Senin, 30 Juni 2014

CHOLIFA ADLINE FAHIRAH


Cholifa Adline Fahirah
tahun kelima menginjak dunia
terkapar kini diliang lahatnya
karena lalai sudah orang tuanya

Usus ayam oplosan jadi tersangka
23 Juni sebelum tiba hari nan suci 
nafas terakhir sudah dialui
kini telah nikmati sejuk syurgawi
bocah kecil nan ceria
salamku untuk para bidadari syurga

Dinoyo, 23 Juni 2014 
#TEGURAN 
untuk orang tua yang kurang peduli kesehatan anaknya


 

Kamis, 26 Juni 2014

Untuk "Pencela"



Bagaimana jika 
Prabowo-Kalla 
Jokowi-Hatta
bersanding ?

Bagaimana bila
Kalla-Hatta
Jokowi-Prabowo 
jadi sepasang ?

Tak terbayangkan
naskah demokrasi di ulang
tim sukses kehabisan uang
para pencela sibuk cari kesalahan
dasar kurang kerjaan

00.51 26-06-2014 (Suherman) Putra Ma'had

Teruntuk "Kalla-Mufidah"



Kisah cinta Bugis-Minang
Kalla-Mufidah 
sudah menuju seperdua abad kenangan
cinta dan perjuangan
cerita yang mengaharukan
romantisme, kesetiaan, dan kebersamaan

kisah cinta Kalla-Mufidah 
bagian kedua habibie-ainun
hingga menua tak retak kesetiaan
cinta yang penuh perjuangan
putra bugis dan gadis minang
1966

Putra ma'had (suherman) 26 juni 2014

Malam kenang


26 Juni 2014 pukul 0:37
Malam...
Temaram
kelam
menyelam
lekang
mengenang
terang memudar
jam malam datang
Cinderella Pulang
sepatu hilang
pangeran terheran
belianya hilang

Malam
kukenang
pulau seberang
makian
kesal
berulang
fatal
siksaan
kefanaan
belaian tangan
cinta yang hilang

Malam...
semua terekam, lalu kulepas
sisa diangan , aku sampaikan
selamat jalan kenangan


Malam yang bimbang 25/06/14

Negara tanpa rokok *ops mimpi kali ya ? (part 1)


Balasan untuk  "Bang Taufiq Ismail" dalam "Tuhan sembilan senti" dari ku
dan untuk pelaku

Andai saja Indonesia adalah negara bersahaja
aku ingin membuat satu aturan yang luar biasa dalam tata negara berdaulat
aku ingin hapus Tuhan sembilan senti kata Bang Taufiq dalam sajak lalu
yang dikata ada Tuhan berhala  diabad dua puluh 
Tuhan nomor dua setelah yang nomor satu

Disaku kanan para pekerja terselip sebuah kotak kecil berisi Tuhan-tuhan dari tumpukan tembakau
disaku kiri ada benda berisi gas penimbul bara
berangkat kerja sebatang habis di meja makan
sebatang di mobil
sebatang di ruang kerja
sebatang di sana
sebatang disitu
sebatang disini
sebatang di kali sepuluh 
pilu, benar-benar pilu

Hei...
ada ayat berkata sesungguhnya apa yang merusak tubuh itu dilarang
tapi ini beda kawan... katanya
argumen bodoh 
ini merusak badan menjernihkan fikiran
menyejahterahkan penghasilan, menambah kewibawaan
merokok mati tak merokokpun mati, jadi lebih baik merokok sampai mati
sakit akal sudah dia

Nikotin-nikotin jahil tersenyum bahagia
Umatnya sudah mencintainya tulus
meski tiada syahadat 
Tiada Tuhan selain nikotin yang berkuasa
dan rokokku adalah utusan nikotin yang mulia

Apa yang salah dengan mindset anda wahai dewa penghisap asap-asap haram ?
bukan pelakupun kau siksa
hirup asap buatanmu adalah penyakit masa tua mereka
Tidakkah kau lihat jantung dan hatimu sudah menangis darah, bagai asbak penuh noda abu
rusak  parah organ tubuhmu...
tak tahu malu dan tak mau tahu,
itu sifatmu

Slogan asbabul nuzul dalam "kitab nikotin" nyaman, stres hilang, melegakan
Tuhan sembilan senti berhala yang tak terfikirkan
agama sudah jadi dua
Tuhan  ada dua
Rasul ada dua
kitab pun ada dua

tiada nikmat selain berbuka puasa dengan sebatang rokok manis
tiada sahur selezat sebatang Tuhan berkepala bara

menyejahterahkan penghasilan, menambah kewibawaan
merokok mati tak merokokpun mati, jadi lebih baik merokok sampai mati

tiada Tuhan selain nikotin yang berkuasa
dan rokokku adalah utusan nikotin yang mulia



Iklan-iklan televisi juga penuh polusi
Produk dikemas manis , model Pria gagah berani, seksi
Prianya punya selera katanya...
selera humornya tinggi
dasar bodoh, akal sehatnya sudah mati
ditawari iklan berdosa dia terima,
lebih suka aku melirik iklan penjual cemilan 
dari pada iklan kampanye Tuhan sembilan senti yang katanya penghilang stres itu

Anak berseragam merah putih juga sudah terlena
Terlalu Dini menyembah tuhan Berhala
Ibunya tidak tahu menahu tingkah laku si anak lugu tahun ketujuh itu
Bapaknya tinggalkan rokok disaku Jas kerja, lalu tertidur pulaslah ia
si anak lugu merayap, dua batang pun lenyap
si Ibu bergosip dirumah sebelah
si lugu menyelinap di persimpangan rahasia
lima belas ribu lenyap
dengan tawa licik, beli rokok yang bergengsi sekali-sekali
cih....

Anak berseragam biru, abu-abu, mahasiswa,
guru, dosen, pegawai, dekan, rektor, dokter,
kusir, petani, sopir, nelayan, dekaka
tak usah ditanyakan lagi
itu HAM katanya, terserah saya mau apa,
wong saya sudah dewasa,
wong saya yang kerja,
wong saya sudah tahu akibatnya,
wong opo ?
argumennya sudah setingkat dewa

Andai Indonesia Negara tanpa rokok 
Ops.... mimpi kali ya?


26 Juni 2014 Malang , Suherman "putra ma'had"

Senin, 23 Juni 2014

Salah versus Benar



Kala suara usil mulai menutup fakta
dan berkuasa para pendusta
Kriminalitas merajalela
kebenaran hanya minoritas sahaja
Apa kita hanya diam dan menikmati seruput kopi, lalu bersantai di meja kerja?


Kala benar salah tak jadi problema
sing salah bergelar juara
sing benar masuk penjara
Apa kita hanya diam menatap hukum terintimidasi pendusta?

Kala bibir usil mulai berbicara
Bibir benar tak berkutik
maka salah jadi juara
benar masuk penjara
Tegakah kita melihat hukum di cumbui dusta ?

Ayolah....
pemuda, orang tua, saudara sebangsa....
diam kita tak jadi jawabnya
mulut usil seharusnya punah
pendusta-pendusta waktuya musnah

Tinggal kita para pendekar bangsa
maukah anda bersatu membasmi sampah ?
atau pilih diam, kalah...
biar salah jadi si juara



23 Juni 2014 pukul 18:51
MT Haryono 23'06'14

Sabtu, 21 Juni 2014

Kenangan Lhokseumawe


21 Juni 2014 pukul 23:43
Lhokseumawe....
tentang sebuah cerita badai raksasa
tentang sebuah kisah duka
berdarah-darah negeriku
Banda aceh, dengan segenap luka dan  lautan air mata
aku bersenandung untukmu, disyurga sana


2004
satu dasawarsa sudah mengenang pilu
kala itu laut Banda benar-benar murka
tak peduli dosa siapa
menyiram sesuai amanah
bumi yang gersang dengan dosa
kiamat sugra, kata para petuah

Mereka berlari, saudaraku,
tiba-tiba dihantam perahu
mereka bersembunyi,saudaraku,
rumahnya rubuh
mereka menangis, saudaraku,
laut terlanjur ricuh
melibas habis ketentraman dan kekayaan
kala itu laut benar-benar memuntahkan amarah

badai berlalu tinggallah serpihan pilu
porak poranda Lhokseumawe
rata degan tanah
dunia berkabung, Indonesia dirundung pilu
ketika jazad tak berdosa manjadi korban amukan bencana
tangis pedih, sesak didada,
salah siapa?
dosa siapa?
kita tanggung bersama saja.
BHINEKA TUNGGAL IKA


Nagalam, Dinoyo 21/06/14 23.42 before midnight

Senja di balik Ilalang


 
Ketika senja tiba,
aku terpana,
mulutku menganga
disana kulihat senyuman jingga merona
menggodaku untuk tetap melihatnya
dibalik ilalang,
sungguh indah karyamu Tuhan

Indah...
penuh pesona
aku enggan berkedip mata, 
mungkin ia malu aku melihatnya
tersipu, tertunduk, perlahan berlabuh
gunung manakah yang jadi dermagamu? hai senjaku?

Senyuman jinggamu pengantar malamku
tapi  sayang...
kau harus menghilang di balik petang
gelap pun datang memeluk rembulan
selamat jalan senja
semoga esok kulihatmu jua

meja putih cokelat 26.4.14

cerita belukar, pinus dan manusia


21 Juni 2014 pukul 12:12
Senandung sedih sang belukar

Sungguh tamak duhai kau manusia
Membabatku tanpa rasa
Katamu aku tiada guna
Tumbuh laksana sampah, Merusak pandangmu sahaja

Sakit….
Ketika sabit-sabitu mulai menyentuh kulitku
Aku menjerit tapi tiada kau hirau serakku
Berteriak aku pada pohon pinus di belakangmu
Daunnya melambai, rantingnya jatuh menimpamu
Namun Tak kau hirau sakit menimpa pundakmu
Geram…
Sabitmu makin beringas, sedikit lagi kau habisi aku

Tuhan…
Seperti inikah guna kau menciptaku?
Tumbuh besar tapi dibabat tanpa hirau
Aku iri pada pinusmu,  kekar, tinggi dan melindungi
Sedang aku..
Kecil, mengganggu dan tak disenangi



Dan belukar itu kini mati,
 kasihan sekali tumbuh tanpa cinta,
sedang dia berusaha meronta
tak dihirau olehmu manusia
rantingku jatuh di pundakmu kau justru makin ricuh
kejammu…
esokya kau bawa mobil baja raksasa
aku pun ikut binasa


Ruang label Merah 21 .6 . 14

Jumat, 20 Juni 2014

GELORA.....

Gelora...
Cinta adalah nafsu
suka adalah palsu
janji adalah penipu

Gelora...
janji beribu belati
puji itu setumpuk peniti
penusuk hati didetik-detik sunyi

Gelora...
cinta dan dosa berbicra
cinta mengobral harga
iman jadi tergoda
janji turut bersandiwara
nafsu melucuti pakaiannya
kasihan sekali wanita muda
sucinya sudah binasa

Gelora....
cinta jadi amarah
iblis tertawa girag
janji dan nafsu menguliti kesucian
wanita muda, telah lepas harapan
sesal datang, tiada terelakkan
lagi-lagi cinta yang disalahkan


Ngalam 23'06'14 22.47 

KASIH



Kasih,
Terekam kembali di dalam benak
Kisah klasik yang selalu menghambatku untuk berdiri
Semacam roda, datang silih berganti mengusikku di sini
Di tempat merindumu dalam sepi
Bersama hati yang enggan lagi untuk berbagi kasih

Kasih,
Masihkah kita ada dalam cerita ?
Lembaran diary-mu , tentangku, romantisku, namaku ?
atau kenangan diwaktu lalu?
Pelukanmu, genggamanmu, atau saat kau merapikan belahan rambutku
Atau saat sepotong brownies kau antarkan di hadapanku
Mungkin sudah berlalu bagimu
Tapi aku?

Kasih,
Kekasihku di masa lalu
Masihkah kita akan bertemu ?
Saat hati ini mulai perlahan  membencimu
Kenapa  rasa rindu kembali mengusikku?
Berbisik di telingaku, seolah kau datang, hendak memelukku
Aduh rindu, kenapa aku harus merindumu…
Entahlah, kaukah yang kurindu ?

Kasih,
Dahulu kau begitu lugu                                         
Bermanja-manja di pelukanku
Polos wajahmu, menguatkanku untuk selalu menjagamu
Ah, waktu itu kau begitu lucu
Imut, temebem pipimu, suaramu, bulu matamu
Itu dulu
Tapi sekarang ?
Aku tidak tahu rasaku
Untukmukah
Atau untuk siapa
Untuk wanita yang mana?
Apa dia bisa membawaku kembali tertawa ?
Entahlah,
kasih, tolong pergilah kau  menjauh
aku tak ingin menangisi janji yang kita “ingin gapai”
sehidup semati
ah, sudahlah,
itu dulu ketika cinta kita belum usai



Dinoyo 01'06'14 Namrehus, Malang

Minggu, 08 Juni 2014

Untuk kali pertama
















Bus pertama di buan Juni
langkah tergontah aku
tersenyum-senyum kecut
untuk kali pertama
bus antar kota Malang-Surabaya
ini semacam liburan sementara

Dua adam satu hawa duduk bersebelahan
sesekali bercanda ria, tertawa
perjalanan tiga jam, duduk manis
menikmati letih
kanan kiri berlalu
kepala pusing
ingin sudah mata terlelap
getir....
mulai aku rebahkan kepala
bersandar manis
Tidur....
aku mau tidur
tapi pikiranku ngelantur
ngalor ngidul
ngawur....
ya sudahlah nikmati saja
Surabaya segera tiba
dan aku bangga
Untuk kali pertama naik bus kota
Malang-Surabaya



Malang-Surabaya 07'06'14

Teruntuk cinta , duet kopi dan putra


Coffea Laa


Aku kangen kamu, hingga lelah tetep kangen kamu...
Terbayang wajahmu...
Bisakah kita? Saling meluruhkan rasa angkuh satu sama lain?
Bisakah kita? Menyatu saja dengan cinta yang di harapkan bersemi?
Bisakah kita? Bersatu dengan damai. Seolah kita adalah kekasih paling romantis sepanjang masa?

Harusnya kita saling berbicara
Dari hati ke hati..
Agar ada kemungkinan yang terjadi
Entah itu reaksi alami atau kimia..
Tapi mungkin ada kemungkinan kemungkinan yang mungkin
Mungkin dirimu...
Mungkin hatimu... Rasamu...
Jiwamu...
Rindumu...
Kamu...?
Tentangmuu..
Apapun.
Tapi aku tetap, merasa dengan perasaanku..
Aku yang mencintaimu, merasaimu...
Merindukanmu...
Iya kamu... Tetap saja.. Hanya kamu...

01'06'14 Coffe Laa , Jogja


Putra Ma'had

Kasih,
Terekam kembali didalam benak ini
Kisah klasik yang selalu menghambatku untuk berdiri
Semacam roda, datang silih berganti
Mengusikku disini
Ditempat merindumu dalam sepi
Bersama hati yang enggan lagi tuk berbagi kasih

Kasih,
Masihkah kita ada dalam cerita ?
Lembaran diary-mu , tentangku, romantisku, namaku ?
Atau kenangan diwaktu lalu?
Pelukanmu, genggamanmu, atau saat kau merapikan belahan rambutku
Atau saat sepotong brownies kau antarkan dihadapanku
Mugkin sudah berlalu bagimu
Tapi aku?

Kasih,
Kekasihku di masa lalu
Masihkah kita kan bertemu ?
Saat hati ini mulai, perlahan  membencimu
Kenapa  rasa rindu kembali mengusikku?
Berbisik ditelingaku, seolah kau datang, hendak memelukku
Aduh rindu, kenapa aku harus merindumu…
Entahlah, kaukah yang kurindu ?

Kasih,
Dahulu kau begitu lugu                                      
Bermanja-manja di pelukanku
Polos wajahmu, menguatkanku untuk selalu menjagamu
Ah, waktu itu kau begitu lucu
Imut, temebem pipimu, suaramu, bulu matamu
Itu dulu
Tapi sekarang ?
Aku tidak tahu rasaku
Untukmukah
Atau untuk siapa
Untuk wanita yang mana?
Apa dia bisa membawaku kembali tertawa ?
Entahlah,
kasih, tolong pergilah kau  menjauh
aku tak ingin menangisi janji yang kita “ingin gapai”
sehidup semati
ah, sudahlah,
itu dulu ketika cinta belum usai



Dinoyo 01'06'14 Namrehus, Malang

Aparat dan pembela




Ganas,
Terdengar kembali  kisah tragis para “pembela negeri”
Kala itu 2006 silam,
Matahari enggan tuk bersinar
Ditengah gaduhnya kekerasan, demo anti begituan

Tak heran mengap para aparat geram
Pistol bereluru timah siap menembus paha sang “pembela negeri”
Geram sangat geram  sampai lupa diri
Pukul sana sini, pembela berdarah –darah
Hidung dan kepala luka parah

Sedang aparat tak  berhati , terbuai emosi
“berhenti” kata salah seorang baik hati
Pak buk  brak, tangan yang satu meninju
Kaki yang satu menendang , jitu….
Tepat sasaran , salah seorang pingsan

Salah siapa? dosa siapa ?
Notabenenya atas nama bangsa
“bangsat” sama saja mereka
Tak berguna, agen perubahan membawa celaka
Negeri yang tak berdosa kau lumuri darah,
Aparat yang gila….

Aku tertegun,
Video itu Nampak jelas,
Aparat dan para pembela selaku agen pembela negeri
Bersikeras, beradu jotos…
Pistolkah atau keadilan semu yang juara ?
Tanyakan pada mereka yang ada disana,
Bukan aparat, bukan pembela
Tapi nurani yang masih murni tanpa secuil dosa.


MtT Haryono gang 17, 07’06’14 Malang

Penat dari Surabaya

Secangkir kopi Mocca, candu....
sepulang dari Surabaya
Lela....
penat menggebu dikepala
lesu....
lepas sudah seteguk kusedu
kopi mocca panas....

Duduk bersilang kaki,
kuamati penjualyang genit
tua-tua keladi
kau pikir aku tertarik ?
layaknya tensi, adrenalinku meningkat tinggi

seruput kopi panas, nikmat...
melepas penat
sendirian di samping terminal Arjosari
menanti jemputan kawan yang belum datang

pukul dua satu lebih sepuluh
aku mulai berpeluh,
harap-harap penantian berlalu segera...
lebih dua puluh
sudahlah aku bingung
lebih dua lima
jemariku mulai kikuk

penjaga kasir mulia menggodaku
lenggak lenggok,kiri kanan
indah dia kira bodynya ?

wanita paruh baya
sudah waktunya kau ingat usia

dan...
mana kawanku ?
nampaknya lama
kopiku sudah habis dua kaca
aku mulai kesal
jika datang , hendak kupiting saja telinganya
Oh kawan....
tega kau buatku menunggu lama


Terminal Arjosari, 07'06'14 

masih publish sementara


tak kusanggup berdiri di medang,
aku dan damai saling berbelakang,
punggungku sesat penuh nista,...
jemariku kasar bekas darah juang,
aku pengecut lari dari medang..
dahulu sekali masa pontang panting,
gelegar nyayian peluru bergema ,
aku lari bersembunyi di balik batu
meriampun tertawa
dasar pengecut kau pemuda rancu
batu saja berperang untuk bangsamu,
sedang kau melempar bambu kecil
dari balik batu
malu sama manusia, kau manusiakah?
atau setumpuk batu tanpa makna apa-apa?

Sabtu, 07 Juni 2014

Aparat dan pembela




Ganas,
Terdengar kembali  kisah tragis para “pembela negeri”
Kala itu 2006 silam,
Matahari enggan tuk bersinar
Ditengah gaduhnya kekerasan, demo anti begituan

Tak heran mengap para aparat geram
Pistol bereluru timah siap menembus paha sang “pembela negeri”
Geram sangat geram  sampai lupa diri
Pukul sana sini, pembela berdarah –darah
Hidung dan kepala luka parah

Sedang aparat tak  berhati , terbuai emosi
“berhenti” kata salah seorang baik hati
Pak buk  brak, tangan yang satu meninju
Kaki yang satu menendang , jitu….
Tepat sasaran , salah seorang pingsan

Salah siapa? siapa yang berdosa ?
Notabenenya atas nama bangsa
“bangsat” sama saja mereka
Tak berguna, agen perubahan membawa celaka
Negeri yang tak berdosa kau lumuri darah,
Aparat yang gila….

Aku tertegun,
Video itu Nampak jelas,
Aparat dan para pembela selaku agen pembela negeri
Bersikeras, beradu jotos…
Pistolkah atau keadilan semu yang juara ?
Tanyakan pada mereka yang ada disana,
Bukan aparat, bukan pembela
Tapi nurani yang masih murni tanpa secuil dosa.


MT Haryono gang 17, 07’06’14 Malang

Selasa, 03 Juni 2014

Teruntuk kau gadis "berhijab ungu"



Gadis berhijab ungu
siapa gerangan namamu
terkias dari fotomu engkau gadis lugu
kecil, ayu, nampaknya kau memikatku

aku mulai gelisah dibuatmu
aku penasaran dengan namamu
hendak kutanyakan tapi aku malu
hendak kusapa tapi aku ragu
tipe bersahabatkah dirimu ?
atau kau mungkin enggan tuk menyapaku

Ternyata oh ternyata
pucuk di cinta ulam pun tiba
kau balik menyapa
sedang aku merasa lega
yang aku tahu kamu suka sastra
dan aku juga suka
kau suka boneka ?
entahlah
kuharap kita menjadi teman berkarya
seia sekata, boleh juga
yayaya, mari kita mulai pertemanan kita
esok kan jadi apa?
entahalah
jalani saja



Dinoyo 02'06'14 Malang, Putra Ma'had

Teruntuk kau " Gadis Penipu"



Ih ternyata kamu genit juga


kau datang dengan cepat
mendekat tanpa basa basi
tak tahu produk apa yang kau tawari
di tangan kananmu jelas kulihat sebuah botol mini

aku hendak melangkah
namun segera kau sapa
"hai"
katamu seketika
dan aku gugup
cewek secantik kau menyapa arjuna
ada maksud apa ?

kau duduk di bangku kosong
aduh kenapa harus didepanku
aku sejenak terpaku
ah, kecantikanmu sungguh terlalu
aku mungkin belum terbangun dari mimpiku

"hai"
samar-samar suara lembutmu menyapaku
untuk kedua kali
aku begitu malu
hatiku menerka
sepertinya ada yang tak beres dari tatapanmu

aku balas kau tersenyum
"ada apa" kataku
kemudian kau sodorkan botol kecil dari tanganmu
sedetik kemudian aku bingung
kuterka
kau ini mungkin penipu
tapi...
kau cantik,
parasmu membuat aku enggan tuk berlalu
tiba-tiba
kamu mengedipkan mata
ih ternyata kamu genit juga
kaupun mulai berbicara
aduh, penjelasanmu terlalu keliru
sepertinya kau benar-benar penipu

akhirnya kau minta uangku
lima puluh ribu saja katamu
kasihan
ternyata kau menyapaku untuk berjualan
jangankan lima puluh ribu
lima puluh juta pun kan kuberi dikau
tapi tinggalkanlah pekerjaanmu
jadilah istriku
kau mau ?

Dinoyo 02'06'14 / Putra Ma'had

Teruntuk Ibu dan Ayah, Selamat malam !



"Nanda"

Soppeng, asal mula cerita
menangis hari itu cerita para keluarga
kamis subuh kala itu mengantarkan suka
Ayah belum berangkat kerja,
ketika itu panik katanya
akhirnya lahirlah putra pertama

Ibu untuk kali pertama bernafas lega
9 bulan telah tersiksa "putra mahkota"
enggan tuk berkata
tangis haru keluarga
menatap sosok kecil tak berdosa

Berkatalah sang ayah
jangan kau jadi sepertiku nanda
kelak kau akan menjadi yang berbeda
kau kan menjadi pemuda perkasa
aku dan ibumu hanyalah awalmu saja
jikalau saja aku kan tiada
maka berdirilah diatas samudra
dayunglah perahu asa
menuju singgasanamu bahagia

Sang Ibu berkata
nak kelak kau kan mengarungi samudra
melawan ombak rintang yang kan berulang-ulang
tangga-tangga cobaan yang menjulang
cemohan-cemohan bibir yang menjatuhkan
tak usah kau hiraukan
jadilah karang ditengah lautan
bertahan diterpa ombak cobaan
jadilah tegar
meski tubuhmu memar
jangan jadi belukar
hidup terlantar
tanpa rasa sadar
kau adalah mahkota
aku dan ayahmu adalah "titipan"
doaku menyertaimu,
berlayarlah sesukamu,
jangan lupa pulang
jika kelak kau telah sampai diseberang
kirimkan surat kerinduan untukku
Ibumu yang tak pernah lelah untuk mencintamu "nanda"
Jadilah perkasa anakku
Aku bahagia melahirkanmu


Dinoyo 31'5'14 Malang "Putra Ma'had"

Buat kakek



Sang veteran tua


Keriput wajahnya
berjalan bungkuk, sesekali "uhuk"
seabad kurang empat, umurnya
sudah terlalu tua dan nyaris telupa
ternyata sejarah mengenalnya
pelopor perubahan "ayam jantan"
ah, itu kakekku sang veteran tua
aku mengenalnya dari sejarah
mulut-mulut tua yang membeberkan identitas lamanya
ah, itu dia kakekku sang veteran tua
dan aku cucunya yang perkasa


Dinoyo 31'4'14 Malang Putra Ma'had

SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...