OLEH: SUHERMAN
Sinar mentari pagi
menerobos masuk ke dalam jendela kamarku, disertai dengan desiran angin lebut
yang kini menerpa wajahku. Membuat aku terbangun dari tidur nyenyakku semalam.
Meninggalkan mimpi yang entah seperti apa mimpi itu, karena begitu mata ini
terbuka semua memory tentang mimpi itu lekas menghilang dan terhapuskan oleh
angin. Tapi seingatku mimpi semalam adalah mimpi yang indah, buktinya aku
bangun dengan perasaan yang begitu tentram dan damai. Segera kubereskan semua
tugasku di kamar, mulai dari tempat tidur, hingga buku-buku yang berserakan di
setiap sudut kamarku. Bukan main semalam , bukannya aku belajar tapi aku malah
bermain-main dengan adik kecilku yang masih duduk di bangu kelas 2 SD. Semua
bukuku jadi korban semua permainan itu, bahkan sepatuku pun ikut serta dalam
permainan semalam, karena aku mendapati sebelah dari sepatuku berada di atas
lemari. Memang untuk merapikan semua ini butuh kesabaran yang tinggi , tapi itu
tidak mengurangi semangatku untuk menciptakan kamar yang bersih dan asri. Jam
di dinding yang terpampang di atas pintu kamarku sudah menunjukkan pukul 07.00
pagi. Aku segera mandi dan setelah itu memakai seragam putih abu-abuku lengkap
dengan dasi tentunya. Setelah aku yakin penampilanku sudah sempurna akupun
bersiap-siap kesekolah. Kulangkahkan perlahan kakiku keluar dari kamar.
Kemudian kulewati ruang makan, di sana masih ada papa,mama dan adikku yang
sedang sarapan. Seperti biasanya, mereka menyapaku dengan senyuman. “ Man, kamu
tidak sarapan dulu nak ?”, tanya ibuku seraya menghentikan aktivitas makannya
sejenak diikuti oleh ayah dan adik perempuanku. “ iyya ma, entar aja kalau udah
sampai di sekolah”. jawabku tenang. “ iyya tidak papa nak. Ya sudah sana
berangkat, sebentar terlambat”. Ucapnya kemudian. “hati-hati yah man”, ayahku
menambahkan. Dan yang terakhir dari adikku, “ hati-hati yah kak, buruan sana
pacarnya nungguin entar, hehehe ”, ucapnya dengan suaranya yang masih sangat
polos. “ iyya selamat makan semua, firman berangkat dulu”, ucapku tersenyum setelah mendengar kata-kata terakhir
adikku tadi. Itulah sedikit gambaran
tentang kebersamaan keluargaku. Kami adalah keluarga yang sangat harmonis. Aku
sangat bersyukur berada di tengah-tengah mereka. Nah Sekarang sudah waktunya
aku berangkat kesekolah. Aku berangkat dengan mengendarai sebuah motor baru
pemberian ayahku sebulan yang lalu tepat di hari ulang tahunku yang ke 17.
Sekarang aku tak perlu lagi ragu-ragu mengenai adanya polisi, karena aku juga
baru-baru ini telah memiliki SIM. Jadi tak ada lagi yang perlu di khawatirkan.
Aku berjalan pelan menyusuri koridor sekolah.
Di kiri dan kananku sekumpulan siswa sedang asyik berkumpul dengan komplotan
mereka. Entah apa yang mereka bicarakan di sana, yang jelas aku tetap fokus
pada jalan yang akan menuntunku ke kelasku, XI IPA 3. Disana pasti teman-teman
sudah menungguku dari tadi. Ada kabar burung,
kalau hari ini di kelasku akan ada murid baru pindahan dari Bandung. Dan yang
kebih specialnya lagi murid baru itu adalah seorang cewek. Tentunya aku tak
mau ketinggalan mengenai masalah seperti
ini. Siapa sangka nanti murid baru itu bisa menjadi teman dekatku lalu
merangkap menjadi pacarku, bisa saja kan ?. Setelah sekitar 10 menit aku
berjalan akhirnya sampai juga aku di kelas XI IPA 3. Aku masuk dengan diiringi
suara sorakan teman-teman kearahku, terutama dari murid cewek. Persis seperti
kemarin-kemarinnya. Mereka semua pada histeris melihat pangerannya datang dari
istana raja. Lebih tepatnya lagi mereka menyambut ketua kelasnya yang selalu
saja datang paling akhir, tapi kalau masalah itu ,aku sih cuek-cuek aja. Malah
aku mengaggap semua itu adalah sambutan special untuk seorang ketua kelas
sepertiku. Begitu aku sampai di tempat dudukku, semua situasi pun kembali
normal pandangan pun tak lagi mengarah padaku melainkan kembali pada pembahasan
mereka sebelum aku datang. Para cewek bergosip sedangkan para cowok bercerita
tentang sesuatu yang tak jelas. Syukur lah kalau begitu, jadi aku tak usah lagi
repot-repot meladeni pertanyaan-pertanyaan aneh yang di tujukan untukku. “eh bro, ternyata loe tetap bertahan yah
sama posisi loe yang kemaren-kemaren”, ucap salah seorang
temanku ketika aku baru saja duduk di kursiku. Dengan santai aku menjawab,“
iyya bro biasa, kan semalam guwe habis konser di Ancol jadi wajar aja kalo guwe
terlambat gini”,ujarku disertai tawa kecil. Temanku yang satu ini memang bukan
teman yang biasa bagiku. Dia adalah sahabatku dari SMP. Entah ikatan apa yang
mengikat kami sehingga dari kelas 1 SMP sampai sekarang kami tidak pernah pisah
sekolah, bahkan pisah kelas. Satu fakta
yang aneh tapi nyata, kami berdua mendapat julukan “kembar tapi beda”. Gimana
tidak, sudah 5 tahun ini kami tidak pernah terpisahkan, bahkan adalagi istilah
“ dimana ada firman di situ ada dannies”. Well, semua itu adalah sesuatu yang
harus di syukuri.
Teng...teng
.... teng...,
Lonceng pelajaran telah berbunyi. Semua murid cewek
langsung menghentikan aktivitas gosip mereka . Dan para cowok termasuk aku
semakin tidak sabaran menunggu seperti apakah sosok murid baru yang bakal jadi
penghuni kelas kami sebentar. Feelingku mengatakan pasti murid baru kali ini
sosoknya seperti bidadari atau seperti cinderella dengan rambut panjang sampai
punggung. Ah entahlah kita liat saja nanti. Berselang beberapa menit sebuah
ketukan berhasil menyadarkanku dari lamunan. Oh itu ketukan dari Pak Sabir sang
kepala sekolah. Dia masuk dengan wajah yang berseri pertanda sesuatu yang baik
akan segera terjadi di kelasku. “ hm. Assalamu alaikum anak-anak”, sapanya pada
kami. Serentak kami menjawab.” Walaikum musalam pak”. Beliau segera memulai
berbicara. “ anak-anak sekalian, bersyukur kita pada hari ini, bla bla bla...
bla...bla...bla...karena....bla...bla...bla ”. Hanya kalimat itu yang masuk
dalam pendengaranku. Karena aku hanya fokus terhadap seorang bidadari yang akan memasuki ruang kelasku setelah ini.
Seperti apakah dia ? “ Dan ini dia, silahkan masuk “. Begitu terdengar kalimat
itu pendengaranku langsung pulih lagi.
Dan akhirnya sesosok wanita cantik masuk kekelasku dengan langkahnya yang sopan
di sertai dengan senyuman manis dari bibirnya. Dia langsung menyapa kami, “
selamat pagi semua “, sapanya tanpa menghentikan senyuman manis yang ia miliki.
“ PAGI JUGA”, balas kami para murid cowok dengan suara yang sangat bersemangat,
dan nyatanya suara kami membuat suara cewek-cewek tak kedengaran sedikitpun. Funtastik
murid baru yang masuk kali ini bukan lah seoarang bidadari maupun cinderella
tapi dia adalah sesosok malaikat cantik yang tersesat di dalam dunia nyata ini.
Kulitnya seputih pasir pantai, senyumnya ibarat delima merekah, rambutnya sepunggung dan masih banyak lagi ciri yang tak
bisa kugambarkan dengan kata-kata. “
namaku Nurul Ainun biasa di panggil nurul, pindahan dari SMAN 03 Bandung,
senang berkenalan dengan kalian”. Perkenalan diri yang begitu singkat tapi
cukup membuat jantung berdebar-debar. Oh jadi namanya nurul? Nama yang bagus.
Kalau dalam kosa kata bahasa Arab artinya Cahaya. Sebuah cahaya yang begitu
nyata bagiku. Setelah memperkenalkan diri dia dipersilahkan duduk bersama kami.
Dan aneh bin ajaib ternyata bangku yang kosong itu tinggal 1, tepatnya di
depanku. Dengan langkah pelan dia berjalan menuju bangku kosong itu, seulas
senyum dia lemparkan padaku kemudian dia duduk di bangku itu. betapa manis
senyum yang dia miliki, dan begitu rapuhnya aku karena dengan mudahnya dia
mencuri hatiku. Ku keluarkan sebuah buku
catatan kecil dari ranselku. Buku kecil ini berisikan tentang semua puisi-puisi
yang berhubungan dengan perasaaanku. Entah sedih, suka, ataupun duka semuanya
kucurahkan dalam buku kecil ini. kumulai menulis satu bait puisi tentang
malaikat cantik yang ada di depanku sekarang.
Berawal dari sebuah senyuman,cinta itupun datang
Mengambil alih di ruang hatiku
Mematahkan segala rasaku
Sebait puisiku telah jadi, kini aku
kembali menatapnya, meski hanya punggung yang terlihat, tapi jujur aku
menikmatinya. Aku benar-benar telah jatuh cinta pada gadis itu. Meski baru
pertama kali ini aku bertemu dengannya, dan senyum yang dia miliki itu memaksa
hatiku untuk luluh seketika. Yah aku tahu disekitarku ada banyak orang yang
juga memperhatikannya, tapi aku yakin dia itu untuk aku, bukan untuk mereka.
Akhirnya Bu Ririk pun memasuki kelasku pertanda jam pelaran
matematika telah dimulai. Tak ada satu kata pun yang bisa kucerna dari
penjelasan beliau. Karena aku hanya fokus terhadap 1 titik yang ada di depanku,
nurul ainun. “ hei Man, kamu ngelamun aja dari tadi”. Terdengar suara yang
samar-samar di telingaku. Aku menganggap suara itu hanya firasatku saja. Tapi
ternyata bukan, suara itu semakin keras dan sebuah cubitan halus menyentuh
kulitku “ woe Man, loe kok ngelamun aja sih ???”. Dan akupun kembali
kealam kesadaran. “ iyya...iyya... sorry
guwe ke asyikan nih bro”. “ ayo loe ngelamunin siapa, si dia yah ?” tanya dannies
sambil menunjuk ke arah nurul. “ hus hus jangan keras-keras entar dia denger
goblok”, bisikku seraya membalas cubitan yang tadi ia berikan padaku. “
aduh...man,man... loe tu yah gampang banget jatuh cintanya, masa ama anak baru
aja langsung jatuh cinta, ketua kelas macam apa kamu ini bro”, ucapnya berbisik.
“ Diam aja loe. Gak usah ikut campur”. Balasku singkat. “ ya udah. Up to you
aja. Guwe nggak ngikut”. “ Firman, Dannies ngomong apa kalian barusan ?, apa
kalian udah paham dengan penjelasan ibu, CEPAT MAJU KEDEPAN”, bentak ibu Ririk
yang sadar akan obrolan kami barusan. Serentak semua orang melihat kearah kami
termasuk si Nurul, dia melihatku kemudian tersenyum. Hah, lagi-lagi dia
menebarkan senyumnya untukku. Kontan saja dengan gagah berani aku langsung maju
kedepan diikuti oleh Dannies di belakanggku. “kerjakan nomor 1 dan kamu firman
kerjakan nomor 5, CEPAT !!!” bentak bu Ririk. Seisi kelas pun diam membisu,
melihat si ratu singa sedang mengamuk mangsanya. Hahaha, soal seperti ini sih
Cuma pelajaran anak SMP bu’ , batinku berseru. Dalam waktu 1 menit soal itu
berhasil kami kerjakan, dan waktunya hampir bersamaan. Sekedar informasi, Aku
dan Dannies bukan hanya terkenal sebagai saudara kembar saja tapi kami juga
unggul dalam pelajaran matematika, jadi tak usah heran kalau soal seperti itu tak
menjadi halangan buat kami. Dengan bangga kami dipersilahkan duduk kembali
disertai dengan tepuk tangan teman-teman semua, begitu aku melewati si Nurul
lagi-lagi dia memberikanku senyum yang sama sehingga membuat jantungku ini serasa
ingin terbang kembali. Kalau masalah pelajaran memang tak ada masalah tapi
kalau dalam masalah percintaan, aku langsung error saat itu juga. Kembali
kubuka catatan kecilku. Kulanjutkan bait ke dua dari puisiku .
Bila kulihat lagi senyuman itu
Betapa damai terasa di dada
Ada sepercik harapan untuk memilikinya
Jam istirahat
telah tiba, namun aku tak juga meninggalkan tempat dudukku. Si Dannies telah
lompat dari bangkunya dan melesat cepat keluar dari kelas. Sementara aku enggan
beranjak dari tempat ini. Apalagi si Nurul masih bertengger manis di hadapanku.
Inilah waktu yang tepat untuk berkenalan dengannya lebih dekat lagi. “ hei, aku
Firman. Salam kenal yah”, ucapku menyodorkan tangan kananku kearahnya. Dengan
lembut dia membalas uluran tanganku,” aku nurul, salam kenal juga”, katanya. Obrolan
kami pun berlanjut terus.
Semuanya berawal dari perkenalan singkat waktu
itu, sehingga sekarang kami sudah semakin dekat. Dia adalah orang yang sangat asyik dalam
segala hal, sama halnya dengan Dannies. Tapi Dannies adalah saudara kembarku,
sementara Nurul adalah perempuan idamanku saat ini. Dan sudah seminggu dia sekelas denganku, dan
seminggu itu pula aku terus melakukan pendekatan padanya. Aku sendiri bingung
mengapa aku begitu cepat membagi hati pada orang lain, baru juga sebulan aku
putus dengan Rini anak XI IPA 2 dan sekarang aku sudah dekat dengan anak baru
di kelasku. Tak apalah, itulah cinta. Kita tak tahu kapan cinta itu akan datang?
dan kepada siapa kita harus memberikan cinta itu?. Seperti itulah aku sekarang
ini, cintaku telah kuberikan kepada Nurul, tapi dia tak kunjung mengerti dengan
apa yang telah kulakukan selama seminggu ini. Ada sesuatu yang ganjil rasanya.
Dan entah mengapa rasa ketertarikanku padanya kini berkurang. Ketika aku sampai
dirumah, kukeluarkan catatan kecil dari ranselku. Ingin kulanjutkan bait
puisiku yang ke 3. Tapi sebelumnya aku memejamkan mata, merelakan semua kata
yang akan kutulis nantinya. Dan akupun mulai menggores tinta di atasnya. Penuh
dengan perasaan.
Namun seiring waktu terus berputar
Harapan itu kian memudar
Cintaku pun kini mulai menghilang
Tak ada lagi kesempatan untuk mengulang
Keesokan harinya
di sekolah, aku baru saja sampai di tempat parkiran motor. Dari jauh kulihat
sepasang pemuda pemudi sedang duduk bermesraan di bawah taman sekolah. Dan aku
kenal sekali wanita yang ada di samping laki-laki itu. Percaya atau tidak,
mataku mungkin sudah rabun. Atau mungkin aku masih mengigau dalam tidurku.
Wanita itu adalah Nurul, seseorang yang berhasil mencuri hatiku dengan
senyumannya, seminggu yang lalu. Aku tak percaya dengan semua itu, rasa cinta
yang tertata rapi di dalam hatiku, kini telah runtuh seketika. Aku dengan cepat
meninggalkan pemandangan itu sebelum aku melakukan hal yang memalukan. Tapi aku
sadar diri, dia bukanlah siapa-siapaku dan dia bukanlah pacarku. Hanya aku yang
keliru selama ini, mengapa terlalu cepat aku mencintainya, mengapa terlalu
bodoh aku dengan semua ini, mengapa aku tidak menyadari tentang hal ini. Begitu
aku sampai di kelas aku langsung mengeluarkan catatan kecil dari ranselku.
Tanpa menghiraukan Si Dannies yang lagi asyik-asyiknya dengar music di dekatku.
Sekarang giliran bait ke 4 yang akan aku buat. Dan inilah isi dari bait
keempatku. Begitu berat untuk menulisnya, namun itu harus.
Kini saatnya aku menghapusnya
Karena dia memang tak seindah semestinya
Dia hanyalah sekumpulan angin yang mengahampiri
Kemudian setelah itu berlalu begitu saja
Dia memang bukan untukku
Teng..teng...teng
Lonceng masuk pun berbunyi. Artinya aku harus
siap-siap menerima pelajaran Bahasa Indonesia. Seingatku pelajaran yang lalu
ibu Nurbaya menyuruh kami untuk menyiapkan sebuah puisi untuk di baca di depan kelas, dan aku sudah
mendapatkan puisi yang akan aku baca untuk itu. Dan satu persatu teman-temanku
telah memasuki kelas dan kulihat Nurul salah satu diantaranya. Seperti biasa
dia selalu saja tersenyum pada semua orang, termasuk aku. Sebelum dia duduk di
tempatnya, dia sempat memberikanku seulas senyuman, persis seminggu yang lalu
ketika dia masih berstatus sebagai murid baru. Tapi senyuman itu tak punya arti
apa-apa buatku, meskipun terasa berat
untuk melepaskan, tapi itulah satu-satunya pilihan terbaik untukku. Perasaan
ini harus kuhilangkan dari hati, aku tak boleh terus menyimpannya seperti ini.
Mungkin disuatu hari nanti aku akan mendapatkan hikmah dari semua ini. Beberapa
saat kemudian ibu Nurbaya masuk dan memulai pelajaran Bahasa Indonesia. “ siapa
orang pertama yang berani menampilkan puisinya di atas, maka akan mendapatkan
nilai tambahan dari ibu”, ucapnya kemudian. Kontan saja aku adalah orang
pertama yang naik di depan kelas. Dan kumulai membacakan puisi karyaku . Penuh
perasaan dan penuh penghayatan.
Berawal dari sebuah senyuman
Berawal dari sebuah senyuman,cinta itupun datang
Mengambil alih di ruang hatiku
Mematahkan segala rasaku
Bila kulihat lagi senyuman itu
Betapa damai terasa di dada
Ada sepercik harapan untuk memilikinya
Namun seiring waktu terus berputar
Harapan itu kian memudar
Cintaku pun kini mulai menghilang
Tak ada lagi kesempatan untuk mengulang
Kini saatnya aku menghapusnya
Karena dia memang tak seindah semestinya
Dia hanyalah sekumpulan angin yang mengahampiri
Kemudian setelah itu berlalu begitu saja
Dia memang bukan untukku
Aku membacakan puisiku dengan penuh penghayatan. Begitu baris
terakhir selesai tepuk tangan teman-teman langsung meledak. Akupun kembali
ketempat dudukku. “ eh sumpah puisi kamu bagus banget Man”, ucap malaikat
cantik yang ada di depanku. “ iyya makasih”. Balasku singkat, dan kembali fokus
pada orang yang akan tampil setelahku. Apa dia tak tahu kalau yang kumaksud
dalam puisi itu adalah dia, apa dia tak tahu semua inspirasi puisi itu adalah berasal
dari dirinya. Senyumannya itu memang manis, tapi sekarang aku sadar senyum itu
telah ada yang memiliki. Aku harus melupakan malaikat cantik itu karena jika
tidak, senyumannya itu akan selalu mengantuiku. Sekarang aku harus memulai
pencarian baruku, karena masih banyak malaikat-malaikat cantik yang akan
datang, aku percaya itu. Aku biarkan hidupku kembali normal seperti saat
sebelum malaikat cantik itu datang dalam
kehidupanku. Kini aku kembali menjadi firman sahabat Dannies. Dua orang sahabat
yang tidak akan pernah terpisahkan, kurasa itulah yang lebih baik. “Selamat
tinggal malaikat cantikku, puisi cinta ini untukmu”.