Pada usia 25, kita tentunya menjadi pribadi
yang lebih dewasa. Dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam
segala hal.
Pada usia 25, kemapanan adalah sebuah keharusan
dari prepsktif orang-orang di sekeliling kita.
Pada usia 25, kita akan banyak mengalami
tekanan-tekanan yang membuat batin kita sering tersiksa.
Pada usia 25, kita akan hidup dalam
bayang-bayang perbicangan orang lain di sekitar kita.
Pada usia 25, kita akan merasa mudah sensitif
dengan segala pertanyaan-pertanyaan seputar karir, jodoh dan penghasilan.
Pada usia 25, kita akan menanggung beban yang
sangat berat, antara memilih mengikuti idealisme atau menjadi cair dengan
kondisi yang ada.
Pada usia 25 semua berespektasi ingin menjadi
seseorang yang berguna dan dapat dibanggakan.
Pada usia 25, semua orang berharap kita sudah
punya rumah, mobil dan keluarga.
Pada usia 25, semua orang menilai kita sudah
menjadi pribadi yang mandiri.
Inilah mungkin tuntutan – tuntutan yang kita sering
rasakan pada usia 25 tahun dan jujur saja kita benci untuk mengakui bahwa tidak
semua dari kita mampu memenuhi tuntuta-tuntutan tersebut. Terkadang takdir yang
Tuhan berikan kepada kita tidak selalu sesuai dengan skenario yang kita
harapkan. Semua orang saat menjadi remaja memiliki espektasi akan masa
depannya. Saya termasuk orang yang cukup idealis dalam membicarakan mimpi. Selain
idealis saya juga sering optimis berlebih terhadap segala hal. Hal ini membuat
saya sering merasa terlalu gagal dalam hidup karena belum mampu mencapai
espektasi yang sudah diharpkan sebelumnya.
Saya percaya bahwa mimpi itu wajib ada dalam
diri tiap manusia. Bila tidak mampu bermimpi setidaknya jangan menjadi manusia
yang mencibir dan menggagalkan mimpi orang lain. Namun saya berani menjamin
bahwa siapapun itu pasti punya mimpi untuk kehidupannya di masa yang akan
datang. Tidak peduli kaya, miskin atau kondisi apapun lainnya, semua orang
punya hak untuk mempejuangkan mimpinya. Tentu saja tidak benar jika ada yang
menyatakan bahwa “rakyat kecil tidak mampu bermimpi karena untuk hidup saja
sudah pasti susah, apalagi bermimpi”. Bukankah dapat bertahap hidup di hari
esok adalah sebuah mimpi ? oleh karena itu jangan pernah mengaggap remeh mimpi
kita.
Namun sekali lagi, pada usia 25 kita akan dipertemukan
dengan kondisi yang sangat membingungkan diri kita sendiri. Pada usia ini kita
akna sering mendapati kondisi yang tidak ideal. Kita akan merasa gagal
berkali-kali dan kemudian bersamangat lagi, lalu jatuh lagi lalu Kembali lagi
bersemangat. Hal itu akan kita jumpai pada usia 25. Disinilah kita betul-betul
mengalami kegaluan yang berulang dan tentu saja membuat kita mengevaluasi diri
setiap hari. Mungkin kita semua bertanya kenapa pada usia 25 kita belum mampu hidup
sebagainana espektasi yang kita inginkan ?
Kenapa kita belum menikah ? kenapa kita belum
punya rumah sendiri ? kenapa kita belum punya kendaraan pribadi ? kenapa kita
belum punya pekerjaan tetap ? kenapa kita belum punya penghasilan besar, kenapa
kita belum punya segala hal yang sudah banyak orang seusia kita yang
memilikinya ?
Pada usia 25, kita akan sering membandingkan
diri kita sendiri dengan diri orang lain. Bodohnya kita terlalu banyak
membandingkan kekurangan kita dengan kelebihan orang lain tanpa menyadari bahwa
kita juga punya kelebihan yang mungkin orang lain tidak miliki. Namun jujur,
inilah yang paling sering kita lakukan pada usia 25. Ketika melihat orang-orang
sekitar sudah mampu meraih hal-hal yang belum dapat kira raih kita akan merasa
jatuh, dan kecewa terhadap diri kita sendiri. Padahal kita lupa bahwa setiap orang
memiliki jalan ceritanya masing-masing. Tidak semua orang terlahir untuk kaya
raya. Mayoritas dari kekayaan itu harus diraih dengan perjuangan ekstra keras. Pada usia 25, terkadang kita masing sering
lupa bersyukur. Ternyata banyak sekali hal yang sudah kira peroleh di dunia ini,
meskipun bukan berupa kekayaan materi namun kita beruntung Tuhan masih
memberikan kesempatan untuk bisa hidup, memberikan kita teman yang banyak, pengalaman
dan lain sebagainya.
Namun faktanya mayoritas dari waktu
kita sering dihabiskan untuk mengeluh, membicarkan keburukan orang lain,
memikirkan semua ucapan orang tentang kita, bahkan kita sering menghabiskan
waktu untuk melawan Tuhan kita sendiri. Tidak naif, namun semua manusia
memiliki potensi untuk jadi pendosa begitupula sebaliknya pendosa juga memiliki
kesempatan untuk jadi orang yang taat Tuhan. Hidup ini bukanlah sandiwara
biasa. Terkadang kita harus berpura-pura tersenyum atas kekecewaan yang kita
peroleh ataupun ucapan ucapan menyinggung dari orang lain. Hidup untuk berdebat
dengan mereka yang memiliki mulut kejam sama saja dengan menghabiskan waktu
dengan sia-sia. Orang lain punya hak berkomentar dan kitapun sebetulnya punya
hak untuk membalas. Namun sungguhlah pembalasan terbaik untuk
pernyataan-pernyatana kejam orang lian adalah bersabar dan mendoakan mereka
agar menjadi orang yang lebih baik.
Pada usia 25, kita akan perlahan-lahan akan
memberi toleransi pada diri kita untuk sebuah mimpi yang mungkin belum bisa di
raih pada usia ini. pada usia ini kita kan beresar hati menunda banyak hal
untuk menghargai proses yang sedang berjalan. Hidup memang penuh perjuangan dan
seiring berkembangnya zaman berjuang saja tidaklah cukup karena bersaing dengan
banyak orang merupakan sebuah tantangan pada era modern ini. Kita berada pada era dimana usia produktif
sudah mulai membeludak sedangkan lowongan pekerjaan tidak selalu cocok dengan
kualifikasi yang kita miliki. Kita berada pada persimpangan jalan dimana
pendidikan yang tinggi belum tentu menjamin kita punya pekerjaan dan penghasilan
tinggi. Kita hidup di dunia nyata yang penuh dengan drama.
Pada usia 25 tentu saja kita sudah memiliki 5 hingga 10 topeng yang kita sering tunjukkan pada orang-orang yang berbeda. Ini bukan munafik, tapi inilah bentuk dari penyesuaian kita pada dunia yang penuh drama ini. selama kita tidak menjadi pengkhianat, pendusta dan ingkar janji, maka kita bukanlah orang munafik. Semua orang ini adalah aktor/aktris dalam hidupnya masing-masing. Kita harus membiasakan diri dengan peran yang kita punya. Karena pada akhirnya semua manusia akan menemukan titik tertinggi hidupnya setelah melewati fase-fase terendahnya. Jangan pernah lupa bahwa hidup itu berfluktuasi, mungkin mimpi kitab oleh tertunda saat ini namun jangan berhenti untuk berjuang karena tidak ada yang tahu barangkali mimpi itu akan terwujudkan esok hari.
Pada usia 25 tentu saja kita sudah memiliki 5 hingga 10 topeng yang kita sering tunjukkan pada orang-orang yang berbeda. Ini bukan munafik, tapi inilah bentuk dari penyesuaian kita pada dunia yang penuh drama ini. selama kita tidak menjadi pengkhianat, pendusta dan ingkar janji, maka kita bukanlah orang munafik. Semua orang ini adalah aktor/aktris dalam hidupnya masing-masing. Kita harus membiasakan diri dengan peran yang kita punya. Karena pada akhirnya semua manusia akan menemukan titik tertinggi hidupnya setelah melewati fase-fase terendahnya. Jangan pernah lupa bahwa hidup itu berfluktuasi, mungkin mimpi kitab oleh tertunda saat ini namun jangan berhenti untuk berjuang karena tidak ada yang tahu barangkali mimpi itu akan terwujudkan esok hari.
Selamat bagi yang mampu menghadapi beratnya
usia 25, namun tentu saja setelah usia 25 bukan berarti hidup kita akan
terbebas dari masalah. Bahkan bisa jadi masalah-masalah setelah usia 25, akan
lebih ganas daripada yang kita lewati saat
ini. maka dari itu hadapilah kegalauan, nikmati perjuangan, berbahagialah
masih diberikan kesempatan untuk memperjuangkan mimpi kita masing-masing.
Jakarta, 25 Juli 2020
