Skenario “VENOR FILM”
Scene 1
Sumur
+ jemuran
(MUSIK
)
Samsul sedang menjemur
pakaiannya, sementara di sumur Jasman dan memed sedang mandi. Tak berap lama
kemudian samsul ingin buang air besar. Diapun kesumur dengan membawa ember
besar di tangannya,.sesampai disumur diapun melemparkan timba kedalam sumur
namun tali yang ia pegang terlepas. Segera ia kembali kesumur tempat samsul
jasman dan memed mandi. Disana jasman dan memed sedang berbutan timba. Memed
yang kepalanya penuh dengan busa sementara jasman yang mulutnya sudah kepedisan
gara-gara busa odol. Dengan wajah yang memelas sul meminta timbaa itu , dengan
berat hati kedua temannya pun memberikannya secara terpaksa.
Scene 2
Perjalan menuju
lapangan upacara
Ketiga sahabat itu berjalan
dengan coolnya melewati lapangan Algazali kemudian melewati perpustakaan. Dari
lapangan upacara sudah bisa dilihat ketiga sekawan itu. mereka berjalan
ibaratnya model. Begitu mereka telah hapir sampai di barisan kelas X samsul
mengeluarkan sebuah gerakan dari tangannya. Dan seketika itu barisan dari kelas
X terbelah menjadi dua bagian. Mereka bertiga pun lewat dan tetap memasang style coolnya.
Sampai pada dibarisan kelas XI tiba-tiba sebuah suara lantang terdengar. “WOE
Antum.....”, teriak orang tersebut. Ketika mereka membalik badan ternyata
dibelakang mereka sudah ada seorang Ustaz yang siap-siap menendang ketiganya,
merekapun panik.
Sutingan mundur dari
lapangan upacara keluar IMMIM dan kemudian kembali masuk, dan meliput kegiatan
upacara.
Scene 3
Panggung Upacara ( sederetan piala besar terpajang
didepan sana)
Pembina upacara sedang
memberikan nasih-nasihat. Para santri
mendengarkan dengan baik.
“ Anak-anakku santri
sekalian...blanblabklabakballa....dst “
Kemudian penyerahan
piala kepada santri berprestasi ( Jasman dan Memed )
“ Hari ini kita akan
kembali menerima piala sumbangan dari santri kelas 6, kepada ananda Muh jasman
Karase dan muh Aswar agar segera naik keatas panggung. Seluruh santri pun tepuk
tangan. Dibawah pohon mangga samsuk hanya bisa duduk merenung dn menatap kedua
temannya dengan perasaan iri dan bangga. Hatinya berkata “ kenapa aku tidak
memiliki kemampuan sama seperti mereka?
Scene 4
Depan Toksan
Ketika sekawan duduk
sambil bercerita-cerita
Samsul : We cika ,
iriku liatko berdua.
Jasman ; kenapako sede’
iri biasa aja bro
Memed: iyo, jangan mako
iri bro, karena ini piala untuk kitaji semua.
Dengan ekspresi kesal
Samsul membalas.
Samsul : bukan begitu
bro,... . kau toh jase’ jagoko dalam
mata pelajaran , jadi selaluko juara, smentara kau Med jagoko dalam bidang
olahraga jadi selaluko dapat piala juga. Saya iyya kodong ?( menyesali dirinya
yang terlalu bodoh, menurutnya)
Obrolan mereka terus
berlanjut, tiba-tiba seorang Adik kelas melintas tanpa permisi (tabek-tabek) . Dengan
emosi samsul memanggil adik tersebut yang sudah mendekati bagian Foto Copy.
Samsul: Wwe.we. we
botak , siniko.(teriaknya keras, membuat adik tersebut balik dan sadar
diri)
Adik : kenapa kak ?
Samsul : coba kau ulang
jalannu dari sana (menunjuk kepembelokan dari kantin). Jangan lupa tabek-
tabekko nah.
Sang junior pun menuti
kemauannya. Begitu melewati beberapa meter tiba-tiba makanan yang sedari tadi
dipegang oleh Sul tiba-tiba terjatuh. Sontak saja dia kembali memanggil sang
Junior, “ we botak , kembaliko lagi”. sang juniorpun kembali. “ kenapa kak?
Dengan ekspresi santai sul menunjuk kearah mkanannya yang jatuh, “ ambilki dulu
itue dek, tolong nah”. Jasman dan memed hanya bisa tertawa geli melihat tingkah
teman mereka yang satu ini. Karena memang mereka tahu Samsul itu punya banyak cara
untuk menjahili adek kelas.
Setelah junior tersebut
melaksanakan tugasnya dengan tegasnya
Sul :pergi mko cpat”, dengan nadanya yang
lantang.
Memed : dedeh, santai
mko tawwa bro, adek-adekta’ itue, jangan samapai najamma’ki sama ustas. Bisa
berabe itu zul (memed memberi nasehat
singkat pada si samsul).
Karena si jasman juga tidak
mau kalah, dia pun menambahkan nasihat
Jasman : . iyyo tawwa,
jangan kasar begitu sama adek kelas, nanti dapatko masalah....”
Belum lagi jasman
selesai dengan ceramah singkatnya samsul langsung memotong pembicaraan.
Samsul : mdd, ini mi
ini 2 orang paling kassa’ ceramahika’ oke pale’ mengalah ma’. Mendingan saya
mengalah dari pada saya perpanjang ini masalah , itu hanya akan membuat persahabatan
kita jadi retak, jadi jangan mi bahas lagi nah, ayo masuk belajar.bunyinmi
lonceng”.
Mereka bertiga pun meninggalkan tempat
nongkrongannya dengan saling merangkul, betapa indahnya persahabatan didunia
pesantren.
Scene5
Dalam kelas
Ketiga sahabat itu
duduk berdampingan. Saat ini mereka ingin melakukan suatu percobaan yang sangat unik, yaitu mengetes kamampuan
Sul dengan ilmu Mafikib, karena kebetulan pelajaran hari ini adalah Matematika,
mereka berharap kemampuan Samsul ada di mapel yang satau ini.
Jasman : we cika’ lamana kau guru masuk’e..., nda
sabar ma saya belajar”, ucap Jasman heboh. Kemudian diikuti lagi oleh Si Memed,.
Memed : iyyo saya juga
jase’ padahal post test ku yang kemarin belumpi selesai, jadi bagaimana mi
ini?”.
Sul dengan santainya
menjawab, “ adedeh, biasa aja kali”, ucapnya tanpa ekspresi.
Sesaat kemudian
muncullah sesosok guru cantik di pintu kelas. Seketika itu selurus santri
terdiam, khusunya Samsul, dia sedang asyik memperbaiki gaya rambutnya,
sementara kedu temannya sedang mengeluarkan buku cetak matematikanya.
Samsul : wah,wah pagi-pagi belajar matematika pasti
bikin mengantuk ji”, .
Jasman :
jangko dulu tidur ini pagi, mauka liat siapa tau kemampuanmu ada di
matematika bro ( menyemangati sul).
Memed : iyyo, Sul,
apanajie, kapanko bisa berkembang kalau tidur terusji kau kerja dikelas ?.
Samsul : iyyo deh bawel
mu deh semua
Singkat kata pelajaran
matematika pun dimulai, Jasman dan memed memperhatikan dengan baik materi yang
diberikan. Smentara itu zul telah larut dalam khayalannya.
(khayalan zul )
Samsul berlari ke
asrama membawa sebuah piala besar di kedua tangannya.
Samsul : we cika’
dpatka lagi juar satu lomba mafikib sesulsel-bar, ini pialaku’e.
Jasman : Deh kassa’
mentong ini sahabatku satue, juara terus , hahahay.
Memed ; apaja ku bilang
zul, pasti bisako juara, apa yang kurang dari kau, sudah pintar, jago olahraga,
gagah lagi. memed tertawa sinis, sorry-sorry salah sebutka ces.
Dengan kesal Samsul
menendang bokong si memed dengn keras.
Samsul : ape loe ?
Memed : ape loe ?
Lagu project pop pun
menggema, dan jadi video klip
Dan apa yang terjadi ,
piala yang dipegnag samsul terjatuh dan, seketika itu ia kembali kealam nyatanya. Dia mendengar suara samar-samar.
“ sul, we sul, sadarko
weh, habismi pelajaran matematika”.
Memed : astagaa...
sul...sul... kukira tommi muperhatikanki ibu mengajar, waduh susah ini kalo
begini bro.
Smsul : apaja kubilang,
dari dulu tidak bisa memangka saya matematika, buntu otakku ces, ndak kayak kau
berdua.( smsul kesal )
Jasman ; ya maaf bro,
tapi setidaknya di bantuko toh.
Begitupun pelajaran selanjutnya,
tak ada perubahan dari Samsul, dia tetap saja pusing dengan setiap pelajaran
yang diberikan padanya, khususnya mapel mafikib. Dan kedua temannya pun
menyerah dan mencari ide lain supaya bisa menemukan apa sebenarnya bakat
seorang samsul. Dan sebuah ide terlintas di otak memed.
Memed ; aha... coba
nanti sore kau main bola , siapa tau kau jago dalam olahraga, gimana sul ? mau
jko ?
Dengan terpaksa sul
menagunkkan kepalnya dengan ragu.
Samsul : kita liat saja
nanti
Scene 6
Setelah sholat Azhar
semua santri kembali kekamar ( musik)
Di asrama, tiba-tiba
beberap santri berhamburan keluar dan membawa bola kelapangan algazali.
Memed : Sul ,cepat
saiko ganti baju, mauki main bola ces e, gesit, gesit ko.
An venor : sabarko
tawwa med, mentang-mentang kassa’ mko. Protes seorang teman.
Memed : (menatap
sinis kearah an venor , nda mengeluarkan
stylenya, tanda merendahkan).
An venor : ( melempari
memed dengan sendal) (memed pun berlari keluar asrama)
Samsul : ( berjalan
dengan coolnya keluar asrama, dan menghampiri memed yang sedang asyik melawak
bersama teman-teman yang lain.
Semua teman menatap sul
heran, tumben kali ini dia memakai seragam bola lengkap, biasanya sore-sore
begini kerjanya Cuma duduk dan melakukan aktivitasnya sendiri di kamar.
Samsul ; apa liat-liat,
kerenka’ toh ( memperbaiki gaya rambutny )
Memed : bah, keren
sekaliko bro, nda beda jaug ji sama saya ( tertawa terbahak, dan mendapatkan
beberap pukulan dari teman-teman yang ada disekitanya, paling ero’ huwww)
Samsul : btw, mana
jasman nah? ( mencari jasman disekeliling namun tidak ia dapati )
An Venor 2 : masa nda kau tau sul, ada bimbelnya dia untuk
persiapan Olimpiade Matematika bulan 7 nanti.
Samsul : haaa, iyokah.
Ndd jasman mi se’, saya kek sekali-sekali ( menyesali ketololannya )
Memed : daripada kau
menyesal begitu, tambah tolo jko nanti, mendingan turun mko cepat kelapangan
main, kurang 1 orangngi disanae. ( menunjuk kesalah satu tim yang kekurangan
pemain )
Dengan gagah sul turun
kelapangan dengan berlari-lari kecil. Semua teman-teman hanya bisa menahan
nafas ketika pertandingan di mulai.
Emink : we sul tendang
keraski ke depan nah.
Samsul ; sip bro.... (
sambil menendang bola, namun meleset 90* kearah kiri ) membuat para penonton
tertawa ternahak melihat kekonyolan yang dibuatnya )
Samsul : sorry-sorry
salah tembakka ces ( sambil memohon ampun ke rekan se teamnya )
( dalam permainan bola
sore ini berlangsung kocak karen ulah samsul yang sangat kocak )
Memed : Samsul, sini mko ces, sudahmi , suruh
temanta gantiko main. ( berteriak )
Samsul pun berlari
kecil keluar dari lapangan dan duduk disamping memed.
Samsul : apaja
kubilang, tidak bisaka juga main bola saya ces. Jadi bagaimana mi ini ? nda ada
memang saya guna-gunaku di priode ces.
Sudah tolo, kuttu, malas lagi, hidup lagi . ( musik instrumen )
Memed : sabarko cak,
pasti ada kemampuan khususmu bro, janganko dulu menyerah, karena masih banyak
cara untuk mengetahui dirimu yang sebenarnya. (musik)
Pukul 17.00, lonceng
berbunyi. Didepan algazali masih tetap
ramai, para pemain bola tetap melanjutkan permainan indahnya dan para pcinta
musik bernyanyi dengan guitar akustik milik salah seorang dari anak venor.
Mereka bernyanyi dengan merdu.
Memed : Zul, coba beng
kau yang menyanyi, siapa tau bagus suaramu kalau menyanyiko, gimana?
Zul : we,astaga, mauko
bunuhka’ kah ? menyanyi ? waduh, kayak kau suruhka’ pergi ke bulan tanpa pake
roket itu cika’, jellek suaraku.
Memed : ayolah zul,
mencob tak mengapa, siapa tau toh tiba-tiba datang hidayah dari Allah. ( ayu
memed dengan wajah usilnya)
Zul : okelah kalau
begitu.( ucapnya seraya berdiri dan menghampiri segermbolan anak venor yang
sedang bernyanyi. Segerombolan anak venor yang bernyanyi tiba-tiba terdiam dan
menatap Samsul, mereka bingung.
Zul : hm, can i borrow
? ( mengulurkan tangan untuk meminjam gitar)
Dengan segera sang
guitaris memberikannya gitar tersebut. Terjadi Seakan telah terjadi sesuatu.
Suasana yang tadinya gaduh tiba-tiba saja menjadi sunyi ketika Zul mulai duduk
dan memperbaiki posisi gitar ditangannya. Begitu tagannya mulai memainkan
suasana semakin hening, semua mata tertuju padanya, menatap heran, pasti akan
ada hal konyol yang terjadi. Dan itu benar, sejurus kemudian mereka semua tertawa,
mendengar lagu dan cara Zul bermain gitar.
( lipsync lagunya
asking alexandria )
Memed segera menghampiri
kawannya yang telah jadi bahan tertawaan.
Memed : Zul, sudahmi
bro, memang kau tidak bisa juga dibagian musik. Masih banyak ji pilihan ces,
besokpi dilanjutki lagi pencarian jati dirimu,sekarang yok pergi mandi.
Zul : mdd, pdahal asik
ku mi lagi tadi main ces, ( ekpresi kesal dan merasa tidak bersalah )
Memed : iyyo tapi,
tidak kusuka saya kalo diketawaiko kayak tadi. Kita itu sahabat cika’, jadi
saya tidak mau liatko jadi bahan tertawaannya teman-teman. ( ekpresi prihatin)
(music, reff lagu kepompong)
Adegan mandi dipercepat
.
Scene 7
Suasana masjid yang
ribut. Bukan ribut karena suara santri berceritamelainkan ribut karena suara
santri yang melantnkan ayat suci Al-Quran dengan khusyu. Seperti biasa Sul,
memed dan Jasman duduk bersebelahan. Mereka bertiga juga sedang asyik membaca
al-qur’an. Sampai tiba-tiba Zul membuka obrolan.
Zul : we bagaimana ini
ces e, nd tau apa saya kemampuanku kodong. Kayak merasa apa dih, susah
dijelaskan pokoknya.
Jasman : astaga bro,
kutnyako nah. Saya saja dulu tolo sekalika dalam meta pelajaran mafikib ces.
Tapi ada kemauanku untuk berubah. Tidak mauka jadi orang yang tidak bisa terus,
saya mau jadi orang yang bisa melakukan hal yang sebelumnya tidak bisa saya
lakukan, itu semuanya berawal dari kemauanku ji untuk berubah jadi lebih baik
bro. Masa’ kau mengeluh terus, baru juga beberapa yang tidak kau bisa ces,
masih banyak ji hal yang bisa kau lakukan, satuji yang harus kau miliki cak,
kemauan, itu saja, asalkan ada kemauanmu pasti bisako itu berubah . ingat tidak
ada orang tolo didunia ini. ( ceramah panjang lebar )
Sejenak zul terdiam
meresapi betul kalimat yang tadi diucapkan sahabatnya .
Zul : iyyo bro, terima
kasih banyakcika’, kau betul-betul teman yang berharga bagi saya ces. Kalian
berdua adalah membangkit semangat yang paling mujarab, terima kasih banyak
kawan. (tiba-tiba saja jadi orang yang bijak)
Memed : yoah bro, kita
ini sudah hampir enam tahun sama-sama. Bayangkan dari kelas satuki baku teman.
Saat itu masih kecil-kecilki cika’ . tapi waktu yang membawa kita sampai sejauh
ini. Besar mki sekarang, jadi sewajarnyami kita ini saling memotivasi. (
rekaman ulang kejadian masa lalu, diperan kan oleh model pengganti yang mirip ketiganya).
Scene 8
Asrama Algazali
Malam malam mulai
larut. Jam dindinding sudah menunjukkan pukul 21:58. Sebentar lagi lonceng
tidur akan berbunyi. Sebagian anak venor masih sibuk dengan aktivitasnya, ada
yang dengar musik , menelponpacar, dan
lain sebagainya. Sementara itu ketiga sekawan itu sedang sibuk dengan urusan
konyol mereka semdiri, yaitu cerita-cerita
tanpa tema.mereka tertawa bersama,
saling bernbagi cerita, indahnya persahabatan.
Pukul 23.00 jasman
sudah tidurnyenyak dengan kelambunya,
Memd tidur dengan selimutnya, sementara
Samsul masih bingung bagaimana caranya ia tidur dengan suasana seperti itu. tak
ada selimut, tak ada bantal, tak ada kelambu pula. Segera ia mencari ide untuk
menyelesaikan permasalahannya. Dan tiba-tiba saja terbesit ide gila di
kepalanya, dan hal ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Segera ia mengambil
semua perlengkapan tidur milik kawannya, mulai dari jasman kemudian selimut dan
bantal memeed yang jadi sasarannya. Akhdi irnya dia pun tidur nyenyak, sementara
kedua kawannya sudah mulai menderita karena digigit nyamuk.
Dan apa yang terjadi dipagi hari ?
Mereka tidak pergi
sholat subuh.. ketika Memed dan jasman terbangun, mereka hanya bisa memasang
ekspresi bingung, kenapa selimut, bantal dan kelambu mereka hilang ? namun
sejurus kemudian mereka tersadar, tak jauh dari ranjang mereka terdapat stu
ranjang yang lengkap dengan Aksesoris untuk tidur, siapa lagi kalau bukan
ranjang samsul.
Jasman : wah, med,
patoa-toai itu anak e, masa naambil kelambuku
Memed : iyo, saya mo
iyya kodong bantal sama selimut, pantasan dingin sekali tadi malam
Jasman : (lampu menyala
dikepalanya) ada ideku med......
Simemedpun mendekat dan mendengar apa ide gila Jasman. (
wsmwmsmwmbalanlanalnalnlanla )
Memed : ok....
Mereka pun segera melakukan ide gila mereka.
Jasman :( memberi
aba-aba) 1,2,3.....
Memed : SAMSUL BANGUN
MAKO CEPAT ADA PANGGILANNU DIDEPAAAAAAAAN.... (menggunakan spiker)
Samsul segera terbangun
dengaan terburu-buru segera membuka lemari dan memakai pakaiannya dengan rapi.
Samsul : mana..
mana,... dari tadi mi iyyo ?
Jasman dan memed hanya
tertawa
Samsul : jangko
bilang nubotekika?
MEmed : kalau iyyo
kenapa ? marahko ?
Jasman : lantas
bagaimana bisa kau jelaskan tentang kelambuku.
Memed : bagaimana bisa
kau jelaskan bantal sama selimutku....
Samsul hanya tersenyum
kecut , skakmat dia.
Scene 9
Depan algazali......
Lari-lari subuh.......
Zul : come on
Ketiganyapun segera
berlari.
Depan wahidin.....
Unhas....
Scene 10
Danau unhas...
Mereka meregangkan
otot-otot, Jasman berbaring sejenak.
Zul : med mauka push
up, hitungki nah...
Memed : oke,
1,2,3,4,5,6... dst smpai 100
Zul : adedeh cepatnya
jam berlalu, ayo pulang nge.... nanti tutupki dapur ces
Memed : kasi bangun itu jasman e,
Zul : jase’ jase’ ayo
pulang..... (panggil zul pelan)
Namun Jasman tetap saja
terbaring ditempatnya, tak bergerak sama sekali.
Kepanikan pun
terjadi....... jasman pingsan,
Segera samsul memanggil
angkot dan menyewanyauntuk mengangkut jasman kepesantren.
Diatas angkot .....
Zul : jasman, sadarko
cika’....ada apa dengan kau....
we...we..... jase’
Memed : sudaahmi Zul
jangan mko ganggui dulu, caapek sekali pasti itu.....
Sampai di IMMIM.....
Terus ke Poliklinik.....
Scene 11
Di masjid At
Athlabah.....
Sebelum Sholat Ju’mat....
Zul : Jasman kenapako
cika’ tadi pagi ? kenapako bisa pingsan begitu ?
Memed : iyyo.... ssaya poeng nusessa angkatko naik
pete-pete
Jasman : iyyo, sorry,
capek sekalika’ bela ces... thanks nah karena mutolongka semua, kalau tidak kau
tolongka’ mungkin tadi pingsan terus mka untuk selamanya....( membicarakan yang tidak-tidak)(tanda pertama)
Zul : mdd... janganko
sembarang bilang cika’....
MEmed ; bilang-bilangko
nah kalau capekko jadi tidak usah kau
paksakan dirinu.....
Jasman : iyyo---iyyo
cerewetnu semua deh....
Mereka pun
tertawa bersama...
Scene 12
Pukul 13.00
Dari rumh pak kepala kampus jasman tampak berjalan lesu,
membawa ransel dan surat izin di tngannya. Hari ini dia harus memeriksakan diri
kedokter, untuk mengkolsultasikan penyakitnya. Sebulan yang lalu dia pergi
memeriksakan diri, namun baru hari ini dia akan pergi melihat hasil tesnya.
Scepat mungkin ia harus meninggalkan pesantren. Ia tidak mau kedua sahabatnya
tahu kalau dia sedang menjalani tes penyakit. Dia segera keluar tanpa memberi
informasi pada kedua temannya. Dia hanya menitip pesan pada salah seorang anak
venor, kalau nanti kedua sahabatnya mencari katakan saja dia sedang ada
bimbingan beljar.
Sementara itu di dapur
SMA
Memed : we zul, manai
jasman nah ? perasaan tadi adaji jalan kesini.
Zul ; mh... manaidi ?
(mencari kesekeliling, namun tak menemukan apapun)
Memed : atau mungkin
nda makanki iyya ?
Zul : mungkin (dengan
gaya cool )
Sementara itu Jasman
sudah mendapatkan hasil tesnya dari dokter. Matanya berkaca-kaca saat melihat
hasil tes yang ada ditangannya. Berkali-kali ia menghantamkan pukulannya pada
tembok. Ia tidak percaya kalau dia mengidap penyakit seperti itu. penyakit yang
sebentar lagi akan mencabut nyawanya,” kangker otak stadium akhir “, begitu
kata dokter. Pantas saja akhir-akhir ini dia sering merasakan sakit
dikepalanya, dan lebih sering merasa pusing setiap hari. Namun itu semua ia
sembunyikan dari teman-temannya. “ umurku sudah tidak lama lagi “.
Scene 13
Suasana sore yang ramai
diPesantren IMMIM,, seperti hari-hari biasanya semua santri sibuk dengan
aktivitasnya masing-masing. Namun berbeda dengan Zul dan memed. Mereka berdua
sedang gelisah menunggu sahabatnya datang. Tak berapa lama kemudian dipagar
depan muncullah sesosok bayang yang sedari tadi meraki nantikan. Senyum
tercipta dari sudut bibir anak itu, meskipun sebenranya itu hanyalah senyuman
terpaksa yang harus ia keluarkn didepan kedua sahabatnya yang belum tahu sama
sekali soal apa yang dialaminya.
Memed : we cika’
bagaimna bimbelmu, bagusji ? bagaimana tentornu cantikji kah ?
Zul : kau itu med,
cewek terus kau urus, tidak adakah hal lain yang bagus diurus selain cewek ?
Memed : (menatap sinis)
mentang-mentang mau datang ceweknu , sembarangmi nubilang sama saya, santai
mako nah, dibelakngku masih banyak cewek yang antri, toh jasman ?
Jasman : (memaksakan
diri tertawa) hahaha, iyyo , bah cika’ ka jangan sai mako berdebat soal cewek.
(menatap Zul ) btw, mau betulan datang pacarnukah ? siapa lagi namanya , nur...
nur... nur din ?
Memed : hahaha
iyyo,nur...din namanya pacarna sul ,kwkwkwkw
Zul : santai mko
nah.... belumpi belah kau liat. Kalau kau liat toh pasti tidak berkedip matamu.
Memed ; iyyokah ?
buktikan bede’
Tak berapa lama
kemudian datanglah seorang cewek dengan mengendarai motor matic.
Zul ; itue datang mi .
Seketika itu jasman dan
memed terdiam,mentap cewek itu dengan seksama, dari caranya membuaka helm,
rambutnya yang panjang terhembuskan angin angin( seperti sinetron).
Memed : hm. Jasman ayo
pindah deh, nanti menggangguki’
Jasman : ayo’
Zul ; thanks nah cika’
(tersenyum)
30 menit berlalu. Pacar
zul sudah pamit. Dia kembali menaiki motor dan berlalu. Zul , mengilutinya
sampai didepan pagar, menatap kekasihnya pergi meninggalkannya. Dia sedih.
Namun tiba-tiba ada 2tangan yang merangkulnya .
Memed : sudah bro,
tiddak usah kau bersedih. Beginimi memang ces, kisah cinta anak pesantren, psti
kalian harus terbiasa untuk terpisah begini.
Jasman : jangan mko
khawatir bro, pacarmu pasti setiaji sama kau. ( musik )
Scene 14
3 hari kemudian
Depan Asrama Al Gazali
Seseorang berlari
kegirangan melewati para pemain bola, dengan ,membawa sebuah kertas
ditangannya. Sepertinya dia sedang membawa kabar gembira.
Ank venor : we cika’
pengumuman untuk kalian semua. Ada lomba ceramah di unhas, siapa mau ikut,
nanti toh yang juara akan dikirim ke tingkat provinsi baru nasional.
Jasman : weh, malaskuja
ikut begituan, nda pedeka’ saya ceramah.
Memed ; kaukah,
rumus-rumusji ada dikepalanu, hehehe
Zul ; iyyo, padodongi
ikur begituan, biasayyaji, ceramahji lagi, biasaja saya ceramah di Pinrang.
Memed dan jasman : APA
???? kau harus ikut ( seger Jasman mengambil formulir yang dipegang ank venor)
Scene 15
Asrama algazali
3 hari kemudian
Jasman dan memed sedang
asyik memake up pi si Samsul supaya terkesan lebih mirip da’i profesional, hari
ini hari perlombaan da’i yang diikuti oleh zul.
Scene 16
Lapangan Algazali,
Zul berlari membawa
piala ditangannya. Membuat seketika suasana menjadi semakin heboh. Jasman dan
memed hanya bisa tersenyum melihat apa yang telah diraih oleh sahabatnya
Zul : we cika’ (
memeluk kedua temannya) loloska ke tingkat provinsi, juara satuka’... woi tidak
tappaku ku kurasa deh, padahal ma’bertelja tadi pas tampil.
Memed : hm, kayaknya
sekarang saya sudah tahu apa bakatnu bro....
Jasman ; iyyo...
Zul : apa beng ?
Jasman : jagoko ceramah
bodo’..... samsul ji....
Semua teman-teman
memberikan salam ucapan selamat pada samsul.
Scene 17
Lapangan upacara
Setelah upacara
usai.... samsul dipanggil naik keatas panggung untuk penyerahan piala. Ini
untuk yang pertama kalinya. Dengan senyum bangga ia naik keatas panggung, dan
menyerahkan piala tersebut pada pak kepala sekolah.
Scene 18
Hari pertandngan
tingkat provinsi samsul telah tiba. Siang ini dia akan pergi meperlihatkan
kemampuan berceramahnya didepan para siswa sma sul-Sel –bar. Seperti biasa
jasman dan memed selalu sibuk mengurusi gaya dan make up sahabtanya yang satu
ini.
Memed : menagko cika’
nah.... harusko lagi dapat juara nah,,,, kau harus berjanji pada kami. Kau
harus jadi juara kawan.
Jasman : iyyo cika;’,
doa kami semua mengirimu.... tampilkan yang terbaik, dan tetap optimis untuk
juara, kami percaya sama kau Zul, kau pasti bisa mengalahkn mwerek semua...
Zul : terima kasih
banyak cika’, janjika’ pasti dapatka’ juara itu.... thanks nah, kalian memang
adalah sahabat terbaikku
Mereka bertiga
berangkat ke tempat perlombaan ditemani oleh seorang pembina pondok.
( musik )( lagunya
shela on 7 bersiaplah....)
Akhirnya mereka pulang
membawa pulang sebuah piala besar.... Samsul juara satu dan akan dikirim
ketingkat nasional di Malang , minggu depan.
Scene 19
Beranda masjid. Memed ,
samsul dan Jasman sedang bercerita-cerita. Terdengar suara dari pusat informasi
.
“ ilaa tholib, muh
jasman karase’ ilakismy tyfatyhal’an “
Jasman ; panggilanku
cika’ ....
Sul : iyyo, bawakko
oleh-oleh nah....
Memed ; yang penting
bisa dimakan, kasi’ mka ces...
Jasman ; oke bro....
assala’ kalian senangji.....
Jasman pun berlari –lari untuk menemui tamunya
( adegan lucu jasman
berlari, dengan iringan lagu india atau semacamnyalah)
Jasman datang dengan
membawa sebuah kantongan berisikan makanan. Seorang teman datang
menghampirinya.
Anak venor : bagi dulu
ses’ e....
Jasman : teaja’ siapako
ada tonji uangmu
Anak venor : iyyo ,
begituko . sekke’nu. ( berlalu dengan wajah kesal)
Anak tersebut
membeberkan peristiwa tadi pada teman-teman yang lain. Mereka sedang asyik
nongkrong di depan al-gazali.
Jasman
membawa makanan tersebut pada kedua temannya. Mereka makan bersama-sama di
samping masjid at-thalabah.
Memed dan zul menuju ke
toksan sementara jasman kembali ke asrama. Ia merasa sangat pusing. Ia ingin
menenangkan diri . begitu ia sampai didepan asrama, tiba-tiba semua
teman-teman, menghindarinya.
(jasman disentimeni)
Scene 20
Memed ; sabar mko
cika’... masih ada kami toh, jangan khawatir kami tidak akan seperti mereka
kawan
Zul : iyyo cika’.....
sahabat itu tidak mungkin saling sentimeni.
Jasman : tapi, nda enak
sekali kurasa dikasi begitu ces,,,,
kayak merasa oraang asingka’\
Zul : wewewe....
janganko berfikiran begitu cak... nanti mereka pasti berubah sendiriji itu,
tidak mungkin mamo nasentimeni terusko.
Memed : jangan mko
takut bro nah....
Jasman : thanks cika’
.,.. kalian memang sahabat terbaikku, saya sangat senang bisa mengenal kalian
didunia, terima kasih untuk segalanya kawan ( kepalanya tersa sangat pusingdan
juga sakit )( tanda kedua )
Memed : iyyo bah...
jangko bilang sembarang deh.... biasayyaji
Sceme 21
Satu hari seebelum
keberangkatan zul ke malang.
Venor sedang kumpul
priode. Membahas masalah keberangkatan zul esok hari, venor sedang memberikan
semangat pada zul.
Ketua : teman-teman
semua, saya harap kita semua berdoa untuk samsul, supaya kelak dia jadi juara
di tingkat nasional.bla,,bla..bla...
Setelah itu sepatah
kata dari samsul
Samsul : cika, satu hal
yang saya mintadari kalian. Selama saya
pergi lomba, jangan laloko main sentimeni ces, kenapa jasman kau sentimeni?
Maumki 6 tahun sama-sama , seharusnya kalian sudah mengerti dengan karakter
kita asing-masing..... tolong baikanko semua ces... tlong sekali... jangan ada
yang terpecah-pecah seperti ini, kita sudah dewasa mki toh...
Semua teman hanya bisa
menatap sul dengan rasa terharu, kemudian satu persatu menyalami jasman. Jasman
hanya tersenyum-senyum melihat teman-teman menyalaminya. Kepalanya terasa
seperti mau hancur. Wajahnya pucat. Dan bebrap saat kemudia dia ambruk.
Scene 22
Dalam Asrama .
Zul : jase’ baik-baik mko
toh ces? Kenapako itu selalu pingsan ? padahal kemarin temanta hanya minta maaf
sama kau cika’
Jasman : biasa, kan
terharuka’ cika’... thanks nah... coba bukan gara-gara kau, mungkin masih di
sentimenika’ cika’... thanks sekali lagi....
Memed ; iyyo, zul...
keren sekali kemarin kuliat gayamu nah
Zul : siapa dulu dong,
guwe gitu loh....
Jasman : begini cika’,
kau harus berjanji nah.... harusko dapat juara . nanti itu piala bisa jadi
saksi atas persahabatan kita semua cika’. Mungkin suatu hari nanti, kita semua
pasti akan berpisah, karena mau mki alumni cika’ satuji saya pesanku janganko
lupaka’ nah, apapun yang terjadi nanti,.(tanda ketiga)
Memed : banyak tong
bacotnu kau, kayak mau mati saja
Samsul pun berangkat ke
malang.
Scene 23
Sehari setelah keberangkatan
Zul, jasman semakin sakit. Bahkan ia sudah tidak bisa menahan rasa sakit
dikepalanya. Dia meminta izin untuk berobat. Sebelum itu dia menyembunyikan
hasil tes penyakitnya dibawah kasurnya.