Bismillahirrohmaanirrohiym....
Alhamdulillah, makalah
sederhana ini bisa selesai dengan baik. Makalah ini berjudul
”
tinggalkan 3 k, jalankan 3 b”. Yang dimana makalah ini
berisi tentang penyebab-penyebab, dan cara mengatasi permasalahan dalam
pembinaan santri. Dan juga terdapat saran dan tips-tips dalam pembinaan santri
yang sesuai dengan yang santri inginkan. Apa yang terdapat di dalam makalah
ini, semata-mata hanyalah untuk membantu para pembina dalam membina santri di
dalam pondok. Karena saya juga masih berstatus sebagai santri, tentunya saya
bisa merasakan dan mengamati perkembangan dan kejadian-kejadian yang ada di
kalangan santri. Tidak ada niat untuk melecehkan siapapun di dalam makalah ini,
semuanya tertulis sesuai dengan keadaan hati sang penulis.
Ucapan terima kasih tak
terhingga untuk kedua orang tua yang telah merawat saya dari kecil hingga
sekarang. Saya sangat bangga bisa hidup didunia ini bersama mereka. Karena di
balik usaha-usahanya untuk menyekolahlan saya di pondok ini, ada sejuta doa
yang mereka ucap di dalam sholatnya, sehingga semangat saya untuk meraih
cita-cita semakin mengebu-gebu. Saya
ingin mereka tahu kalau saya tidak ingin menjadi anak yang merepotkan kedua orang tua.
Dan saya akan sangat bersyukur
apabila makalah ini memiliki fungsi yang besar untuk mengubah pesantren menjadi
lebih baik. Jika terdapat kesalahan dalam makalah ini, mohon di berikan saran
ataupun kritikan. Karena sebuah saran dan kritikan dari pembacalah yang akan
menjadi dorongan bagi saya untuk menciptakan tulisan-tulisan yang lebih baik.
Syukran !
Makassar 19 februari 2012
Salam
Penulis
SUHERMAN
Pesantren IMMIM berdiri kurang
lebih 32 tahun yang lalu, yang terkenal dengan kedisiplinan dan akhlak mulia
para santrinya. Disiplin dalam hal ini adalah, didiplin bahasa, disiplin akan
segala peraturan yang berlaku di pondok.
Dan akhlak mulia berupa, mengamalkan al-qur’an, menghormati orang tua, dan
selalu melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Namun seiring berjalannya
waktu, semua itu seakan melebur bersama perkembangan zaman. Kedisiplinan
semakin memudar, bahkan akhlak santri juga semakin berkurang. Dimana letak
kesalahannya ? Mengapa IMMIM tiba-tiba saja berubah ?. Semuanya kembali pada
diri kita semua.
Sekarang
ada 3 permasalahan yang menyebabkan pesantren IMMIM turun dari masa berjayanya.
1.
Kekerasan
2.
Kehilangan
3.
Kabur
Ke 3 poin di atas adalah
sahabat sekaligus musuh bagi keluarga besar pondok pesantren immim. coba Kalau
kita bandingkan antara pesantren IMMIM era 80-an dengan pesantren IMMIM
sekarang. Pasti terlintas tanda tanya besar di benak kita, kemana pesantrenku
yang dulu?.
Mari kita uraikan satu persatu
dari sekian masalah yang membuat pesantren IMMIM turun dari tahta kejayaannya.
A. Kekerasan
Kekarasan di pesantren IMMIM adalah
satu cara yang bisa membuat santri-santri taat akan segala peraturan di dalam
pondok. Namun semenjak di keluarkannya Undang-Undang tentang HAM( Hak Asasi
Manusia), maka kekerasan pun harus di hilangkan. Kekerasan dalam pembinaan bisa
saja terjadi, karena dengan kekerasan, santri akan lebih berdisiplin. Dan
kekerasan inilah yang menjadi kunci sukses para alumni-alumni terdahulu.
Adapun penyebab akan terjadinya kekerasan
adalah sebagai berikut :
-
Karena kurangnya kontrol dari para pembina
pondok terhadap para santri, sehingga santri mudah melakukan kekerasan satu
dengan yang lainnya. Contoh : berkelahi dan pengeroyokan
-
Faktor saling menghina akhirnya terjadi
kekerasan.( perkelahian)
-
Tidak harmonisnya hubungan antara senior dan
junior sehingga terjadi perselisihan
-
Kebiasaan santri ingin saling mengeroyok
-
Karena adanya konflik yang terjadi dikalangan
santri
-
Karena masih adanya kekerasan dari pembina,
sehingga santri condong mengikuti perilakunya.
Adapun cara/solusi untuk mengatasi masalah
tersebut adalah sebagai berikut :
-
Sebaiknya para pembina mengontrol dengan efektif
segala sesuatu yang terjadi pada santri, dengan cara sering melakukan
komunikasi secara langsung supaya keluhan-keluhan yang santri rasakan bisa
tercurahkan pada pembinanya. Caranya adalah lakukan pendekatan terhadap santri
agar supaya santri lebih rileks dan terbuka pada kita(pembina harus tahu,
bagaimana mengambil hati para santri )
-
Kekerasan yang ada di pondok harus dihilangkan
sepenuhnya, utamanya dari kalangan pembina , karena alasan santri untuk
melakukan kekerasan salah satunya adalah mengikuti tingkah laku pembina di
pondok. Kalau pembinanya sering melakukan kekerasan, maka santrinya pun akan
melakukan kekerasan. Meskipun ini tidak berlaku untuk keseluruhan santri IMMIM.
Tapi setidaknya menurut beberapa pendapat, alasan santri memang cukup benar.
-
Hukuman dalam bentuk kekerasan di ubah menjadi
hukuman mental dan fisik. Yang dimana nantinya hukuman mental di fisik itu
menimbulkan efek jera pada santri yang bersangkutan.
-
Sebaiknya osis/ispim bekerja sama dengan pembina
untuk menghilangkan segala bentuk kekerasan di dalam pondok pesantren
IMMIM. Utamanya dalam bentuk hukuman.
Karena osis adalah tangan kanan pembina untuk memajukan pondok. Jadi keduanya
harus saling bekerja sama.
B. Kehilangan
Kehilangan di pesantren IMMIM sudah
menjadi tren di masa sekarang ini. Di tinjau dari pandangan akhlak, tentu saja
pesantren kita mendapatkan nilai minus. Kehilangan sangat sering terjadi, di
manapun dan kapanpun itu. Utamanya di masjid. Seringkali sebagian santri
mengeluh akan kehilangan sendalnya. Tentunya yang mengambil sendal itu adalah
santri juga. Inilah masalah yang sangat sukar untuk di hapuskan di pesantren
IMMIM. Tak sedikit santri yang mengeluh akan kehilangan barang-barang dan uang
miliknya. Bahkan pembina pun ada yang mengalami kehilangan seperti yang santri
alami. MasyaAllah, apakah budaya kehilangan itu akan terus berlanjut sampai
martabat pesantren benar-benar hilang?
Berikut penyebab-penyebab terjadinya kehilangan
di pesantren IMMIM :
-
Kurangnya pengawasan santri terhadap
barang-barang miliknya. Biasanya hanya di acuhkan, namun setelah hilang baru di
permasalahkan.
-
Kurangnya pengawasan dan penekanan terhadap
santri supaya kehilangan itu menjadi musuh yang harus di musnahkan.
-
Mungkin santri sedang punya masalah sehingga
berniat mengambil barang milik temannya.
-
Karena adanya rasa ingin balas dendam. Contoh :
seorang santri kehilangan sendalnya. Namun karena ia kehilangan sendal dia pun
mengambil sendal milik santri yang lainnya. Terjadilah kehilangan.
Adapun cara supaya kehilangan dapat
teratasi di pesantren IMMIM, sebagai berikut;
-
Santri di himbau untuk menjaga barang-barang
miliknya.
-
Santri yang kedapatan mencuri segera di adili
dengan tegas. Dan diberi hukuman yang membuatnya tidak mengulangi lagi
perbuatannya.
-
Membuat loker tempat penitipan sendal di masjid,
supaya sendal-sendal santri tidak lagi hilang. Adapun yang mengurusi loker
tersebut adalah bagian osis.
-
Terapkan peraturan “ mencuri artinya hukuman
tegas “.
C. Kabur
Kabur adalah salah satu kawan dan
kebiasaan buruk untuk santri-santri IMMIM Putra Makassar. Setiap hari tidak
sedikit santri yang melakukannya. Bahkan kabur ini, sudah menjadi tradisi baru
untuk para santri. Kabur memang salah satu alternatif utama para santri untuk
keluar dari pondok.Tentu saja hal ini punya penyebab-penyebabnya.
Berikut penyebab santri kabur dari ma’had;
-
Susahnya mendapatkan izin dari pesantren
sehingga jalan keluar bagi santri adalah kabur melalui pintu darurat yang
disebut “ pagar”.
-
Kurang efektifnya fasilitas yang ada di
pesantren. Maksudanya adalah semua fasilitas yang ada di pesantren tidak
berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga santri cenderung bosan tinggal di
dalam pondok pesantren. Seperti fasilitas internet . Sehingga untuk bermain
internet santri harus kabur untuk memenuhi keinginannya.
-
Kurangnya hiburan yang bisa membuat santri suka
dan cinta terhadap pesantren.
-
Aktifitas yang ada di pesantren membosankan.
Artinya, kegiatan yang di dalam pondok hanya berulang terus setiap hari, tak
ada sela-sela hiburan sedikitpun.
-
Tidak adanya fasilitas yang bisa menarik
perhatian santri untuk tinggal di pondok.
-
Peraturan pondok yang kadang berubah
-
Pengaruh dari teman sendiri
-
Kurang bekerja samanya antara pembina dan bagian
osis untuk mengurusi masalah kabur dari pondok.
-
Tidak adanya perhatian penuh pembina terhadap
aktivitas santri
-
Kurangnya motivasi yang bisa menyentuh hati
santri untuk tetap tingal di pondok
Adapun cara mengatasi “kabur” di pesantren
IMMIM, sebagai berikut ;
-
Izin terhadap santri sebaiknya di mudahkan,
dengan syarat bisa mematuhi peraturan dan perjanjian yang di sepakati bersama.
-
Fasilitas-fasilitas sebaiknya di pergunakan
sebagai mana mestinya, sehingga santri tidak mengeluh akan fasilitas dan tidak
ada alasan lagi untuk kabur dari pondok
-
Baiknya ada hiburan-hiburan yang bisa membuat
santri-santri betah tinggal di dalam pondok.
-
Aktivitas santri di pondok baiknya dikurangi.
Artinya jangan terlalu banyak, sehingga membuat santri bosan dengan keadaan
pondok.
-
Berikan fasilitas yang menarik supaya
ketertarikan santri tinggal di pondok semakin meningkat.
-
Osis dan bagian pembina bekerja sama untuk
membasmi masalah kabur-kabur.
-
Pemina harus lebih mengerti akan kemauan santri
IMMIM, dengan cara sharing dan bertukar pikiran.
-
Berikan motivasi kepada santri supaya
kesadarannya akan pondok dapat tercapai.
Ada sedikit tips dalam pembinaan akhlak
santri IMMIM ;
-
Lakukan pembinaan dengan full heart (sepenuh
hati) , bukan full time. Karena santri tidak suka yang ribet-ribet. Santri
sukanya yang simple tapi bermakna baginya.
-
Kenali santri itu dari dalamnya, bukan dari
luarnya.
-
Ambil hati santri supaya santri juga segan
kepada kita.
-
Sering bergaul dengan santri supaya santri juga
terbuka pada kita.
-
Jangan terlalu memberi tekanan pada santri,
karena santri pada umumnya tidak suka di tekan.
-
Santri selalu ingin di mengerti, jadi kita harus
betul-betul mengerti santri.
-
Berikan sesuatu yang bisa membuat santri senang
pada kita.
-
Berikan pendidikan positif pada santri
-
Berikan kepercayaan penuh pada santri
-
Jangan ada istilah pilih kasih dalam pembinaan
-
Beri dukungan atau fasilitas pada santri yang
berpotensi pada bidang tertentu
-
Jangan memperlihatkan kekerasan pada santri
Apabapila hal-hal di atas di perhatikan
dengan baik, maka lahirlah 3
B
-
Belajar
-
Baik
-
Betah
A. Belajar
adalah tujuan utama santri datang ke pesantren. Tapi tertunda karena adanya 3
permasalahan tadi. Kalau semua permasalahan telah teratasi, otomatis santri
akan mengutamakan belajarnya di pondok.
B. Baik
adalah perilaku santri yang berakhlak mulia, tidak suka melanggar peraturan,
dan betah tinggal di pondok.
C. Betah
adalah sifat santri yang cinta akan suasana pondok sehingga hidup di dalam
pondok terasa lebih nyaman dibandingkan hidup diluar pondok.
Ke 3
poin di atas tidak akan tercapai apabila, tidak adanya hubungan kerja sama di
antara para pembina dan bagian osis.
Menurut pandangan saya pribadi;
-
santri melanggar peraturan karena faktor
bosannya tinggal di pondok. Dan juga kurang diberjalankannya aturan yang ada.
-
Santri ingin menikmati fasilitas dengan efektif
-
Santri tidak suka di kerasi
-
Santri butuh hiburan, minimal sekali seminggu
ada suatu kegiatan yang bisa menarik perhatian santri.
-
Santri IMMIM suka dengan fasilitas INTERNET,
sementara fasilitas INTERNET di pondok tidaklah berfungsi secara efektif.
-
Jadwal belajar santri sangat padat sehingga
membuatnya ingin bermalas-malasan karena alasan lelah.
-
Santri kekurangan motvasi
-
Santri SMA tidak suka dengan tekanan dan paksaan
-
Santri SMP terlalu manja akan peraturan
-
Pesantren hanya memburu jumlah santri, sementara
pembinaan di dalam pondok masih belum terorganisir dengan baik, sehingga
santri-santri cukup banyak yang susah di atur.
-
Terkadang orang tua santri ikut ampur dalam
pembinaan anaknya.
Saran-saran tambahan ;
-
Sebaiknya orang tua santri tidak usah ikut
campur dengan masalah pembinaan santri di dalam pondok. Hal yang harus mereka
ketahui, memasukkan anak di dalam pondok artinya menyerahkan tanggung jawab
penuh akan pembinaan anaknya di dalam pondok pada para pembina. Dan hal ini
sebaiknya di masukkan dalam brosur penerimaan santri baru, supaya cara
pembinaan yang kita inginkan dapat berjalan dengan lancar, tanpa campur tangan
dari orang tua santri.
-
Pembina-pembina di kamar, baiknya di ambil dari
senior SMA, sebagai partner kerja pelekat. Karena menurut pengalaman saya,
junior itu lebih takut pada seniornya. Jadi apabila sang senior bekerja sama
dengan baik dengan sang pelekat, maka kedisiplinan akan sangat mudah berlaku.
-
Santri SMA tidak usah terlalu di beri tekanan
dan peraturan yang sama seperti anak SMP. Karena santri SMA cenderung lebih
dewasa di bandingkan dengan santri SMP yang masih bersifat kekanak-kanakan.
-
Pembina dan osis harus benar-benar saling
bekerja sama denga baik, jangan ada yang berat sebelah.
-
Datangkan motivator-motivator untuk memotivasi
para santri.
-
Coba pahami santri dari kepribadiannya.
-
Berikan dukungan pada seluruh kegiatan santri.
-
Tunjukkan pada santri bahwa di IMMIM banyak
sesuatu yang bisa di dapatkan.
Saran untuk hukuman santri
v Fisik
-
Santri di suruh lari mengelilingi pondok sesuai
keinginan dari pembina
-
Santri di suruh lari pulang balik dari lantai
dasar asrama yang berlantai 3 ke lantai paling atasnya.
-
Santri di suruh membersihkan dapur
-
Santri di suruh membersihkan 1 pesantren
-
Santri di suruh membersihkan seluruh WC yang ada
di pondok
-
Push up sempurna, jika tidak di ulang lagi
-
Cabuti rumput pesantren.
Hukuman-hukuman seperti di atas akan
sangat peka terhadap santri. Mengingat sifat santri yang cenderung suka bermalas-malasan.
Dan juga hukuman seperti di atas juga akan memberi efek positif untuk pondok
dan untuk pribadi santri yang kena hukuman. Di dalam hukuman seperti di atas,
tidak ada unsur-unsur kekerasan.
v Mental
-
Santri yang melanggar dipakaikan papan pelanggaran
-
Santri di suruh berceramah di tempat-tempat umum
seperti toksan, lapangan, dll. Sehingga orang-orang akan berdatangan untuk
melihatnya.
-
Santri yang melanggar di suruh mengantikan
posisi satpam di waktu-waktu tertentu. Lengkap dengan seragam dan papan
namanya.
Hukuman mental seperti di atas akan
sangat berdampak positif untuk pondok maupun pada santri yang melanggar. Karena
dengan seringnya ada hukuman mental maka
mental santri pun akan terlatih sehingga anggapan orang bahwa” anak IMMIM
kekurangan dalam mentalnya “ akan
hilang.
Kesimpulan
-
Untuk mencapai kesuksesan pondok dalam pembinaan
akhlak hendaknya dilakukan dengan bekerja sama
-
Pembinaan dilakukan dengan sepenuh hati
-
Untuk membina santri dilakukan dengan cara yang
efektif
-
Hilangkan kekerasan dalam pondok
-
Untuk membuat santri betah sebaiknya
fasilitasnya di fungsikan dengan efektif
-
Perlihatkan contoh yang baik pada santri
-
Berikan motivasi pada santri, untuk belajar.
-
Di setiap tempat tertentu di pasang sebuah
poster yang memberikan dorongan pada santri untuk berbahasa, kebersihan, dll
Daftar pustaka.
1.
Semua
isi makalah ini bersumber dari pemikiran santri IMMIM.2012
2.
Berkat
ilmu dan izin dari ALLAH SWT
Penutup
Sekian dari makalah “ tinggalkan 3 k, jalankan 3 b”.
Mudah-mudahan bermanfaat untuk pondok kita yang tercinta. Apaila terdapat
kata-kata yang kurang berkenan dalam penulisan, mohon di maafkan. Saya akhiri
dengan sebuah pepatah yang sekaligus menjadi prinsip hidup yang harus
diterapkan untuk para santri.
“ kalau
bukan kita, siapa lagi ?
Kalau
bukan sekarang, kapan lagi ?”
Artinya
kalau bukan kita yang mengubah pondok kita menjadi lebih baik, memangnya siapa
lagi ?. Dan kalau bukan dari sekarang kita mengubahnya, kapan lagi? Jangan kita
menunda-nunda waktu untuk melakukan suatu perubahan. Pondok kita akan menjadi
pondok terfavorite apabila semua harapan santri dapat dipahami dengan baik.
Wassalam
!