Oleh
: Suherman
Aku
sedikit kaget setelah mendengar suara takbir yang menggema diruangan Aula FEB
universitas Padjajaran. Bukan main sekitar 100-an Mahasiswa utusan dari 23 Provinsi hadir dalam forum Silaturahmi
yang diberi Nama FoSSEI ini. Entah apa
yang membuatku merinding, setelah tadi suara tabkir yang menggelegar, kini
tiba-tiba sebuah musik diputarkan. “ekonom Muda , hey ekonom Robbani tempa
dirimu tuk Bangun Bangsa Madani”, lirik pertama yang begitu menyimpan makna
yang dalam, menurutku. lagu ini seringkali kudengar saat ada acara dari organisasi
yang selama ini aku tempati bernaun, menggantungkan karir di kampus Biru
Malang. Ini pertama kali aku merasakan nyawa dari lagu sederhana ini. Rasanya
aku terpanggil untuk melakukan semua lirik yang disebutkan oleh Vocalistnya, seperti sebuah ajakan untuk
melakukan perubahan.”Ekonom Cerdas hey ekonom robbani, mari madiri kembangkan
potensi”, liriknya benar-benar sederhana namun maknanya dalam. “Bertransaksi
adil, tinggalkanlah tipu daya yakinlah ekonomi Islam kan jaya” .
Bangkitlah, Bangkitlah
pemuda mulia
Bersatu padu lintasi
katulistiwa
Pada
bagian Klimaks lagu ini membuat aku makin merinding. Kuamati semua orang
didalam ruangan Aula ini, aku melihat keseriusan, aku melihat penghayatan yang
dalam dari semua wajah-wajah Asing yang belum aku kenali. Ada apa ini ? batinku
mulai bertanya-tanya, apakah ini adalah panggilan jiwa ? mengapa dengan lirik
lagu sederhana mampu menggetarkan jiwaku ?
Majulah Hey ekonom
Robabni Bisa
Mari sembukan ekonomi
dunia
Iyakah
? Apakah aku bagian dari penyelamat dunia? bukankah Tuhan telah mengarur kapan
dunia ini akan hancur berantakan ? lantas mengapa lagu ini seolah memanggilku
untuk melakukan perubahan ? Aku mulai gelisah. Aku pejamkan mata lantas ikut
menghayati setiap bait dari lagu yang diputarkan .
Berbagi sesama
Ketuk nuraninya
Yakin ekonomi Islam kan
jaya....
Kenapa
makin aku meresapi makna dari liriknya makin membuat aku merasa aneh, ada
gemuruh didalam dadaku, ada sesuatu yang membuat aku merasa bangkit, membuat
aku merasakan semangat, tapi aku tak tahu itu. Yang aku tahu kedatanganku
kesini awalnya adalah berniat untuk mencari pengalaman saja karena suasana liburan
sudah membuatku cukup bosan berada didalam rumah. Tapi dengan lagu ini aku
merasakan sesuatu yang bangkit . Padahal sebelumnya aku sering mendengarkannya
di kampus.Disekretariat apalagi. Namun ini berbeda. Saat orang-orang asing itu
menyanyikannya, keseriusan dan penghayatannya, seolah lagu ini adalah lagu
kemerdakaan kami saat ini.
Bergerak jangan
mengeluh, meski tubuhmu berpeluh
Karena kemiskinan
semakin membunuh
Bertransaksi adil,
timggalkanlah tipu daya,
Yakin ekonomi Islam kan
Jaya
Makin
liriknya berulang makin aku terhanyut dalam buaian makna yang lagu ini bawakan
ketelingaku. Bergerak. Lagu ini menyuruhku bergerak. Mengeluh lagu ini
melarangku untuk mengeluh. Sedang lagu ini menakutiku dengan Angka kemiskinan
Negeriku yang mencapai puluhan ribu kepala yang belum merdeka secara rupiah.
Ekonomi
Islam ?
Apakah
itu ekonomi islam ? yang aku tahu ekonomi Islam itu bebas dari yang “haram”.
Lantas apa hubungannya dengan lagu yang kunyanyikan ini ? aku sedikit diam,
saat lagu berhenti diputarkan dan kami dipersilahkan duduk, aku masih saja
terdiam. Aku mecari letak dimana kaitan Ekonomi Islam dengan Sembuhkan ekonomi
dunia. Apakah iya ? sedang pada kenyataannya Ekonomi yang menguasai dunia
adalah Ekonomi Modern yang sudah menjadi mainset dan system buyut perekonomian.
Apakah dengan angkuhnya aku mau berkata kalau ekonomi Islam adalah menyelamat
dunia dan pemberantas kemiskinan dari negeriku yang subur ini ? bukan ! pasti
ada alasan kenapa aku harus percaya dengan lagu yang baru saja diputarkan. Sekitar
100 Mahasiswa yang belum aku kenal saja
mau bernyanyi dan menghayati lagu yang tadi, pasti ada alasan untuk mereka
melakukan itu. Tapi aku ? apa alasanku untuk percaya ?
3 hari kemudian.
Aku
sudah menemukan jawabanku.”Mereka”. selama mereka masih terus bertambah dan
bernyanyi dalam forum seperti ini, aku yakin 10-30 tahun lagi Ekonomi islam
akan menjadi satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan dunia dari kemiskinan.
Karena pembunuh sebenarnya bukanlah kemiskinan yang makin tumbuh, melainkan
adalah kesadaran kita untuk membangun dan mengurangi sifat serakah yang sangat
di Benci oleh Allh SWT. Kini sudah hari terakhir dari forum ini, sebentar lagi
aku harus kembali ke Kota Bunga, aku membara, kampusku menantiku disana.
Okelah, aku datang membawa virus semangat buat mereka, kader-kader FoSSEI
Bagian Timur Jawa. Kini aku mengerti untuk apa aku menjadi bagian dari forum
ini, dan apa yang membuat aku merinding saat bernyanyi bersama kawan-kawanku
dari seluruh Indonesia. “YAKIN dan BERUSAHA”. Aku menemukan jawabanku untuk
tetap yakin bahwa Ekonomi Islam adalah Ekonomi yang berlandaskan pada amar
ma’ruf yang Menjadikan Allah sebagai Penentu atas segalanya. Aku menemukan
jawabanku untuk selalu berusaha menjadi kader yang baik, berbudi pekerti, keras
sehingga pilar Ekonomi Islam yang kini sudah mulai tumbuh tidak dapat
tergoyahkan lagi oleh angin-angin Konvensioal yang terpaannya begitu kuat
hingga seringkali mematahkan tanting-ranting semangat kader-kader yang lain.
Aku dalam Forum ini “FoSSEI”, akan selalu ada dimana tangan-tangan kalian
bergantung pada harapan yang sama, kemakmuran Indonesia, terselamatkannya
mereka dari Kekejaman dunia modern. Aku adalah salah seorang kader Tangguh
FoSSEI, dan aku bangga .
Teruntuk kalian
Kader-Kader tangguh FoSSEI,
“bergerak jangan
mengeluh, meski tubuhmu berpeluh
Karena kemiskinan
semakin membunuh”
“Bangkitlah hey pemuda
mulia
Bersatu padu lintasi
katulistiwa,
Majulah hey ekonomi
robbani bisa
Mari smebuhkan ekonomi
dunia”
Kita
tak harus saling mengenal untuk sama-sama berjuang, namun kita harus sama-sama
berjuang untuk saling mengenal disuatu hari , dimasa depan .
#Kenangan
Musyawarah Nasional FoSSEI 2014
