LDR
Shinta - Lukman
“Kamu selalu saja
begitu, membuatku merasa salah dan selalu menjadikanku tersangka atas kekacauan
yang terjadi padamu. Kamu egois, kamu adalah laki-laki paling egois yang pernah
aku kenal, kamu selalu menyalahkanku sesukamu, seolah aku adalah orang yang
paling bersalah akan kekacauanmu, sadarlah aku menantimu dengan setia, jangan
menuduhku seperti kamu tidak mengenalku , aku takut laki-laki, aku hanya
percaya dan berani sama kamu, tolong jangan hukum aku seperti ini, kamu sungguh
jahat ”.
Air mata Shinta tak
terbendung ketika menuliskan pesan panjang pada Lukman kekasihnya yang
belakangan ini berubah menjadi seseorang yang egois. Ia tidak habis pikir
dengan laki-laki itu, beberapa bulan yang lalu dia masih hangat, masih
memanjakannya dengan kasih sayang, namun sebulan terakhir ini seolah-olah dia
menjadi orang asing, dia berbeda dia sama seperti orang sinis yang suka
mengintrogasinya, penuh curiga dan keraguan. Dia menekan tombol kirim di
SmartPhone barunya dan ia pun terbaring, menutup wajahnya dengan bantal
menyembunyikan tangisannya, dia terisak perlahan. Tersirat senyuman lelaki itu
penuh dengan keteduhan, rangkulan lembutnya penuh kehangatan, genggaman
tangannya memberikan kedamaian,”oh Tuhan
ada apa dengan kekasihku itu?”, hatinya merintih, kepalanya pusing , dia lebih
baik menangis untuk melampiaskan kekesalannya. Beberapa saat kemudian
handphonennya bergetar, sebuah pesan baru masuk, dari lukman. “ maafkan aku,
aku bukannya berubah, aku Cuma ingin kamu tetap seperti dulu yang aku kenal,
meski kita jauh aku mau kamu jangan merasa bosan, aku mau kamu tetap mesra seperti
dulu, jangan menjadi asinng bagiku, maafkan aku, i love you jangan tinggalkan
aku, aku tahu aku jahat aku begini karena ada alasan, maafkan aku”. Pesan yang
begitu panjang dan membuatnya merasa terpukul. Dia baru sadar akan sesuatu.
Perubahan yang terjadi pada dirinya yang selalu membuat laki-laki itu mengeluh
dan memohon-mohon kepadanya. Ternyata dia juga punya berubahan yang baru saja ia
sadari. Terbesit rasa sesal dalam hatinya, baru ia sadari kebiasaan lukman
menangis adalah merupakan suatu masalah yang terjadi karenanya. Memang dia akui
kalau akhir-akhir ini caranya membalas SMS dari Lukman sangatlah berbeda. Jujur
saja dia malas. Malas dengaan kata LDR yang menghiasi hubungan mereka berdua.
Beribu-ribu mil menjadi perantaranya dengan Lukman, sungguh suatu ujian yang
menyakitkan ketika harus berjauhan dengan orang yang disayanginya. Sulawesi-Jawa
adalah jarak yang jauh, membatasi dinding mereka untuk bertemu, itu adalah
salah satu alasannya mengapa jarak jauh itu membuatnya terkadang berubah.
“
maafkan aku, aku bukannya berubah, aku Cuma ingin kamu tetap seperti dulu yang
aku kenal, meski kita jauh aku mau kamu jangan merasa bosan, aku mau kamu tetap
mesra seperti dulu, jangan menjadi asinng bagiku, maafkan aku, i love you
jangan tinggalkan aku, aku tahu aku jahat aku begini karena ada alasan, maafkan
aku”.
Lukman membalas pesan dari kekasihnya yang baru saja membuatnya kembali berurai
air mata. Entah mengapa sejak dia berpcaran dengan Shinta hidupnya sangatlah
berubah, dia terlalu mudah mengeluarkan air mata. Itulah cinta. Baginya Shinta
adalah orang terakhir yang harus dia perjuangkan untuk menemani hidupnya dimasa
depan. Perempuan itu membuatnya “cinta mati” dan membuatnya menyerahkan semua
harga diri beserta hatinya secara utuh untuknya. Dialah perempuan yang berhasil
menghapus masa lalunya yang menyakitkan, tentang sebuah pengkhianatan cinta
yang tak tersampaikan. Pertama kali ia mengenal Shinta adalah sebuah pertemuan
tak terduga. Sebuah takdir mempertemukan mereka dalam satu kompleks perumahan.
Dalam hatinya sudah berkomitmen, dia akan menjadikan gadis itu sebagai pendamping
hidupnya. Saat ini ia sangat kacau, puluhan pesan telah ia kirimkan pada Shinta
dan ketika ada balasan dia menerima balasan yang sangat menyakitkan, sangat
membuatnya kacau. Jujur saja akhir-akhir ini ia merasa sangat berubah, dia
lebih suka mengitrogasi gadis itu ketimbang memanjakannya seperti beberapa
bulan yang lalu ketika gadis itu masih sering mamanggilnya mesra. Ia tak tahu
harus berbuat apa, yang dia tahu hanya terus memohon dan membujuk gadis itu
agar tidak pernah berubah, dia merindukan saat-saat mesra ketika gadis itu
memanggilnya sayang, panggilan yang sangat ia inginkan berulang di tiap
harinya. Shinta membuatnya benar-benar gila, bahkan kuliahnya pun menjadi kacau
ketika Shinta berubah menjadi orang lain. Baginya shinta adalah hidupnya,
ketika shinta menjadi asing maka dia adalah orang asing dalam dunianya sendiri,
dalam dunia kampusnya, di dunia pertemanannya dia juga akan berubah menjadi
pendiam dan pemarah.
Shinta
merasa bersalah telah mengirimkan pesan yang dia yakin akan menambah kekacauan
Lukman laki-laki yang memberinya Cinta yang begitu tulus. Namun ia masih kesal
akan pertanyaan-pertanyaan memojokkan yang diberikan padanya, seolah-olah dia
ini adalah wanita yang tidak bisa dipercaya. Dia kesal ketika Lukman menjadi
sosok lelaki pecemburu yang begitu jahat yang mampu membuatnya naik pitam. Wajar
saja kalau Lukman cemburu tapi asalkan jangan berlebihan, itu pintanya dalam
hati. Memang semenjak hubungan jarak jauh Sulawesi-Jawa mereka lebih sering
bertengkar. Dia segera membalas Sms
Lukman yang baru saja dia terima, pesan yang penuh arti. “iyya maafkan aku
juga, karena perubahan sikapku membuat pikiran dan tingkah lakumu ikut kacau,
sungguh aku hanya bosan dengan hubungan ini, jarak jauh yang selalu menimbulkan
curiga dan kerinduan yang mendalam, namun itu hanya pikiran saja, demi Tuhan
hatiku selalu mempertahankanmu dengan degala ikhlasku, aku mencintaimu Lukman,
maafkan atas segala kesalahnku, aku harap kamu juga jangan berubah, sadarilah
sikapmu yang membuatku terkadang lelah”, tepat sekali pesan itu membuatnya
kembali beruarai air mata, ia meratapi nasibnya yang telah terperangkap dalam
cinta lukman yang membuatnya terikat dan memberikan segalanya untuk lelaki itu.
Awalnya dia hanya ingin menjadikan Lukman sebagai teman saja, namun Tuhan
memang mampu merubah nasib seseorang, dengan segala usaha Lukman akhirnya
hatinya pun luluh, seluluh-luluhnya. Bahkan janji-janji setia kini telah banyak
ia ucapkan kepada Lukman, “oh Tuhan laki-laki itu sungguh membuatku jatuh cinta
sampai sejauh ini”, hatinya berseru. Sembari ia berbaring meletakkan
smartphonenya di atas perut mananti Lukman membalas pesannya. “semoga saja dia
tidak marah”, air matanya masih saja berurai, sungguh pedih rasanya ketika
harus bertengkar dengan laki-laki itu, hatinya terlalu peka dan kata-katanya
sungguh manis, membuatnya terhipnotis dengan cinta. Cinta yang membuatnya
seperti ini.
Kembali
Hanphone Lukman berdering. Sebuah pesan masuk. Ia segera bangkit dari
kekacauannya dan perlahan mencermati isi pesan itu. Hatinya seperti terbang di
udara, bebannya seakan hilang, matanya yang basah kini berhenti mengeluarkan
air kesedihan yang selalu ia rasakan belakangan ini. Shinta adalah gadis
impiannya yang kini menjadi nyata. Shinta hanyalah miliknya, itu hukum yang
harus ia aplikasikan. Dalam doanya hanya nama Shinta yang selalu jadi jaminan
di hadapan Tuhan, dia hanya ingin wanita itu. Pesan tersebut mampu membuatnya
kembali hidup setelah ia hampir mati dalam kesedihan yang begitu dalam,
kesedihan yang menjauhkan dirinya dari akal sehat. Itulah dampak ketika Shinta
memberikannya luka, ia lupa kalau luka itu tidak akan mampu ia sembuhkan
kecuali gadis itu sendiri yang menyembuhkannya. Sembari ia tersenyum kemudian
bersujud kepada Tuhan telah mendamaikannya dengan Shinta, ia sungguh senang
menerima pesan itu. Sudah 2 hari ini dia ada dalam keadaan kacau, bukan main
ketika pesan-pesan panjangnya hanya di tanggapi singkat oleh Shinta, kepalanya
seperti ingin dibenturkan berulang-ulang didinding agar dia mati saja, itu
lebih baik dari pada menghadapi sikap shinta yang ennggan menanggapi seriu SMS
darinya. Kini semua kekesalan itu berhasil melebur bersama waktu. Semua lukanya
pun kini sembuh seketika, semuanya berkat Shinta, dia adalah obat paling
mujarab yang pernah ada di dunia. Kalau obat dari kedokteran berefeknya terasa
setelah 5-10 menit namun Shinta mampu memberikannya efek hanya dalam 1 detik
saja, semua beban dan lukanya hilang. Itulah ajaibnya cinta, dan kini mereka
sepertinya telah berdamai seperti sedia kala.
“iya aku janji, demi
tuhan aku akan mengubah sikapku , tolong kamu tegurlah aku ketika kau salah
Shin, aku butuh kamu untuk menegurku, kamu jangan diam, aku harap kamu jangan
berubah, aku mau kita mesra seperti dulu, kamu jangan menyerah, memang
belakangan ini aku egois, aku akui itu, tapi sumpah aku tidak pernah mengurangi
kepercayaanku sama kamu”, Lukman membalas pesan tersebut penuh dengan komitmen
dalam hati, dia harus berubah menjadi laki-laki yang baik bukan menjadi
laki-laki egois yang membuat kekasihnya itu jenuh dengan sikapnya.
Shinta menerima pesan
baru. Ia tersenyum tipis membaca pesan dari lukman, pesan yang juga membuatnya
damai, bebannya juga perlahan menghilang. Seperti sedia kala, rasa sayangnya
untuk lukman kini perlahan kembali utuh setelah terombang-ambing dengan
pertengkaran dahsyat yang menurutnya kekanak-kanakan. Seharusnya dia lebih
dewasa dan memahami apa sebenarnya keinginan laki-laki itu. “Mesra” selalu
kata-kata itu yang diinginkan lukman darinya sementara dia belum mengerti
seperti apa mesra yang laki-laki itu maksudkan. Jujur saja yang dia inginkan
dari Lukman adalah “memanjakan” nya dengan penuh cinta. Dia sungguh rindu
ketika Lukman memanjakannya seperti seorang putri, memang laki-laki itu paling
bisa membuatnya nyaman, senyaman-nyamannya. Ia kadang berfikir, masa depan
seperti apa yang akan dia miliki bersama laki-laki seperti Lukman. Pasti adalah
bahagia dan sejahtera, ya setidaknya itu yang ada dalam fikirannya. Berfikir
terlalu jauh merupakan hal baru yang saat ini ia sering lakukan. Berangan akan
sebuah pernikahan yang megah, penuh dengan sukacita bersama Lukman tentunya. “
iya aku percaya kamu Man, aku harap kamu pertahankan kata-katamu. Iya akan
kuusahakan menjadi seperti yang kamu mau. Tolong kamu jangan sering
mencurigaiku, aku sungguh-sungguh disini menjaga semuanya untukmu, jangan kau
ragu. Jika jarak ini terkadang membuatku jenuh, percayalah kejenuhanku tidak
akan membunuh cintaku untukmu, salam rinduku untukmu man, cepat kembali yah,
aku sangat merindukanmu”, pesan yang penuh makna, segera ia kirimkan pada
Lukman.
Lukman tersenyum, dia
benar-benar telah hidup kembali. Ada sebuah rasa yang menggejolak dalam
hatinya. Rindunya semakin membara, entah bagaimana caranya ia memangkas waktu
agar cepat berlalu, ia ingin keSulawesi, ia ingin bertemu sang kekasih,
memeluknya dengan haru, melepas rindu yang berbulan-bulan menjadi pengiris
hati. Kini ia berjanji, sikap buruknya harus diakhiri. Sikap buruk yang selalu
menjadikan hubungannya dengan Shinta kacau balau. Sebenar nya dia ingin Shinta
itu mengerti akan perasaannya. Perasaannya yang sangat peka terhadap perubahan
yang tiba-tiba, dia sangat peka akan besar kecil perubahan yang ada pada
shinta, dia sudah benar-benar melepaskan seluruh hatinya untuk gadis itu saja.
Itu memang gila untuk ukuran seorang laki-laki, tapi itulah faktanya, shinta
adalah masa depannya, seseorang yang harus ada dalam tiap detik kehidupannya.
Tanpa shinta mungkin saat ini dia telah tiada, pernah dulu ia berfikir untuk
mengakhiri dunianya, ketika itu kekacauan besar terjadi diantara mereka, namun
semuanya kembali normal ketika shinta menjadi pengobat dan menyadarkannya dari
kegelapan cinta. Baginya LDR itu sesuatu yang sangat menyakitkan. Berada jauh
dari sang belahan jiwa adalah ujian yang sangat memilukan, karena jarak, air
mataya terkadang keluar ketika rindu datang menguasainya. Shinta adalah
segalanya dan ia adalah pemiliknya, itu hukum yang harus Lukman tegakkan dalam
dunianya.
Seperti air dalam bejana akan terus mengikuti
bejana yang ditempatinya, seperti itulah Shinta bagi lukman, Shinta adalah
Bejana dan Lukman adalah airnya, apapun yang terjadi pada Shinta , maka Lukman
akan terus mengikutinya, perubahan kecil apapun Lukman akan menanggapinya,
mungkin dia bisa disebut lelaki paling sensitif , dan itu yang membuatnya
terkadang menjadi gila, segila-gilanya karena Shinta.
BERSAMBUNG....... J
J
J