Selasa, 30 Desember 2014

INGGU LAUT




Lahan-lahan pertanian yang luas Kala itu 2004 silam,
sebuah maut terkenang
Air besar menjamah hutan,
sebut saja Inggu laut
Tempat itu masih menyisahkan sejarah,
sejarah hutan menjadi lahan

Inggu laut Bumi permata…
disudut kota Apel,
menanti resah
Takkala manusia kerjanya hanya menjamah tiada rasa duka
Menggali dan menebang hutan belantara
Menciptakan lahan-lahan berbisa,
terlihat indah namun mematikan fugsinya
Andai alam bisa berbicara,
terkutuklah wahai manusia-manusia serakah…
Kau apakan kami,
kau tebang ,                                
kau sakiti namun tak kau tanami
 Kau tanami dengan sayur mayurmu yang menyiksa kami
3 bulan sekali harus kau gali,
kemana hatimu duhai manusia bergergaji besi?
Tikungan Inggu laut menjadi saksi
 Pepohonan menangis, merintih pedih
merasakan goresan gergaji
Sedang manusia-manusia tak berotak hanya menertawakannya sinis
“aku ingin uang” dan “aku ingin kekayaan”
Takkala banjir besar datang, menjamah keindahan alam
Tulung Rejo kala itu berduka,
harapan musnah
Tuhan akhirnya mendengarkan doa hutan yang tertindas
Termenunglah mereka manusia kala itu, 
berharap Tuhan berbaik hati memperbaiki alam yang mati 
alam yang pernah mereka sakiti berkali-kali.




Sabtu, 20 Desember 2014

ITU AKU


Aku ?
itu aku , aku bukan serdadu,
aku bukan pengadu
aku bukan dadu
bukan pula pecandu


aku siapa?
aku belagu ?
ah tidak ...
aku ini pelagu
bukan serdadu,pengadu,dadu, bukan pula pecandu


aku, ya aku...
itu aku
sang pelagu yang rindu berkah dan Rahmat-Mu 

Tuhanku, kekasihku, rinduku

zam-zam

Dalam yakinku kusebut Ia….
 zam-zam
Cerita Ketika bunda hajar berlari -lari
Tiada hirau letih, tiada berpeluh
Tujuh kali

Bukit safa-marwah menjadi saksi
Ketika Ismail menjejakan kaki mungilnya di bumi
Zam-zam … melimpah ruah
itu air suci agamaku,
lahir dari kaki nabiku

Dalam yakinmu kau sebut ia apa ?
Agamamu percayakah?

Dalam yakinku kusebiut ia zam-zam
Aku minum melepas dahaga
Aku  minum menyembukan luka
Air tiada ragu,



22.6.14 meja cikelat

HUJAN , KITA BERSAUDARA BUKAN ?

Hujan turun tanpa ampun
sore serasa malam
suasana begitu sunyi
matahari berselimut awan hitam, apakah dingin ia rasakan ?

wahai hujan, turunlah sederasmu mampu
tiada pernah daku membencimu
karena dikau dulu kutemui bahagiaku

Hujan... turunlah sederasmu mampu
Tiada pernah daku membencimu
Apalagi amarah dengan dingin yang bawakan padaku

Hujan... semakin deras kau jatuh semakin damai batinku
tetaplah turun seperti itu, jangan dengarkan ocehan mulut yang tak pandai bersyukur
Hujan... turunlah bersama dingin yang kau bawa
bawakan cerita bahagiaku yang dulu ke nirwana, cerita yang lampau itu
tentang cinta dan gelisah. 

Hujan.... basahilah alam lautan dosa ini
alam yang penuh dusta dan durhaka
sepuasmu.... sampai dosa kami terjawab kesadaran
ketaubatan saudara-saudara yang tak kunjung datang
karena petaka yang biasa kita hujat adalah berkah yang tersurat

Hujan jika semua orang enggan menyapamu
biar aku yang selalu tersenyum untukmu,
kita sama-sama ciptaan-Nya bukan ? 
kita bersaudara hanya saja berbeda dasar cipta.  

Putra Ma'had dan tangisan langit Arema. 

27'12'2014

SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...