Balasan untuk "Bang Taufiq Ismail" dalam "Tuhan sembilan senti" dari ku
dan untuk pelaku
Andai saja Indonesia adalah negara bersahaja
aku ingin membuat satu aturan yang luar biasa dalam tata negara berdaulat
aku ingin hapus Tuhan sembilan senti kata Bang Taufiq dalam sajak lalu
yang dikata ada Tuhan berhala diabad dua puluh
Tuhan nomor dua setelah yang nomor satu
Disaku kanan para pekerja terselip sebuah kotak kecil berisi Tuhan-tuhan dari tumpukan tembakau
disaku kiri ada benda berisi gas penimbul bara
berangkat kerja sebatang habis di meja makan
sebatang di mobil
sebatang di ruang kerja
sebatang di sana
sebatang disitu
sebatang disini
sebatang di kali sepuluh
pilu, benar-benar pilu
Hei...
ada ayat berkata sesungguhnya apa yang merusak tubuh itu dilarang
tapi ini beda kawan... katanya
argumen bodoh
ini merusak badan menjernihkan fikiran
menyejahterahkan penghasilan, menambah kewibawaan
merokok mati tak merokokpun mati, jadi lebih baik merokok sampai mati
sakit akal sudah dia
Nikotin-nikotin jahil tersenyum bahagia
Umatnya sudah mencintainya tulus
meski tiada syahadat
Tiada Tuhan selain nikotin yang berkuasa
dan rokokku adalah utusan nikotin yang mulia
Apa yang salah dengan mindset anda wahai dewa penghisap asap-asap haram ?
bukan pelakupun kau siksa
hirup asap buatanmu adalah penyakit masa tua mereka
Tidakkah kau lihat jantung dan hatimu sudah menangis darah, bagai asbak penuh noda abu
rusak parah organ tubuhmu...
tak tahu malu dan tak mau tahu,
itu sifatmu
Slogan asbabul nuzul dalam "kitab nikotin" nyaman, stres hilang, melegakan
Tuhan sembilan senti berhala yang tak terfikirkan
agama sudah jadi dua
Tuhan ada dua
Rasul ada dua
kitab pun ada dua
tiada nikmat selain berbuka puasa dengan sebatang rokok manis
tiada sahur selezat sebatang Tuhan berkepala bara
menyejahterahkan penghasilan, menambah kewibawaan
merokok mati tak merokokpun mati, jadi lebih baik merokok sampai mati
tiada Tuhan selain nikotin yang berkuasa
dan rokokku adalah utusan nikotin yang mulia
Iklan-iklan televisi juga penuh polusi
Produk dikemas manis , model Pria gagah berani, seksi
Prianya punya selera katanya...
selera humornya tinggi
dasar bodoh, akal sehatnya sudah mati
ditawari iklan berdosa dia terima,
lebih suka aku melirik iklan penjual cemilan
dari pada iklan kampanye Tuhan sembilan senti yang katanya penghilang stres itu
Anak berseragam merah putih juga sudah terlena
Terlalu Dini menyembah tuhan Berhala
Ibunya tidak tahu menahu tingkah laku si anak lugu tahun ketujuh itu
Bapaknya tinggalkan rokok disaku Jas kerja, lalu tertidur pulaslah ia
si anak lugu merayap, dua batang pun lenyap
si Ibu bergosip dirumah sebelah
si lugu menyelinap di persimpangan rahasia
lima belas ribu lenyap
dengan tawa licik, beli rokok yang bergengsi sekali-sekali
cih....
Anak berseragam biru, abu-abu, mahasiswa,
guru, dosen, pegawai, dekan, rektor, dokter,
kusir, petani, sopir, nelayan, dekaka
tak usah ditanyakan lagi
itu HAM katanya, terserah saya mau apa,
wong saya sudah dewasa,
wong saya yang kerja,
wong saya sudah tahu akibatnya,
wong opo ?
argumennya sudah setingkat dewa
Andai Indonesia Negara tanpa rokok
Ops.... mimpi kali ya?
26 Juni 2014 Malang , Suherman "putra ma'had"