalu layak untuk diperjuangkan bersama-sama, karena seorang diri saja tidak cukup untuk membuatnya (Indonesia) bahagia. Indonesia tidak perlu khawatir dengan generasi yang akan datang, karena akan ada pemuda daerah dan perantau-perantau dari segala penjuru siap membangun dan berkolaborasi bersama-sama dalam mempertahankan “kehormatan bangsa”.


Well~~ perantauan adalah salah satu cara saya kabur dari ketidaktahuan, agar bisa tumbuh di tanah seberang dan semoga kelak menjadi tokoh yang layak untuk diperbincangkan.
Bermimpilah setinggi langit kalaupun harus jatuh mentok-mentok tersangkut di awan atau di atas puncak tertinggi dunia, asalkan kita tidak jatuh di atas tanah, asal kita tidak jatuh pada jurang-jurang kelam kegagalan.
 Orang gagal adalah mereka yang tidak mau berjuang !!!

Perantaun saya yang pertama 2007-2013 berjarak 200 KM dari kampung halaman (lintas Kota)
Perantaun saya yang kedua dimulai tahun 2013 hingga kini (2016) berjarakn ribuan kilometre dan masih berjalan (Lintas proifinsi)
Dan saya yakin kedepannya masih akan ada perantauan lagi yang lebih besar,lebih jauh, lebih menikam dari perntuan sebelumnya. Mungkin saja lintas negara ? Amiiin
Kita lihat saja bagaimana takdir ini bercerita.

Semangat yaa para perantau, kisah-kisah kalian pasti lebih luar biasa,pencapaian-pencapaian kalian pasti sangat “gila”, janganlah jadi generasi muda yang menyebalkan dan pemalas, tetap tenang mari kita sama-sama membangun negeri, ya minimal kelak mengabdi di Tanah Kelahiran ^_^

Anak rantau bukanlah ancaman di tanah seberang tapi bisa jadi mereka adalah lawan yang mencurigakan :D


#Celoteh Namrehus Suherman

Istana mahasiswa, 12 Juni 2016 

SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...