Rabu, 29 Februari 2012

Tinggalkan 3 K, Jalankan 3 B








Kata Pengantar
Bismillahirrohmaanirrohiym....
Alhamdulillah, makalah sederhana ini bisa selesai dengan baik. Makalah ini berjudul  
” tinggalkan 3 k, jalankan 3 b”. Yang dimana makalah ini berisi tentang penyebab-penyebab, dan cara mengatasi permasalahan dalam pembinaan santri. Dan juga terdapat saran dan tips-tips dalam pembinaan santri yang sesuai dengan yang santri inginkan. Apa yang terdapat di dalam makalah ini, semata-mata hanyalah untuk membantu para pembina dalam membina santri di dalam pondok. Karena saya juga masih berstatus sebagai santri, tentunya saya bisa merasakan dan mengamati perkembangan dan kejadian-kejadian yang ada di kalangan santri. Tidak ada niat untuk melecehkan siapapun di dalam makalah ini, semuanya tertulis sesuai dengan keadaan hati sang penulis.
Ucapan terima kasih tak terhingga untuk kedua orang tua yang telah merawat saya dari kecil hingga sekarang. Saya sangat bangga bisa hidup didunia ini bersama mereka. Karena di balik usaha-usahanya untuk menyekolahlan saya di pondok ini, ada sejuta doa yang mereka ucap di dalam sholatnya, sehingga semangat saya untuk meraih cita-cita semakin mengebu-gebu.  Saya ingin mereka tahu kalau saya tidak ingin menjadi anak yang  merepotkan kedua orang tua.
Dan saya akan sangat bersyukur apabila makalah ini memiliki fungsi yang besar untuk mengubah pesantren menjadi lebih baik. Jika terdapat kesalahan dalam makalah ini, mohon di berikan saran ataupun kritikan. Karena sebuah saran dan kritikan dari pembacalah yang akan menjadi dorongan bagi saya untuk menciptakan tulisan-tulisan yang lebih baik. Syukran !                            
                                                                                                Makassar 19 februari 2012
                                                                                                            Salam Penulis                                                                                                                        
                                                                                                            SUHERMAN               




            Pesantren IMMIM berdiri kurang lebih 32 tahun yang lalu, yang terkenal dengan kedisiplinan dan akhlak mulia para santrinya. Disiplin dalam hal ini adalah, didiplin bahasa, disiplin akan segala peraturan  yang berlaku di pondok. Dan akhlak mulia berupa, mengamalkan al-qur’an, menghormati orang tua, dan selalu melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Namun seiring berjalannya waktu, semua itu seakan melebur bersama perkembangan zaman. Kedisiplinan semakin memudar, bahkan akhlak santri juga semakin berkurang. Dimana letak kesalahannya ? Mengapa IMMIM tiba-tiba saja berubah ?. Semuanya kembali pada diri kita semua.
Sekarang ada 3 permasalahan yang menyebabkan pesantren IMMIM turun dari masa berjayanya.
1.      Kekerasan                                                      
2.      Kehilangan
3.      Kabur
Ke 3 poin di atas adalah sahabat sekaligus musuh bagi keluarga besar pondok pesantren immim. coba Kalau kita bandingkan antara pesantren IMMIM era 80-an dengan pesantren IMMIM sekarang. Pasti terlintas tanda tanya besar di benak kita, kemana pesantrenku yang dulu?.
Mari kita uraikan satu persatu dari sekian masalah yang membuat pesantren IMMIM turun dari tahta kejayaannya.
A.  Kekerasan
            Kekarasan di pesantren IMMIM adalah satu cara yang bisa membuat santri-santri taat akan segala peraturan di dalam pondok. Namun semenjak di keluarkannya Undang-Undang tentang HAM( Hak Asasi Manusia), maka kekerasan pun harus di hilangkan. Kekerasan dalam pembinaan bisa saja terjadi, karena dengan kekerasan, santri akan lebih berdisiplin. Dan kekerasan inilah yang menjadi kunci sukses para alumni-alumni terdahulu.


Adapun penyebab akan terjadinya kekerasan adalah sebagai berikut :
-          Karena kurangnya kontrol dari para pembina pondok terhadap para santri, sehingga santri mudah melakukan kekerasan satu dengan yang lainnya. Contoh : berkelahi dan pengeroyokan
-          Faktor saling menghina akhirnya terjadi kekerasan.( perkelahian)
-          Tidak harmonisnya hubungan antara senior dan junior sehingga terjadi perselisihan
-          Kebiasaan santri ingin saling mengeroyok
-          Karena adanya konflik yang terjadi dikalangan santri
-          Karena masih adanya kekerasan dari pembina, sehingga santri condong mengikuti perilakunya.
Adapun cara/solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah sebagai berikut :
-          Sebaiknya para pembina mengontrol dengan efektif segala sesuatu yang terjadi pada santri, dengan cara sering melakukan komunikasi secara langsung supaya keluhan-keluhan yang santri rasakan bisa tercurahkan pada pembinanya. Caranya adalah lakukan pendekatan terhadap santri agar supaya santri lebih rileks dan terbuka pada kita(pembina harus tahu, bagaimana mengambil hati para santri )
-          Kekerasan yang ada di pondok harus dihilangkan sepenuhnya, utamanya dari kalangan pembina , karena alasan santri untuk melakukan kekerasan salah satunya adalah mengikuti tingkah laku pembina di pondok. Kalau pembinanya sering melakukan kekerasan, maka santrinya pun akan melakukan kekerasan. Meskipun ini tidak berlaku untuk keseluruhan santri IMMIM. Tapi setidaknya menurut beberapa pendapat, alasan santri memang cukup benar.
-          Hukuman dalam bentuk kekerasan di ubah menjadi hukuman mental dan fisik. Yang dimana nantinya hukuman mental di fisik itu menimbulkan efek jera pada santri yang bersangkutan.
-          Sebaiknya osis/ispim bekerja sama dengan pembina untuk menghilangkan segala bentuk kekerasan di dalam pondok pesantren IMMIM.  Utamanya dalam bentuk hukuman. Karena osis adalah tangan kanan pembina untuk memajukan pondok. Jadi keduanya harus saling bekerja sama.

B.   Kehilangan
            Kehilangan di pesantren IMMIM sudah menjadi tren di masa sekarang ini. Di tinjau dari pandangan akhlak, tentu saja pesantren kita mendapatkan nilai minus. Kehilangan sangat sering terjadi, di manapun dan kapanpun itu. Utamanya di masjid. Seringkali sebagian santri mengeluh akan kehilangan sendalnya. Tentunya yang mengambil sendal itu adalah santri juga. Inilah masalah yang sangat sukar untuk di hapuskan di pesantren IMMIM. Tak sedikit santri yang mengeluh akan kehilangan barang-barang dan uang miliknya. Bahkan pembina pun ada yang mengalami kehilangan seperti yang santri alami. MasyaAllah, apakah budaya kehilangan itu akan terus berlanjut sampai martabat pesantren benar-benar hilang?

Berikut penyebab-penyebab terjadinya kehilangan di pesantren IMMIM :
-          Kurangnya pengawasan santri terhadap barang-barang miliknya. Biasanya hanya di acuhkan, namun setelah hilang baru di permasalahkan.
-          Kurangnya pengawasan dan penekanan terhadap santri supaya kehilangan itu menjadi musuh yang harus di musnahkan.
-          Mungkin santri sedang punya masalah sehingga berniat mengambil barang milik temannya.
-          Karena adanya rasa ingin balas dendam. Contoh : seorang santri kehilangan sendalnya. Namun karena ia kehilangan sendal dia pun mengambil sendal milik santri yang lainnya. Terjadilah kehilangan.
Adapun cara supaya kehilangan dapat teratasi di pesantren IMMIM, sebagai berikut;
-          Santri di himbau untuk menjaga barang-barang miliknya.
-          Santri yang kedapatan mencuri segera di adili dengan tegas. Dan diberi hukuman yang membuatnya tidak mengulangi lagi perbuatannya.
-          Membuat loker tempat penitipan sendal di masjid, supaya sendal-sendal santri tidak lagi hilang. Adapun yang mengurusi loker tersebut adalah bagian osis.
-          Terapkan peraturan “ mencuri artinya hukuman tegas “.


C.  Kabur
            Kabur adalah salah satu kawan dan kebiasaan buruk untuk santri-santri IMMIM Putra Makassar. Setiap hari tidak sedikit santri yang melakukannya. Bahkan kabur ini, sudah menjadi tradisi baru untuk para santri. Kabur memang salah satu alternatif utama para santri untuk keluar dari pondok.Tentu saja hal ini punya penyebab-penyebabnya.
Berikut penyebab santri kabur dari ma’had;
-          Susahnya mendapatkan izin dari pesantren sehingga jalan keluar bagi santri adalah kabur melalui pintu darurat yang disebut “ pagar”.
-          Kurang efektifnya fasilitas yang ada di pesantren. Maksudanya adalah semua fasilitas yang ada di pesantren tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga santri cenderung bosan tinggal di dalam pondok pesantren. Seperti fasilitas internet . Sehingga untuk bermain internet santri harus kabur untuk memenuhi keinginannya.
-          Kurangnya hiburan yang bisa membuat santri suka dan cinta terhadap pesantren.
-          Aktifitas yang ada di pesantren membosankan. Artinya, kegiatan yang di dalam pondok hanya berulang terus setiap hari, tak ada sela-sela hiburan sedikitpun.
-          Tidak adanya fasilitas yang bisa menarik perhatian santri untuk tinggal di pondok.
-          Peraturan pondok yang kadang berubah
-          Pengaruh dari teman sendiri
-          Kurang bekerja samanya antara pembina dan bagian osis untuk mengurusi masalah kabur dari pondok.
-          Tidak adanya perhatian penuh pembina terhadap aktivitas santri
-          Kurangnya motivasi yang bisa menyentuh hati santri untuk tetap tingal di pondok





Adapun cara mengatasi “kabur” di pesantren IMMIM, sebagai berikut ;
-          Izin terhadap santri sebaiknya di mudahkan, dengan syarat bisa mematuhi peraturan dan perjanjian yang di sepakati bersama.
-          Fasilitas-fasilitas sebaiknya di pergunakan sebagai mana mestinya, sehingga santri tidak mengeluh akan fasilitas dan tidak ada alasan lagi untuk kabur dari pondok
-          Baiknya ada hiburan-hiburan yang bisa membuat santri-santri betah tinggal di dalam pondok.
-          Aktivitas santri di pondok baiknya dikurangi. Artinya jangan terlalu banyak, sehingga membuat santri bosan dengan keadaan pondok.
-          Berikan fasilitas yang menarik supaya ketertarikan santri tinggal di pondok semakin meningkat.
-          Osis dan bagian pembina bekerja sama untuk membasmi masalah kabur-kabur.
-          Pemina harus lebih mengerti akan kemauan santri IMMIM, dengan cara sharing dan bertukar pikiran.
-          Berikan motivasi kepada santri supaya kesadarannya akan pondok dapat tercapai.

Ada sedikit tips dalam pembinaan akhlak santri IMMIM ;
-          Lakukan pembinaan dengan full heart (sepenuh hati) , bukan full time. Karena santri tidak suka yang ribet-ribet. Santri sukanya yang simple tapi bermakna baginya.
-          Kenali santri itu dari dalamnya, bukan dari luarnya.
-          Ambil hati santri supaya santri juga segan kepada kita.
-          Sering bergaul dengan santri supaya santri juga terbuka pada kita.
-          Jangan terlalu memberi tekanan pada santri, karena santri pada umumnya tidak suka di tekan.
-          Santri selalu ingin di mengerti, jadi kita harus betul-betul mengerti santri.
-          Berikan sesuatu yang bisa membuat santri senang pada kita.
-          Berikan pendidikan positif pada santri
-          Berikan kepercayaan penuh pada santri
-          Jangan ada istilah pilih kasih dalam pembinaan
-          Beri dukungan atau fasilitas pada santri yang berpotensi pada bidang tertentu
-          Jangan memperlihatkan kekerasan pada santri


Apabapila hal-hal di atas di perhatikan dengan baik, maka lahirlah 3 B
-          Belajar
-          Baik
-          Betah
A.      Belajar adalah tujuan utama santri datang ke pesantren. Tapi tertunda karena adanya 3 permasalahan tadi. Kalau semua permasalahan telah teratasi, otomatis santri akan mengutamakan belajarnya di pondok.
B.      Baik adalah perilaku santri yang berakhlak mulia, tidak suka melanggar peraturan, dan betah tinggal di pondok.
C.      Betah adalah sifat santri yang cinta akan suasana pondok sehingga hidup di dalam pondok terasa lebih nyaman dibandingkan hidup diluar pondok.
Ke 3 poin di atas tidak akan tercapai apabila, tidak adanya hubungan kerja sama di antara para pembina dan bagian osis.
Menurut pandangan saya pribadi;
-          santri melanggar peraturan karena faktor bosannya tinggal di pondok. Dan juga kurang diberjalankannya aturan yang ada.
-          Santri ingin menikmati fasilitas dengan efektif
-          Santri tidak suka di kerasi
-          Santri butuh hiburan, minimal sekali seminggu ada suatu kegiatan yang bisa menarik perhatian santri.
-          Santri IMMIM suka dengan fasilitas INTERNET, sementara fasilitas INTERNET di pondok tidaklah berfungsi secara efektif.
-          Jadwal belajar santri sangat padat sehingga membuatnya ingin bermalas-malasan karena alasan lelah.
-          Santri kekurangan motvasi
-          Santri SMA tidak suka dengan tekanan dan paksaan
-          Santri SMP terlalu manja akan peraturan
-          Pesantren hanya memburu jumlah santri, sementara pembinaan di dalam pondok masih belum terorganisir dengan baik, sehingga santri-santri cukup banyak yang susah di atur.
-          Terkadang orang tua santri ikut ampur dalam pembinaan anaknya.


Saran-saran tambahan ;
-          Sebaiknya orang tua santri tidak usah ikut campur dengan masalah pembinaan santri di dalam pondok. Hal yang harus mereka ketahui, memasukkan anak di dalam pondok artinya menyerahkan tanggung jawab penuh akan pembinaan anaknya di dalam pondok pada para pembina. Dan hal ini sebaiknya di masukkan dalam brosur penerimaan santri baru, supaya cara pembinaan yang kita inginkan dapat berjalan dengan lancar, tanpa campur tangan dari orang tua santri.

-          Pembina-pembina di kamar, baiknya di ambil dari senior SMA, sebagai partner kerja pelekat. Karena menurut pengalaman saya, junior itu lebih takut pada seniornya. Jadi apabila sang senior bekerja sama dengan baik dengan sang pelekat, maka kedisiplinan akan sangat mudah berlaku.
-          Santri SMA tidak usah terlalu di beri tekanan dan peraturan yang sama seperti anak SMP. Karena santri SMA cenderung lebih dewasa di bandingkan dengan santri SMP yang masih bersifat kekanak-kanakan.
-          Pembina dan osis harus benar-benar saling bekerja sama denga baik, jangan ada yang berat sebelah.
-          Datangkan motivator-motivator untuk memotivasi para santri.
-          Coba pahami santri dari kepribadiannya.
-          Berikan dukungan pada seluruh kegiatan santri.
-          Tunjukkan pada santri bahwa di IMMIM banyak sesuatu yang bisa di dapatkan.




Saran untuk hukuman santri
v  Fisik
-          Santri di suruh lari mengelilingi pondok sesuai keinginan dari pembina
-          Santri di suruh lari pulang balik dari lantai dasar asrama yang berlantai 3 ke lantai paling atasnya.
-          Santri di suruh membersihkan dapur
-          Santri di suruh membersihkan 1 pesantren
-          Santri di suruh membersihkan seluruh WC yang ada di pondok
-          Push up sempurna, jika tidak di ulang lagi
-          Cabuti rumput pesantren.
            Hukuman-hukuman seperti di atas akan sangat peka terhadap santri. Mengingat sifat santri yang cenderung suka bermalas-malasan. Dan juga hukuman seperti di atas juga akan memberi efek positif untuk pondok dan untuk pribadi santri yang kena hukuman. Di dalam hukuman seperti di atas, tidak ada unsur-unsur kekerasan.
v  Mental
-          Santri yang melanggar dipakaikan papan pelanggaran
-          Santri di suruh berceramah di tempat-tempat umum seperti toksan, lapangan, dll. Sehingga orang-orang akan berdatangan untuk melihatnya.
-          Santri yang melanggar di suruh mengantikan posisi satpam di waktu-waktu tertentu. Lengkap dengan seragam dan papan namanya.
            Hukuman mental seperti di atas akan sangat berdampak positif untuk pondok maupun pada santri yang melanggar. Karena dengan seringnya ada hukuman mental  maka mental santri pun akan terlatih sehingga anggapan orang bahwa” anak IMMIM kekurangan dalam mentalnya “  akan hilang.


Kesimpulan
-          Untuk mencapai kesuksesan pondok dalam pembinaan akhlak hendaknya dilakukan dengan bekerja sama
-          Pembinaan dilakukan dengan sepenuh hati
-          Untuk membina santri dilakukan dengan cara yang efektif
-          Hilangkan kekerasan dalam pondok
-          Untuk membuat santri betah sebaiknya fasilitasnya di fungsikan dengan efektif
-          Perlihatkan contoh yang baik pada santri
-          Berikan motivasi pada santri, untuk belajar.
-          Di setiap tempat tertentu di pasang sebuah poster yang memberikan dorongan pada santri untuk berbahasa, kebersihan, dll


Daftar pustaka.
1.      Semua isi makalah ini bersumber dari pemikiran santri IMMIM.2012
2.      Berkat ilmu dan izin dari ALLAH SWT





Penutup
            Sekian dari makalah “ tinggalkan 3 k, jalankan 3 b”. Mudah-mudahan bermanfaat untuk pondok kita yang tercinta. Apaila terdapat kata-kata yang kurang berkenan dalam penulisan, mohon di maafkan. Saya akhiri dengan sebuah pepatah yang sekaligus menjadi prinsip hidup yang harus diterapkan untuk para santri.
“ kalau bukan kita, siapa lagi ?
Kalau bukan sekarang, kapan lagi ?”
Artinya kalau bukan kita yang mengubah pondok kita menjadi lebih baik, memangnya siapa lagi ?. Dan kalau bukan dari sekarang kita mengubahnya, kapan lagi? Jangan kita menunda-nunda waktu untuk melakukan suatu perubahan. Pondok kita akan menjadi pondok terfavorite apabila semua harapan santri dapat dipahami dengan baik.

Wassalam !



SUGUHAN SPESIAL

Pada usia 25

Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam segala hal...