Rabu, 30 Desember 2015

RINDU ADALAH LAMPAU (1-11)



Rindu adalah kau (1)
liga pertama dalam musim cinta yang tak kunjung tersampaikan lewat kata, hingga akhirnya meleburlah dalam penjara asa
rindu adalah kau (2)
primadona dari media biru yang menangisi akhir yang tak kunjung kau mengerti
rindu adalah kau (3)
primadona terpelajar, pemilik senyum termanis dikala itu
rindu adalah kau (4)
gadis dengan keyakinan berbeda yang meremukkan dinding-dinding kepercayaanku sejenak
rindu adalah kau (5)
gadis kecil manja milik putra dewata
rindu adalah kau (6)
rasa percaya diri yang menjunjung keperihan hati
rindu adalah kau (7)
gadis terdekat yang menyisipkan rasa kagum melalui salam-salam genit siang
rindu adalah kau (8)
yang terdekat yang pernah kujangkau dan yang tertinggalkan waktu
rindu adalah kau (9)
bidadari media biru pecinta puisi-puisi lamaku
rindu adalah kau (10)
penemuan dalam media biru baruku
rindu adalah kau (11)
keanggungan yang melekat ditaman Desa, malam itu
rindu adalah kalian masa-masa yang sudah terlanjur lampau ,
kepada rindu kalian tetap menjadi tahanan dalam diri, dalam ingatan, dalam imajinasi, dalam dimensi sepi
kepada risau, kalian tetap saja sering mengisi lembar-lembar teori perbandingan rasa
semoga senantiasa sehat, menjadi masa lampau yang menguatkan masa depan
seseorang yang bernama “aku”
adalah selembar kisah pengisi masa mudamu.


Lowokwaru, Putra Ma’had / 11 Desember 2015

Selasa, 06 Oktober 2015

KEMARAU 2012


Kemarau 2012
mengingatkan sebuah cerita romantis
dramatis dan berakhir tragis
kemarau 2012
mengingatkan sebuah cerita cinta
bumbu setia berujung luka
kemarau 2012
mengingatkan sebuah bahagia
arjuna menemukan cinta dan melepasnya jua

akhir cerita doa tak terjamah
harap tak sampai
luka terurai ,
mimpi setinggi langit,
runtuh dalam hitungan menit,
Mei , Awal kemarau 2014
cerita lama terlepas, dan hati terbebas
Mei, akhir dari sesuatu yang lalu
dan awal untuk sesuatu yang baru
dan aku tetaplah aku,
dan sepotong hatiku
dan deretan mimpiku

21 Agustus 2014 , Tengah Malam Ngalam

Minggu, 20 September 2015

Kisah diatas kursi



Pada titik ini ,
Aku mulai enggan tuk berlalu
Sedikit saja kursi ini bergerak
Maka mendung di balik mataku akan jadi hujan deras

Tak peduli usia yang menua
Cinta dan loyalitasku tetaplah milik orang tua
Aku belum bisa mandiri secara utuh, sebagaimana mereka mendidikku
Karena otakku, semakin hendak berlalu, semakin mengingat yang telah lalu

Diatas kursi cokelat ini aku ratapi detik-dedtik nafas berhembus
Esok atau lusa aku akan kembali manatap dinding kamar kos yang sepi
Tanpa cinta kasih yang begitu dekat, tanpa pelukan ibu tiap fajar menjemput malam
Dan mengantarkan siang kepelabuhan senja


05 September 5, 2015 pising

Rabu, 16 September 2015

LOMBA NASKAH NET TV BINTAG DI CULIK



“sebuah drama diperlukan untuk membuat suatu hubungan berwarna dan makin bermakna”
Bintang baru saja menonton drama Korea di rumah Angel ketika para suami sedang keluar rumah. Tersirat dalam benak Bintang untuk membuat drama seperti cerita Film Korea yang ditontonnya barusan. Akhirnya dibuatlah ide khusus untuk mengerjai Bastian. Angel pun mengajak Bintang ke rumah salah seorang temannya masa SMA dulu dan meninggalkan beberapa catatan penting, agar terkesan seperti Bintang diculik.
Sementara itu dirumah, Bastian baru saja tiba. Terkaget-kagert melihat pintu rumah terbuka, dan kondisi rumah berantakan. Sembari menyimpan rasa penasaran berteriak memanggil Bintang. Namun tidak ada tanda kalau Bintang berada dirumah. Bastian melihat secarik kertas di atas meja. Bastian kaget bukan kepayang segera ia berlari kerumah sebelah dengan panik. Terengah-engah memberitahukan kepada Adi yang tengah terduduk lesu disofa, nasibnya sedang sial, Angel sedang tidak dirumah dan tak sepiringpun hidangan tersedia dimeja makan. Dengan panik Bastian membawa Adi ikut kerumahnya kemudian menceritakan dengan detil kejadian beserta barang bukti yang ada.
Bintang sedang asyik bernyayi dengan aplikasi karaoke milik teman angel. Angel segera mengingatkan Bintang untuk menghubungi Bastian dengan nomor baru (sebagai penculik). Benar rupanya ekspresi Bastian saat menerima pesan itu kaget bukan kepayang. Sudah hampir putus asa, hendak menghubungi polisi namun ancaman disitu sangat jelas mengatakan “jangan hubungi polisi kalau mau istrimu selamat”,.  Bastian merasa sangat terpukul dengan kejadian ini. Dalam benaknya mulai berangan, kenangan yang dilaluinya bersama Bintang. Adi turut prihatin dengan kondisi Bastian yang sedang terpuruk. Adi coba menghubungi Angel dan memintanya untuk segera pulang.

Pada malam hari angel dan Bintang kembali kerumah. Begitu memasuki pintu rumah hal pertama yang terlihat adalah Bastian dan Adi tengah tertidur lelap serta bekas Tissue berceceran dilantai. Begitu dibangunkan Adi dan Bastian serentak kaget, dan memeluk istri masing-masing. Berkat bekerjasama dengan Angel semuanya berjalan lancar. Dengan kejadian ini, Bintang dapat melihat cinta yang nyata, seperti Drama Korea yang ditontonnya bersama Angel.

Minggu, 30 Agustus 2015

Generasi Kodok perokok




Ayam berkokok,
pertanda bumi masih sehat, belum waktunya hari akhir melesat
Ayam berkokok,
pertanda kesempatan yang kesekian kali tiba, belum waktunya nafas berangkat
Ayam berkokok,
pertanda celakalah bagi hamba yang menipu dirinya dan mengelabui Tuhannya
Ayam berkokok,
pertanda, berhentilah merokok wahai borokokok
tubuhmu masih sekecil kodok tapi katamu kau dan nikotin itu sudah saling cocok
Ayam berkokok,
pertanda janganlah jadi generasi bobrok,
pulanglah kerumah, Ibumu menyuruhmu Bobok

Bocco-Boccoe 30 Agustus 2015
Namrehus (Putra Ma'had)

Minggu, 23 Agustus 2015

SALAH VERSUS BENAR


Kala suara usil mulai menutup fakta
berkuasalah para pendusta
Kriminalitas merajalela
kebenaran hanya minoritas sahaja
Apa kita hanya diam dan menikmati seruput kopi, lalu bersantai di meja kerja?


Kala benar salah tak jadi problema
sing salah bergelar juara
sing benar masuk penjara
Apa kita hanya diam menatap hukum terintimidasi pendusta?

Kala bibir usil mulai berbicara
Bibir benar tak berkutik
maka salah jadi juara
benar masuk penjara
Tegakah kita melihat hukum di cumbui dusta ?

Ayolah....
pemuda, orang tua, saudara sebangsa....
diam kita tak jadi jawabnya
mulut usil seharusnya punah
pendusta-pendusta waktuya musnah

Tinggal kita para pendekar bangsa
maukah anda bersatu membasmi sampah ?
atau pilih diam, kalah...
biar salah jadi si juara


23 Juni 2014 pukul 18:51
MT Haryono 23'06'14

 

 



Kamis, 20 Agustus 2015

PENCURI MOTOR


Kalang kabut si pencuri motor 
sayup-sayup mendengar sirine
terbirit-birit sudah bagai buruan singa
jatuh menabrak si pencabut nyawa
si pencuri tergilas bus kota
tewas menganaskan
mati dalam kekonyolan

Sirine tiba,
penjual es kelapa muda turun dari sepedanya,
kaget bukan kepayang,
mayat pemuda bersimbah darah

sedang bus kota melaju bebas tanpa dosa

Rabu, 12 Agustus 2015

YANG KUCARI, MEREKA BELUM MENGERTI


Indonesia adalah Negeri yang penuh dengan segalanya
Indonesia mengajarkanku menjadi bagian terpenting dalam pilar bangsa
Pemuda,orang tua,remaja, anak-anak bagiku sama saja
Selama nafas masih di kandung badan, sudah wajib bagi kita untuk berjuang
menumpas tirani dan ketidak adilan para kaum teratas, kaum yang memiliki sihir di telunjuk dan suara halusnya
Indonesia merdeka sudah lebih dari setengah abad yang lalu
Semua yang kau cari, kini ada disini, harta melimpah, teknologi menggila, produksi sudah banyak jenisnya
Perilaku-perilaku pribumi juga sudah tak usah di Tanya, globalisasi menuntut mereka untuk profesional , bahkan untuk menghancurkan sesama.

Namun apa yang kucari belum jua kutemukan
Aku pemuda yang lahir di Era 90-an, sampai sekarang, belum ada alasan bagiku untuk tetap tenang , berbangga hati, berdiam diri
Karena yang kucari di Negeri ini masih belum dimengerti rakyat sendiri
Adanya perbedaan selalu membuat kami menumpahkan darah,mengangkat senjata, membunuh saudara
Kami terlalu bangga dengan adat, agama,suku serta bahasa, hingga kami menghujat sesama
Aku ingin merdeka dengan utuh, dengan persatuan yang kukuh,
Bukan merdeka dengan menggerutu, menghujat para penguasa itu
Aku ingin merdeka dengan makna “Bhineka Tunggal Ika” menjadi hukum bersama
Itulah yang kucari, aku tak butuh harta,jabatan serta banyak wanita
Cukup kubanggakan Ibu pertiwi , aku sudah merasa merdeka dengan sempurna.

Lowokwaru, 12 Agustus 2015

Kamis, 06 Agustus 2015

PELUK RINDU RAMADHAN LALU


Terdudukku bermenung didepan layar kebanggaan
ada kisah terkenang dalam khayalan
tentang Ramadhan lalu yang begitu nikmat
bersama dengan para kerabat

Kala sahur tiba, Ayah ibu terduduk manis dimeja santap 
sedang si Adik usil merebut sepiring gorengan ayam
lekak tawa masih terkenang, hari itu sungguh tak terlupakan
dikala bebruka disambutku dengan semangkuk es buah buatan Ibu tercinta
selepas taraweh disambut dengan kue kelapa

Ramadhan kali ini aku rasa sendiri
sahur dengan sepotong roti
buka dengan sebungkus Indomie rasa ayam kari
apa aku rasa ?
hampa ....

Sedih biarlah kutepis
dalam gulita ini aku sampaikan senandung 
peluk rindu Ramadhan lalu,
untukmu Ibuku
untukmu Ayahku
Untukmu adikku, lekaslah tumbuh


07 Juli 2014 Suherman "putra ma'had"

 


 

Rabu, 29 Juli 2015

CATATAN 29 Juli tentang Probabilitas


Hari ini aku belajar Probabilitas. Dimana ketika defenisi yang kutangkap adalah masa lalu tidak akan pernah kembali dan hari ini yang akan menentukan masa depan. Iya, secara kebetulan pada hari ini adalah hari yang memiliki cerita klasik yang dulu selalu kunomor satukan. Bagaimana bisa ada kata kebetulan di dunia ini ?. Aku tidak pernah percaya dengan kata kebetulan, karena sejatinya setiap tindakan dan hasil yang keluar adalah takdir yang sudah di gariskan. Aku mempelajari Probabilitas sejak lama tapi entah  mengapa baru saat mengikuti semester luar biasa aku menangkap pesan yang bermakna. Dalam teorinya probabilitas dalam angka adalah 0-1 , tidak akan lebih dan tidak akan pernah berkurang. Kemungkinan yang akan terjadi hanya ada pasti atau tidak akan terjadi sema sekali. Aku tidak akan mengulang lagi cerita manis atau pahit yang mengisahkan tentang aku di masa lalu. Aku baru saja membuat teori dan merumuskannya hari ini, hasil yang kutemukan adalah Probabilitas untuk mengembalikan seseorang yang teramat berharga bagiku (dulu) adalah 0,0000000000000000001 , sedikit saja bisa di katakan tidak akan pernah ada kemungkinan untuk mengembalikan yang sudah terbuang olehku. Ini adalah kejadian yang bersifat mutually exclusive atau dalam statistika kejadian saling lepas yaitu ketika suatu peristiwa terjadi maka tidak akan mengakibatkan peristiwa yang lain terjadi lagi. ya ya ya, aku megerti. Peristiwa saat itu di bulan lima adalah suatu kegiatan yang bersifat mutually exclusive yang tidak akan mengakibatkan kegiatan lain terjadi, bahkan di masa yang akan datang. Karena saat itu adalah perpisahan yang berakibat pada hilangnya kesadaran selama berbulan-bulan. Apakah masih ada kemungkinan untuk mengembalikan sesuatu yang hilang itu ? TIDAK. Sekali hati menjauh maka tidak akan ada jalan lagi bagi cinta untuk pulang. Ada masa dimana aku harus tunduk dalam sebuah rasa takut yang aku ciptakan sendiri. Tentang angka 29 yang selalu di nanti-nanti biarlah menjadi bagian dari pelajaran. AKu di ajarkan tentang Probabilitas. Untuk apa mempertanyakan yang telah berlalu, bahkan jikapun menangis tidak akan pernah Tuhan memutar waktu. Penyesalan seharusnya tidak pernah ada meskipun terkadang mengusik fikiran. Hanya ada satu cara untukku mengerti dengan kehidupan. Aku Akan selalu melihat kedepan pada tujuan apa yang ingin kuraih.  Aku akan selalu menengok kesamping, karena ada orang-orang yang selalu memberiku asupan semangat untuk terus mempertahankan hidup yang berarti ini. Aku tidak akan mau berbalik ke Belakang, disanalah bayang-bayang hitam selalu megejarku dan tidak membiarkanku menjadi hati yang utuh seperti dulu. Aku akan mendistribusikan semua semangatku untuk berjuang, bahwa hidup ini adalah sebuah anugrah terindah dari Tuhan. Kita di beri 1 hati untuk mencitai milyaran manusia di Bumi ini, karena Tuhan menciptakan kita untuk saling berbagi. Ini adalah Catatan 29 Juli. Aku berjanji tidak akan ada lagi angka yang istimewa setelah ini. Tanggal 1-31 adalah sebuah warisan yang harus di syukuri, karena yang istimewa adalah kesempatan yang selalu Tuhan berikan untuk berbenah dari kesalahan, dan bangkit dari keterpurukan. Ini adalah catatan 29 Juli, dan setelah ini catatanku adalah Bulan Januari Hingga Desember dan tiada satupun yang terlewatkan tanpa keistimewaan.

Ingat, 0,0000000000000000001 adalah kemungkinan yang akan terjadi, dan kalaupun itu terjadi, pasti saat itu aku sudah memutuskan untuk berhenti menunggu, karena milyaran manusia di Bumi pasti ada satu yang juga menungguku untuk menjadi suatu bagian yang utuh.




Namrehus 29-31 Juli 2015

Kamis, 09 Juli 2015

Suatu sore di Kodam (agak gimana gitu?)


Sore ini 09 Juni 2015 menjadikan beban di kepalaku menurun drastis. Setelah seharian aku menghindari kata "tidur" demi mengerjakan tugas-tugas statistika semester istimewa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas brawijaya, akhirnya aku menemukan udara yang segar. Islamic Fashion Show yang sudah berlangsung sejak tanggal 7 kemarin menjadi destinasi kunjungan soreku bersama dengan seorang rekan yang berasal dari daerah Timur Indonesia yaitu Ambon. Begitulah, pada awalnya semua berjalan dengan normal. Kami menelusuri stan demi stan yang menawarkan berbagai macam produk pakaian Islami, dengan beragam harga serta kualitas yang juga berbeda. Masih tersisa sedikit rasa jenuh sejak pagi tadi menghadapi Ujian Tengah Semester Istimewa yangjuga mewajibkan pengumpulan tugas karya tulis tangan sebanyak 23 Halaman Folio bergaris. Bekas-bekas memar di tangan kananku menjadi saksi bahwa benar semalaman aku lembur demi mengerjakan tugas yang spesial itu. Sembari menelusuri area Islamic Fashion SHow dengan pandangan, aku hanya berdiri di luar salah satu stan pakaian sembari menunggu kawanku memilah pakaian yang di carinya. Dari kejauhan namun nampak jelas mendekat kearahku serombongan keluarga sedang berjalan pelan, dan sesekali menengok kekanan lalu kekiri. "Subhanallah", tiada kata yang pantas ku lantunkan selain memuji Kuasa Allah SWT. Seorang diantara rombongan tersebut di mataku bagaikan bidadari syurga dengan balutan hijab biru muda melingkari kepalanya, pakaian syar'i putih bersih dipadukan dengan warna abu-abu tua. Sekilas namun nampak jelas keanggungan seorang hamba yang sedang berada di sisi kedua orang tuanya. Seketika suasana menjadi hening, seakan bisingnya suara tawar- menawar di sekelilingku redup dan beralih pada pemandu rasa yang tiba-tiba saja datang menjelma nyata. Sedikit saja dia tersenyum aku pasti akan menjadi canggung di tengah kerumunan pengunjung yang sedang terhalang oleh keberadaanku menghalangi jalan. "skak", aku tidak mampu bersuara sepatah dua kata, syair-syair romantis yang biasanya akan keluar dari mulutku nampaknya juga ikut lupa, sambil malu-malu aku membuang pandanganku sebelum itu menjadi dosa dan memakruhkan puasa yang suci ini. Banyak orang berkata pertemuan pertama adalah kebetulan sedang kedua ketiga adalah tanda bahwa memang pertemuan itu sebuah hal yang sudah di takdirkan. Dengan tegas aku menolak. Tidak ada pertemuan pertama yang terjadi hari ini. Aku hanya menemukan sebuah keberuntungan yang indah. Keberuntungan yang menyisakan sedikit ruang untuk merindukan dan membuahkan banyak pertanyaan dalam kepala. Keberuntungan yang hanya aku dan kawanku si Ambon (maaf bukan rasis ) yang megalami. Tepatnya ini bukanlah pertemuan, ini hanyalah sebuah penemuan antara aku dan kawanku yang menjadi penemu dan objeknya sendiri tidak pernah mengerti kalau dia adalah penemuan yang luar biasa sore tadi. Ini adalah sedikit cerita tentang bagaimana rasa datang begitu saja. Bagai angin berlalu, menitipkan sedikit kesejukannya. Saat Allah memberikan mata, dan mata berhak melihat pada objek apa saja yang di kehendakinya, disitulah kawan, letak masalah berat yang harus di hadapi. Bagaimana mata suci ini kita arahkan untuk melihat hal-hal yang diperbolehkan oleh Allah SWT. Adapun pada sore tadi mataku tertuntun untuk melihat sebuah maha karya Allah SWT dalam bentuk wanita yang InsyaAllah Sholehah. Wanita berhijab Biru, yang mengekor pada Ibunya yang ramah, serta Ayahnya yang berkopiah cokelat muda. Ini adalah sebuah keberuntungan yang menyisakan sedikit kerinduan dan menumbuhkan rasa penasaran. Pada pertemuan berikutnya, dimanapun berada, jika memang itu akan terjadi maka izinkan aku ataukah kawan Ambonku menjadi bagian dari takdir yang indah, pemilik ke Anggungan wanita berhijab syar'i sore tadi. Jikapun Keberuntungan tadi hanya berlaku untuk hari ini, maka pertemukanlah kami dengan wanita berhijab, lagi sholehah di kesempatan mendatang. Sedikit gombalan yang aku buat bersama kawan baikku " Jerawat tipis wanita berhijab tadi, dengan pasti menambah keanggungan dan kecantikan miliknya". Pasca kejadian sore tadi, kejenuhan di kepala mengalami penguragan drastis, seakan menjadi saksi bahwa hati(ku) hari ini dalam kondisi prima dan berbunga :D . Terimakasih untuk keberuntungan hari ini, Allahu Akbar. Jagalah Pandangan dan hati kami dari segala hal yang akan menjerumuskan kami dalam dosa.

Sedikit saja aku ingin berkata,
Kecantikan itu milik setiap wanita yang pandai menjaga privasinya, menutup auratnya dan menjaga perilakunya ;)

Salam kenal untuk gadis Berhijab Biru  semoga kau menemukan pria yang mampu menjagamu dalam kehidupan dunia dan menuntunmu menuju AKhirat di jalan Allah SWT. Tak peduli siapa namamu, dimana rumahmu dan berapa umurmu. Aku hanya mengingat bahwa hari ini Allah mengizinkanku untuk melihatmu sekali di acara Islamic Fashion Showyang akan berakhir tanggal 14 Agustus  di Aula Kodam Malang.  Tak usah aku merencanakan hari esok untuk menemukanmu, ada atau tidaknya dirimu, aku percaya akan ada banyak wanita sepertimu, semoga senantiasa konsisten dalam berpakaian dan semoga senantiasa menjadi cerminan ciri wanita yang di idamkan kaum adam  :)



#CERITA 90 NON FIKSI 10%FIKSI

Jumat, 03 Juli 2015

MALAM BIMBANG

Malam...
Temaram
kelam
menyelam
lekang
mengenang
terang memudar
jam malam datang
Cinderella Pulang
sepatu hilang
pangeran terheran
belianya hilang

Malam
kukenang
pulau seberang
makian
kesal
berulang
fatal
siksaan
kefanaan
belaian tangan
cinta yang hilang

Malam...
semua terekam, lalu kulepas
sisa diangan , aku kini sampaikan
selamat jalan lembar kesalahan


Malam yang bimbang 25/06/14

Jumat, 08 Mei 2015

DUNIA DALAM NON FIKSI


Semilir angin menerpa wajahmu Pribumi
Sejuta fiksi akan kau dapati hari ini
tak sepadan dengan yang di janji dan yang kau dapati
itulah fiksi, tak sesuai realiti

Sedang yang bukan fiksi adalah janji-janji seribu pintu
nyatanya tak selalu berpihak padamu
bukankah sudah terlalu banyak janji yang kau makan kemarin ?
sedang kau petik hanya secuil dari sekian dusta yang bersulam imaji

Pilu bangsaku....
krisis kejujuran sudah melandamu
fakir akhlak para petinggi
tambah lagi fakir-fakir pekerjaan yang menghiasi
tiada solusi dari penguasa negeri
itulah dunia dalam non fiksi
sentosa hanyalah fiksi, hanya sebatas ilusi
tak pernah jadi-jadi

Malang dua puluh enam 06 2014
Suherman

 





Rabu, 25 Maret 2015

Kembali




Aku hadir kembali dengan bara api
Yang tak tersentuh oleh tanganmu
Bahkan saat kau melihatku , bara hanya bersembunyi di balik hati

Mulai berasap kepalaku , memerah sekujur tubuh
Terpicu saat datang terik siang
Membakar dingin malam
Terlepas , menghantam langit-langit anganku

Bara yang lama mati tersiram amarah, dengki
Terkubur tanah-tanah emosi
Tergenang danau ambisi yang mati
Malas, si raja mematikan hati
Tak kusangka kau lagi-lagi berhasil mengelabui

Hadirku kembali bersama bara
Adalah perang besar melawan amarah
Tantangan duel bagi Malas yang adi kuasa
Cemohan bagi kau “lawan”  yang merasa faham akan segalanya





06 janurari 2015

Jumat, 20 Maret 2015

MATEMATIKA DEKAKA


Matematika...
sekumpulan  angka berdansa mesra
di lembar catatan mahasiswa
cerdas jika suka
tapi aku ?
mata bak kelilipan meliriknya

Matematika....
andai kau sastra , aku akan cinta
tapi kau angka , aku tak suka
rumusmu menggila, buat penuh isi kepala

Statistika....
matematika.....
ekonometrika....?dekaka
sama saja, saudara seia sekata, serumus pula
angka genit berkedip mata
bak berdansa dipapan dansa

Mahasiswa pulas dalam tidurnya
tenggorok kering, dosen berpaling
spidol melayang, kepala kena
mahasiswa bangun bertanya, polos wajahnya
ada apa?...

oh ada angka rupanya

semua tertawa, dosen diam, wajah geram
semua diam, dosen pulang, angka terbahak

angka genit melirik mahasiswa,
tidurlah saja, aku ingin tetap berdansa
dosenmu?
ya sudahlah, amnesia sahaja


Sepanjang jalan cerita Ngalam FEB'14 


MENGENANG PACET

Ketika malam itu aku terbangun,
Tahajudku dalam auditorium,
tangiskan syukur yang selalu lupa kuucap saat Tuhan memberiku nafas
Aku malam itu, begitu tenang, damai
telah kusampaikan ceritaku pada seorang amir,
dengan wajah teduh dia mendengarkan ,
kisah yang tak pernah ingin aku rasakan,
tentang Sebuah penyesalan dan kekhilafan masa lalu

Pacet,
udara dingin malam memelukku dalam getir
Bulan diatas sana tersenyum padaku
selepas tahajud kurenungkan dosaku,
Syukurku yang terlupa,
benih-benih dosa yang menumbuh menjadi beban dalam fikirku
Dan kini sudah itu berlalu



Aku teringat pada pelukan lembut pagi Pacet
Panorama hijau , membentang berupa sawah dan pepohonan rindang
Sejuk air menyentuh kulit tipisku
Sapaan embun pagi yang ramah
Senyum-senyum manusia yang menggetarkan jiwa
Para pemuda yang ramah, sinar kepedulian nampak dari matanya



Telusuri bersama jalanan menanjak mencari jejak-jejak rintangan
Pagi selepas senam, bersama cinta dan rasa cemburu yang berputar-putar dalam angan
Keindahan-Mu Tuhan buatku merasa bukan siapa-siapa bagi alam

Dan pacet,
aku sisakan kenangan jejak kakiku, dan rasaku yang kuceritakan malam itu ,
Pada pelukan malam,
tatapan mesra rembulan
Dan sungai,
kau saksikan aku tertawa lepas ,
sedang kaki terkelupas cadas
Tawa mereka kawan-kawanku buat luka terasa sedap

Andai bisa terulang, sekali lagi ingin kurasakan
Kebersamaan  itu, dan pelukan pagi Pacet
Terkenang dalam memori
Sapaan embun pagi, ketika mata terbuka
Segelas teh hangat dan sebungkus biscuit bekas semalam, kusantap depan villa,
bersama kawan
Iringan canda, melepas dinginnya pagi
menyambut mentari tawarkan hangat

Dan sudah berlalu hari itu
2 hari yang lalu masih terbayang indahmu
Karunia-Mu Tuhanku
Gunung-Mu, Pemandangan-Mu
Pacet-Mu, Mojokerto-Mu


Malang, 14 Agustus 2014
Mengenang Pacet,Mojokerto 9-10 Agustus 2014




ENTAH...

Entah…
Kepala serasa ada dua
Beban dikali dua
Resah dikali dua
Apa-apa dikali dua

Entah…
Pikiran serasa  amburadul
Ini itu jadi kesal
Apa-apa jadi Bengal

Entah…
Aku  lengah, mungkin terlalu lelah
Menatap  langkah yang selalu salah
Dimataku ?

Aku seperti butiran debu terbang tak menentu arah membawa beban-beban yang meradang
entahlah...
aku biarkan saja

Rabu, 21 Januari 2015

SUARA BISING DAN BIBIR HITAM


Suara bising diluar 
Tidakkah ada sedikit peka
ketika tempat kau mengumpul bekal menjadi panggung berasap tebal
pemilik bibir-bibir hitam itu tetap saja mengumandangkan nada saat Muadzin memanggil serak
ACUH.... seperti tak berteliga

tidakkah ada sedikit resah,
saat nada-nada indah itu menjadi kebisingan 
alam yang damai, menjadi keributan
hendak kututup telingaku namun suara bising itu merambat dibalik celah pintu
dan lagi aku tak berdaya

Ini bagaikan pasar
didepan rumah aspirasi ini nada indah dan bising berkawan dengan pemakan asap 
bila kau tak kuasa merubah dengan tangan
pakailah mulut dengan menegur ramah
jika saja masih belum bisa, cukup nurani berkata itu salah...

kawan-kawan pemusik berbibir hitam dan selipan tuhan 9 cm di sela telunjuknya
semoga Ilham datang, membuatmu menjadi Pendakwah agama

2015,01,21 PM


Kamis, 08 Januari 2015

HUKUMKU DIMALAM HARI


Ini dia fenomena hukumku di malam hari
Aparatku berjaga sedang pengendara menyeringai
Lampu merah menyala, pengendara tancap gas
Aparatku lengah dia kelabui
Aturan hanya buat orang-orang yang cerdas
Bukan untuk orang-orang yang pemalas
Malas menghargai keringat si aparat yang melewatkan malamnya dengan sempritan berisik  dimulutnya               
Aturan hanya untuk orang yang punya hati
Bukan untuk orang-orang yang tak pandai menghargai

Apalagi tadi kulihat dengan jelas, belasan pengendara lewat tanpa alas kepala
Bersembunyi dibalik mobil,dan lewat dengan berbangga
“aparat itu aku bodohi”

Satu dua terjerat, tertangkap siaparat
Dia sodorkan sejumlah kertas
bisa kutebak, itu si rupiah yang sedang memelas
dan simsalabim, tancap gas lalu lewat
siaparatpun dapat pembeli karbohidrat untuk sianak dirumah

beh, inilah wajah hukumku dimalam hari
gemerlap lampu indah kau nikmati
sedang rambu-rambu enggan tuk dipatuhi
apa yang salah dengan hukumku ?
mengapa kini ibarat makannan cepat saji
terbeli instan, asal duit terpenuhi


Hei hukum itu bukan nenek kmoyangmu yang bikin
jadi jangan kau kira melanggar itu hak asasi

hei jangan kau kira hukum itu barang gadai
aparat memang  bisa kau beli tapi Tuhan mana bisa kau kelabui ?

 ini Negara Hukum,bukan Negara Negoisasi,
ini Negara punya  Aturan bukan Negara dengan para pelanggar tak berperasaan

salam tawa dan kecewa 19 September 2014 , Pertigaan Rantauku.

 

SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...