Lahan-lahan
pertanian yang luas Kala itu 2004 silam,
sebuah
maut terkenang
Air
besar menjamah hutan,
sebut
saja Inggu laut
Tempat
itu masih menyisahkan sejarah,
sejarah
hutan menjadi lahan
Inggu
laut Bumi permata…
disudut
kota Apel,
menanti
resah
Takkala
manusia kerjanya hanya menjamah tiada rasa duka
Menggali
dan menebang hutan belantara
Menciptakan
lahan-lahan berbisa,
terlihat
indah namun mematikan fugsinya
Andai
alam bisa berbicara,
terkutuklah
wahai manusia-manusia serakah…
Kau
apakan kami,
kau tebang ,
kau
sakiti namun tak kau tanami
Kau tanami dengan sayur mayurmu yang menyiksa
kami
3
bulan sekali harus kau gali,
kemana
hatimu duhai manusia bergergaji besi?
Tikungan
Inggu laut menjadi saksi
Pepohonan
menangis, merintih pedih
merasakan
goresan gergaji
Sedang
manusia-manusia tak berotak hanya menertawakannya sinis
“aku
ingin uang” dan “aku ingin kekayaan”
Takkala
banjir besar datang, menjamah keindahan alam
Tulung
Rejo kala itu berduka,
harapan
musnah
Tuhan
akhirnya mendengarkan doa hutan yang tertindas
Termenunglah
mereka manusia kala itu,
berharap
Tuhan berbaik hati memperbaiki alam yang mati
alam
yang pernah mereka sakiti berkali-kali.
